
P.o.v Zwetta Ellaria L
Pagi ini, kami sekeluarga sudah berkumpul di ruangan kerja ayah. "Jadi Jewel, apa yang hendak kau bicarakan?" tanya ayah padaku. Aku mendekatinya dan berbisik. Aku memintanya untuk berbicara disebuah ruangan rahasia.
Adasha memberitahuku tentang ruangan ini semalam. Katanya ada ruangan anti sihir disini. Aku mengernyitkan dahiku saat ia mengatakan itu padaku, pasalnya aku tidak tahu ada ruangan seperti itu dirumahku.
Jadi kupikir itu ruangan rahasia. Dan jika kami berbicara disana, tidak ada seorangpun yang dapat menyadap pembicaraan kami. Namun, ketika mendengar bisikanku, mata ayah membulat.
"Darimana kau tahu tentang ruangan itu Ella?" tanyanya dengan wajah serius. Seharusnya ayah memberitahumu nanti saat kau berusia 5 tahun." Ujarnya menatapku penuh tanya.
"Akan aku jawab saat kita sudah disana ayah."
Ayah tampak terdiam sejenak, sebelum ia mengangguk dan membawaku beserta Halbert dalam pelukannya. Sementara Stanley dan Arthur menggandeng tangan ibu.
"Baiklah, mari kita kesana." Ucap ayah datar. Ia mulai merapalkan sebuah mantra sihir. Tak lama kemudian muncul lingkaran yang mengeluarkan sinar berwarna hijau mengelilingi ayah dan ibu. Lalu kami pun tiba dalam sekejap mata di tengah sebuah ruangan yang besar dengan dominansi warna emas.
"Holy Moly!" gumamku takjub dengan ruangan serba emas ini. "Apa semua ini emas asli?" tanyaku yang sedikit mengangakan mulut. Ayah tertawa kecil melihat reaksiku. "Tentu saja, Ella." Jawabnya terkekeh.
"Ella, kita sudah sampai diruangan rahasia yang kau bisikan pada ayah tadi. Inilah Burgundy Treasure, ruangan rahasia di kediaman Luksemburg. Ruangan ini anti sihir, jadi sihir apapun tidak bisa digunakan dalam ruangan ini. Burgundy Treasure biasa digunakan untuk rapat hal-hal penting seperti misalnya strategi perang. Ibu dan ketiga kakakmu sudah mengetahui tentang ruangan ini. Siapa menduga anak ayah yang baru dua tahun bisa tiba-tiba mengetahuinya.." ungkap ayah seraya menggaruk kepalanya tidak gatal.
Aku mengangguk mendengar penjelasannya, jadi ini Burgundy Treasure. Tidak heran ruangan ini dinamakan treasure, semua bagiannya seperti terbuat dari emas asli. Ayah mulai berjalan menaiki tangga, disusul oleh ibu dan ketiga saudaraku.
Ia membawa kami masuk ke ruang rapat. Ya, itu yang kupikirkan saat melihat tatanan meja dan kursi seperti ruang rapat di zaman modern di bumi. Ayah mendudukanku dimeja dan memposisikan aku didepan, sehingga aku bisa melihat semuanya.
"Kita sudah disini dan kau masih berutang penjelasan pada ayah, Ella.." ujar Duke sembari membelai kepalaku.
"Iya ayah. Ngghh sebenarnya mengetahui ruangan ini dari Adasha." Mendengar perkataanku, mereka semua tampak bingung.
"Adasha? siapa dia?" tanya Stanley penasaran.
"Kakak tidak tahu kau sudah memiliki teman Jewel. Sejak kapan ada rahasia diantara kita?" sambung Halbert yang mempautkan bibirnya.
"Tapi bisa mengetahui ruangan ini, sepertinya Adasha itu bukan orang sembarangan." Ujar Arthur menatapku seolah menuntut penjelasan lebih.
Aku terkekeh melihat reaksi mereka. Tapi yang paling mengejutkanku itu reaksi Arthur, apa dia selalu dapat berpikir tajam seperti itu? Kuperhatikan wajah ayah dan ibu, mereka hanya diam seolah menungguku melanjutkan penjelasan.
"Hehe.. kami juga baru kemarin berkenalan. Ini mau aku perkenalkan Adasha pada kalian juga." Kekehku.
"Adasha, keluarlah!" pekikku. Muncul cahaya berbentuk salju dari atas kepalaku dan Adasha pun muncul. Nampaknya mereka semua sangat terkejut melihat munculnya Adasha.
Aku bisa melihat mata mereka yang membola melihat naga kecilku. Mereka bahkan sampai berdiri dari kursinya dan mendekatiku. "Naga Galaea ini, bagaimana bisa dia..?" ujar ayah yang tergagap melihatnya.
"Woww !! Jewel, kau benar-benar gadis yang penuh dengan kejutan," ucap Arthur.
"Apa ini?! aku tak percaya aku bisa melihat naga yang hanya pernah aku baca dibuku," ungkap Stanley yang masih percaya tak percaya.
"Wahhhh...cantiknya dia," ucap Halbert dengan matanya yang berbinar-binar.
Ketiga kakakku mendekat dan mencoba menyentuh Adasha. Tiba-tiba tangan Arthur digigitnya.
__ADS_1
"Oouuuchhhh...!!!!"
Baru pertama kali aku melihat Adasha agresif.
"Adasha, lepaskan gigitanmu!" ucapku tegas.
Seketika itu juga gigitannya dilepas dari tangan Arthur. "Kak Arthur, kau tidak apa-apa?" tanyaku khawatir.
"Aku tidak apa-apa Jewel, ini hanya luka kecil," jawab Arthur.
"Dia agresif sekali ya Jewel," ucap Stanley.
"Hahaha..aku suka..aku suka..," ujar Halbert.
"Adasha, aku akan mengenalkanmu sekarang pada keluargaku.
Ini ayahku Duke Ardolph De Luksemburg,
ibuku Duchess Sapphira Odelia Luksemburg, kakak pertamaku Stanley Aylward Luksemburg, kakak keduaku Arthur Robert Luksemburg, dan kakak ketigaku, Halbert Talver Luksemburg," ungkapku.
• Piiii aaa piiii
Adasha tersenyum dan mengepak-ngepakkan sayapnya.
"Ella, Naga Galaea adalah naga suci dan merupakan monster utara terkuat dengan elemen sihir es. Belum ada satupun orang ataupun monster yang memiliki elemen sihir ini di kerajaan Magentia, bahkan di kekaisaran Moncerrat" ucap ayah sambil mengelus kepalaku. Ia tidak menyangka anak perempuannya akan menjadi seorang menjadi Beast Master.
"Benar Ella, bagaimana bisa kau bertemu naga menggemaskan ini?" tanya ibu seraya mengelus kepala Adasha. Aku pun menceritakan semua yang kualami dimulai dari mimpi burukku hingga bagaimana aku kembali sadar setelah koma empat belas hari lamanya.
Setelah selesai bercerita, semua terdiam. Suasana menjadi hening. Mereka tahu bahwa apa yang aku alami, bukan sekedar candaan seorang anak kecil. Apalagi aku juga tak sadarkan diri selama 14 hari lamanya.
"Kata Lydia, Adasha adalah naga yang akan melindungi keluarga kita. Iya kan Adasha?!" ucapku antusias seraya menggendong Adasha.
• Piiii piiiii
Ayah tersenyum ramah pada Adasha, ia juga membelai kepalanya.
"Sungguh suatu berkah bagi keluarga kita. Adasha, mulai saat ini kau adalah bagian dari keluarga Luksemburg. Kau adalah bagian dari keluarga Luksemburg sekarang, namamu Adasha Luksemburg" ucapnya yang masih mengelus kepala Adasha.
•Piiiiiiiiiii
Aku mengalihkan pembicaraan pada pembunuhan yang akan terjadi dirumah kami beberapa bulan lagi. "Morgan dibunuh tepat satu bulan sebelum ayah pergi ke wilayah utara dan Mamon membunuh keluarga kita satu minggu sebelum keberangkatan. Ayah, bagaimana cara kita mencegah kematian Morgan?" tanyaku.
Ayah diam seribu bahasa, ia menutup matanya dan tampaknya sedang berpikir. Namun saat ia membuka mata, untuk pertama kalinya kami empat bersaudara melihat tatapan penuh amarah darinya.
"KEPARAT !!!" teriak ayah seraya meninjukan tangannya ke dinding. Dinding emas dalam ruangan itu hancur seketika. Aku menelan salivaku susah payah. Baru kali ini aku melihat ayah semarah ini.
"Ardolph, tenanglah," ucap Duchess. Ketiga kakakku juga terlihat tak kalah marahnya dengan ayah.
"Claimence dia?!" ayah tampak sedih saat menyebutkan nama Claimence. Ia menatapku dan sorot matanya pun melembut.
"Ayah percaya pada setiap kata-katamu Ella. Aku dan ibumu membesarkan kalian dengan penuh kasih sayang, karena kami sangat mencintai kalian. Tapi sepertinya sudah saatnya, kita membuka mata akan kejahatan yang menanti kedepannya. Akan ada banyak rasa sakit, penderitaan, ketakutan yang akan kalian rasakan. Diluar dari kediaman ini, hanya ada dimakan atau memakan," ujar Duke seraya memeluk kami berempat erat.
__ADS_1
"Ayah, ibu, aku adalah putra sulung keluarga Luksemburg. Aku akan berusaha untuk menjadi lebih kuat lagi agar aku bisa melindungi kita semua," ucap Stanley sambil mengepalkan tangannya.
"Benar ayah, ibu, aku tak akan membiarkan seorangpun menghancurkan keluarga kita," ucap Arthur dengan tatapan liciknya.
"Siapapun yang berani menyentuh keluarga Luksemburg, akan kupastikan mati mengenaskan," ucap Halbert dengan tatapan yang penuh dengan aura membunuh.
"Mamon ini, kita harus segera mengurusnya Ardolph," ujar ibu menatap ayah serius.
"Kau benar Sapphira, tapi sebelum itu, kita urus dulu kejadian kematian Morgan ini," ucap Duke melepas pelukannya.
"Morgan itu seorang penyihir angin yang tangguh. Selain itu, ia sangat hebat dalam ilmu berpedang. Ia dikenal dengan sebutan Twin Swords," ungkap Duke.
"Ada yang janggal ayah. Tidak heran apabila Mamon hendak membunuh ayah, karena ayah adalah penerus pengguna unique magic kedua. Membunuh ayah sama saja dengan mengurangi musuh mereka.
Dari kesebelas pengguna unique magic, ia membunuh Claimence terlebih dulu, untuk mengukur kekuatan pengguna unique magic manusia. Ini baru asumsiku, tapi kurasa saat ia mengalahkan Claimence, ia berpikir bahwa manusia itu lemah.
Makanya ia berani langsung berencana menyingkirkan ayah dan keluarga kita agar tidak ada manusia yang dapat menjadi penghalang lagi bagi pembalasan dendam para iblis. Ditambah lagi sifatnya yang angkuh itu, benar-benar memuakkan!
Tapi membunuh Morgan saja dari seluruh penghuni keluarga Luksemburg, ini terlalu mencurigakan. Kemungkinannya dimalam ia dibunuh, Morgan menyadari musuh yang tidak ingin diketahui identitasnya atau ia menyembunyikan sesuatu darimu ayah" ungkap Arthur seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Ayah, aku setuju dengan kak Arthur, aku ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dimalam saat Morgan dibunuh didalam ruangan kerja ayah. Di mimpi aku tidak melihatnya dengan jelas karena aku berada diluar dan aku juga sangat ketakutan dimimpi itu. Jadi badanku tak bisa digerakkan," sambungku. Ayah menganggukan kepalanya.
"Ayah..aku belum tahu apakah aku akan menyelamatkan Morgan atau tidak!" ucap Stanley.
"Stanley, Morgan sudah bekerja dikediaman ini selama dua puluh tahun tahun nak. Ia sudah seperti keluarga kita sendiri" tampik ibu.
"Aku tahu ibu, tapi maaf aku tak senaif itu mempercayainya begitu saja," ucap Stanley.
"Kita harus menyelidiki apa yang terjadi dulu diruangan kerja ayah sampai hari dimana Morgan dibunuh. Siapa yang tahu ibu, apakah dia adalah mata-mata kekaisaran Demonic atau bukan," ujar Halbert.
"Aku setuju dengan Halbert. Bisa jadi ia adalah mata-mata seseorang. Jika itu yang terjadi, biarkan saja dia terbunuh!" ucap Arthur dengan tatapan dingin.
"Tak kusangka akan datang hari dimana kau dan aku sepemikiran kak Arthur," ujar Halbert tersenyum sarkas. Sudut bibir Arthur terangkat mendengar penuturan Halbert. "Heh.."
"Kita akan putuskan dia layak diselamatkan atau tidak setelah kita lihat apa yang sebenarnya terjadi," putus ayah tegas.
"Tapi bagaimana kita bisa menyusup ke ruangan itu ayah tanpa ketahuan oleh Morgan dan si pembunuh ini?" tanya Halbert.
"Kakak, aku bisa menyembunyikan kalian" ucap Adasha dalam kepalaku.
"Bagaimana caranya Adasha?" tanyaku.
"Arahkan tangan kedepan dan ucapkan mantra Quera Raveillona Adasha. Untuk melepaskan efeknya, kakak cukup ucapkan katakan release" jawab Adasha.
"Baiklah, terima kasih Adasha" ujarku senbari mengelus kepala Adasha.
"Ayah, ibu, kakak aku akan menggunakan sihir Adasha untuk bersembunyi di ruangan kerja ayah malam itu. Tapi karena Adasha masih kecil, ia hanya bisa menyembunyikan dua orang dan itu termasuk aku. Jadi aku hanya bisa menyembunyikan satu orang lagi," ucapku.
"Bagus! itu sudah lebih dari cukup Jewel" ucap Arthur. "Aku punya rencana bagus untuk itu" sambungnya.
"Tunggu, Adasha bisa bicaraaa?!" ucap mereka berlima serempak. Aku tertawa melihat reaksi mereka. "Tentu saja, aku dan dia terhubung. Dia bisa bicara dalam benakku." Terangku.
- To be continued
__ADS_1