
Haezel meregangkan ototnya sejenak, sebelum kemudian pria itu menyesap kopi hitamnya saat tiba-tiba seseorang menyodorkan selembar kertas ke hadapannya. Haezel menoleh ke arah belakang dan langsung terlihat Randu yang berdiri dengan tiga kakinya di belakang kursi Haezel.
"Apa ini?" Tanya Haezel to the point pada sahabatnya tersebut.
"Sebuah hasil yang kau tunggu-tunggu," jawab Randu yang malah membuat Haezel mengernyit. Haezel meletakkan cangkir kopinya sebelum mengambil kertas tadi dari tangan Randu. Haezel membaca dengan teliti tulisan demi tulisan di dalam kertas.
"Sidik jari Reynold ditemukan di salah satu botol yang kau bawa kemarin."
"Pernyataan Mayra berarti benar! Reynold yang sudah memberikan dan membayar para pemerkosa biadab itu!"
"Reynold dalang utama dari kasus pemerkosaan yang menimpa Ma-" Haezel membekap mulut Randu yang bercerocos penuh semangat, karena Pak Kepala mendadak muncul di depan pintu ruangan Haezel dan Randu.
"Selamat pagi, Pak Kepala!" Sapa Haezel seraya melepaskan bekapannya pada mulut Randu. Sementara tangan Haezel satunya langsung merem*s kertas yang tadi dibeloleh Randu dan membuangnya ke bawah meja.
"Pagi!"
"Sedang membahas apa? Kau terlihat bersemangat, Randu!" Tanya Pak Kepala yang mungkin saja tadi mendengar cerocos penuh semangat dari Randu.
"Sedang membahas...." Randu berpikir sejenak.
"Tentang kasus yang sedang kami tangani, Pak!" Haezel yang akhirnya menyambung kalimat Randu. Pria itu terlihat lebih tenang.
"Sudah ada kemajuan?" Tanya Pak Kepala lagi.
"Ya!" Jawab Haezel cepat.
"Semua bukti sudah terkumpul," sambung Haezel lagi seraya mengangsurkan map pada Pak Kepala yang langsung memeriksanya.
"Bagus!" Pak Kepala mengembalikan map tadi pada Haezel.
"Kakimu bagaimana, Randu?" Pak Kepala ganti bertanya pada Randu seraya mengendikkan dagu ke arah kaki Randu.
"Sudah lebih baik, Pak! Sebentar lagi saya akan meninggalkan kaki ketiga saya ini di rumah," jawab Randu seraya terkekeh. Haezel dan Pak Kepala ikut terkekeh.
"Baiklah, silahkan kalian lanjutkan pembahasan tentang kasus tadi. Aku ada janji bertemu seseorang," ujar Pak Kepala yang akhirnya pamit pergi. Haezel dan Randu mengangguk bersamaan, lalu keduanya saling diam hingga Pak Kepala keluar. Selang beberapa saay, Haezel bangkit berdiri dan menutup pintu ruangan.
"Hampir ketahuan," gumam Randu seraya meringis.
"Pelankan suaramu!" Titah Haezel seraya kembali duduk dan memungut kertas yang tadi ia buang di bawah meja.
"Reynold dalang utamanya! Feeling-mu benar, Ezel!" Randu mengulangi pernyataannya lagi namun dengan suara yang lebih pelan dan tak seheboh sebelumnya.
"Dan aku rasa Pak Kepala ikut berperan." Haezel berpikir untuk beberapa saat.
"Jadi maksudmu, saat Pak Kepala tiba-tiba memanggilmu ke ruangannya saat kau hendak menjemput Mayra itu bukan suatu kebetulan?" Tanya Randu mulai mengait-ngaitkan.
"Aku rasa bukan. Itu seperti disengaja." Haezel masih tampak berpikir.
"Pak Kepala bekerja sama dengan Reynold? Apa hubungan mereka berdua?" Tanya Randu semakin penasaran.
__ADS_1
"Itulah yang sedang aku cari tahu."
"Mungkinkah hubungan asmara juga seperti kasus papanya Cheryl?" Randu menerka-nerka.
"Aku rasa bukan," gumam Haezel.
"Kau sudah mencari informasi tentang Reynold yang kemarin aku minta?" Tanya Haezel lagi pada Randu.
"Ya ampun, aku lupa!" Randu menepuk keningnya sendiri.
"Aku akan mencarinya setelah ini," janji Randu pada Haezel.
"Mulailah dari kediaman Pak Brata!" Saran Haezel.
"Ya! Tapi bukan aku yang akan bergerak di lapangan," Randu mengingatkan Haezel tentang kakinya.
"Maaf, aku lupa." Haezel meringis.
"Hanya pura-pura lupa sepertinya," Randu sedikit sinis, dan Haezel kembali menyesap kopinya.
"Kita juga butuh surat penangkapan untuk menangkap Reynold-"
"Aku yang akan bicara pada Pak Kepala dan mengurus yang itu," ujar Randu cepat memotong kalimat Haezel.
"Baiklah." Pungkas Haezel seraya mengangguk dan meletakkan kembali cangkir kopinya.
Dua pria itu kembali fokus pada pekerjaan mereka.
Pak Kepala membaca kertas yang diberikan oleh Randu, sebelum kemudian pria paruh baya itu menatap tak senang pada Randu yang tiba-tiba minta izin untuk membuat surat penangkapan untuk Reynold.
"Kasus ini sudah selesai, Randu!"
"Atas dasar apa kau melakukan penyelidikan ulang tanpa izin dariku?" Cecar Pak Kepala seraya menatap tajam ke arah Randu.
"Saya merasa ada yang janggal-"
"Apa Ezel yang memintamu melakukannya?" Potong Pak Kepala menyelidik.
"Ini semua bukan tanpa alasan, Pak!" Sergah Randu cepat.
"Mayra sendiri yang mengatakan kalau ada orang lain yang membayar dan memberikan minuman pada para pelaku!"
"Dan orang itu adalah Reynold!" Beber Randu panjang lebar menjelaskan pada Pak Kepala.
"Kesaksian seorangvkorban yang mengalami depresi?" Pak Kepala berdecih.
"Bisa saja Ezel hanya mengarang tentang kesaksian Mayra itu mengingat dendam pribadi Ezel pada Reynold," Pak Kepala malah berspekulasi sendiri.
"Maaf, Pak!" Sergah Randu cepat.
__ADS_1
"Tapi Mayra sudah pulih dari depresinya."
"Dan mengenai pernyataan bapak tentang dendam tadi, sependek yang saya ketahui, Reynold lah yang pertama kali mengibarkan bendera permusuhan pada Haezel! Bukan sebaliknya!" Tutur Randu mengoreksi semua tudingan Pak Kepala yang cenderung menyudutkan Haezel.
Kenapa juga atasan Randu ini seperti benci sekali dengan Haezel?
Aneh!
"Sepertinya kau sudah terpengaruh oleh cerita-cerita karangan dari Ezel!" Pak Kepala merobek kertas hasil pemeriksaan sidik jari tadi di depan Randu.
"Dan aku sama sekali tak akan mengeluarkan surat penangkapan untuk Reynold!" Lanjut Pak Kepala dengan nada tegas.
"Kasus Mayra sudah selesai. Pelaku juga sudah ditangkap dan diberikan hukuman setimpal!" Pungkas Pak Kepala seraya mengangkat tangan karet Randu yang masih hendak membantah.
"Silahkan kau keluar!" Perintah Pak Kepala akhirnya. Dan mau tak mau Randu pun keluar dari ruangan atasannya tersebut. Haezel yang sejak tadi menunggu di depan ruangan Pak Kepala segera menghampiri Randu.
"Bagaimana?"
"Aku rasa kecurigaanmu tentang Pak Kepala yang kongkalikong dengan Reynold ada benarnya." Ujar Randu tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan Haezel tentang surat penangkapan untuk Reynold.
"Apa maksudmu? Kau dapat suratnya?" Tanya Haezel merasa bingung.
"Tidak!" Jawab Randu merasa geram.
"Pak Kepala menolak memberikan surat itu dan malah menuduhmu yang bukan-bukan."
"Bukankah itu konyol?" Lanjut Randu lagi tetap geram.
"Pak Kepala menganggap kasus Mayra sudah selesai dan penyelidikan yang kau lakukan saat ini adalah ilegal," ujar Randu lagi.
Haezel berdecak.
"Sepertinya aku harus mulai menyelidiki hubungan Pak Kepala dengan Reynold," gumam Haezel sembari menyusun rencana di kepalanya.
"Kau mau apa memangnya? Menyadap ponsel Pak Kepala?" Randu sedikit berbisik pada Haezel.
"Kau bisa melakukannya, kan?"
"Itu ilegal, Bung!" Randu mengingatkan seraya tertawa kecil
"Aku percaya padamu!" Haezel menepuk punggung Randu dan dia sahabat itu kembali ke ruangan mereka.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.