Detektif Haezel

Detektif Haezel
MAYRA KENAPA?


__ADS_3

Haezel turun dari taksi yang mengantarnya dari bandara ke rumah Kak Aileen. Suasana rumah amsih sepi karena jam di arloji Haezel baru menunjukkan pukul enam pagi. Tadi Haezel memang naik penerbangan paling awal karena ia sudah tak sabar untuk segera bertemu lagi dengan Mayra.


Semoga Mayra sudah mulai welcome pada Haezel.


Kata Kak Aileen dan Mami Emily, Mayra betah berada di rumah Kak Aileen dan sudah jarang meracau atau berteriak histeris. Wanita itu juga sudah jarang menangis tanpa sebab dan lebih sering bermain bersama Latisha yang kini sudah mulai belajar berjalan.


Ting tong!


Haezel membunyikan bel di samping pintu demi membuat kejutan untuk siapa saja yang nantinya akan membuka pintu.


Tak berselang lama, pintu dibuka dari dalam oleh seseorang.


"Doorrr!" Haezel mengejutkan seseorang yang membuka pintu yang rupanya adalah....


Mayra!


Mayra terlihat kaget bahkan istri Haezel itu sampai terlonjak karena sapaan kejutan dari Haezel tadi.


"May!" Haezel mengulas senyum dan hendak memeluk istrinya tersebut. Namun Mayr langsung menunjukkan ekspresi wajah takut sekaligus enggan. Dan wanita itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Haezel.


"Siapa yang datang, May?" Tanya Kak Aileen yang menyusul ke pintu depan.


"Ezel!" Seru Kak Aileen yang langsing memeluk adik kesayangannya tersebut dengan erat. Berbeda dengan Haezel yang terpaksa harus kembali menelan gumpalan pahit di tenggorokannya karena Mayra yang ternyata masih takut kepadanya.


Haezel tak mengerti, kenapa Mayra takut kepadanya?


Haezel bahkan tak pernah menyakiti wanita itu sedikitpun.


"Pagi sekali datang?" Tanya Kak Aileen yang sudah ganti menepuk punggung Haezel.


"Sudah kangen pada Mayra, Kak!" Jawab Haezel seraya memaksa untuk mengulas senyum di bibirnya. Meskipun hati Haezel rasanya sedang tak karuan. Kakak beradik itu baru saja akan duduk di sofa ruang tengah untuk lanjut mengobrol, saat tiba-tiba terdengar teriakan Mbok Sum dari arah dapur.


"May! Kamu kenapa?"


"Mayra kenapa, Kak?" Haezel tak jadi duduk dan bergegas pergi ke dapur untuk melihat apa yang sedang terjadi pada Mayra. Pun dengan Aileen yang langsung ikut ke dapur juga.


"Mayra kenapa, Mbok?" Tanya Haezel yang tak menemukan Mayra di dapur. Hanya ada Mbok Sum yang sedang membersihkan seperti bekas muntahan.


Samar-samar terdengar suara Mayra yang sedang muntah-muntah di dalam toilet dekat dapur. Bergegas Haezel ke toilet untuk memeriksa.


"Mayra muntah, Mbok?" Gantian Aileen yang bertanya pada Mbok Sum.


"Iya, Nak Aileen. Mbok juga tidak tahu kenapa. Mungkin Mayra salah makan," ujar Mbok Sum menerka-nerka.


Aileen ikut ke toilet untuk memeriksa Mayra yang masih mual-mual. Haezel sepertinya tak berani mengusap punggung Mayra karena mungkin khawatir wanita itu akan histeris atau tiba-tiba menangis. Jadi Aileen yang akhirnya mengambil alih dan mengusap-usap punggung Mayra.


"Mual, May?" Tanya Aileen memastikan. Mayra hanya mengangguk, lalu wanita itu berkumur beberapa kali setelah mualnya sedikit berkurang.


"Ayo minum air hangat dulu!" Ajak Aileen seraya membimbing Mayra untuk keluar dari toilet, lalu mengajak wanita itu duduk di kursi di ruang makan. Mbok Sum sudah langsung datang membawakan teh hangat untuk Mayra.

__ADS_1


"Diminum dulu, May!" Titah Mbok Sum.


Mayra baru saja akan meminum tehnya, saat kedua netra wanita itu menatap pada Haezel yang kini memperhatikannya.


Mayra tak jadi minum dan meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja. Lalu Mayra mencari-cari tangan Aileen dan menggenggamnya erat, sambil menyembunyikan wajah di pundak Aileen.


"Ada apa?" Tanya Aileen bingung.


Haezel yang sudah langsung paham dengan tanda yang diberikan Mayra tersebut hanya mampu menghela nafas, lalu memilih untuk meninggalkan ruang makan.


"Ezel akan pergi!" Gumam Haezel seraya melangkah menuju ke teras belakang.


Mayra sudah kembali tenang dan wanita itu lanjut menyesap tehnya.


"Mayra kenapa, Ai?" Tanya mami Emily yang baru keluar dari kamar. Cliff juga sudah keluar dari kamar seraya menggendong baby Latisha yang rupanya sudah bangun.


"Mayra muntah-muntah, Mi! Sepertinya masuk angin," jelas Aileen pada Mami Emily dan Cliff.


"Lalu tadi yang datang siapa?" Gantian Cliff yang bertanya.


"Ezel," jawab Aileen seraya mengendikkan dagunya ke teras belakang.


"Nanti kamu bawa Mayra ke dokter!" Ujar Cliff pada Aileen, sebelum kemudian pria itu menyusul Haezel ke teras belakang masih sambil menggendong Latisha.


"Masih mual, May?" Tanya Mami Emily seraya mengusap kepala Mayra.


"Sedikit, Mi," jawab Mayra lirih.


"Tidak apa-apa! Nanti Mami dan Kak Aileen yang akan menemani kamu, oke!" Bujuk Mami Emily lagi.


"Mayra nggak sakit, Mi!" Mayra terlihat ketakutan.


"Mungkin memang hanya masuk angin, Bu Emily. Biar istirahat di rumah saja dan jangan dipaksa ke rumah sakit," ujar Mbok Sum memberikan masukan.


"May nggak sakit, Budhe!" Mayra kembali meracau dan menyembunyikan wajahnya di pundak Mbok Sum.


"Iya, May! Sudah!"


"Baiklah! Kita tidak jadi ke dokter!" Mami Emily merengkuh kedua pundak Mayra dan kembali membujuk gadis itu agar tenang.


Mayra mengangguk-angguk.


"Sekarang Mayra makan, ya!" Bujuk Mami Emily selanjutnya. Mayra menggeleng lagi.


"Mual, Mi!" Mayra beralasan.


"Kok mual? Apa jangan-jangan maagh?" Tanya Mami Emily bingung. Berbeda dengan Aileen yang hanya diam sejak tadi seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aileen, kamu bisa panggil dokter ke rumah?" Ujar Mami Emily pada Aileen yang melamun.

__ADS_1


"Ai!" Mami Emily menepuk pundak putri sulungnya tersebut dan Aileen langsung tersentak kaget.


"Iya, Mi! Ada apa?" Tanya Aileen tergagap.


"Kamu panggil dokter agar datang memeriksa Mayra di rumah! Mayra tidak mau makan dan katanya mual." Ujar Mami Emily sedikit gemas pada sang putri yang malah melamun saat diajak bicara.


"Aileen akan bicara pada Ezel dulu!" Izin Aileen seraya menuju ke teras belakang untuk menghampiri Haezel dan Cliff.


"Ezel...."


Haezel langsung menatap pada kakaknya tersebut seolah langsung bisa menebak apa yang hendak diucapkan Aileen.


"Kapan terakhir Mayra-"


"Datang bulan?" Haezel menyambung kalimat Aileen.


"Ezel akan beli testpack," ujar Haezel seraya bangkit dari duduknya dengan wajah yang terlihat tak bersemangat.


"Tidak usah!" Cegah Aileen cepat seraya memegang lengan Haezel.


"Aku masih punya!" Ujar Aileen selanjutnya. Wanita itu kembali masuk ke dalam rumah untuk bicara sebentar dengan Mami Emily.


Sedangkan Haezel hanya memperhatikan Mayra yang sedang duduk bersama Mbok Sum sambil sesekali menyesal teh hangat di cangkirnya.


Cliff menepuk punggung Haezel dan mencoba menenangkan adik iparnya tersebut. Tapi bukannya merasa tenang, pikiran Haezel mqlah semakin kalut sekarang karena mendadak ada satu hal yang mengganggu Haezel...


"Mas tidak pakai pengaman tadi. Katanya mau keluar di luar?"


Mayra sudah dibawa Mami Emily ke toilet untuk buang air sedangkan Aileen terlihat masuk ke kamar mungkin mengambil testpack.


Tak berselang lama, Aileen kembali ke halaman belakang membawa testpack serta air seni Mayra.


"Kita tes dulu, lalu nanti kita ajak Mayra ke dokter untuk memastikan kalau memang hasilnya dua garis," ujar Aileen menatap bergantian pada Haezel dan Cliff seolah minta persetujuan. Dia pria itu mengangguk samar, dan Aileen segera mencelupkan batang testpack ke dalam air seni Mayra.


Waktu terasa melambat saat mereka bertiga menunggu hasil dari testpack yang baru saja dicelupkan oleh Aileen


Satu garis merah sudah terlihat. Haezel menelan ludahnya dengan susah payah, saat garis merah kedua ikut terlihat juga meskipun sedikit samar. Hati Haezel serasa ditimpa batu besar sekarang.


Mayra hamil!


.


.


.


Maaf kalau konfliknya diluar ekspektasi kalian. Cerita ini rada rumit🙈


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia


__ADS_2