Detektif Haezel

Detektif Haezel
INTEROGASI


__ADS_3

"Nanti pulang jam berapa?" Tanya Haezel seraya membantu melepaskan helm dari kepala Mayra.


"May bisa sendiri, Pak Ezel!" Tolak Mayra seraya mundur beberapa langkah agar tangan Haezel tak bisa menjangkaunya.


"Nanti pulang jam berapa?" Tanya Haezel sekali lagi.


"Jam satu. Tapi Mayra naik angkot saja," jawab Mayra cepat.


"Nanti aku jemput, ya!" Ucap Haezel memaksa.


"Tidak usah, Pak!" Tolak Mayra ikut-ikutan memaksa.


"Iya, tidak usah naik angkot! Nanti aku yang jemput," ujar Haezel yang hanya membuat Mayra menghentakkan satu kakinya.


"Yaudah, Mayra masuk dulu, Pak! Terimakasih sudah diantar sampai sekolah," pamit Mayra akhirnya yang tak mau lagi berdebat dengan Haezel.


"Helmnya! Mau dibawa juga?" Haezel mengendikkan dagu ke arah helm tang masih didekap oleh Mayra. Teroaksa Mayra maju lagi beberapa langkah untuk memberikan helm pada Haezel.


"Rambutnya digerai saja!" Ucap Haezel usil, seraya menarik ikat rambut Mayra hingga terlepas.


"Pak Ezel!" Protes Mayra cepat.


"Udah, begitu saja!" Saran Haezel seraya tersenyum dan menatap pada wajah Mayra dengan tatapan penuh ketertarikan.


"Nanti dimarahi, Pak!" Mayra beralasan.


"Kan nggak panjang-panjang amat rambut kamu! Nggak mungkin dimarahi!" Haezel merasa sangsi.


"Kembalikan ikat rambut Mayra, Pak!" Pinta Mayra mulai kesal sekarang. Namun Haezel malah tertawa seolah itu adalah hal lucu.


"Coba panggil yang benar dulu! Nanti aku balikin." Haezel mengajukan syarat yang sontak membuat Mayra merengut.


"Baiklah! Nggak usah aku balikin," Haezel hendak memasukkan ikat rambut Mayra ke dalam saku jaketnya, saat akhirnya Mayra mencegah.


"Jangan, Mas!"


"Apa? Nggak denger!" Haezel pura-pura tak mendengar panggilan Mas yang Mayra lontarkan.


"Tolong kembalikan ikat rambut Mayra, Mas Ezel!" Pinta Mayra akhirnya. Tentu saja hal itu langsung membuat Haezel menyunggingkan sebuah senyuman.


"Silahkan, May!" Haezel menyodorkan ikat rambut Mayra, dan gadis itu mengambilnya dengan cepat, lalu mengikat rambutnya kembali.


"May masuk dulu, Pak!"


"Selamat pagi!" Pamit Mayra sekali lagi seraya berbalik dan meninggalkan Haezel yang masih tersenyum seraya menatap pada gadis itu.

__ADS_1


"Selamat pagi, Mayra cantik!"


****


Haezel kembali pulang ke rumah Kak Aileen setelah mengantar Mayra ke sekolah. Pria itu bersiul santai saat masuk ke teras, dimana Papi Galen sedang duduk dan mengobrol bersama Mami Emily serta Kak Aileen. Hanya Abang Cliff yang tidak kelihatan. Sepertinya sudah pergi ke kantor. Tapi kenapa mobilnya masih ada di garasi?


"Lihat! Pak detektif sudah pulang!" Celetuk Aileen sembari memberikan baby Latisha yang sudah selesai ia susui pada Mami Emily. Namun kemudian Papi Galen malah mengambil alih bayi perempuan enam bulan tersebut dari pangkuan sang istri.


"Ayo sama Opi!" Ujar Papi Galen.


"Duduk disini, Ezel!" Titah Mami Emily pada Haezel yang baru tiba.


"Sedang membahas apa ini? Rapat keluarga?" Seloroh Haezel seraya mendaratkan bokongnya di samping Mami Emily.


"Sedang membahas tentang kau yang terlampah caper pada Mayra!" Ujar Papi Galen to the point.


"Caper?" Haezel bergumam sebelum kemudian pria itu berdecak kecil.


"Kau serius dengan Mayra, atau hanya ingin main-main, Haezel?" Tanya Papi Galen seraya menatap serius ke arah Haezel.


"Main-main bagaimana maksud papi? Haezel mau mempermainkan Mayra, begitu?" Sergah Haezel merasa tak terima.


"Bisa jadi!"


"Karena kau juga baru saja putus dari Cheryl. Mungkin kau hanya ingin menjadikan Mayra pelarian?"


"Ezel bukan pria semacam itu, Pi!"


"Dan soal hubungan Ezel bersama Cheryl, itu semua sudah berakhir dan Ezel tak pernah menjadikan Mayra sebagai pelarian!" Sergah Haezel menyangkal semua tuduhan Papi Galen.


"Lalu kenapa kau bisa cepat sekali move on dan tiba-tiba tertarik pada Mayra?" Tanya Papi Galen heran.


"Itu bukan hal yang tiba-tiba! Ezel memang tertarik pada Mayra sejak pertama kali melihatnya," jawab Haezel membuat pengakuan.


"Dan sekali lagi, itu bukan pelarian!" Sambung Haezel lagi dengan nada tegas.


"Itu benar-benar sebuah ketertarikan atau istilahnya-"


"Cinta pada pandangan pertama!" Potong Mami Emily dan Kak Aileen kompak. Papi Galen sampai terlonjak karena istri dan putrinya itu kompak sekali melanjutkan kalimat Haezel.


"Kompak sekali!" Cibir Papi Galen.


"Sudah menginterogasinya, Papi?" Tanya Mami Emily balik mencibir.


"Belum! Papi masih sangsi soal cinta pada pandangan pertama-"

__ADS_1


"Sangsi apa lagi? Bukankah Papi dulu juga seperti itu?" Sergah Mami Emily seperti sebuah skakmat untuk Papi Galen.


"Papi juga cinta pada pandangan pertama? Pada mami?" Tanya Aileen pemuh antusias.


"Ya! Tapi bedanya, papi kalian tak seperti Haezel yang langsung mau mengakuinya. Papi kalian itu sok jual mahal!" Cibir mami Emily yang langsung membuat Papi Galen mendengus karena kehilangan kata-kata.


"Ayo ke dalam mengambil camilan, Tisha!" Papi Galen akhirnya bangkit berdiri dan meninggalkan semua orang yang kini menahan tawa.


"Masih jual mahal, Pi?" Ledek Haezel yang akhirnya tergelak. Tak ada jawaban dari Papi Galen yang sudah menghilang ke dalam rumah bersama Baby Latisha.


"Jadi, kau benar-benar serius pada Mayra?" Aileen bertanya sekali lagi pada Haezel.


"Ezel serius, Kak!" Jawab Haezel sungguh-sungguh.


"Bukan pelarian, kan?" Aileen memastikan lagi.


"Tentu saja bukan! Ezel harus menjelaskan bagaimana lagi, Kak? Ezel serius dan tidak main-main apalagi menjadikan Mayra pelarian!"


"sama sekali tidak!" Jawab Haezel dengan nada tegas.


"Mayra masih sekolah, Ezel!" Mami Emily mengingatkan.


"Ezel akan menunggu sampai Mayra lulus, lalu-"


"Lalu apa?" Tanya Papi Galen yang sudah kembali seraya membawa bungkus biskuit bayi untuk Baby Latisha.


"Lalu mungkin Ezel akan menikahi Mayra." Haezel mengendikkan kedua bahunya, bersamaan dengan ponsel pria itu yang berbunyi.


"Sial!" Umpat Haezel saat tahu telepon yang masuk rupanya dari kantor. Pria itu segera bangkit berdiru dan sedikit menjauh untuk mengangkat telepon.


"Baiklah! Aku akan ke kantor hari ini!" Seru Haezel yang terlihat kesal karena ada panggilan mendadak dari kantor. Tapi Haezel memang tidak sedang mengambil cuti, jadi Haezel tak bisa mangkir.


"Ya! Sampai jumpa nanti! Aku akan pesan tiket dulu!" Pungkas Haezel seraya menutup telepon.


"Sudah dibilang agar dirumah saja!" Cibir Papi Galen pada sang putra.


"Ck! Iya, Pi! Iya!" Sinis Haezel sebelum kemudian pria itu masuk ke rumah untuk bersiap oergu ke bandara kota. Rindu pada Mayra belum usai, dan Haezel sudah haris kembali bekerja sekarang. Menyebalkan!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2