Detektif Haezel

Detektif Haezel
CERITA HAEZEL


__ADS_3

"May boleh tanya sesuatu, Mas?" Tanya Mayra yang kini sudah berbaring dan menyusupkan kepalanya di dada Haezel.


"Tanya apa?"


"Tentang Cheryl yang kemarin tak sengaja kita temui di mall," Mayra sedikit merasa ragu.


"Cheryl memang mantanku, May! Bukankah aku dan Mami sudah pernah mengatakannya kepadamu?"


"Tapi aku bersumpah, kalau aku tak ada perasaan apa-apa lagi pada Cheryl," tutur Haezel bersungguh-sungguh.


"Memangnya Cheryl mengatakan sesuatu kepadamu saat di dalam toilet wanita kemarin?" Tanya Haezel lagi menerka-nerka. Haezel merasa kalau Mayra menyembunyikan sesuatu.


"Kata Cheryl, Mas Ezel yang sudah membuat ayahnya Cheryl meninggal," ujar Mayraseraya mengangkat wajahnya dan menatap pada Haezel.


"Apa Mas mau menceritakan pada Mayra penyebab sebenarnya hubungan Mas dan Cheryl bisa putus? Dan kenapa Cheryl terlihat begitu membenci Mas Ezel-"


"Aku yang sudah menjebloskan ayah Cheryl ke penjara." Sergah Haezel jujur, memotong kalimat Mayra.


"Apa?" Gumam Mayra yang terlihat kaget.


"Itulah yang membuat hubunganku dengan Cheryl berakhir," Ujar Haezel lagi dengan nada lirih.


"Mas pasti sudah melakukan hal yang benar," ucap Mayra penuh keyakinan seraya mengusap dada Haezel.


Haezel mengangguk dan mengeratkan dekapannya pada Mayra, lalu berulang kali mencium puncak kepala istrinya tersebut.


"Aku hanya mencintaimu sekarang, May!"


"Kau percaya, kan?" Tanya Haezel yang masih khawatir kalau-kalau Mayra akan kembali merasa salah paham suatu hari nanti tentang hubungan Cheryl di masa lalu.


"May percaya, Mas!" Jawab Mayra yang semakin dalam menyusupkan kepalanya di dalam dekapan Haezel. Istri Haezel itu sudah mengantuk, dan tak berselang lama Mayra sudah terlelap di dalam dekapan Haezel yang masih berusaha untuk memejamkan matanya. Cukup lama Haezel mencoba sebelum akhirnya pria itu benar-benar terlelap dan menyusul Mayra ke alam mimpi.


****


"Nama tengah kamu dan Kak Aileen kok sama, ya? Miga?" Tanya Cheryl suatu hari saat gadis itu membantu Haezel menyusun berkas-berkas yang akan Haezel pakai untuk melanjutkan sekolahnya.


"Itu akronim dari nama Papi dan Mami. Emily dan Galen jadi Miga," jelas Haezel yang langsung membuat Cheryl membulatkan bibirnya.


"Besok kalau kita punya anak pakai akronim nama kita berdua seru juga sepertinya," celetuk Cheryl seraya menggamit lengan Haezel.


"Haryl? Zelryl?"


"Kok aneh, ya?" Haezel garuk-garuk kepala.


"Ezryl!" Sahut Cheryl cepat yang ternyata menemukan ide yang lebih bagus.


"Ezryl? Itu perempuan atau laki-laki?"


"Sepertinya bisa keduanya. Mungkin bisa jadi nama tengah juga. Ezryl Biantara!" Jawab Cheryl berpendapat.


"Kapan memang mau bikin anak? Baru juga mulai kuliah," Haezel menangkup gemas wajah Cheryl.


"Nyicil dulu sekarang, mumpung nggak ada orang," seloroh Cheryl berkelakar. Rumah Haezel memang kebetulan sedang sepi karena Mami Emily dan Papi Galen sedang pergi ke vila Omi dan Opi di Bali. Sedangkan Kak Aileen belum pulang kuliah.


"Hush! Nanti ada setan lewat!" Haezel mengacak gemas rambut Cheryl.


"Bercanda!"


"Aku mau pulang!" Cheryl bangkit dari duduk saat kaus gadis itu sedikit tersingkap hingga memperlihatkan perut serta pusarnya.


"Udah dibilang kalau pake baju itu yang longgar!" Haezel buru-buru membenarkan kaus Cheryl.

__ADS_1


"Hehe! Kan lagi godain kamu," jawab Cheryl sedikit genit.


"Ck!"


"Pakai jaketnya!" Titah Haezel akhirnya.


"Nggak bawa! Pinjem jaket kamu, Haezel sayang!" Rayu Cheryl manja.


"Kebiasaan!" Haezel memutar bola mata, lalu masuk ke kamar untuk mengambil jaket untuk Cheryl. Haezel sekalian memakaikan jaket tersebut ke tubuh Cheryl.


"Ayo, aku antar pulang!" Ajak Haezel seraya menggandeng tangan Cheryl.


Haezel baru membuka pintu depan rumahnya saat Reynold sudah berdiri di sana.


"Hai, Sayang! Kau sudah datang!" Sapa Cheryl mesra yang langsung melepaskan begitu saja tangan Haezel yang tadi menggandengnya. Cheryl seolah melupakan keberadaan Haezel di tempat itu, dan gadis itu juga sudah bergelayut pada Reynold, lalu keduanya berpagutan tanpa malu-malu di hadapan Haezel.


Apa?


"Cheryl!" Haezel memanggil Cheryl dengan suara lirih, saat pemandangan di sekelilingnya mendadak berubah. Haezel kini berdiri di sebuah ruangan yang lebih mirip sebuah kamar, lalu ada seorang wanita yang sedang bergelut bersama Reynold di atas ranjang yabg sepertinya adalah Cheryl. Dua orang itu asyik bercinta seolah tak peduli pada Haezel yang berdiri di dekat mereka.


"Cheryl!" Panggil Haezel lagi lirih pada wanita yang berada di atas Reynold tersebut. Tadinya Haezel mengira kalau itu benar-benar adalah Cheryl, hingga saat wanita itu menoleh, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi....


"Mayra!"


"Mas Ezel!"


"Mas!"


Haezel membuka lebar kedua matanya saat mendengar Mayra yang memanggil namanya. Pria itu langsung menoleh ke samping dan mendapati Mayra yang sudah setengah terduduk dan sepertinya baru saja membangunkan Haezel. Sejenak Haezel merasa bingung dengan apa yang baru saja ia alami.


Apa Haezel tadi sedang bermimpi?


Dan Mayra?


"Mas Ezel kenapa?" Tanya Mayra yang melihat wajah bingung Haezel.


"Tidak kenapa-kenapa!" Jawab Haezel seraya mengusap wajahnya beberapa kali.


Mayra yang tanggap segera mengangsurkan segelas air putih pada Haezel.


"Sekarang jam berapa?" Tanya Haezel selanjutnya setelah pria itu meminum air di gelasnya hingga tandas.


"Masih jam setengah dua belas. Ponsel Mas Ezel tadi juga bunyi, makanya May terbangun." Jelas Mayra seraya memberikan ponsel Haezel pada sang empunya.


"Siapa yang menelepon?" Tabya Haezel seraya melihat riwayat telepon di ponselnya.


"Kak Aileen? Tumben sekali," gumam Haezel yang langsung kembali menelepon balik sang kakak. Sembari menunggu telepon di angkat, Haezel menatap pada wajah Mayra dan sedikit membenarkan rambut istrinya itu yang berserakan. Mayra juga sudah menguap lagi. Mungkin masih ngantuk.


"Halo, Ezel!"


"Kakak tadi menelepon? Ada apa?" Tanya Haezel khawatir.


"Benarkah? Sepertinya tak sengaja kepencet Latisha."


"Oh, ya? Ezel kira ada yang penting," Haezel geleng-geleng kepala, lalu menarik Mayra yang mengantuk ke dalam dekapannya.


"Maaf! Kau sudah tidur tadi?"


"Mayra yang terganggu," jelas Haezel.


"Silent ponselnya makanya! Kasihan Mayra kalau sering terbangun malam-malam."

__ADS_1


"Takutnya ada panggilan penting dari kantor." Haezel beralasan.


"Baiklah, terserah!"


"Ngomong-ngomong, sudah ada kabar tentang keberadaan Sasha?" Tanya Aileen selanjutnya membahas sepupu mereka yang kabur beberapa bulan yang lalu setelah melihat suaminya selingkuh. Sasha yang malang!


"Belum!" Jawab Haezel singkat.


"Aunty Ghea masih sakit?"


"Sudah baikan. Ini Omi dan Opi juga sedang disini. Kemarin menginap di rumah Aunty Ghea dua hari, lalu sekarang pindah menginap disini.


"Wah! Pasti menyenangkan. Sayang sekali Cliff sedang banyak pekerjaan. Aku jadi tak bisa ikut kesana."


"Mau Ezel jemput?" Tawar Haezel pada sang kakak.


"Jemput kesini?"


"Ke bandaralah! Kakak dan Tisha naik pesawat sendiri atau bareng Mbok Sum!" Haezel memberikan ide.


"Ide bagus! Tapi sepertinya Cliff akan mengomel jika aku melakukannya."


"Abang Cliff takut Kak Aileen tersesat." Celetuk Haezel yang hanya tertawa kecil karena Mayra sudah kembali terlelap di pelukannya.


"Itu tahu!"


"Lalu Mayra sudah hamil? Udahan pacarannya dan buruan bikin adik untuk Tisha!"


"Kenapa bukan kakak dan abang Cliff saja yang bikin? Ezel masib menikmati honeymoon bersama Mayra." Haezel kembali beralasan.


"Ck! Nanti kalau aku kesana, aku buang semua k*ndommu!"


"Cepat kesini makanya dan jangan hanya sibuk mengoceh!" Tantang Haezel pada Aileen.


"Tunggu saja!"


"Sudah belum yang telepon? Ayo lanjut!" Terdengar suara samar-samar dari abang Cliff di seberang telepon.


"Kak Aileen dan Abang Cliff sedang apa?" Tanya Haezel kepo.


"Membuat adik untuk Tisha!" Sahut abang Cliff setengah berteriak yang hampir membuat telinga Haezel tuli.


Ya ampun!


"Ck! Yaudah lanjut sana! Ezel mau tidur!" Pungkas Haezel akhirnya seraya geleng-geleng kepala.


"Jangan lupa untuk mengajak Mayra olahraga juga sebelum tidur, Ezel!"


Tuut tuut!


Telepon langsung terputus dan Haezel menepuk keningnya sendiri. Pria itu sedikit membenarkan posisi Mayra, namun tak sedikitpun melepaskan dekapanpada istri mungilnya tersebut.


"Semoga semuanya baik-baik saja dan yang tadi itu hanya bunga tidur," ucap Haezel seraya mengusap lembut wajah Mayra. Haezel laku mendekap Mayra dan kembali mencoba untuk tidur.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir. Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2