
"Bagaimana? Menemukan sesuatu?" Tanya Randu pada Haezel yang masih memeriksa pesan serta panggilan dari ponsel Pak Kepala.
"Tidak ada apa-apa!" Haezel membuang nafas frustasi.
"Aku rasa ada alat komunikasi lain-"
"Yang disembunyikan oleh Pak Kepala?" Tebak Randu menyambung kalimat Haezel.
"Pak Kepala tak mungkin ceroboh dan dia pasti sudah berjaga-jaga. Sepertinya penyelidikan ini hanya buang-buang waktu!" Haezel mulai putus asa.
"Kau belum dapat jatah dari Mayra?" Tanya Randu yang langsung membuat Haezel mengernyit.
"Kenapa malah melontarkan pertanyaan konyol itu?" Tanya Haezel tak mengerti.
"Aku hanya menerka-nerka karena biasanya kau tidak mudah menyerah dan putus asa begini," ujar Randu berpendapat.
"Kondisi Mayra sedikit menurun belakangan ini dan dia merengek ingin pergi berlibur."
"Kenapa lau tak mengajaknya berlibur?"
"Kondisimya kurang baik! Aku takut terjadi sesuatu jika aku memaksa untuk membawanya berlibur. Bukan aku yang pelit disini," sergah Haezel memaparkan sebuah alasan.
"Bawa saja staycation di hotel atau villa yang tak terlalu jauh dari fasilitas kesehatan kalau begitu."
"Memangnya Mayra minta liburan kemana?" Tanya Randu lagi.
"Ke sebuah pulau. Dan belakangan ini dia sering bercerita tentang menjadi pengantin di dalam mimpi."
"Aku sedikit bingung. Apa maksudnya Mayra ingin memakai gaun pengantin lagi dan kami menggelar resepsi pernikahan lagi atau bagaimana," Haezel bercerocos panjang lebar pada Randu yang sejak tadi diam menyimak.
"Siapa yang menjadi pengantin di dalam mimpi Mayra?" Tanya Randu menyela cerita Haezel.
"Mayra," jawab Haezel cepat.
"Ada apa? Raut wajahmu terlihat tidak enak." Tanya Haezel bingung.
"Aku tak ingin membuatmu merasa cemas, tapi di keluarga besarku, mimpi memakai baju pengantin bukanlah sebuah pertanda bagus," ujar Randu yang langsung membuat wajah Haezel benar-benar berubah cemas.
"Bukan pertanda bagus? Maksudnya itu sebuah firasat buruk?" Tanya Haezel tak paham.
"Iya, biasanya yang mendapatkan mimpi itu akan jatuh sakit-" Randu tak melanjutkan kalimatnya karena wajah Haezel sudah benar-benar cemas sekarang.
"Tapi kau tak harus langsung mempercayainya, Ezel! Mayra sedang hamil dan aku yakin kau dan keluargamu pasti sudah memantau kondisi Mayra dengan sangat baik." Ujar Randu lagi berusaha menenangkan Haezel.
"Ya, kami semua rutin menjaga serta mengawasi Mayra. Dan aku juga membuat janji dengan dokter kandungan lebih sering karena Mayra mengalami preeklamsia," terang Haezel yang tatapan matanya masih terlihat khawatir.
__ADS_1
"Itu sudah sangat bagus, Ezel! Aku yakin kau akan melakukan semua yang terbaik untuk Mayra. Dan semoga Mayra serta calon bayi kalian terus diberikan kesehatan hingga nanti Mayra melahirkan," ucap Randu bersamaan dengan ponsel pria itu yang berdering.
"Amiin!" Gumam Haezel yang langsung mengaminkan semua doa baik dari Randu.
"Aku angkat telepon sebentar!" Izin Randu dan Haezel hanya mengangguk. Randu berbicara sebentar di telepon dengan seseorang, sebelum kemudian pria otu kembali menghampiri Haezel.
"Informasi tentang Reynold yang kau minta kemarin-"
"Kau sudah mendapatkannya?" Sela Haezel tak sabar.
"Ya!" Randu membuka ponselnya.
"Reynold Pramana. Putra dari supir pribadi di keluarga Pak Bratasena. Sejak kecil sudah akrab dengan Arkan Bratasena." Randu menjeda sejenak pemaparannya.
"Soulmate sepertinya." Ujar Randu lagi sedikit berkelakar.
"Sudah dianggap sebagai putra oleh Pak Bratasena karena kedekatannya dengan Arkan hingga semua pendidikan Reynold, dibiayai oleh Pak Bratasena," ujar Randu melanjutkan hasil penelusurannya terhadap asal usul Reynold.
"Dan aku punya satu foto menarik untuk kau lihat," imbuh Randu yang langsung membuat Haezel beranjak dari duduknya, lalu menghampiri sahabatnya tersebut. Randu menunjukkan sebuah foto persidangan.
"Bukankah ini..."
"Foto persidangan Arkan dimana kau menguliti semua borok Arkan dan membuat pria itu dihukum dengan berat."
"Dan lihat siapa tamu istimewa kita," Randu men-zoom foto di layar ponselnya yang menunjukkan seorang pria berjaket hitam serta mengenakan topi hitam juga. Duduk di barisan tengah dan Haezel langsung bisa mengenalinya.
"Tepat!"
"Reynold datang saat persidangan Arkan dan kesimpulanku adalah, Reynold membencimu bukan karena kau jadian dengan Cheryl, melainkan karena dia merasa dendam pada kau yang telah menjebloskan Arkan ke penjara." Randu mulai menarik benang merah dari semua hal yang ia jabarkan.
"Tapi mungkin Reynold memang juga membenciku karena hubunganku dengan Cheryl-"
"Ya! Itu hanya bumbu tambahan dari dendamnya yang utama." Sergah Randu cepat.
"Itu artinya saat kasus Papanya Cheryl kemarin?"
"Reynold hanya menungganginya untuk membalaskan dendamnya kepadamu. Atau mungkin saja, Reynold malah hendak menjadikan Cheryl sebagai kambing hitam, mengingat Cheryl yang kerap mengumbar kebenciannya padamu setelah kasus bunuh diri Pak Wardhana," Ujar Randu lagi menerka-nerka.
"Kau sudah bertemu Cheryl?" Tanya Randu selanjutnya yang langsung membuat Haezel terdiam. Kelebat bayangan saat malam ia bersama Cheryl kala itu kembali menari-nari di benak Haezel.
"Aku tidak pernah melihat Cheryl lagi," jawab Haezel tergagap.
"Cheryl mungkin tahu tentang rencana Reynold ini. Kita sebaiknya mencari gadis itu dan membujuknya untuk bersaksi," cetus Randu melontarkan sebuah ide yang mendadak membuat otak Haezel menjadi blank.
Sekuat tenaga Haezel berusaha untuk tak mengingat tentang Cheryl namun entah mengapa sebuah perasaan yang Haezel sendiri tak tahu namanya malah kerap menghantuinya belakangan ini.
__ADS_1
"Ezel!" Randu menjentikkan jarinya di depan wajah Haezel yang melamun.
"Ya!" Jawab Haezel kembali tergagap.
"Kenapa melamun? Kau rindu pada istrimu?" Goda Randu yang langsung membuat Haezel tertawa kecil.
"Sudah jam pulang," Randu menunjukkan arlojinya pada Haezel.
"Apa kita bisa mulai mencari Reynold sekarang?" Tanya Haezel yang sudah sangat ingin memberikan pelajaran untuk pria keparat yang sudah merencanakan pemerkosaan terhadap Mayra tersebut.
"Reynold tak ada di rumah Pak Brata," ujar Randu memberitahu Haezel.
"Mungkin di apartemennya?" Haezel menebak-nebak.
"Tidak ada juga kata seluruh apartemen," jelas Randu.
"Pasti Reynold sudah tahu kalau kejahatannya sudah terendus. Jadu dia sudah langsung melarikan diri," gumam Haezel merasa geram.
"Pak Kepala kemungkinan tahu," ujar Randu tiba-tiba.
"Masih belum jelas hubungan antara Pak Kepala dan Reynold," Haezel masih saja berprasangka baik.
"Aku juga penasaran," timpal Randu seraya tertawa kecil.
Kedua sahabat itu benar-benar penasaran tentang hubungan Reynold dan Pak Kepala. Namun sayangnya, tak ada petunjuk apapun mengenai hubungan Reynold dan Pak Kepala, kecuali sikap aneh Pak Kepala saja.
"Kita tidak bisa memasukkan Reynold ke dalam DPO berarti?" Haezel memastikan sekali lagi pada Randu.
"Tidak ada surat penangkapan. Berarti tidak bisa." Jawab Randu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku akan mencarinya sendiri kalau begitu," putus Haezel seraya bergumam.
"Aku boleh ikut mencari?" Tanya Randu kemudian.
"Pulihkan dulu kakimu, Bung!" Haezel menepuk punggung Randu, sebelum kemudian pria itu membereskan meja kerjanya, lalu beranjak pulang untuk segera memeluk Mayra.
Ya!
Haezel sudah sangat rindu pada istrinya tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir
Jangan lupa like biar othornya bahagia.