
"Terima kasih untuk semua hadiah indahnya hari ini!" Bisik Mayra seraya mengecup pipi Haezel.
"Kau senang?"
"Ya!" Jawab Mayra dengan mata berbinar sebelum kemudian wanita itu menoleh ke jok belakang, dimana Zelyra sudah terlelap. Tadi setelah pulang dari makam kedua orang tua Mayra, keluarga kecil itu memang memutuskan untuk jalan-jalan sebentar hingga akhir Zelyra kekalahan, lalu tertidur.
"Kita langsung pulang atau-"
"Lyra sudah tidur, Mas!" Potong Mayra cepat dan Haezel langsung terkekeh.
"Baiklah! Ayo kita langsung pulang," putus Haezel akhirnya seraya mengemudikan mobilnya, keluar dari tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan.
Mobil terus melaju membelah jalanan kota yang lumayan padat sore ini, hingga mobil Haezel harus beberapa kali terjebak kemacetan.
"Belok disini sepertinya ada jalan alternatif baru," gumam Haezel yang tiba-tiba membelokkan mobilnya keluar dari jalan utama.
"Mas, kita mau lewat mana?" Tanya Mayra khawatir.
"Ada jalan alternatif baru yang lebih sepi," ujar Haezel yang tetap santai melajukan mobilnya.
"Tapi muternya lumayan jauh, Mas!"
"Daripada macet," sahut Haezel tetap santai, hingga tiba-tiba mobil terasa berguncang lalu hilang kendali. Haezel secepat kilat menekan pedal rem setelah sekuat tenaga mengendalikan mobil yang sempat oleng.
"Mommy!" Zelyra terbangun dan menjerit dari jok belakang. Gadis kecil itu juga terlihat ketakutan.
"Tidak apa-apa, Sayang!" Mayra dengan cepat menenangkan Zelyra, lalu mengajaknya keluar dari mobil. Haezel sudah terlebih dahulu keluar untuk memeriksa apa yang terjadi pada ban mobilnya.
"Ck!" Haezel langsung berdecak.
"Ada apa, Mas?" Tanya Mayra yang ikut memeriksa masih sambil menggandeng Zelyra.
"Pecah ban," jaeab Haezel seraya membuang nafas dengan kasar.
"Ada ban cadangan?" Tanya Mayra prnuh harap.
"Entahlah!" Haezel segera membuka bagasi belakang dari mobil Abang Cliff tersebut untuk memeriksa.
__ADS_1
"Tidak ada!" Ujar Haezel selanjutnya yang tak mendapati ban cadangan di bagasi mobil. Pria itu langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan menelepon Kak Aileen.
"Mom! Ada taman bermain!" Zelyra menunjuk ke sebuah lapangan kecil dimana ada beberapa anak yang sedang bermain bola dan layang-layang di sana.
"Itu namanya lapangan, Sayang!" Jelas Mayra pada sang putri.
"Ayo kesana, Mom! Lyra mau lihat layang-layang!" Ajak Zelyra sedikit memaksa. Mayra langsung menatap pada Haezel seolah minta izin.
"Orang bengkel akan datang sebentar lagi," ujar Haezel memberitahu.
"Lyra ingin melihat layang-layang," Mayra menunjuk ke lapangan kecil di seberang jalan.
"Kau ajak saja. Aku akan menunggu disini," ujar Haezel yang langsung sigap membantu istri dan putrinya menyeberang. Zelyra langsung berlari riang ke tengah lapangan untuk melihat layang-layang aneka bentuk yang terbang di udara. Sementara Haezel mengawasi dari kejauhan sembari menunggu orang bengkel datang.
Tak berselang lama, sebuah bola tiba-tiba menggelinding ke arah jalan, disusul oleh anak perempuan berambut pendek yang berlari mengejar bola tersebut.
Bola berhenti di tengah jalan dan anak kecil yang sepertinya sebaya dengan Zelyra tadi hendak ke tengah jalan juga untuk mengambil bolanya. Namun disaat bersamaan, sebuah truk terlihat melaju dan Haezel tentu saja langsung tanggap.
"Adik, awas!" Haezel bergerak cepat menyeberang jalan lalu menahan bocah kecil tadi agar tak lari ke jalan, beberapa detik sebelum truk melaju kencang dan menabrak bola yang berada di tengah jalan tadi.
"Charlotte! Bolanya mana?" Celetuk seirang anak yang sydah menghampiri Haezel dan bocah perempuan kecil tadi yang ternyata bernama Charlotte.
"Ganti bolanya! Kan tadi kamu yang lempar!" Anak tadi mendelik tajam pada Charlotte yang langsung merengut.
"Mas, ada apa?" Tanya Mayra yang sudah tergopoh-gopoh menghampiri Haezel dan beberapa anak yang mengerubungi Haezel.
"Ini, dia menghilangkan bola teman-temannya," jelas Haezel pada Mayra seraya tangannya menunjuk ke arah Charlotte. Mayra dan Zelyra langsung menghampiri Charlotte yang masih merengut.
Haezel yang akhirnya tak tega membiarkan anak sekecil Charlotte menerima bulliying dari teman sepermainannya yang terlihat lebih besar, memilih untuk mengganti bola anak-anak itu yang tadi dihilangkan oleh Charlotte
"Biasa beli bola dimana?" Tanya Haezel pada salah satu anak.
"Di toko sana, Om!" Anak laki-laki tadi menunjuk ke sebuah toko di sisi lapangan.
"Jangan bilang ke Mami, Om! Nanti Mami marah kalau tahu Charlotte nakal," pinta Charlotte yang tiba-tiba sudah memegangi lengan Haezel.
"Maminya Charlotte dimana memang?" Tanya Mayra yang turut mendengar permintaan Charlotte pada Haezel.
__ADS_1
"Di toko itu, Tante! Kerja jadi tukang setrika!" Bukan Charlotte melainkan salah satu dari anak-anak yang minta ganti bola tadi yang menjawab.
"Om beli bola saja dan tidak akan bilang apa-apa ke maminya Charlotte, ya!" Ujar Haezel akhirnya menenangkan Charlotte.
"Charlotte disini saja, bersama Lyra," ucap Haezel lagi seraya memperkenalkan Zelyra pada Charlotte.
"Hai, Charlotte! Aku Lyra!" Sapa Zelyra ramah pada Charlotte seraya mengulurkan tangannya.
"Hai, Lyra!" Charlotte membalas uluran tangan Zelyra seraya menatap pada susu kotak yang ada di tangan Zelyra yang satunya.
"Mau?" Tawar Zelyra karena Charlotte sepertinya ingin minum susu kotak juga.
Charlotte mengangguk.
"Mom, masih ada?" Tanya Zelyra pada Mayra, karena susu di tangan Zelyra isinya juga hanya tinggal sedikit.
"Habis, Sayang! Nanti biar Dad sekalian beli, ya!" Ujar Mayra yang langsung memanggil Haezel yang sudah berjalan ke arah toko. Mayra berpesan agar Haezel membelikan susu kotak juga untuk Zelyra dan Charlotte.
"Oke!" Haezel mengacungkan jempolnya ke arah Mayra, lalu kembali melanjutkan langkahnya ke arah toko.
Haezel baru tahu kalau toko itu ternyata merangkap dengan usaha laundry juga. Mungkin mamimya Charlotte bekerja sebagai tukang seterika di laundry tersebut.
"Permisi!" Haezel sedikit berseru karena tidak ada penjaga di dalam toko yang lumayan lengkap tersebut.
"Beli!" Seru Haezel lagi karena masih belum ada yang keluar. Kemana pemilik tokonya? Tidur?
"Beli!" Haezel berseru sekali lagi.
"Ya!" Akhirnya ada jawaban dari dalam toko, disusul munculnya seorang wanita yang benar-benar tak Haezel kira dan tak Haezel sangka. Wanita yang selama lima tahun ini Haezel cari-cari dan Haezel kira sudah dihabisi oleh Reynold.
Cheryl!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.