Detektif Haezel

Detektif Haezel
PENGUAT


__ADS_3

"Sudah pulang, Mas?" Sapa Mayra saat Haezel baru tiba di rumah. Pria itu langsung menghampiri Mayra yang sedang sibuk berkutat di dapur.


"Kok sepi? Mami dan Papi kemana?" Tanya Haezel yang sudah melongkarkan lengannya di pinggang Mayra, lalu menyusupkan kepalanya di ceruk leher istrinya tersebut.


"Tadi bilangnya mau jalan pagi sekalian ke rumah Oma dan Opa," jawab Mayra menerangkan. Haezel mengangguk.


"Mas mau sarapan apa? Biar May masakin," tawar Mayra selanjutnya seraya mengusap lengan Haezel yang masih berada di pinggangnya.


"Yang enak apa?" Haezel malah balik bertanya pada Mayra dan semakin mengeratkan dekapannya. Hanya bersama Mayra,Haezel bisa sedikit lupa pada peliknya berbagai kasus yang ia tangani.


Istrinya ini selalu bisa membuat hati Haezel berbunga-bunga. Mencium aroma tubuh Mayra juga selalu mamlu membuag hati dan pikiran Haezel menjadi tenang.


"Kan yang makan Mas Ezel. Kok malah tanya ke Mayra." Mayra sedikit menggerutu.


"Kau maunya sarapan apa?" Tanya Haezel akhirnya pada Mayra.


"Emmmmm nasi goreng atau mau roti saja yang simpel?" Mayra memberikan pilihan pada Haezel.


"Roti saja!" Haezel mengecup puncak kepala Mayra.


"Baiklah! Ayo ke ruang makan!" Ajak Mayra yang kembali mengusap lengan Haezel.


Haezel memutar tubuh istri kecilnya tersebut, lalu mengecup sebentar bibir Mayra, sebelum kemudian keduanya menuju ke ruang makan.


"Eh, Mas Ezel mau May buatkan kopi?" Tawar Mayra yang baru ingat kebiasaan Haezel yang selalu minum kopi saag pagi.


"Ya!" Jawab Haezel seraya meraih satu lembar roti, lalu ia letakkan di piringnya.


Haezel sudah mulai menggigit rotinya,saat Mayra kembali membawa secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.


"Duduk disini, May!" Titah Haezel seraya menepuk kedua pahanya. Haezel meminta Mayra untuk sarapan sembari duduk di pangkuannya.


Ya ampun!


"Sini! Nggak ada orang juga," titah Haezel lagi seraya meng*lum senyum.


Mayra akhirnya tak menolak lagi, lalu duduk di pangkuan Haezel. Wanita itu mengambil satu lembar roti, lalu mulai mengoleskan selai saat tangan Haezel sudah usil bermain di dadanya.


"Mas!" Protes Mayra dan Haezel langsung terkekeh tanpa dosa.


"Sudah lebih berisi sekarang," komentar Haezel yang langsung membuat wajah Mayra bersemu.


"Katanya kalau pengantin baru memang begitu," gumam Mayra memberitahu Haezel.


"Kata siapa?" Tanya Haezel yang tangannya tetap aktif mer*mas gundukan kenyal Mayra.


"Kata..." Mayra menggeliat di pangkuan Haezel karena merasa geli.


"Kata siapa? Kenapa goyang-goyang begitu?" Goda Haezel usil.


"Geli, Mas!" Mayra menghentikan tangan Haezel yang kini menangkup dadanya.


"Iya udah!"


"Kamu sarapan dulu!" Haezel akhirnya berhenti menggoda Mayra dan membiarkan istrinya itu memakan sarapannya. Sesekali Haezel juga akan minta disuapi oleh Mayra, meskipun tadi Haezel sudah makan roti.


"Nanti masih ke kantor lagi, Mas?" Tanya Mayra setelah wanita itu menghabiskan sarapannya.


"Mungkin agak siang. Cuma menghadiri pemakaman," jelas Haezel seraya memainkan rambut Mayra yang masih berada di pangkuannya. Sesekali Haezel juga akan mengendus aroma wangi rambut Mayra.


"Siapa yang meninggal?" Tanya Mayra sedikit terkejut.


"Pak Wardhana! Beliau dulu adalah petinggi di kepolisian," terang Haezel.


"Pensiunan?" Tebak Mayra menerka-nerka.


Haezel menggeleng.

__ADS_1


"Diberhentikan dengan tidak hormat karena terjerat kasus. Lalu sempat mendekam di balik jeruji besi beberapa bulan kemarin sebelum akhirnya ditemukan tewas," cerita Haezel panjang lebar yang langsung membuat Mayra menutup mulutnya dengan telapak tangan karena kaget.


"Meninggal karena sakit?" Tanya Mayra lagi dan Haezel langsung menghela nafas dengan berat.


"Bunuh diri," jawab Haezel lirih yang semakin membuat Mayra terkejut.


"Ya ampun! Kasihan keluarganya," gumam Mayra prihatin. Haezel tak berkomentar lagi dan pria itu hanya mendekap tubuh Mayra yang tetap berada di pangkuannya. Haezel hanya sedang mencari tambahan kekuatan atas kasus pelik ini.


****


"Kau serius dengan Cheryl, Ezel?" Tanya Pak Wardhana menatap serius pada Haezel yang wajahnya terlihat grogi.


"Iya, Om!"


"Ezel akan serius dengan Cheryl dan berencana membawa hubungan kami sampai ke jenjang pernikahan nantinya." Ucap Haezel dengan wajah penuh keyakinan.


"Cheryl putriku satu-satunya."


"Aku mau kau menjaga dan mencintainya sepenuh hati!"


"Jangan sekali-kali berkhianat di belakangnya apalagi mencampakka ia demi wanita lain!" Pak Wardhana memberikan ultimatum sekaligus syarat pada Haezel.


"Saya akan menjaga Cheryl sepenuh hati, Om!" Janji Haezel bersungguh-sungguh.


"Saya juga akan mencintai Cheryl dengan sungguh-sungguh dan saya berjanji tidak akan pernah menyakiti hatinya."


"Saya mencintai Cheryl, Om!" Ucap Haezel sekali lagi meyakinkan ayah kandung Cheryl tersebut.


"Aku pegang janji kamu, Haezel!"


Haezel menelan ludahnya dengan susah payah dan sedikit membenarkan kacamata hitamnya, saat melihat Cheryl yang masih menangis tergugu di pusara makam sang ayah. Ada Reynold juga disana yang sejak tadi tak beranjak dari samping Cheryl. Pria itu terus merangkul dan menguatkan Cheryl yang terlihat begitu terpukul.


Haezel tahu kalau ini pastilah sesuatu yang berat untuk Cheryl. Tapi Haezel juga tak mampu berbuat banyak. Haezel hanya ingin me jadi orang yang jujur dalam pekerjaannya, dan kemarahan Cheryl kepadanya sekarang adalah konsekuensi yang harus Haezel terima. Haezel sama sekali tak gentar dengan ancaman Cheryl kemarin. Ini memanglah resiko dari pekerjaan Haezel.


"Ayo pergi dari sini!" Ajak Randu bersamaan dengan beberapa pelayat yang sudah membubarkan diri. Prosesi pemakaman memang telah selesai.


"Aku turut berduka, Cheryl!" Ucap Haezel dengan nada prihatin dan tatapan Cheryl sama sekali tak berubah.


"Aku tak butuh ucapan duka darimu!"


"Pergi kau dari makam ayahku!" Usir Cheryl penuh emosi pada Haezel.


"Pergi dari sini, Detektif keparat!" Reynold ikut-ikutan mengusir dan memaki Haezel.


"Ezel! Ayo pergi!" Ajak Randu sekali lagi yang sudah menghampiri Haezel sebelum Cheryl dan Reynold semakin mengamuk. Haezel tak berkomentar lagi dan akhirnya pergi bersama Randu.


"Seharusnya kau tak perlu menyapa Cheryl! Dia masih marah dan emosi kepadamu!" Randu mengingatkan Haezel sebelum dua pria itu masuk ke dalam mobil Randu.


"Ya!" Jawab Haezel singkat yang benar-benar enggan berkomentar lebih banyak. Haezel hanya ingin memeluk Mayra sekarang!


****


"Orang yang mem-back up Zack, dia juga menjalin hubungan dengan Zack." Jelas Yonas pada Haezel.


"Maksudmu dia kekasih Zack juga selain kau?" Haezel sedikit berkelakar pada pria di depannya tersebut.


"Zack hanya memanfaatkannya untuk mencari perlindungan." Yonas tersenyum kecut.


"Kau tetap kekasih sejati Zack berarti?" Celetukan Haezel langsung berhadiah delikan dari Yonas.


Haezel menghela nafas panjang sebelum kembali bertanya pada Yonas.


"Kau pernah melihat pria itu sebelumnya?" Tanya Haezel lagi.


"Pernah sekali saat Zack mengajakku ke kelab malam. Tapi aku sedikit lupa dengan wajahnya."


"Orang ini?" Haezel menunjukkan sebuah foto pada Yonas.

__ADS_1


Yonas mengambil foto dari tangan Haezel,dan memperhatikan wajah orang di foto dengan seksama.


"Ya! Orang ini!" Jawab Yonas akhirnya.


"Kau yakin?" Haezel memastikan sekali lagi.


"Ya! Aku ingat tahi lalat di pelipisnya," Yonas menunjuk ke foto di tangannya.


Haezel langsung terlihat mengusap wajahnya sendiri dengan frustasi.


"Sial!" Haezel juga bergumam dan mengumpat.


"Ada apa?" Tanya Yonas bingung.


"Tidak ada!" Jawab Haezel seraya kembali mengambil foto Pak Wardhana dari tangan Yonas.


Kemarin saat mencari info ke kelab, petunjuk memang mengarah oada Pak Wardhana. Namun tebtu saja Haezel merasa sangsi dan tak percaya, jadi Haezel gabti mengulik info pada Yonas yang merupakan mantan kekasih gay Zack. Dan ternyata oknum yang selama ini mem-back-up Zack adalah benar Pak Wardhana.


Dan fakta lain yang Haezel dapatkan adalah tentang oriebtadi Pak Wardhana yang ternyata menyimpang. Ayah kandung Cheryl itu ternyata juga seorang gay!


Sial!


"Ngomong-ngomong, kapan Ethan akan menggelar resepsi pernikahan?" Tanya Yonas mengalihkan pembicaraan.


"Lusa! Kau tidak dapat undangan?" Haezel balik bertanya pada Yonas yang langsung menggeleng.


"Mungkin jadi satu dengan Olivia. Nanti aku kirimkan undangan kalau begitu." Haezel memberikan opsi.


"Tidak usah! Aku hanya bertanya," tolak Yonas cepat.


"Bagaimana hubunganmu dengan Via? Gadis itu masih marah?" Haezel kembali bertanya pada pria di depannya tersebut.


"Tak usah ditanyakan lagi. Mungkin Via tak akan memaafkanku," Jawab Yonas pesimis.


"Jangan mudah menyerah begitu! Via pasti memaafkanmu!" Haezel memberikan semangat untuk Yonas.


Suasana sejenak hening.


"Terima kasih juga atas semua informasimu, Yonas! Aku akan ke kantor untuk mengumpulkan bukti tambahan," pamit Haezel akhirnya seraya bangkit berdiri.


"Ya!" Jawab Yonas mengulas senyum tipis. Pria itu ikut beranjak dan mengantar Haezel keluar dari ruang kerjanya.


"Mas, kopinya!" Ucapan Mayra membuyarkan lamunan Haezel tentang kilas balik kejadian saat ia berhasil mengungkap siapa pelindung Zack selama ini.


Pak Wardhana!


"Baru pulang sudah melamun! Mikirin apa?" Tanya Mayra yang sudah ikut duduk di samping Haezel.


"Tidak ada!" Jawab Haezel yang langsung mengangkat cangkir kopinya, lalu menyesap perlahan kopi hitam yang tadi disajikan Mayra.


"Kamu kapan mulai masuk kuliah?" Tanya Haezel selanjutnya pada Mayra.


"Masih minggu depan," jaeab Mayra seraya mengulas senyum. Haezel segera meraih tangan Mayra dan menggenggamnya dengan erat, mencoba melepaskan semua beban yang mengganjal di hatinya.


Kasus Pak Wardhana sudah selesai, Ezel!


Saatnya fokus pada kasus selanjutnya dan pada rumah tanggamu bersama Mayra!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2