
"Harus?" Tanya Allegra setelah Haezel menjelaskan rencana penjebakan untuk Neeta yang merupakan mantan istri Allegra.
"Aku minta tolong satu kali ini saja. Karena setelah aku selidiki, Neeta sepertinya masih tergila-gila padamu."
"Dia beberapa kali ke apartemenmu lalu beberapa hari yang lalu dia juga menemuimu di kantor," Haezel membaca catatan di ponselnya seolah sedang memberitahu Allegra.
"Aku sudah tak pernah datang ke apartemen," gumam Allegra beralasan.
"Aku sudah menghubungi security di gedung apartemenmu untuk koordinasi jika nanti Neeta datang dan kita akan langsung beraksi-"
"Kau yakin wanita itu terlibat?" Allegra menyela paparan rencana Haezel.
"Neeta memang terlibat. Hanya saja dia pandai mengelak. Makanya kami harus memakai cara ini." Ujar Haezel menjelaskan.
"Kau menyebalkan!"
"Kalau saja kau bukan sepupu Sasha, aku tak akan membantumu!" Tukas Allegra yang langsung membuat Haezel terkekeh.
"Aku juga sepupu jauhmu!" Haezel mengingatkan.
"Oh, ya! Sepupu jalur mana? Maaf, aku lupa," Allegra memainkan gelas berisi minuman di tangannya.
"Opi Bian dan Oma Eve adalah kakak beradik!" Jelas Haezel.
"Seperti hubungan sepupu antara aku dan Sasha. Apa itu artinya kita bisa menikah?" Seloroh Allegra yang sontak membuat Haezel tergelak.
"Aku akan mengatakan pada Sasha kalau kau mengajakku menikah-"
"Jangan coba-coba!" Allegra menuding pada Haezel.
"Atau aku tak akan membantumu!" Ancam Allegra selanjutnya.
"Baiklah, bercanda!"
"Tapi sebaiknya kau mengatakan rencana kita ini pada Sasha terlebih dahulu agar dia tak salah paham. Dia sedang hamil, kan?" Tanya Haezel yang mendadak ingat juga pada kehamilan Mayra.
Sudah hampir dua bulan Mayra di rumah Kak Aileen dan wanita itu sepertinya masih enggan untuk pulang. Biasanya saat weekend saja Haezel akan terbang ke rumah Kak Aileen untuk menjenguk Mayra.
"Ya!" Jawab Allegra
"Mayra bagaimana? Apa masih di rumah Aileen?" Allegra ganti bertanya pada Haezel yang seketika raut wajahnya berubah sendu. Semua keluarga Biantara tentu tahu hal pilu yang menimpa Mayra beberapa bulan lalu. Dan semuanya tak pernah berhenti memberikan support untuk Haezel agar tetap kuat melalui ini semua.
"Masih betah di sana. Nanti hari Sabtu aku akan menjenguknya lagi," cerita Haezel dengan raut wajah tegar.
Ponsel Allegra berbunyi dan pria itu langsung mengangkatnya, serta berbicara sejenak pada seseorang di telepon.
"Aku harus kembali ke kantor sekarang," pamit Allegra akhirnya setelah pria itu selesai berbicara di telepon.
"Baiklah! Nanti aku hubungi lagi perihal rencana itu!"
"Terima kasih banyak atas waktumu, Alle!" Ucap Haezel seraya melambaikan tangan pada Allegra yang langsung keluar dari kafe, dimana tadi Haezel dan Allegra bertemu.
__ADS_1
Haezel menyesap sisa kopi di cangkirnya, sebelum bangkit untuk membayar tagihan. Pria itu lalu keluar dari kafe dan akan kembali ke kantor polisi juga. Namun saat Haezel baru tiba di tempat parkir kafe, ia malah tak sengaja melihat sebuah pemandangan....
"Sudah kubilang untuk tidak keluyuran!" Reynold terlihat mencekal tangan Cheryl yang terus menyentak dan berontak.
Haezel sedikit mengernyit sekaligus tak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Reynold dan Cheryl. Pasangan itu sepertinya sedang ada masalah.
"Aku sedang mencari udara segar!" Sergah Cheryl yang terlihat mendelik pada Reynold. Sesaat kemudian, tatapan mata Cheryl tak sengaja bertemu dengan tatapan mata Haezel yang sedang menyaksikan perdebatannya dengan Reynold. Tapi kemudian Cheryl dengan cepat membuang tatapannya ke arah lain.
Namun Reynold rupanya cepat tanggap dan pria itu langsung melempar tatapan tajam pada Haezel yang langsung bergegas membuka pintu mobilnya.
"Sedang mengawasi seseorang, Pak Detektif keparat?" Sapa Reynold kasar.
Haezel memilih untuk tak menanggapi dan pria itu bergegas masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Reynold yang masih mencekal kasar lengan Cheryl.
Haezel tak mengerti, kenapa Reynold sikapnya jadi sekasar itu pada Cheryl yang jelas-jelas adalah kekasihnya.
****
Haezel tiba di rumah Aileen Sabtu malam karena ia harus mengurusi penjebakan Janeeta yang akhirnya berhasil mengungkap bandar utama dari kasus yang kemarin ia tangani. Meskipun sempat ada salah paham di antara Sadha dan Allegra karena kurang komunikasi, tapi syukurlah semuanya sudah terselesaikan dengan baik.
"Malam!" Sapa Haezel pada Mami Emily yang sedang duduk di ruang depan seraya bercengkerama dengan baby Latisha. Kak Aileen dan Abang Cliff serta Mayra malah tak terlihat.
"Malam, Ezel! Papi tidak ikut?" Tanya Mami Emily yang sepertinya sudah kangen berat.
"Tidak! Tadi papi sibuk di kafe, Mi!" Jawab Haezel seraya menyapa Latisha yang sekarang sudah mulai cerewet dengan bahasa bayinya.
"Ck! Udah ditunggu padahal!" Decak Mami Emily yang sepertinya terlihat kesal.
"Perasaan beberapa hari yang lalu Papi sudah kesini. Memang sudah kangen lagi, Mi?" Tanya Haezel heran.
"Iya, iya! Yang bucin setiap hari!" Ledek Haezel seraya terkekeh. Mami Emily ikut terkekeh lalu membersihkan tangan Latisha yang belepotan biskuit karena bayi itu memang bermain sembari makan kudapan.
"Mayra sudah tidur, Mi?" Tanya Haezel selanjutnya pada sang mami.
"Sudah!" Jawab Mami Emily.
"Kak Aileen?" Tanya Haezel lagi.
"Sedang menemani Cliff ke acara perusahaan. Cuma Mami yang malam ini nge-date sama Latisha," kekeh Mami Emily yang juga membuat Haezel tertawa kecil. Pria itu kemudian bangkit berdiri dan langsung menuju ke kamar Mayra.
Haezel mendorong pintu kamar dan langsung terlihat Mayra yang berbaring membelakangi pintu kamar. Haezel menutup kembali pintu kamar sepelan mungkin. Pria itu lalu naik ke atas tempat tidur perlahan, dan langsung mendekap Mayra sembari mencium aroma tubuh istrinya tersebut.
"I love you!" Bisik Haezel di telinga Mayra, sebelum kemudian ia mencium puncak kepala Mayra. Namun sedetik kemudian, tangan Haezel yang melingkar di tubuh Mayra, tiba-tiba disentak oleh wanita itu.
"Pergi!" Usir Mayra pada Haezel.
Apa Mayra belum tidur? Atau istri Haezel ini hanya mengigau?
"May!" Panggil Haezel lembut.
"Pergi dan jangan menyentuhku!" Mayra menyentak tangan Haezel sekali lagi. Lalu wanita itu bangun dengan cepat dan langsung duduk meringkuk di sudut kamar.
__ADS_1
"Pergi!" Racau Mayra seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"May! Aku Ezel, suami kamu!" Haezel menghampiri Mayra dan berusaha membujuk istrinya itu.
"Pergi!"
"Pergi!" Mayra terus menggeleng-gelengkan kepalanya semnari mengusir Haezel.
"May!" Haezel masih mencoba membujuk Mayra, saat tiba-tiba wanita itu mendorong Haezel dengan kuat, lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu.
"May!"
"Buka pintu, May!" Haezel menggedor pintu kamaf mandi saat terdengar suara kran yang dinyalakan dari dalam.
"Mayra! Buka pintu, Sayang! Aku tak akan menyakitimu!" Haezel terus berteriak memanggil-manggil Mayra sembari menggedor pintu.
"Ezel, Mayra kenapa?" Tanya Mami Emily yang tergopoh-gopoh masuk ke kamar Mayra karena mendengar Haezel yang berteriak dan menggedor pintu.
"Mayra mengunci diri di kamar mandi, Mi!" Lapor Haezel yang masih terus menggedor pintu.
"Mayra! Buka pintunya, Sayang! Ini Mami!" Bujuk Mami Emily pada Mayra yang tak kunjung membuka pintu.
"Ezel dobrak pintunya, Mi!" Usul Haezel yang terlihat panik.
"Mayra!" Mami Emily kembali memanggil Mayra yang tak kunjung membuka pintu. Haezel yang merasa tak tahan lagi akhirnya mendobrak paksa pintu kamar mandi.
Braaak!
Pintu terbuka dan terlihat Mayra yang terduduk di bawah shower, sembari menggosok-gosok kulit serta anggota tubuhnya yang lain. Wanita itu juga sesekali menjambak rambutnya sembari menangis.
"Pergi!"
"Jangan menyentuhku!" Mayra terus saja meracau.
Mami Emily bergegas mematikan air shower, lalu meraih handuk untuk membalut tubuh Mayra yang basah kuyup. Wanita paruh baya tersebut lalu membimbing Mayra agar berdiri dan keluar dari kamar mandi.
"Suruh dia pergi, Mi!" Mayra menangis tergugu di dalam pelukan Mami Emily.
Haezel yang seakan paham kalau permintaan Mayra itu mengacu kepadanya, akhirnya keluar dari kamar dengan hati yang terasa diiris sembilu.
"Ezel! Mayra kenapa?" Tanya Kak Aileen yang baru tiba bersama abang Cliff.
Haezel tak menjawab dan pria itu langsung melangkah gontai ke halaman belakang.
Apa sebenarnya salah Haezel?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.