Detektif Haezel

Detektif Haezel
MENCARI PETUNJUK


__ADS_3

"Mas Ezel kapan bisa cuti lagi?" Tanya Mayra seraya mengusap kepala Haezel yang berada di pangkuannya.


"Kenapa? Mau liburan lagi?" Tanya Haezel yang tangannya sudah terulur untuk mengusap wajah Mayra.


"May kok tiba-tiba kangen sama bapak dan ibu. May ingin berkunjung ke makam bapak dan ibu," jawab Mayra dengan wajah sedikit sendu.


Haezel segera bangun, lalu meraup istri kecilnya itu ke dalam pelukan.


"Jangan sedih!"


"Nanti aku usahain agar kita bisa pergi dan ziarah ke makam bapak dan ibu, ya!" Hibur Haezel seraya mengusap-usap pundak Mayra.


"Kapan memang libur semesternya?" Tanya Haezel seraya merapikan rambut Mayra.


"Masih dua minggu lagi, sih!"


"Yaudah, nanti kalau aku nggak bisa ambil cuti. Kamu pergi sama Mami mau? Nanti aku nyusul juga," tawar Haezel yang langsung membuat Mayra tersenyum dan mengangguk.


"Makasih, Mas!" Mayra langsung menghambur ke pelukan Haezel.


"Ezel!" Ketukan di kaca jendela mobil membuyarkan lamunan Haezel tentang obrolannya beberapa waktu lalu bersama Mayra.


Haezel bergegas melihat siapa yang datang. Rupanya Mami Emily yang datang bersama Papi Galen dan Opa Satria.


"Mami!" Haezel membuka pintu mobil dan segera keluar.


"Sudah menemukan petunjuk?" Tanya Opa Satria.


"Baru diperiksa oleh Randu di kantor, Opa!" Jawab Haezel lesu.


"Itu tas Mayra?" Tanya Papi Galen yang langsung bisa mengenali tas yang berada di dalam mobil Haezel.


"Ezel menemukan tas Mayra di semak-semak. Lalu Randu menemukan dompet Mayra di tempat sampah. Hanya ponsel Mayra yang belum ketemu dan sampai sekarang juga tidak aktif," jelas Haezel panjang lebar.


"Apa tidak bisa membuat laporan orang hilang, Yah?" Mami Emily bertanya pada Opa Satria.


"Belum dua puluh empat jam biasanya belum bisa."


"Lagipula, Haezel juga pasti lebih paham langkah-langkah yang seharusnya ia lakukan." Terang Opa Satria.


"Kau ada masalah dengan seseorang, Ezel?" Tanya Papi Galen penuh selidik.


"Maksud papi? Mayra mungkin diculik oleh orang yang benci pada Ezel begitu?" Cecar Haezel menerka-nerka.


"Bisa jadi!"


"Pasti bukan satu dua orang jika memang pelakunya orang yang benci pada Ezel. Pekerjaannya memang beresiko dibenci oleh semua orang, terutama para penjahat," sergah Opa Satria menimpali.


"Tapi kebanyakan dari mereka kan sudah berada di penjara," Mami Emily ikut menimpali dan berpendapat.


"Bisa jadi keluarganya yang bertindak," ujar Papi Galen berspekulasi. Dan saat itulah pikiran Haezel tertuju pada satu kalimat yang pernah dilontarkan Cheryl kepadanya.


"Seumur hidup aku tak akan pernah memaafkanmu atau membiarkan hidupmu bahagia!"


"Kau akan menerima balasan nanti!"


Haezel terhenyak.


Mungkinkah ini semua ada hubungannya dengan Cheryl?

__ADS_1


Haezel baru saja akan menghubungi Randu, saat ternyata teman Haezel itu sudah terlebih dahulu menelepon.


"Randu, bagaimana?" Tanya Haezel to the point.


"Aku dapat satu sidik jari di dompet Mayra. Tapi aku ragu dia orang yang menculik Mayra, Ezel!"


"Bisa saja saat Mayra diculik, dompet dan tasnya tertinggal di bangku taman, lalu orang ini menemukan dompet Mayra dan mengambil isinya-"


"Beritahu saja itu sidik jari siapa!" Perintah Haezel tegas.


"Seorang mahasiswa! Akan aku kirim alamatnya ke ponselmu."


"Baiklah, aku tunggu!" Pungkas Haezel seraya menutup telepon.


"Ada petunjuk?" Tanya Opa Satria cepat.


"Randu menemukan identitas orang yang membuang dompet Mayra." Jawab Haezel bersamaan dengan ponselnya yang berbunyi. Pesan dari Randu berisi sebuah alamat sudah masuk ke ponsel Haezel.


"Haezel akan menemuinya!" Ucap Haezel seraya masuk ke dalam mobil.


"Papi ikut!" Papi Galen ikut masuk ke dalam mobil Haezel.


"Hati-hati!" Pesan Mami Emily pada putra dan suaminya sebelum mobil Haezel melaju pergi.


"Sebaiknya kita juga pulang dan berdoa agar Mayra segera pulang," ujar Opa Satria seraya merangkul Mami Emily yang juga terlihat khawatir.


"Iya, Yah!"


"Semoga Mayra baik-baik saja dan tak terjadi hal buruk apapun," ucap Mami Emily penuh harap. Opa Satria dan Mami Emily akhirnya ikut masuk ke mobil, dan pergi dari area kampus Mayra.


****


"Dimana Mayra!" Tanya Haezel pada seorang pemuda yang baru saja membuka pintu kamar kost yang Haezel datangi. Tak lupa Haezel juga menunjukkan lencananya sebagai seorang detektif.


"Dompet warna hitam yang kau buang di tempat sampah hari ini di dekat kampus!" Haezel memberikan petunjuk dan kedua bola mata pemuda itu sontak melebar.


"Itu-"


"Itu- sa-ya tidak t-tahu!" Tergagap-gagap pemuda itu berusaha menyangkal.


"Jangan bohong!" Haezel menggebrak pintu karena emosi.


"Ezel!" Tegur Papi Galen memoetingatkqn sang putra agar tak kasar.


"S-saya menemukan dompet itu di sebuah tas yang ditinggalkan di bangku taman," pemuda itu akhirnya berkata jujur.


"Lalu pemiliknya kemana?" Tanya Haezel tak sabar.


"S-saya tidak tahu, Pak!" Jawab pemuda itu lagi seraya tergagap.


"Kau mengambil ponsel yang ada di tas itu juga?" Sekarang gantian Papi Galen yang bertanya.


Pemuda itu menggeleng.


"Tidak ada ponsel, Pak! Hanya ada dompet saja dan saya mengambil uangnya," jelas pemuda itu lagi.


Haezel berdecak dan mendadak merasa frustasi karena lagi-lagi semuanya menjadi buntu.


"Kau yakin tidak tahu menahu kemana perginya pemilik tas itu?" Tanya Haezel sekali lagi.

__ADS_1


"Saya benar-benar tidak tahu, Pak!" Jawab pemuda itu bersungguh-sungguh.


Haezel membuka ponselnya, lalu menelepon Randu.


"Bagaimana? Seperti dugaanku di awal?"


"Apa ada sidik jari lain?" Haezel balik bertanya.


"Sidik jari Mayra saja."


"Baiklah! Terima kasih atas bantuanmu malam ini, Randu!" Pungkas Haezel seraya menutup telepon.


"Berapa uang yang kai ambildari dompet istriku?" Tanya Haezel lagi pada pemuda yang masih berdiri di depannya tersebut.


"Li-lima ratus ribu, Pak! Tapi sudah saya pakai uangnya, besok saya akan-"


"Lain kali jangan mengambil uang atau barang yang bukan milikmu!" Nasehat Haezel memotong.


"Maaf, Pak!" Jawab pemuda itu penuh sesal.


"Aku maafkan dan uangnya tak usah diganti! Tapi jangan diulangi!" Pesan Haezel sebelum akhirnya pria itu mengajak Papi Galen untuk pergi dari kost-an pemuda tersebut.


Haezel menyugar rambutnya, lalu mengusap wajah berulang kali.


"Mayra pasti akan segera ditemukan, Haezel!" Ucap Papi Galen menenangkan sang putra.


Haezel hanya mengangguk, lalu papi Galen segera melajukan mobil ke arah rumah mereka.


****


Jam baru menunjukkan pukul lima pagi, saat ponsel Haezel tiba-tiba berdering nyaring. Haezel langsung terjaga dan mengangkat telepon yang rupanya dari Randu.


"Randu, ada info apa?" Tanya Haezel cepat dan berharap.


"Mayra sudah ditemukan, Ezel!"


"Dimana?" Haezel langsung bangkit dari atas tempat tidur, lalu mencuci wajahnya dengan tergesa.


"Dia sudah dibawa ke rumah sakit sekarang."


"Aku ke sana sekarang!" Haezel tak membuang waktu dan segera berlari keluar dari kamar, lalu melesat ke pintu depan mengabaikan panggilan dari Papi Galen yangvjuga baru bangun.


Lima belas menit Haezel memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya pria itu tiba di tumah sakit. Haezel langsung menuju ke ruang UGD, dimana ada Randu yang sudah menunggu Haezel.


"May dimana?" Tanya Haezel tak sabar.


"Dia masih ditangani di dalam." Randu sedikit mencegah Haezel yang hebdam merangsek masuk. Namun seperti sia-sia karena Haezel terus memaksa untuk masuk untuk melihat kondisi Mayra.


Namun saat Haezel melihat tubuh wanita yang amat dicintainya itu terbaring di atas bed perawatan, hati Haezel langsung remuk redam dan tubuhnya serasa tak lagi bertulang.


Mayra...


Apa yang sudah terjadi padamu?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2