Detektif Haezel

Detektif Haezel
ADA HUBUNGAN APA?


__ADS_3

"Tekanan darahnya tinggi sekali," ujar dokter yang kinj memeriksa Mayra. Haezel menggenggam erat tangan istrinya tersebut dan pasangan suami istri itu masih berada di ruang UGD sebuah rumah sakit.


"Apa sejak awal kehamilan tekana darahnya selalu tinggi?" Tanya Dokter pada Haezel.


"Tidak, Dok! Di awal kehamilan tekanan darah Mayra normal dan cenderung rendah malahan. Baru setelah kandungannya masuk usia dua puluh minggu tekanan darahnya tiba-tiba melonjak. Kakinya juga sering bengkak seperti ini," terang Haezel seraya menunjuk ke kaki Mayra yang kembali bengkak.


"Kita tunggu hasil cek darah dan urine dulu. Nantj baru diputuskan apakah harus rawat inap atau bisa rawat jalan," pungkas dokter sebelum pamit keluar ruangan.


Mayra mengeratkan genggaman tangannya pada Ezel.


"Ada apa?" Tanya Haezel seraya merapikan rambut Mayra.


"Jangan kemana-mana, Mas!" Pinta Mayra.


"Aku temani dan akubtak akan kemana-mana," ujar Haezel yang sudah mengecup tangan Mayra.


"Sini!" Mayra menepuk ruang kosong di sebelahnya, dan Haezel langsung mengernyit.


"Sini!" Mayra sedikit memaksa.


"Baiklah." Haezel akhirnya bangkit dari kursi dan berpindah ke samping Mayra. Istri Haezel itu langsung menyandarkan kepalanya di dada Haezel.


"Minta dipeluk?" Tebak Haezel seraya mengusap lembut kepala Mayra.


"Heem!"


"Pelukan Mas Ezel yang paling nyaman," cicit Mayra manja. Haezel hanya mengulas senyum san mengecup puncak krpala Mayra, lalu kembali mendekap istrinya tersebut sembari menunggu hasil tes darah serta urine Mayra.


****


Jam menunjukkan pukul tujuh malam, saat Haezel dan Mayra keluar dari ruang UGD. Kondisi Mayra sudah membaik setelah wanita itu mendapatkan infus serta minum obat dari dokter. Namun dokter tetap menyarankan Haezel untuk terus mengawasi serta memantau kondisi Mayra.


"Sudah enakan?" Tanya Haezel memastikan sekali lagi.


"Sudah, Mas!" Jawab Mayra bersungguh-sungguh.


"Kuat dan sehat-sehat ya, Sayangnya Dad!" Ucap Haezel seraya mengusap perut Mayra yang kini sudahlah mulai terlihat membulat. Mayra langsung mengulas senyum dan menyandarkan kepalanya di pundak Haezel. Pasangan suami ostri otu berjalan beriringan menuju ke tempat parkir, saat kedua netra Haezel tak sengaja melihat Reynold yang keluar dari sebuah mobil.


Kenapa Haezel selalu saja bertemu dengan pria itu? Apa Reynold memang membuntuti Haezel kemana-mana atau ini hanya sebuah kebetulan?


Tapi kenapa Reynold ke rumah sakit kalau pria itu tak punya tujuan....


Semua prasangka Haezel seolah menguap, saat Haezel melihat seorang pria paruh baya turun dari mobil yang sama. Reynold terlihay membimbing pria paruh baya tersebut dengan hati-hati.


"Kenapa wajahnya terlihat tak asing? Siapa pria paruh baya itu?" Haezel bergumam seraya mengingat-ingat.


Namun seingat Haezel, Reynold adalah anak yatim piatu. Lalu siapa pria paruh baya yang bersamanya tersebut?


Seorang perawat terlihat membawa kursi roda untuk membawa pria paruh baya yang tadi turun dari mobil Reynold. Dan Haezel masih berusaha mengingat-ingat siapa pria yang wajahnya tak asing tadi....


"Kenakalanmu kali ini benar-benar sudah diluar batas, Arkan!"


"Papi tak akan menolongmu kali ini dan kau pantas mendekam di penjara!"


Ingatan Haezel melayang ke kejadian beberapa tahun silam, saat ia mengungkap dalang utama dari kasus penganiayaan yang menimpa Rumi dan Ethan.


Arkan!


Pria paruh baya yang bersama Reynold itu adalah Pak Brata yang merupakan Papi kandung Arkan!


Lalu apa hubungan Reynold dan keluarga Arkan?


"Mas!" Teguran Mayra langsung membuat Haezel menoleh cepat ke arah istrinya tersebut.


"Kok malah melamun, Mas?" Tanya Mayra seraya menatap heran pada Haezel.


"Enggak! Siapa yang melamun?" Kilah Haezel cepat.


"Ayo pulang kalau begitu!" Ajak Mayra selanjutnya pada Haezel yang hanya mengangguk. Pasangan suami istri tersebut segera masuk ke mobil, lalu melaju pulang ke rumah Oma dan Opa Haezel.


****


"Bukankah kau sahabat lama Reynold? Jadi aku pikir kau mungkin lebih tahu." Terdengar kekehan Randu dari ujung telepon saat Haezel meminta sahabatnya tersebut untuk menyelidiki tentang hubungan Reynold dan Pak Brata.


Kaki Randu memang masih belum pulih dan saat ini pria itu hanya duduk-duduk di kantor seharian untuk mengerjakan laporan serta menyelidiki beberapa kebenaran informasi yang masuk.


Termasuk informasi soal Reynold dan keluarga Pak Brata yang saat ini tengah Haezel selidiki.


"Arkan Bratasena, putra tunggal pak Brata dan Ibu Brata. Menjadi terdakwa kasus penganiayaan yang menimpa Dokter Ethan dan Rumi, lalu beberapa kasus penganiayaan serta pemerkosaan gadis di bawah umur."


"Aku sudah tahu yang itu! Aku yang mengerjakan laporan dan menangani kasusnya," decak Haezel.

__ADS_1


"Lalu informasi mana yang ingin kau ketahui. Arkan anak tunggal! Itu artinya Reynold bukan saudara kandung Arkan."


"Informasinya sudah sangat jelas, Ezel!"


"Mungkinkah Reynold anak angkat Pak Brata?" Tanya Haezel seraya menerka-nerka.


"Bisa jadi!"


Haezel kembali diam dan berpikir, saat Mayra tiba-tiba sudah bergelayut kepadanya.


"Ezel!" Panggil Randu dari seberang telepon.


"Ya! Besok aku akan mencari sendiri informasinya," putus Haezel akhirnya.


"Baiklah! Aku siap membantu dari balik layar."


"Hasil dari botol-botol yang hari ini aku kirim bagaimana?" Tanya Haezel lagi.


"Masih di selidik sementara. Begitu hasil keluar aku akan langsung menghubungimu."


"Pak Kepala tidak tahu, kan?" Tanya Haezel memastikan. Entah mengapa, Haezel masih curiga pada atasannya tersebut.


"Tidak! Aku mengerti kekhawatiranmu, Bung!"


Haezel tersenyum tipis, bersamaan dengan tangan Mayra yang tiba-tiba sudah menyusuri dadanya.


"Baiklah, aku tutup dulu teleponnya, Randu! Nanti aku akan menghubungimu lagi," pungkas Haezel akhirnya.


"Oke!"


Tuut tuut!


Telepon terputus!


Haezel meletakkan ponsel di atas nakas, lalu langsung menangkap tangan Mayra yang sejak tadi bermain-main di dadanya.


"Mas Ezel!" Mayra langsung menyandarkan kepalanya di dada Haezel.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Haezel seraya mencium dan mengusap-usap kepala Mayra.


"Belum ngantuk," Mayra meringis. Istri Haezel itu terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun merasa ragu.


"Nggak jadi," wajah Mayra tiba-tiba bersemu merah.


"Loh! Apanya yang nggak jadi?" Tanya Haezel bingung. Haezel merasa belum menerima permintaan apapun dari Mayra.


Mayra menggeleng-gelengkan kepalanya dan menutup wajahnya yang semakin memerah dengan telapak tangan.


"May, ada apa?" Tanya Haezel seraya berusaha untuk membuka kedua telapak tangan Mayra.


"May malu, Mas!" Cicit Mayra yang masih enggan untuk membuka wajahnya.


"Malu kenapa? Kau mau apa?"


"Coba ngomong!" Cecar Haezel yang terus memaksa Mayra. Haezel yang tak berhasil menyingkirkan kedua tangan Mayra dari wajah istrinya tersebut, memilih untuk mendekap Mayra saja.


"Ngomong!" Paksa Haezel lagi.


"Enggak!" Tolak Mayra seraya tertawa kecil.


"Ngomong sekarang! Mumpung belum malam ini!" Haezel mulai menciumi wajah Mayra hingga istrinya itu menggeliat kegelian.


"Mas Ezel!"


"Iya makanya! Tadi mau minta apa, Sayang?" Tanya Haezel sekali lagi merasa gemas pada Mayra.


"Tapi Mas Ezel jangan ketawa!" Mayra akhirnya membuka kedua telapak tangan yang sejak tadi menutupi wajahnya. Wanita itu juga mengajukan syarat untuk Haezel.


"Enggak akan!"


"Kau mau minta apa?" Tanya Haezel lagi.


Mayra membisikkan sesuatu pada Haezel meskipun sedikit malu-malu.


"Sekarang?" Tanya Haezel memastikan dan Mayra langsung mengangguk.


"Tapi yakin kamu bisa? Aku takutnya...." Tangan Haezel sudah berpindah ke perut Mayra lalu mengusap-usapnya.


"May juga nggak tahu. Belakangan ini kok Mayra jadi pengen dekat-dekat Mas Ezel terus."


"Trus kalau Mas Ezel udah di rumah ya pengennya gelendotan terus sama Mas Ezel."

__ADS_1


"Mas Ezel risih, ya?" Tanya Mayra sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Enggak! Kata siapa aku risih? Aku senang, kok!" Haezel mengecup kening Mayra dengan lama.


"Jadi yang tadi?" Tanya Haezel lagi dan Mayra langsung mengangguk yakin.


"Pusing, nggak? Atau mual? Pandangan kabur?" Cecar Haezel memastikan lagi.


"Enggak! May baik-baik saja!" Jawab Mayra bersungguh-sungguh.


"Cuma pengen itu," lanjut Mayra sambil sedikit meringis.


"Baiklah!"


"Fiuh!" Haezel menghela nafas sembari menanggalkan kausnya.


"Ini aku senang sekali kalau kau minta duluan seperti ini, May!" Haezel menangkup gemas wajah Mayr.


"Apa, sih!" Wajah Mayra kembali memerah.


"Benar! Aku senang sekali!" Ulang Haezel dengan nada lebay.


Cup!


Mayra mengecup sekilas bibir Haezel yang sudah begitu dekat dengan wajahnya. Haezel pun tak tinggal diam dan balas mengecup bibir Mayra. Pasangan suami istri itu berpagutan dengan begitu lama, dan tangan Haezel juga sudah bergerak aktif untuk menanggalkan baju Mayra.


"Auuw!" Mayra sedikit memekik saat Haezel mer*mas dadanya dengan lumayan kuat.


"Sakit?" Tanya Haezel khawatir.


"Sedikit."


"Sekarang bentuknya menggemaskan," ujar Haezel sambil kembali menangkup dua bongkahan kenyal tersebut.


"Lihat! Mirip squishy!" Ujar Haezel lagi yang langsung membuat Mayra tertawa kecil.


"Tapi yang ini squishy istimewa." Haezel memainkan ujungnya memakai lidah hingga membuat Mayra menggeliat dan menelan saliva berulang kali.


Setelah merasa puas bermain-main dengan dada Mayra, Haezel melanjutkan kecupannya ke perut Mayrra yang sudah mulai terlihat bentuknya. Haezel menciumi perut istrinya tersebut berulang-ulang sambil sesekqlqi menyapa sang calon anak yang kini sedang tumbuh di dalam sana.


"Hai, Sayangnya Dad! Kau sudah sebesar apa sekarang?"


"Sehat-sehat di dalam, ya! Sampai nanti waktunya kita bertemu dan Dad bisa menggendongmu!" Ujar Haezel panjang lebar yang sukses membuat kefua mata Mayra berkaca-kaca.


"Menurutmu, dia laki-laki atau perempuan?" Tanya Haezel seraya menatap pada Mayra yang masih berkaca-kaca.


"May nggak tahu, Mas," jawab Mayra dengan suara parau.


"Aku rasa perempuan dan pasti secantik Mommy-nya," tangan Haezel sudah terulur untuk menyeka butir bening di sudut mata Mayra.


"Mas Ezel akan menyayangi dan mencintainya sebesar cinta Mas Ezel ke Mayra, kan?" Tanya Mayra yang mendadak merasa khawatir.


"Tentu saja, Sayang!" Aku menyayangi dan mencintai kalian berdua," jawab Haezel bersungguh-sungguh.


Mayra mengangguk dan langsung menghambur ke pelukan Haezel.


"Terima kasih, Mas Ezel!" Lirih Mayra yang semakin membenamkan kepalanya di dada Haezel. Sejenak suasana menjadi hening dan Mayra hanya diam fi dalam dekapan Haezel.


"May,"


"May lanjut atau bagaima-" kalimat Haezel belum selesai, saat Haezel mendapati Mayra yang sudah terlelap di dalam pelukannya.


"Oh, ya ampun! Kau sudah mengantuk ternyata," Haezel tertawa kecil dan akhirnya memilih untuk tak melanjutkan permainan. Haezel menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Mayra yang sama-sama setengah naked, lalu Haezel juga membenarkan posisi Mayra agar nyaman berbaring.


"Mas!" Gumam Mayra masih dengan mata teepejam, namun tangannya meraba-raba ke samping dan menccari Haezel.


"Aku disini, Sayang!" Bisik Haezel seraya kembali mendekap Mayra, namun dengan posisi yang sudah berbaring sekarang. Mayra sydah kembali tenang dan Haezel ikut memejamkan matanya serta mencoba untuk tidur.


Ya!


Haezel juga perlu mengistirahatkan otak dan pikirannya sebelum esok ia kembali bergelut dengan berbagai kasus yang haris dipecahkan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2