
Mayra membuka matanya yang terasa berat dan mebdadak sekijur tubuhnya merasakan panas yang tak biasa. Detak jantung Mayra juga memacu dengan cepat, lalu nafasnya tak beraturan seolah Mayra baru saja berlari ribuan kilometer jauhnya.
"Sudah bangun, Manis?" Sebuah suara asing dibarengi dengan tangan-tangan asing yang mulai menjamah tubuh Mayra membuat wanita itu menggeliat. Otak Mayra mengatakan kalau Mayra harus berontak dan berteriak. Tapi tubuhnya malah menunjukkan reaksi berbeda.
Sentuhan demi sentuhan yang mulai menjelajah setiap titik sensitif dari tubuh Mayra malah menimbulkan sensasi yang membuat Mayra merasa ingin dan ingin terus disentuh.
"Kalian siapa?" Mayra meracau tak jelas dan berisaha mengendalokqm otak serta tubuhnya yang mendadak tak sinkron. Mayra juga seperti sedang bermimpi dan merasa kalau tubuhnya kini melayang di awang-awang.
"Ini minuman dan bayaran kalian!" Mayra samar-samar bisa mendengar suara seorang pria yang wajahnya tak terlihat.
Lalu setelah itu beberapa pria kembali masuk ke dalam ruangan dan mengelilingi Mayra.
"Kalian mau apa?" Mayra kembali meracau saat tubuhnya dipaksa untuk bangun dan para pria tadi mulai menanggalkan pakaian mereka masing-masing. Ada empat orang pria yang kini mengelilingi Mayra tanpa sehelai benangpun dan rasa ketakutan seketika memenuhi diri Mayra.
"Pergi!"
"Tidak! Lepaskan aku!"
"Pergi kalian semua!"
"May!" Haezel menenangkan Mayra yang terus menjerit dan meronta-ronta di atas bed perawatan. Papi Galen yang tadi sudah sempat terlelap juga buru-buru memanggil dokter dan perawat.
"Mayra!" Haezel mendekap erat tubuh Mayra yang terus menjerit-jerit tak karuan.
"Pergi!"
"Jangan lakukan!"
"Pergi!!!" Mayra menjerit-jerit hebat di dalam dekapan Haezel. Sedangkan Mamy Emily berusaha kuat menahan tangan Mayra yang terpasang jarum infus agar tak kesana kemari.
Mayra terus meronta dengan kuat hingga tangannya yang terpasang jarum infus mengeluarkan darah.
"Sayang!" Haezel tak berhenti mendekap Mayra meskipun tangan istrinya itu terus saja memukuli Haezel, seolah Haezel adalah orang yang sudah menyakiti Mayra.
"Pergi! Pergi kalian semua!"
Dokter dan perawat akhirnya tiba di dalam kamar perawatan dan mereka langsung menangani Mayra yang terus meronta dan berteriak-teriak.
"Jangan menyakitinya!" Pinta Haezel yang iku membantu memegangi Mayra saat dokter menyuntikkan obat penenang.
"Pergi kalian semua!"
"Aku tidak mau!"
__ADS_1
"Aku tidak mau!" Mayra masih menjerit dan meronta, namun gerakannya perlahan mulai melemah.
"Pergi!"
"Pergi semuanya!" Bibir Mayra masih meracau sskalipun wanita itu tak lagi meronta. Mayra sudah tenang, dan tak berselang lama wanita itu sudah kembali tertidur.
Haezel terdiam di samping Mayra sembari menatap lekat wajah istrinya tersebut. Rasa bersalah kembali membubung di dalam hati Haezel. Jika memang semua hal ini ada hubungannya dengan Reynold dan Cheryl, lalu kenapa dua orang itu tak balas dendam langsung pada Haezel dan malah menyakiti Mayra seperti ini?
Mayra bahkan tak tahu apa-apa!
"Kau masih cuti?" Tanya Papi Galen yang ikut menarik kursi untuk duduk bersama Haezel di samping bed perawatan Mayra.
Ini sudah hari keempat Mayra dirawat. Dan selama empat hari itu juga Haezel belum ke kantor lagi, karena Haezel hanya ingin menemani Mayra sekarang. Mendampingi istri yang begitu ia cintai melalui semua hal berat ini.
"Besok hari terakhir Haezel cuti, Pi!" Jawab Haezel lirih. Tangan pria itu tak lepas menggenggam tangan Mayra yang kini sudah tenang dalam tidurnya. Entah sampai kapan Mayra akan seperti ini?
"Jika apa yang menimpa Mayra ini ada hubungannya dengan pekerjaanmu, papi ingin kau resign saja dan berhenti menjadi detektif!" Ucap Papi Galen tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Haezel terkejut.
"Pekerjaan ini beresiko tinggi untuk kau dan keluargamu kelak, Ezel!" Ujar Papi Galen lagi memperingatkan Haezel yang hanya bungkam
Haezel hanya sedang mencerna kata-kata Papi Galen tentang kemungkinan adanya hubungan antara kejadian yang menimpa Mayra dengan ancaman Mayra waktu itu serta kebencian Reynold yang tanpa sebab itu.
Haezel masih tak mengerti kenapa Reynold seolah begitu membencinya sejak Haezel menjadi detektif. Jika itu karena rasa cemburu Reynold dengan hubungan Haezel dan Cheryl di masa lalu, rasanya terlalu berlebihan. Toh sekarang Cheryl juga sudah menjadi kekasih Reynold.
Atau mungkin Reynold punya dendam pribadi pada Ezel?
Tapi apa?
Lagipula, setelah Randu menyelidiki lebih dalam tentang keterlibatan Cheryl dan Reynold, hasilnya juga nihil.
Cheryl dan Reynold sedang berada di luar kota untuk berlibur, di malam saat kejadian itu terjadi.
"Ezel, ponselmu berbunyi!" Ucapan Papi Galen segera membuyarkan semua lamunan Haezel. Pria itu segera mengangkat telepon dari Randu.
"Ada kabar apa?" Tanya Haezel cepat.
"Salah satu pelaku sudah diringkus, Ezel!"
"Aku ke kantor sekarang!" Haezel bangkit tergesa dari duduknya, lalu berpamitan sekadarnya pada Papi Galen dan Mami Emily. Pria itu tak membuang waktu dan segera pergi ke kantor polisi untuk mebemui pelaku biadab yang sudah menyakiti Mayra.
****
"Saya terpaksa melakukannya!" Ucao seirang gadis dengan raut wajah ketakutan saat Haezel dan Randu menginterogasinya.
__ADS_1
"Saya butuh uang!"
"Lalu ada segerombol pria yang menyuruh saya untuk membekapkan sapu tangan pada wanita yang duduk di bangku taman itu."
"Mereka menawarkan bayaran besar!" Ungkap gadis itu menuturkan kronologinya.
"Lalu istriku dibawa kemana setelah kau membekapnya? Dan siapa para pria biadab itu?" Tanya Haezel seraya menggebrak meja.
"Ezel!" Randu buru-buru menenangkan Haezel yang sudah dilingkupi emosi.
"Saya tidak tahu istri anda dibawa kemana, Pak!" Gadis di depan Haezel dan Randu itu terlihat gemetar, lalu Randu menyodorkan segelas air putih kepadanya.
"Saya hanya memapahnya masuk ke dalam mobil, lalu mereka menurunkan saya di stasiun yang tak jauh dari kampus.
"Tapi saya sempat mendengar mereka membahas tentang jam keberangkatan sebuah kapal."
"Mereka langsung kabur naik kapal setelah membuang Mayra di depan kampus dinihari itu." Randu berbisik pada Haezel yang langsung menatapnya dengan tajam. Pantas saja para pelaku biadab itu tak kunjung bisa diringkus. Rupanya mereka masih berada di tengah laut
"Kau tahu kalau yang kau lakukan itu adalah sebuah kejahatan," Haezel menatap geram pada gadis muda di depannya tersebut.
"Saya tahu, Pak! Tapi saya butuh uang untuk pengobatan ibu saya," gadis itu beralasan.
"Itu bukan alasan! Kau akan tetap mendekam di penjara" Haezel menuding geram pada gadis yang hanya menundukkan wajahnya tersebut.
"Sudah cukup!" Randu segera menenangkan Haezel sebelum pria itu mengamuk pada gadis muda di depan mereka. Randu lalu membimbing Haezel agar keluar dari ruangan karena Randu akan lanjut menginterogasi gadis muda itu lagi.
Haezel hanya menatap melalui kaca saat Randu melanjutkan interogasinya.
"Aku turut prihatin atas apa yang menimpa istrimu Ezel!" Ucap Pak Kepala yang sudah menghampiri Haezel dannturit melihat interogasi Randu pada gadis muda tadi.
Haezel mengangguk.
"Terima kasih, Pak Kepala!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1