Detektif Haezel

Detektif Haezel
KABAR BURUK


__ADS_3

"Sudah sampai belum, Mas?" Tanya Mayra yang sejak tadi kedua matanya ditutup oleh Haezel. Mayra juga tidak tahu maksudnya Haezel apa. Tapi kata suami Mayra itu, ia ingin memberikan kejutan untuk Mayra.


"Sedikit lagi." Haezel terus membimbing Mayra untuk berjalan pelan.


"Kenapa jauh sekali?" Protes Mayra yang malah membuat Haezel terkekeh.


"Sudah sampai." Ucap Haezel akhirnya yang langsung membuat Mayra hendak membuka penutup matanya. Namun Haezel segera mencegah.


"Nanti buka penutupnya. Kamu madep sini dulu," Haezel memutar posisi Mayra ke arah sebaliknya.


"Ini sebenarnya mau ngasih kejutan apa, Mas?" Tanya Mayra yang sudah sangat penasaran.


"Ada deh!"


"Nanti kamu juga tahu." Jawab Haezel.


"Diam disini dulu, ya! Aku ambil kejutannya," pesan Haezel seraya melepaskan kedua tangannya dari pundak Mayra.


"Jangan lama-lama, Mas!" Mayra mengulurkan kedya tangannya ke depan untuk meraba-raba ada apa di depannya. Namun tidak ada apa-apa dan Haezel juga tak lagi bersuara.


"Mas!" Mayra masih meraba-raba.


"Mas Ezel!" Panggil Mayra lagi karena suasana di sekitarnya mendadak hening.


"Mas, kamu pergi, ya?" Tanya Mayra lagi yang akhirnya merasa tak tahan. Wanita itu segera membuka penutup matanya, lalu mengerjap-ngerjap sebentar untuk menyesuaikan penglihatannya.


"Kok gelap, sih?" Gumam Mayra bingung karena lampu di ruangan tempat ia berdiri saat ini mati. Hanya cahaya dari jendela kamar yang menjadi sumber penerangan. Mayra menebak kalau ia kini ada di sebuah kamar hotel.


"Mas Ezel!" Panggil Mayra lagi yang tak menemukan keberadaan Haezel dimanapun di dalam kamar.


"Mas!" Mayra melangkah ke arah balkon, dan jantung wanita itu nyaris melompat kekuatan saat Haezel mengagetkan dirinya.


"Ba!"


"Happy birthday!" Ucap Haezel seraya memegang sebuah kue kecil dengan lilin berbentuk angka sembilan belas di atasnya.


Mayra yang kaget dan tak menyangka, langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Happy birthday, Mayra sayang!" Ucap Haezel lagi seraya merangkul Mayra dengan mesra.


"Kok ingat?" Tanya Mayra masih tak menyangka.


"Harus dong!"


"Make a wish, lalu tiup lilinnya," titah Haezel seraya mencium kening Mayra.


Mayra memejamkan kedua matanya dan berdoa sejenak, sebelum kemudian wanita itu meniup lilin di atas kue.


"Happy birthday!" Ucap Haezel sekali lagi dan Mayra langsung menghambur ke pelukan suaminya tersebut.


"Terima kasih!" Bisik Mayra seraya memeluk erat Haezel.

__ADS_1


"Kau senang?" Tanya Haezel.


Mayra mengangguk-angguk.


"Ya!"


"Kau bahagia?" Tanya Haezel lagi.


"Sangat!" Jawab Mayra yang sudah mengangkat wajahnya dan menatap Haezel dengan lekat.


"May benar-benar beruntung punya suami romantis seperti Mas Ezel," ujar Mayra selanjutnya seraya mengusap wajah Haezel.


"Aku juga beruntung karena punya istri sebaik kamu," Haezel balik memuji Mayra yang langsung tersipu.


"Ayo makan kuenya!" Titah Haezel selanjutnya seraya mengendikkan dagu ke kue tart mini di tangannya.


Mayra mengangguk dan pasangan suami istri itu lanjut duduk di kursi yang ada di balkon, lalu menikmati kue ulang tahun dan saling menyuapi.


"Pemandangannya indah sekali," gumam Mayra saat melemparkan pandangannya ke arah kerlap-kerlip lampu kota serta kendaraan yang padat merayap di bawah sana.


"Maaf karena tidak bisa membawamu honeymoon ke luat kota, Sayang! Kita hanya bisa staycation di hotel tiga hari," ucap Haezel merasa tak enak hati pada Mayra. Padahal tadinya Haezel ingin mengajak Mayra berkeliling ke beberapa kota. Tapi waktunya ternyata tidak sampai karena pekerjaan Haezel yang padat, serta jadwal kuliah Mayra yang alan dimulai sebentar lagi.


"May sudah senang Mas ajak kesini. Tadi kamarnya juga bagus, banyak bunganya," May melirik ke dalam kamar yang lantainya masih dipenuhi taburan kelopak bunga. Pun dengan ranjangnya juga penuh dengan bunga.


"Besok kita jalan-jalan ke mall depan, ya!" Ajak Haezel memaparkan rencananya seraya menunjuk ke bangunan di seberang hotel.


"Oh, itu mall? May kira hotel juga," Mayra tertawa kecil lalu membuka mulut karena Haezel yang sudah menyodorkan potongan kue ke depan mulutnya.


"Hadiah?"


"Kan kamu ulang tahun." Haezel meraih tisu, lalu menyeka krim kue yang sedikit belepotan di sudut bibir Mayra


"Tapi ini hadiahnya, kan, Mas? Staycation di hotel," Mayra menerka-nerka.


"Ada lagi," Haezel mengambil sesyaty dari bawah kursinya yang sontak membuat Mayra menutup wajahnya dengan telapak tangan


"Itu apa? Sogokan?" Tanya Mayra karena Haezel memberikannya buket uang berwarna biru yang lumayan banyak. Ada beberapa bungkus coklat dan hiasan bunga-bunga juga.


"Uang jajan kamu," jawab Haezel seraya terkekeh. Haezel menyodorkan buket uang tadi pada Mayra dan langsung diterima oleh Mayra yang kini ikut tertawa.


"Terima kasih, Suamiku sayang!" Ucap Mayra dengan nada mesra.


"Sama-sama, Istriku Sayang!"


"Nanti malam nggak boleh nolak kalau aku ajak lembur, ya!" ujar Haezel mengajukan syarat.


"Modus!" Cibir Mayra yang hanya membuat Haezel mengerling nakal ke arah istrinya tersebut.


****


"Hhhhh!"

__ADS_1


"Emmmhhh!" Deru nafas Haezel semakin tak beraturan dan peluh sudah mulai terlihat di tubuh serta wajah pria itu. Jam masih menunjukkan pukul tiga pagi, dan Haezel sudah langsung melancarkan aksinya tadi pada Mayrq yang terlihat masih mengantuk.


"Hoaaam!" Mayra menguap tanpa sengaja dan wanita itu langsung menutup mulutnya dengan cepat.


"Maaf, Mas!" Ucap Mayra seraya terkikik.


"Masih ngantuk? Aku udah push up dan keringatan begini padahal," gumam Haezel yang masih bergerak naik turun si atas Mayra.


"Mas Ezel tadi sudah tidur belum?" Tanya Mayra khawatir, karena tadi sebelum tidur mereka juga sudah bercinta dua ronde. Lalu Mayra tidur duluan karena mearsa lelah, dan Haezel entahlah.


Setengah jam yang lalu, Haezel tiba-tiba sudah melucuti baju Mayra,dan saat Mayra membuka mata serta menemukan kesadaran, tubuhnya sudah tak terbalut sehelai benangpun.


"Sudah tidur dua jam sepertinya."


"Tapi aku terus bermimpi tentang kau yang mengenakan lingerie seksi dan menggodaku. Jadi aku memutuskan untuk bangun dan olahraga dinihari," jelas Haezel yang langsung membuat Mayra memukul dada suaminya tersebut.


"Dasar mesum!"


"Besok aku sudah mulai bekerja ke kantor lagi, May! Jadi kita nikmati dulu staycation terakhir kita malam ini!" Ujar Haezel lagi beralasan.


"Ini udah mau pagi, Mas!" Protes Mayra yang kembali memukul dada Haezel.


"Baiklah! Aku selesaikan dulu, nanti kita tukar posisi!" Haezel mempercepat gerakannya dan tak berselang lama, suami Mayra itu akhirnya mencapai pelepasan. Mayra melenguh saat Haezel dengan cepat mel*mat bibirnya dan melampiaskan sisa-sisa hasratnya.


Mayra dan Haezel masih berusaha mengatur deru nafas mereka, saat ponsel Haezel yang berada di atas nakas tiba-tiba berdering.


"Siapa yang menelepon dinihari begini, Mas?" Tanya Mayra seraya mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel Haezel. Namun Haezel bergerak lenih cepat, dan pria itu segera melepaskan miliknya yang masih terbalut pengaman dari milik Mayra, sebelum mengangkat telepon.


"Rekan kerjaku," ujar Haezel menjawab pertanyaan Mayra, sebelum kemudia pria itu mulai berbicara di telepon.


"Ada apa? Kenapa menelepon dinihari begini?" Omel Haezel pada rekan kerjanya yang seolah tak tahu waktu karena menelepon di dinihari buta.


"Ezel, ada kabar buruk."


"Kabar buruk apa?" Kemarahan Haezel seketika surna dan raut wajah pria itu sudah berubah serius.


"Pak Wardhana."


"Dia ditemukan tewas gantung diri di dalam selnya."


"Apa?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2