
"Berdasarkan hasil visum, Mayra sudah dirudapaksa oleh lebih dari satu orang. Selain itu Mayra juga ditemukan bekas luka penganiayaan di beberapa bagian tubuh Mayra. Mengindikasikan kalau Mayra juga mendapat serangan fisik dari pelaku pemerkosaan."
"Semua barang bukti yang masih melekat di tubuh Mayra sudah diamankan dan akan secepatnya diperiksa, Ezel! Aku sendiri yang akan memastikan kalau semuanya akan diproses sesuai prosedure."
"Kita akan secepatnya menemukan pelaku yang sudah melakukan hal keji ini pada Mayra."
"Maaf!" Ucap Haezel lirih seraya menggenggam dan menciumi tangan Mayra. Ustri Haezel itu kini sudah terbaring di salah satu kamar perawatan denagn kondisi yang begitu memilukan
Wajah dan beberapa bagian tubuh Mayra terlihat lebam kebiruan. Ada bekas ikatan tali tambang juga di pergelangan tangan dan kaki Mayra.
Dan yang lebih menyedihkan, setelah dirudapaksa dengan begitu keji, Mayra di buang begitu saja di atas trotoar jalan dengan baju yang sudah koyak tak karuan.
Kata Randu, Mayra ditemukan oleh seorang penyapu jalan yang baru berangkat bekerja. Penyapu jalan itu tadinya mengira kalau Mayra sudah meninggal karena tubuhnya begitu dingin dan banyak luka lebam serta ikatan di tangan dan kakinya. Namun setelah memanggil polisi, diketahui kalau Mayra masih bernafas dan wanita malang itu langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.
"Kenapa harus kau yang mengalami semua ini, Sayang!" Haezel mengusap kepala Mayra, lalu kembali menggenggam dan menciumi tangan Mayra.
"Ezel!" Mami Emily yang baru tiba, langsung mengusap punggung Haezel yang begitu terpukul dengan apa yang sudah menimpa Mayra.
"Kenapa harus Mayra yang mengalami semua ini, Mi?"
"Kenapa harus Mayra?" Tanya Haezel nyaris tanpa suara sebelum kemudia Mami Emily memeluk putrq kesayangannya tersebut.
"Jika memang mereka dendam pada Ezel, kenapa mereka menyakiti Mayra dan bukan Haezel saja, Mi?" Tangis Haezel akhirnya pecah di dalam pelukan Mami Emily.
Semua tentu saja paham dengan apa yang kini dirasakan oleh Haezel. Rasa sedih, rasa marah, rasa menyesal, serta rasa bersalah karena terlambat menjemput Mayra, semuanya bergumul menjadi satu di dalam diri Haezel.
Mami Emily bahkan juga kehilangan kata-kata dan tak mampu menjawab semua pertanyaan Haezel Mami Emily sama terpukulnya dengan Haezel, karena bagi Mami Emily Mayra juga adalah putri kesayangannya.
"Kau dan Mayra pasti akan mampu melewati ini semua, Ezel!" Papi Galen ikut menghampiri Haezel yang masih tergugu di pelukan Mami Emily.
"Kau harus tetap berada di samping Mayra, bagaimanapun kondisinya!"
"Jangan membuat Mayra semakin terpuruk."
"Kita semua akan tetap menyayangi Mayra dan membantunya bangkit dari semua trauma ini," ujar Papi Galen panjang lebar yang sorot matanya juga menggambarkan kesedihan.
__ADS_1
Kedekatan Mayra dan Papi Galen selama ini memang tak perlu dipertanyakan lagi. Papi Galen selalu memperlakukan Mayra seperti putrinya sendiri. Terlebih jurusan kuliah yang diambil oleh Mayra yang ternyata sama dengan yang petnah diambil oleh Papi Galen, membuat Papi dan menantunya itu semakin dekat layaknya dua sahabat.
"Mayra!" Mbok Sum yang baru tiba bersama Aileen, Cliff, dan Latisha, langsung berlari ke bed perawatan Mayra dan memeluk keponakannya tersebut.
"Kamu kenapa May?" Mbok Sum menangis melihat kondisi Mayra yang memamg begitu menyedihkan.
"Maaf karena Ezel lalai menjaga Mayra, Mbok!" Ucap Haezel penuh sesal seraya mengusap punggung budhe dari Mayra tersebut.
"Sudah jangan menyalahkan dirimu sendiri begitu!" Aileen memeluk Haezel yang terlihat sangat kacau.
"Kau harus tetap kuat demi Mayra!" Ujar Aileen lagi memberikan semangat untuk Haezel.
"Iya, Kak!" Jawab Haezel tanpa semangat.
Aileen lalu menghampiri Mayra dan mengusap-usap lengan adik iparnya tersebut
"Kuat ya, Mayra Sayang! Kami semua menyayangimu disini."
"Cepatlah bangun!" Ucap Aileen lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
****
"Mayra belum bangun?" Tanya Randu yang hari ini kembali datang untuk menjenguk Mayra sekaligus melaporkan perkembangan kasus yang menimpa Mayra.
"Kondisinya masih sama," jawab Haezel dengan nada lesu. Sudah genap tiga hari, Mayra terbaring tak berdaya dibatas bed perawatan. Hasil test darah menunjukkan kalau Mayra dicekoki beberapa obat-obatan dengan dosis yang besar sebelum gadis itu dirudapaksa ramai-ramai oleh lebih dari dua orang.
Luka sobek di bagian intim Mayra semakin memperjelas semuanya. Belum lagi bagian belakang dari milik Mayra yang juga mengalami pendarahan dalam, diduga karena dipaksa untuk dimasuki juga oleh para perkosa biadab itu.
Hati Haezel benar-benar hancur setelah mendengar dengan detail hasil visum Mayra.
"Ada satu mobil yang dicurigai membuang Mayra dinihari itu. Kami sudah menyelidiki nomor platnya dan sementara masih dalam proses."
"Aku sedikit curiga pada Cheryl dan Reynold," bisik Haezel pada Randu.
"Ancaman Cheryl saat pemakaman ayahnya itu?" Tanya Randu menyelidik.
__ADS_1
"Atau kau bertemu mereka lagi baru-baru ini?" Tanya Randu lagi.
"Sudah beberapa minggu yang lalu, saat aku dan Mayra jalan-jalan ke mall."
"Mayra tak sengaja menabrak Cheryl, lalu mereka berdua masuk ke toilet yang sama-"
"Cheryl mengatakan sesuatu pada Mayra?" Potong Randu bertanya.
"Kata Mayra, Cheryl hanya mengatakan kalau suami Mayra itu seorang pembunuh." Jawab Haezel.
"Jadi, Cheryl masih saja menyalahkanmu atas kematian ayahnya? Benar-benar gadis yang keras kepala."
"Tapi nanti biar aku selidiki juga barangkali ada petunjuk yang mengarah pada mereka berdua," tukas Randu menenangkan Haezel.
"Semoga Mayra juga lekas bangun agar sedikit ada titik terang," ujar Randu lagi penuh harap.
"Ya!" Haezel mengaminkan dengan lirih.
"Kau juga harus tetap sehat, Ezel! Mayra membutuhkanmu." Ujar Randu lagi seraya menepuk punggung Haezel.
"Aku tahu."
"Terima kasih atas semua bantuanmu, Randu!" Ucap Haezel selanjutnya pada Randu yang sudah menjadi sahabat sekaligus partner kerja setahun belakangan.
"Sudah menjadi tugasku!"
"Aku akan kembali ke kantor dan nanti aku kabari lagi kalau sudah ada perkembangan," pungkas Randu seraya berpamitan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.