
Mayra menyimpan file tugasnya, sebelum mematikan laptop di depannya. Di saat bersamaan, Haezel sudah masuk ke kamar sambil membawa segelas air putih.
"Sudah selesai tugasnya?" Tanya Haezel pada sang istri.
"Sudah, Mas!"
"May baru mau menyusul ke depan tadi," sambung Mayra lagi sedikit tak enak hati. Di saat keluarga Biantara sedang berbincang di ruang tengah, Mayra malah mengurung diri di kamar karena tugas kuliahnya yang menumpuk.
"Omi dan Opi sudah tidur?" Tanya Mayra selanjutnya karena sejak kemarin, kedua orangtua Papi Galen itu memang datang berkunjung. Tadinya rumah dan kafe ini memanglah milik Omi dan Opi Haezel tersebut. Namun setelah papi Galen dan mami Emily mengambil alih kafe, Omi Mia dan Opi Bian memutuskan untuk pindah ke Bali dan membeli sebuah villa di sana.
"Sudah!"
"Besok saja ngobrol sama Omi dan Opi," lanjut Haezel seraya mendekap Mayra dari belakang.
"Besok kuliah sampai jam berapa?" Tanya Haezel selanjutnya.
"Pulang sore lagi, Mas!" Jawab Mayra.
"Besok aku jemput." Haezel mulai menciumi leher dan tengkuk Mayra.
"Mas!" Mayra sedikit menggeliat.
"Ada apa? Masih palang merah?" Tanya Haezel seraya tangannya meraba pangkal paha Mayra.
"Sudah selesai tadi pagi," jawab Mayra sedikit meringis.
"Bagus sekali!" Haezel tersenyum penuh kemenangan.
"Akhirnya bisa buka puasa," ujar Haezel lagi seraya menggoda Mayra.
Haezel memutar kursi Mayra, lalu bersimpuh dan meraih kedua tangan istrinya tersebut. Haezel menciumi tangan Mayra, mulai dari jemarinya, lalu naik ke pergelangan tangan dan terus naik semakin ke atas. Hingga akhirnya, saat sudah sampai di pangkal tangan Mayra, Haezel mengangkat kedua tangan Mayra ke atas dan menyatukannya di atas kepala istrinya tersebut. Lalu Haezel lanjut menciumi wajah Mayra,mulai dati lening, kedua mata, pangkal hidung, lalu hidung dan pipi.
Dan terakhir Haezel mencium bibir Mayra dengan begitu panas hingga sebuah lenguhan berhasil lolos dari bibir istri Haezel tersebut.
"Mau mencoba di sini? Atau mau pindah ke atas ranjang?" Tawar Haezel seraya melepaskan pagutannya pada Mayra yang kini nafasnya sedikit tersengal.
"Memang bisa di sini? Di atas kursi?" Tanya Mayra ragu.
"Tentu saja bisa!" Jawab Haezel santai seraya kembali bersimpuh, lalu membuka deretan kancing di piyama Mayra. Haezel tak langsung melepaskan piyama motif bunga-bunga tersebut, melainkan hanya menyibaknya saja. Tangan Haezel lalu dengan cekatan membuka pengait nra Mayra dan saat itulah dua bukit kenyal milik Mayra langsung tergantung dengan bebas.
"Hap!"
__ADS_1
Haezel langsung melahap gundukan bagian kanan, dan menangkuk yang bagian kiri dengan tangannya.
Mayra sontak menelan salivanya, saat melihat Haezel yang kini seperti sedang menyusu kepadanya.
Haezel membalas tatapan Mayra sambil tetap bermain-main dengan dada istrinya tersebut. Lidah Haezel menjilat-jilat ujung dada Mayra yang terang saja hal itu membuat Mayra menggelinjang.
"Mas!" Erangan Mayra tertahan,saat Haezel ganti melahap bukit bagian kiri dan melakukan hal yang sama. Susah payah Mayra menelan salivanya dan tiba-tiba Haezel malah membimbing tangan Mayra menujubke pangkal pahanya, dimana milik Haezel yang berada di sana sudah tegak dan mengeras.
"Pegang!" Titah Haezel dan Mayra langsung menurut serta memegang milik suaminya tersebut.
"Kau sepertinya sudah siap," Haezel meraba pangkal paha Mayra yang sudah terasa basah. Pria itu lalu menurunkan pelan celana piyama Mayra.
"Kita tidak pindah, Mas?" Tanya Mayra saat Haezel menekuk kedua kaki wanita itu, hingga milik Mayra kini terpampang nyata.
"Kita coba dulu disini," Haezel yang juga sudah selesai membuka celananya, langsung menyentak masuk ke dalam milik Mayra.
"Oh!" Haezel mengerang begitu miliknya terasa dijepit oleh milik Mayra yang masih saja terasa sempit. Hari ini tepat enam ban pernikahan Mayra dan Haezel.
Haezel mulai bergerak, sementara Mayra yang posisinya masih duduk di kursi, kedua tangannya mencengkeram pegangan kursi.
"Bagaimana?" Haezel meminta pendapat Mayra.
"Sepertinya Mayra akan sakit punggung setelah ini, Mas!" Seloroh Mayra yang langsung membuat Haezel terkekeh.
"Mas belum pakai pengaman." Mayra mengingatkan.
"Iya! Aku belum mau keluar," jawab Haezel yang masih terus menggerakkan bokongnya. Sejenak suasana kamar menjadi hening dan hanya terdengar deru nafas Mayra serta Haezel.
"Ganti posisi, ya! Aku ambil pengaman dulu," titah Haezel seraya melepaskan pelan miliknya dari milik Mayra yang kini semakin basah kuyup. Haezel bergerak cepat membuka laci nakas dan mengambil kotak berisi pengaman...
"Ah, sial!" Umpat Haezel saat mendapati kotak tersebut yang ternyata kosong.
"Ada apa, Mas?" Tanya Mayra heran.
"Pengaman habis!" Haezel kembali menghampiri Mayra lalu menggendong istrinya itu ke atas ranjang.
"Mau beli dulu?" Tanya Mayra saat Haezel sudah kembali merentangkan kedua pahanya lalu menyentak masuk lagi.
"Mas!" Mayra melenguh karena merasakan milik Haezel yang semakin besar dan mengganjal.
"Nanggung."
__ADS_1
"Aku keluarkan di luar saja, ya! Sebelumnya juga sudah pernah," Haezel meminta pendapat Mayra sebelum kemudian istrinya itu hanya mengangguk.
Haezel sudah kembali bergerak di atas Mayra, lalu sesekali Haezel juga akan memagut bibir Mayra atau kadang bermain-main di dada Mayra yang semakin hari bentuknya semakin menggiurkan.
Lima belas menit berselang dan Haezel masih betah bergerak di atas Mayra. Tubuh pasangan suami istri itu juga sudah mulai berpeluh.
"Emmmhhh!" Haezel sedikit mengerang saat pria itu mulai mempercepat gerakannya.
"Aku....hampir....." Haezel terus bergerak naik dan turun dengan tempo cepat sebelum kemudian tubuh pria itu mengejang lalu bibirnya dengan cepat meraup bibir Mayra bersamaan dengan miliknya di bawah sana yang sudah mrnyemburkan cairan hangat ke dalam rahim Mayra
Puas mencium bibir Mayra,Haezel lanjut mendekap tubuh istrinya yang sudah basah oleh keringat tersebut.
"Mas," Panggil Mayra yang masih terengah.
"Ada apa?" Haezel masih belum melepaskan dekapannya maupun miliknya dari dalam milik Mayra.
"Mas tidak pakai pengaman tadi. Katanya mau keluar di luar," Mayra mengingatkan, dan saat itulah Haezel refleks melepaskan miliknya dari dalam milik Mayra.
"Astaga! Aku lupa!" Haezel langsung menepuk keningnya sendiri.
"Sudah terlanjur," Mayra bangun lalu langsung berdiri dan menuju ke kamar mandi.
"Nanti kamu bisa cuti kuliah dulu kalau hamil, Sayang!" Bujuk Haezel seraya menyusul langkah Mayra.
"Iya!"
"Lagipula, yang menghamili kan Mas Ezel. Kenapa harus risau?" kekeh Mayra seraya menyalakan shower. Haezel sudah ikut masuk dan menutup pintu kamar mandi.
"Aku mandiin, ya!" Rayu Haezel seraya mendekap pinggang Mayra.
"Genit!" Mayra mencubit perut Haezel yang sepertinya tak ada lemak.
"Ya biarin! sama istri sendiri, kok!" Sergah Haezel mencari alasan. Dan pasangan suami istri itu memulai ritual mandi mereka masih sambil bersebda gurau di bawah pancuran air shower.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.