
"Tak ada dalang atau orang yang menyuruh mereka!"
"Mereka memang sudah lama mengincar Mayra dan ini murni kasus rudapaksa untuk sebuah video!"
"File videonya juga ada dan akan digunakan sebagai barang bukti," ujar Randu panjang lebar menjelaskan pada Haezel.
"Tak ada petunjuk juga yang mengarah pada Reynold dan Cheryl, Ezel!" Imbuh Randu lagi.
"Mereka bersih!"
Haezel menyugar kasar rambutnya dan menatap penuh amarah pada para pelaku yang kini digelandang keluar dari ruang interogasi.
"Dasar keparat!" Haezel yang kembali emosi hendak menyerang para pelaku, namun Randu secepat kilat menghentikan Haezel.
"Kendalikan emosimu!" Randu memperingatkan Haezel dan memegangi tangan sahabatnya itu dengan kuat.
"Baj*ngan! Keparat!" Teriak Haezel penuh emosi.
"Sudah cukup!" Randu memperingatkan sekali lagi.
"Sebaiknya kau pulang!" Saran Randu selanjutnya pada Haezel yang akhirnya bisa tenang setelah para pelaku tadi tak terlihat lagi.
"Aku tetap akan mencari siapa dalang dibalik semua ini!" Haezel menuding pada Randu.
"Sudah aku katakan kalau tak ada dalang atau apapun itu, Ezel! Tak ada bukti yang mengarah kesana!" Ujar Randu bersikeras.
"Kau hanya belum mendapatkan bukti itu saja!" Pungkas Haezel sebelum kemudian pria itu berlalu dari hadapan Randu.
"Kau tidak pulang? Aku dengar Mayra sudah pulang ke rumah?" Tanya Randu mengalihkan pembicaraan dan menyusul langkah Haezel.
"Dia masih tidak mau dekat-dekat denganku, seolah aku adalah penjahat yang sudah merudapaksanya," jawab Haezel lirih.
"Mayra pasti masih trauma!" Randu menepuk punggung Haezel.
"Sangat trauma," Haezel menimpali lalu pria itu menerawang. Membayangkan Mayra-nya yang dulu ceria meskipun wanita itu sedikit pemalu. Dan kini Mayra tak pernah tertawa atau sekedar tersenyum. Wanita itu hanya terus menangis atau wajahnya akan terlihat ketakutan setiap bertemu seseorang yang menurutnya asing.
Entah sampai kapan Mayra akan seperti itu.
****
Haezel pulang ke rumah saat hari hampir gelap. Suasana di rumah sedikit sepi karena Papi Haezel sudah sibuk di bawah, mengurus kafe yang sudah mulai buka hari ini setelah satu pekan kemarin tutup karena Mami dan Papi fokus menjaga Mayra di rumah sakit. Sskalipun sudah ada Haezel, tapi kedua orang tua Haezel itu tetap menjaga Mayra sepanjang waktu karena bagi mereka, Mayra juga adalah putri kesayangan mereka.
__ADS_1
"Baru pulang?" Sapa Mami Emily yang baru keluar dari kamar Mayra.
"Mayra tidur, Mi?" Tanya Haezel.
"Iya! Tadi dia mandi lumayan lama, lalu setelahnya tidur," cerita Mami Emily yang langsung membuat Haezel mengernyit.
"Shampo dan sabun sampai habis karena Mayra tak berhenti mengusap-usap seluruh tubuhnya-" Mami Emily terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Dari raut wajah wanita paruh baya itu sudah terlihat bagaimana Mayra yang mungkin merasa jijik dan kotor pada dirinya sendiri.
Haezel langsung membuka pintu kamar Mayra.
"Ezel!" Mami Emily mencegah Haezel yang hendak masuk.
"Ezel hanya ingin melihatnya, Mi!" Ujar Haezel memohon pada Mami Emily.
"Dan mungkin mengusapnya sebentar," ujar Haezel lagi. Mami Emily menghela nafas, sebelum akhirnya wanita paruh baya tersebut mengangguk.
"Pelan-pelan dan jangan membangunkannya!" Pesan Mami Emily.
Haezel berjalan pelan dan masuk ke kamar. Pria itu menatap pada Mayra yang terlihat tenang dalam tidurnya. Sementara Mami Emily memilih untuk keluar dan menutup pintu kamar.
"Sayang!" Haezel mengusao lembut kepala Mayra, lalu mencium kening serta wajah istrinya itu cukup lama.
Ribuan kata maaf mungkin tak akan pernah bisa menghilangkan rasa bersalah di hati Haezel.
"Aku mencintaimu, May!"
"Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun," bisik Haezel lagi seraya mendekap Mayra dan menghirup aroma tubuh wanita tersebut. Aroma yang selalu menenangkan untuk Haezel.
Cukup lama Haezel melakukan hal tersebut hingga kemudian Mayra sedikit menggeliat.
"Haezel diam untuk beberapa saat dan tak langsung bereaksi saat Mayra menggeliat. Rupanya istri Haezel itu hanya berbalik dan berganti posisi. Kedua mata Mayra masih terpejam dan nafasnya juga sudah kembali teratur.
"Aku mencintaimu," bisik Haezel sekali lagi seraya hendak mencium pipi Mayra. Namun Haezel belum jadi melakukannya, saat kedua mata Mayra tiba-tiba sudah terbuka dan langsung membulat antara terkejut dan takut.
"Pergi!" Mayra refleks mendorong Haezel hingga pria itu menjauh darinya.
"Mami!"
"Mami dimana?" Mayra kemudian kembali berteriak histeris hinggq Mami Emily tergopoh-gopoh masuk ke kamar untuk menghampiri Mayra dan memeluknya.
"Suruh dia pergi, Mi!"
__ADS_1
"Suruh dia pergi!" Mayra menunjuk-nunjuk pada Haezel yang masih berdiri tak jauh dari temoat tidur. Mami Emily sangat bisa melihat kesedihqn dari sorot mata Haezel karena Mayra yang terus saja menolak dekat-dekat dengannya.
Ini semua pastilah terasa berat untuk Haezel.
"Suruh dia pergi, Mi!" Racau Mayra lagi yang masih bersembunyi di dalam pelukan Mami Emily.
Mami Emily hanya memberikan isyarat mata agar Haezel keluar dulu dari kamar Mayra. Haezel akhirnya melangkqh dengan gontai dan keluar dari kamar yang sebenarnya adalah kamar Haezel dan Mayra tersebut. Namun sepertinya hal itu akan segera berubah. Haezel mau tak mau harus pindah kamar setelah ini karena Mayra masih belum mau ia dekati.
****
"Jadi bagaimana?" Tanya Papi Galen seraya menyodorkan secangkir kopi untuk Haezel. Setelah tadi membuat Mayra bangun dan menjerit-jerit, Haezel akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah dan sekedar minum kopi agar pikirannya yang kacau sedikit teralihkan.
"Sama sekali tak ada hubungannya dengan kasus yang pernah Ezel tangani, Pi!"
"Mereka memang sudah lama mengincar Mayra," teeang Haezel dengan nada lirih.
Haezel menyesap perlahan kopi hitam di cangkirnya yang masih mengepulkan asap. Rasanya berbeda dengan yangvselalu dibuatkan oleh Mayra setiap pagi, meskipun Ezel tahu kalau jenis kopi yang dipakai sama saja.
Entahlah!
Kopi buatan Mayra selalu bisa membuat Haezel jatuh cinta sejak pertama kali ia menyesapnya.
Dan sekarang Haezel merindukan kopi buatan istrinya tersebut.
"Berarti memang tak ada pelaku lain lagi?" Tanya Papi Galen sekali lagi.
"Tidak ada!" Haezel menggeleng samar meskipun hatinya tetap merasa ragu.
Benarkah tak ada pelaku lain?
Lalu kenapa hati Haezel merasa kalau ada yang salah dengan semua ini?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1