Detektif Haezel

Detektif Haezel
KHAWATIR


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, namun Haezel masih belum bisa memicingkqn matanya. Pria itu merapatkan selimut Mayra, sebelum lanjut mengecup puncak kepala istrinya tersebut.


Mayra mungkin sudah tak menolak saat Haezel dekap dan dekati seperti ini. Namun mengenai hubungan ranjang, wanita itu sepertinya masih trauma. Terlihat dari bahasa tubuh Mayra saat Haezel baru mulai menyentuh beberapa titik sensitif di tubuhnya Mayra seolah menolak dan raut wajahnya juga sedikit takut.


Ah, semua memang butuh proses!


Yang terpenting bagi Haezel sekarang, Mayra tak lagi menghindarinyq dan sudah mau terbuka. Ini benar-benar kemajuan yang luar biasa untuk Haezel.


Haezel menghirup sekali lagi aroma tubuh Mayra yang selalu membuatnya tenang. Kini Haezel bisa kembali berlama-lama menikmati aroma tubuh Mayra setelah sekian lama.


"I love you!" Bisik Haezel di telinga Mayra. Haezel seolah tak pernah bosan membisikkan kata cinta tersebut oada Mayra,karena tasa cinta Haezel pada istrinya tersebut memang tak terhingga.


"Kau mimpi apa, Sayang?" Gumam Haezel mulai gemas pada Mayra yang tidur nyenyak sekali. Padahal Haezel sama sekali tak mengantuk sekarang!


Ya ampun!


"I love you! I love you! I love you!" Haezel mengucapkan kata i love you berulang-ulang sembari menciumi Mayra, hingga akhirnya istri Haezel itu menggeliat.


Mayra yang tadi posisinya membelakangi Haezel, sekarang mengubah posisinya jadi menghadap Haezel, dan senyuman seketika tersungging di bibir Haezel saat melihat wajah cantik Mayra.


Haezel mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Mayra, saat tiba-tiba kefua mata istri Haezel tersebut terbuka, lalu menatap Haezel dengan kaget.


"Hah!" Mayra menyentak tangan Haezel dengan cepat lalu beringsut mundur dan menatap Haezel dengan tajam beberapa saat.


"May, aku Ezel!" Haezel berucap lembut pada Mayra seraya mengulurkan tangannya, dan saat itu juga tatapan tajam Mayra seketika melunak.


"Maaf, Mas!" Ucap Mayra merasa bersalah karena sudah menyentak tangan Haezel.


"Tidak apa!"


"Kemarilah!" Titah Haezel lembut seraya membimbing Mayra agar kembali ke dalam dekapannya. Mayra kembali mendekat pada Haezel, lalu menyusupkan kepalanya ke dada Haezel.


"Kau masih sering mimpi buruk?" Tanya Haezel seraya mengusap-usap kepala Mayra.


"Kadang-kadang, Mas," jawab Mayra lirih.


"Jangan takut lagi, ya! Aku akan selalu jagain kamu," Haezel mengecup kening Mayra, lalu istri Haezel itu langsung mengangkat kepalanya dan hendak menjauh.


"Mas, maaf..." Mayra menatap penuh rasa bersalah pada Haezel.


"Kenapa minta maaf?" Tanya Haezel bingung.


"May belum bisa..." Mayra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu mulai menangis.


"May belum bisa melakukannya," usak Mayra di sela-sela tangisnya.


"Tidak apa-apa, May!" Haezel cepat-cepat menenangkan Mayra dan mendekap istrinya tersebut.


"Aku akan menunggu sampai kau siap, oke! Jangan merasa bersalah seperti itu!" Ujar Haezel lagi menenangkan Mayra.

__ADS_1


"Tapi Mas Ezel pasti kecewa," Mayra masih menangis.


"Tidak, May!"


"Sama sekali tidak!" Sergah Haezel bersungguh-sungguh.


"Hanya karena aku menciummu, bukan berarti aku akan langsung memintanya," ujar Haezel lagi memberikan pengertian pada Mayra.


"Aku akan menunggu sampai kau siap melakukannya." Sambung Haezel bersungguh-sungguh.


"Jangan menangis lagi, oke!" Haezel menghapus sisa-sisa airmata di wajah Mayra.


"Aku tidak akan marah! Aku sayang sama kamu," ucap Haezel pagi penuh kesabaran.


Mayra mengangguk-angguk dan kembali menghambur ke pelukan Haezel.


"Sudah jangan sedih atau merasa bersalah lagi, ya!"


"Iya, Mas," Jawab Mayra lirih.


Haezel menghela nafas dan tetap mendekap Mayra, hingga istrinya itu terlelap. Tak berselang lama, Haezel akhirnya ikut terlelap juga bersama Mayra.


****


Dua bulan kemudian....


"Kamu duduk saja, May! Kaki kamu bengkak lagi, ya?" Titah Mami Emily seraya membimbing Mayra agar duduk saja di belakang meja kasir. Mami Emily memperhatikan kaki Mayra yang sering bengkak belakangan ini padahal usia kandungan Mayra baru masuk lima bulan.


"Bukannya ini memang bawaan hamil, Mi?" Tanya Mayra tak mengerti.


"Iya, tapi biasanya tak akan sebesar ini." Gumam Mami Emily sedikit khawatir.


"Jadwal check up kapan?" Tanya Mami Emily selanjutnya.


"Sore ini. Tapi Mas Ezel-" kalimat Mayra belum selesai, saat Haezel sudah tiba dan langsung menyapa istri serta maminya tersebut.


"Hai, Sayang! Maaf aku sedikit terlambat." Haezel mengecup kening Mayra sekilas, lalu meletakkan sebuah bungkusab di atas meja.


"Apa ini?" Tanya Mami Emily memeriksa bungkusan tadi.


"Pesanan Mayra, Mi! Katanya mau martabak telur tadi." Ujar Haezel.


"Agak dikurangi makanan asinnya, May! Agar bengkak di kaki kamu tak semakin besar!" Nasehat Papi Galen yang sudah ikut mendekat ke meja kasir.


"Kaki Mayra bengkak lagi?" Haezel memeriksa kaki Mayra yang memang sudah bengkak lagi.


"Nanti tanyakan ke dokter, Ezel! Mami kok sedikit khawatir," pesan Mami Emily pada Haezel.


"Iya, Mi!" Jawab Haezel seraya mengangguk.

__ADS_1


"Aku ke atas mandi dulu, nanti kita baru ke dokter, ya!" Ujar Haezel seraya mengusap wajah Mayra yang langsung mengangguk.


"Mah boleh makan martabaknya, Mi?" Tanya Mayra sedikit ragu setelah peringatan dari papi Galen tadi.


"Boleh! Ini tidak asin, kok!" Uajr Mami Emily setelah sedikit mencicipi martabak telur yang tadi dibawakan Haezel. Mami Emily lalu mengambilkan satu potong untuk disuapkan pada Mayra.


"Mayra bisa makan sendiri, Mi!" Ujar Mayra seraya mengambil potongan martabak dari tangan Mami Emily.


"Dulu, pas Aileen hamil itu mami nggak bisa manja-manjain dia setiap hari begini. Karena kan dia tinggalnya jauh. Jadi sekarang mami manjain kamu saja," cerita Mami Emily yang langsung membuat Mayra tertawa kecil.


"Aileen sudah dimanja Cliff. Sampai sekarang jadi tidak bisa memasak, tidak bisa beberes," komentar Papi Galen yang mendengar ceritq Mami Emily.


"Bersyukur kenapa, Pi!" Tegur Mami Emily pada sang suami.


"Iya, papi bersyukur, kok!"


"Hanya sedikit menyayangkan sifat Aileen yang tetap manja sampai sekarang!" papi Galen mencubit gemas hidung Mami Emily.


"Genit!" Cibir Mami Emily pada sang suami.


"Oh iya, May! Mulai malam ini kamu tinggal di rumah Oma dan Opa saja, ya! Papi kasihan jika kamu harus naik turun tangga."


"Papi sudah bicara ke Oma dan Opa tadi," ujar Papi Galen selanjutnya seraya mengusap kepaka Mayra.


"Betul itu! Mami juga tidak mau kandungan kamu kenapa-kenapa," timpal Mami Emily seraya mengusap perut Mayra.


"Salah sendiri, dari dulu nggak bangun lift!" Celetuk Haezel yang sudah selesai mandi dan kembali masuk ke dalam kafe.


"Papi kamu ini!" Mami Emily malah menyalahkan Papi Galen.


"Mami bentar lagi juga mau tinggal di rumah Oma dan Opa kalian saja! Encok kalau tiap hari turun naik tangga," sambung Mami Emily lagi yang langsung membuat Papi Galen berdecak.


"Kan biar kamu olahraga! Banyakin gerak!" Papi Galen beralasan.


"Nanti kalau Papi udah encok juga pasti akan pasang lift, Mi!" Ujar Haezel sok tahu.


"Sok tahu!" Cibir Papi Galen.


"Ayo berangkat, Sayang!" Ajak Haezel selanjutnya seraya membimbing Mayra untuk berdiri. Keduanya lalu berpamitan pada Mami Emily dan Papi Galen sebelum meluncur ke rumah sakit.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2