Detektif Haezel

Detektif Haezel
JANJI


__ADS_3

"Ini apa?" Tanya Mami Emily saat Haezel menyodorkan tiga buah tiket pada Mami kandungnya tersebut.


"Tiket untuk ke rumah Kak Aileen."


"Beberapa hari sebelum insiden itu, Ezel sudah berjanji pada Mayra untuk mengantarnya ke makam bapak dan ibunya," cerita Haezel memberikan penjelasan pada Mami Emily.


Haezel belum bisa mengantar Mayra, dan lagi sekarang Mayra juga tidak mau dekat-dekat pada Ezel. Jadi mami dan papi saja yang nengantar Mayra. Sekalian menjenguk Tisha," ujar Haezel lagi.


"Kau tidak menyusul nanti?" Tanya Mami Emily memastikan.


"Ezel akan menyusul nanti, Mi! Sekarang Ezel harus kembali bekerja juga dan mengurus kasus lain," Haezel mengusap wajahnya sendiri.


"Bukankah hidup harus terus berjalan?" Lanjut Haezel lagi yang langsung membuat Mami Emily merangkul dan menepuk punggung putranya tersebut.


"Kita akan rutin melakukan terapi untuk Mayra, agar kondisi psikis Mayra bisa pulih secepatnya," ujar Mami Emily yang langsung ditanggapi Haezel dengan anggukan kepala.


"Iya, Mi!"


"Besok tolong Mami dan Papi antar Mayra dulu. Mungkin juga nanti setelah disana kondisi psikis Mayra lebih stabil," ujar Haezel lagi.


"Iya!" Jawab Mami Emily seraya mengangguk.


"Mami akan mengatakannya pada Mayra, sekalian mengajaknya berkemas," Mami Emily langsung menuju ke kamar Mayra.


Haezel ikut mengekori dan mengintip dari ambang pintu saat Mami Emily memberitahu Mayra. Istri Haezel itu hqnya mengangguk-angguk saat Mami Emily mengatakan kalau esok mereka akan pergi mengunjungi makam kedua orang tua Mayra dan juga mengunap sementara di rumah Aileen.


"Haezel yang sudah membelikan tiket," Mami Emily lanjut menunjuk ke arah Haezel yang masih berdiri di ambang pintu. Mayra hanya menatap sekilas pada Haezel, sebelum kemudian wanita itu kembali menundukkan wajah dan memegang kuat tangan Mami Emily. Haezel tersenyum kecut dan akhirnya memilih untuk pergi saja dari kamar Mayra. Membiarkan istrinya itu berkemas bersama Mami Emily.


****


"Kau datang pagi sekali?" Tegur Randu pada Haezel yang sudah duduk di belakang meja kerjanya.


"Ya!"


"Masih banyak pekerjaan yang harus aku tangani," jawab Haezel seraya menunjuk ke tumpukan berkas kasus di meja kerjanya.


"Mayra bagaimana?" Tanya Randu yang selalu menanyakan kabar Mayra setiap ia bertemu Haezel.


"Masih belum banyak perkembangan dan masih tak mau dekat-dekat denganku," jawab Haezel seraya tetap fokus ke layar laptop di depannya.


"Aku menyuruh Mami membawanya ke rumah Kak Aileen kemarin," sambung Haezel lagi.


"Kenapa?" Tanya Randu tak mengerti.


"Itu memang keinginan Mayra sebelum insiden terjadi. Mayra ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya," cerita Haezel.


"Lalu kau tidak ikut kesana?" Tanya Randu lagi yang tangannya tetap fokus membolak-balik beberapa berkas.


"Nanti aku akan menyusul." Ujar Haezel seraya membawa satu map berisi berkas kasus ke hadapan Randu untuk ia bicarakan.


"Kau ada acara siang ini?", tanya Haezel selanjutnya pada Randu yang sedang menyesap kopinya.


"Tidak ada!"


"Nanti kau temani aku bertemu seseorang, ya!" Pinta Haezel.


"Siapa?" Tanya Randu penasaran.


"Teman Papiku. Ada titipan dari papi yang harus aku sampaikan," terang Haezel.

__ADS_1


"Baiklah!"


Tak ada obrolan lagi dan dua pria itu sudah fokus pada pekerjaan mereka.


****


Beberapa minggu kemudian...


"Maaf!" Ucap seorang gadis yang tak sengaja menabrak Haezel yang hendak masuk ke dalam sebuah restorant. Gadis itu langsung berjongkok untuk mengambil beberapa barang Haezel yang terjatuh, lalu memberikannya pada Haezel tanpa menunjukkan wajahnya.


"Terima kasih-" Haezel diam sejenak dan memperhatikan dengan seksama, wajah gadis yang memakai topi tersebut.


"Cheryl!" Sapa Haezel memastikan.


Cheryl mengangkat wajah dan menatap sekilas pada Haezel, sebelum kemudian gadis itu kembali memalingkan wajahnya, kemudian berlalu daei hadapan Haezel.


"Cheryl!" Haezel berbalik dan dengan cepat menarik tangan Cheryl yang hebdak pergi. Cheryl kaget, lalu topi gadis itu juga tak sengaja terlepas hingga wajahnya yang membiru di beberapa bagian terlihat oleh Haezel.


"Aku tidak tahu apa-apa!" Ucap Cheryl ketakutan seraya berusaha melepaskan tangannya yang dicekal oleh Haezel.


"Wajahmu kenapa? Ada yang memukulimu?" Tanya Haezel penuh selidik.


"Tidak ada! Lepaskan!" Cheryl terus berusaha untuk melepaskan tangannya.


"Lepaskan aku!"


"Ezel! Kau bicara dengan siapa?" Seruan Randu yang baru datang dari tempat parkir membuat Haezel sedikit lengah dan Cheryl langsung bisa meloloskan diri.


"Cheryl!" Gumam Haezel yang hendak mengejar Cheryl namun akhirnya tak jadi karena ia ingat kalau hari ini ada janji bertemu seseorang.


"Siapa tadi?" Tanya Randu masih kepo.


"Masih berprasangka pada mantanmu itu?" Tebak Randu sok tahu.


"Sama sekali bukan itu! Tapj wajah Cheryl lebam-lebam tadi. Seperti habis dipukuli atau mungkin dianiaya," cerita Haezel yang sepertinya terlihat cemas.


"Siapa yang menganiaya Cheryl? Reynold?" Randu malah berkelakar. Haezel tak menjawab karena pikiran pria itu masih sibuk mencerna kalimat Cheryl tadi.


"Aku tidak tahu apa-apa!"


Tidak tahu apa maksudnya?


Kenapa Cheryl terlihat ketakutan?


****


Cheryl masuk ke dalam toilet wanita yang sepi, lalu melepaskan topinya dari kepala. Wanita itu mencuci wajahnya berulang kali dan sedikit meringis saat air dingin mengenai luka memar di beberapa bagian wajahnya.


"Auw!" Cheryl memeriksa di kaca luka lebam di bawah mata. Gadis itu lalu mengeluarkan concelear dari tas yang ia bawa, dan menyamarkan luka lebam di bawah matanya tersebut dan dibagian wajah yang lain. Gadis itu juga mengeluarkan gunting yang kemudian ia pakai untuk memangkas rambut panjangnya.


"Ehhmmh!" Cheryl menggelinjang saat Reynold merem*s salah satu gundukan kenyalnya. Gadis itu buru-buru menjaga jarak dari Reynold dan membenarkan bajunya yang sudah tersingkap.


"Ada apa denganmu?" Tanya Reynold tak mengerti. Biasanya setelah mereka saling berpagutan, Cheryl akan membiarkan tangan Reynold menjamah bagian-bagian tubuhnya lalu mereka akan mulai bercinta dengan panas


"Maaf, tapi aku sedang tak ingin melakukannya, Rey!" Jawab Cheryl yang semakin menjaga jarak dari Reynold yang kini menatap tak senang ke arahnya.


"Kau sudah menolakku kemarin, Cheryl!" Reynold mulai emosi sekarang.


"Iya aku tahu! Tapi aku sedang tak bisa!" Cheryl kehabisan kata-kata untuk beralasan.

__ADS_1


Reynold bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Cheryl yang sudah beringsut mundur.


"Layani aku sekarang!" Perintah Reynold dengan nada tegas.


"Aku tidak bisa! Aku sedang ada tamu!" Cheryl akhirnya menemukan alasan.


"Kau sudah ada tamu minggu kemarin! Jadi jangan menipuku!" Reynold mulai berteriak pada Cheryl.


"Seharusnya kau tak melakukan hal keji itu pada Mayra, Rey!" Cheryl mengalihkan pembicaraan.


"Apa katamu barusan?"


"Apa kau baru saja merasa iba pada istri detektif keparat itu sekarang?" Reynold menghampiri Cheryl dengan cepat lalue menjambak rambut gadis itu.


"Seharusnya kau otu berterimaksaih kepadaku karena aku sudah memberikanmu tempat tinggal selama ini! Membalaskan dendammu pada detektif keparat itu-"


"Tapi kau menyakiti Mayra dan bukan Haezel!"


"Kau menyakiti orang yang salah!" Teriak Cheryl memotong kalimat Reynold. Gadis itu sedikit meringis karena jambakan Reynold yang semakin kuat. Mungkin rambut Cheryl akan lepas dari kulit kepalanya tak lama lagi.


"Itu adalah strategi, Cheryl Sayang!"


"Jika aku langsung membuat perhitungan dengan Haezel, sakitnya tak akan seberapa. Tapi jika aku menyakiti istri yang begitu Haezel cintai, maka rasa sakitnya akan berkali-kali lipat!" Reynold tersenyum licik.


"Dan Haezel pantas menerimanya!" Ujar Reynold lagi.


"Kau keterlaluan, Rey!" Cheryl berdecih


"Lalu kau mau apa, hah? Membocorkan hal ini pada Haezel?"


"Kau juga terlibat! Dan semua tuduhan malah akan langsung mengarah kepadamu karena kau yang terus-terusan mengumbar kebencianmu pada detektif keparat itu!" Reynold kembali tersenyum licik pada Cheryl.


"Lapor sana! Lalu kau yang akan jadi tersangka utama dan mendekam di jeruji besi!"


"Dan aku tak akan pernah menyelamatkanmu lagi!" Reynold mengancam Cheryl sebelum kemudian pria itu membanting tubub Cheryl ke lantai.


"Dasar baj*ngan!" Maki Cheryl pada Reynold.


"Sudah cukup mengumpatnya!" Reynold menangkup bibir Cheryl dengan kasar.


"Sekarang layani aku!"


Plak!


Reynold menampar Cheryl dengan keras sebelum kemudian pria itu membuka paksa semua baju Cheryl sekaligus memaksanya untuk melayani n*fsunya


"Hahahaha! Filmnya seru, ya!"


Suara tawa segerombolan gadis yang masuk ke dalam toilet wanita segera membuyarkan lamunan Cheryl. Gadis itu sudah selesai memotong rambutnya, lalu masuk ke salah satu bilik toilet untuk berganti baju.


Cheryl harus mengubah penampilannya saat keluar dari toilet!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2