Detektif Haezel

Detektif Haezel
NGIDAM


__ADS_3

"Kopi!" Cliff menyodorkan secangkir kopi pada Haezel yang masih termenung di halaman belakang.


"Terima kasih, Bang!" Ucap Haezel seraya menerima kopi yang diangsurkan oleh Cliff. Pria itu menyesapnya sedikit lalu kembali termenung.


"Sikap Mayra pada Abang Cliff bagaimana? Suka histeris juga?" Tanya Haezel yang tiba-tiba merasa penasaran.


"Biasa saja menurutku karena aku juga jarang di rumah. Setiap pulang kerja, aku juga sebisa mungkin tak dekat-dekat karena aku takut Mayra histeris atau meracau lagi. Tapi beberapa hari yang lalu saat aku menawarkan dia mau aku belikan sesuatu atau tidak, sikapnya biasa saja." Cerita Cliff panjang lebar.


"Sikapnya pada Papi juga biasa saja. Hanya padamu saja May histeris," imbuh Cliff memberitahu Haezel.


"Ezel bingung. Kenapa sikap Mayra jadi seperti itu? Apa memang salah Ezel?" Cecar Haezel bertanya-tanya.


"Kalian bertengkar sebelumnya?" tanya Cliff penuh selidik dan Haezel langsung menggeleng.


"Kami baik-baik saja sebelum kejadian itu," gumam Haezel.


Cliff menepuk punggung Haezel.


"Sabar!"


"Aku yakin kalau ini tak akan lama. Nanti aku akan membicarakannya dengan Aileen dan mengulik penyebab Mayra bersikao seperti itu kepadamu." Ujar Cliff lagi menenangkan Haezel.


Haezel hanya mengangguk dan pria itu kembali menyesap kopinya. Pikiran Haezel selalu saja berubah kalut saat ia menjenguk Mayra. Tapi jika Haezel tak menjenguk istrinya itu, rasa rindunya juga tak bisa terus-terusan ia tahan.


Entahlah!


Haezel bingung.


****


"Sudah selesai!" Ujar Aileen yang sejak tadi sibuk mengeringkan rambut Mayra dengan hairdryer. Mayra sudah tenang sekarang dan juga sudah berhenti meracau.


"Mi!" Panggil Mayra pada Mami Emily yang sejak tadi juga duduk di dalam kamarnya.


"Ada apa?"


"May lapar," lapor Mayra seraya memegangi perutnya.


"Kau mau makan apa, May?" Aileen langsung sigap bertanya.


"Nasi-" Mayra tak melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba wanita itu malah berurai airmata karena ingat sesuatu.


"Kita mau kemana, Mas?" Tanya Mayra seraya menggosok-gosokkan kedua tangannya saat Haezel mengajaknya turun dari mobil. Udara malam ini lumayan dingin, meskipun Mayra sudah mengenakan jaket.


"Cari makan. Aku lapar," jawab Haezel seraya merangkul Mayra dengan sedikit lebay.


"Kenapa nggak minta May masak saja tadi di rumah?" Tanya Mayra lagi.


"Sesekali keluar tengah malam kan nggak apa-apa! Sama suami jadi aman!" Ucap Haezel yang sudah ganti mengecup puncak kepala Mayra.

__ADS_1


"Jadi sekarang mau makan apa?" Tanya Mayra selanjutnya.


"Kamu maunya makan apa?" Haezel malah balik bertanya.


"Loh! Kok malah tanya Mayra. Kan yang mau mqkan Mas Ezel."


"Iya kan yang nemenin makan kamu. Apa aja yang kamu suka akunjiga suka, kok!" Ujar Haezel lagi yang selalu saja menunjukkan kebucinannya saat bersama Mayra.


"Makan itu!" Mayra menunjuk ke salah satu warung tenda yang lebih mirip sebuah angkringan.


"Pas sekali dengan yang aku pikirkan! Sepertinya kita memang sehati, May!" Haezel mendekap Mayra dengan lebay, lalu mencium mesra pipi istrinya tersebut.


"Mas Ezel!"


"Malu dilihatin orang!" Protes Mayra yang wajahnya sontak memerah. Haezel langsung tergelak dan pasangan suami istri itupun masuk ke warung angkringan yang tadi ditunjuk oleh Mayra.


"May! Ada apa?" Tanya Aileen bingung karena Mayra yang kini malah menangis.


"Kau mau makan apa, Mayra?" Gantian Mami Emily yang bertanya dengan sabar pada Mayra.


"Enggak, Mi!" Jawab Mayra seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan wanita itu masih saja menangis.


"Ngomong saja, May! Mau makan apa? Nanti kami carikan," ujar Mami Emily membujuk sekaligus menenangkan Mayra.


"Disini nggak ada, Mi!" Ucap Mayra sesenggukan.


"Trus adanya dimana? Memang mau makan apa, sih?" Tanya Aileen merasa penasaran.


"Mayra makan yang ada di dapur saja," ujar Mayra akhirnya seraya mengusap sisa-sisa airmata di wajahnya. Mami Emily dan Aileen saling melempar pandang dan sedikit bingung dengan kemauan Mayra.


"Mungkin bawaan hamil, Mi!" Bisik Aileen pada Mami Emily.


"Aileen dulu juga tiba-tiba pengen makan jambunya tetangga pas tengah malam. Giliran udah dipetikin sama Cliff sampai kaki dan tangan Cliff bentol-bentol, Aileen udah nggak pengen makan jambu lagi," cerita Aileen tetap sambil berbisik yang sontak membuat Mami Emily menahan tawa.


"Mami dulu malam-malam ngidam kelapa muda. Papi kamu sampai keliling kota mencari kelapa muda, padahal di rumah Opa ada," Mami Emily balik bercerita pada Aileen dan dua wanita itu sontak terkekeh bersama.


"Pas hamil Aileen?" Tanya Aileen di sela tawanya.


"Iya! Udah gitu mau lahiran masih nyariin krlapa muda juga yang ada bunga di atasnya itu. Papi kamu sampai mencak-mencak pokoknya," cerita Mami Emily lagi dan Aileen langsung geleng-geleng kepala.


"Mami lebih parah dari Aileen ternyata!"


"Di dapur ada kelapa muda, Mi?" Tanya Mayra tiba-tiba yang sepertinya mendengar bisik-bisik Mami Emily dan Aileen tentang kelapa muda.


"Emmmm. Mayra mau kelapa muda?" Mami Emily balik bertanya pada Mayra.


"Iya." Jawab Mayra ragu.


"Tapi kalau ada-"

__ADS_1


"Ada! Ada, kok!" Jawab Mami Emily cepat yang sontak membuat Aileen membulatkan kedua matanya.


"Memang ada, Mi?" Tanya Aileen tanpa suara.


"Suruh Ezel cari! Istrinya ngidam!" Titah Mami Emily pada Aileen yang langsung bergerak cepat keluar dari kamar dan mencari Haezel.


"Benar ada, Mi?" Tanya Mayra lagi.


"Ada, Sayang!" Jawab mami Emily santai. Mami Emily yakin kalau Haezel pasti bersedia mencarikan kelapa muda untuk Mayra malam ini.


****


"Malam-malam cari kelapa muda kemana, Kak? Kalau di rumah sana, tinggal ke rumah Opa banyak. Disini?" Haezel garuk-garuk kepala saat Aileen menyampaikan tentang Mayra yang ngidam kelapa muda.


"Kamu cariin pokoknya! Mayra sedang ngidam!"


"Ini kesempatan kamu juga, Ezel! Soapa tahu nanti setelah kamu dapat kelapa mudany, trus kamu yang kasih langsung ke Mayra, dia jadi nggak takut lagi sama kamu!" Cerocos Aileen panjang lebar menjabarkan teori kemungkinan.


"Bisa dicoba!" Celetuk Cliff menimpali.


"Abang bantu Ezel cari kelapa muda kalau begitu!" Ujar Haezel seraya memaksa Cliff agar berdiri.


"Kok jadi aku?"


"Iya, kan Abang lebih hafal jalan-jalan di kota ini! Nanti kalau Haezel nyasar bagaimana?" Ujar Haezel beralasan.


"Detektif bisa myasar memangnya? Kok aku baru tahu," Cliff berseloroh seraya tergelak.


"Bisalah!" Decak Haezel mulai kesal.


"Udah kamu temani dulu sana, Yang!" Titah Aileen pada sang suami.


"Aku mau ngomong penting sama kamu padahal," Cliff beralasan.


"Ngomongnya nanti malam saja, Bang! Sekarang temani Ezel dulu! Ayo!" Haezel menarik tangan sang abang ipar.


"Aku pergi dulu, Sayang! Kamu ngidam kelapa muda juga? Nanti aku cariin, ya!" Pamit Cliff sembari bucin pada Aileen.


"Orang aku nggak hamil!" Aileen memutar bola matanya.


"Nanti aku hamili!" Seru Cliff sebelum pria itu ditarik oleh Haezel ke arah pintu depan.


"Suka sekali membuat diriku hamil," Gerutu Aileen sebelum kemudian wanita itu masuk ke rumah untuk memeriksa Latisha yang sudah tidur sejak tadi.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2