
"Kata dokter, usia kandungan Mayra enam minggu, jika dihitung dari hari pertama haid terakhirnya."
"Lalu dari hasil USG, usia kandungan Mayra adalah lima minggu." Terang Aileen membacakan hasil pemeriksaan kandungan Mayra.
"Kejadiannya kurang dari lima minggu yang lalu." Cliff bergumam dan berpendapat.
"Kapan terakhir kali kau berhubungan dengan Mayra, Ezel? Kau masih pakai pengaman?" Tanya Papi Galen pada Haezel yang sejak tadi hanya diam.
"Malam sebelum kejadian itu," jawab Haezel lirih.
"Kau memakai pengaman?" Mami Emily mengulangi pertanyaannya Papi Galen.
"Tidak!" Jawab Haezel seraya menggeleng.
"Dan Ezel kebablasan." Sambut Haezel lagi berkata jujur dan sedikit blak-blakan.
"Jadi itu mungkin...." Haezel mengusap wajahnya sendiri.
"Itu pasti anak Ezel, Pi!" Haezel mengulangi sekaligus mengoreksi kalimat sebelumnya.
"Kita bisa melakukan tes DNA jika memang kau ragu, Ezel!" Cliff mengajukan saran.
"Tes DNA baru bisa dilakukan saat kandungan berusia sepuluh sampai dua belas minggu," ujar Haezel yang memang lebih paham. Pria itu lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu anak Ezel!"
"Jadi tidak usah meragukan apalagi mempertanyakannya lagi!" Pungkas Haezel seraya meninggalkan pembicaraan. Prua itu masuk ke kamar Mayra, dimana ada Mbok Sum yang tadi menemani Mayra.
"May sudah tidur, Mbok?" Tanya Haezel pelan.
"Sudah, Nak Ezel! Baru saja!" Ujar Mbok Sum seraya bangkit dari atas tempat tidur, lalu keluar dari kamar demi memberi ruang untuk Haezel.
Haezel naik ke qtas tempat tidur dengan hati-hati, lalu mendekap Mayra sembari melupakan ketakutan kalau-kalau Mayra akan bangun dan menjerit-jerit karena Haezel peluk.
Entahlah!
Saat ini Haezel hanya ingin memeluk Mayra dan menghirup aroma khas istrinya tersebut. Haezel sudah sangat merindukan Mayra yang selalu tersenyum dan kadang malu-malu.
"Aku akan tetap mencintaimu appaun kondisimu, Sayang!" Haezel berbisik pada Mayra.
"Dan aku yakin kalau ini adalah anakku."
"Anak kita berdua!" Tangan Haezel ganti mengusap lembut perut Mayra.
"Kita akan menjaga dan membesarkannya bersama-sama!"
"Aku mencintaimu!" Haezel mengeratkan dekapannya sambil berulangkali mencium puncak kepala Mayra.
"Aku mencintaimu, kemarin, hari ini, besok, dan nanti hingga aku tak lagi bernafas."
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Mayra sayang!"
****
"Kau yakin tidak mau melakukan tes DNA pada kandungan Mayra ?" Tanya Randu sekali lagi setelah pria itu mendengarkan cerita Haezel tentang Mayra yang sekarang sedang hamil.
"Untuk apa?" Haezel balik bertanya dan tatapan mata pria itu terlihat kosong.
"Untuk memastikan kalau itu adalah benar anakmu atau-"
"Atau anak para pria bejat dan baj*ngan itu?" Potong Haezel menatap ketus pada Randu.
"Lalu aku harus apa kalau ternyata hasil tes DNA menunjukkan itu bukan anakku? Menggugurkannya? Membunuhnya?" Haezel berucap dengan berapi-api pada sahabatnya tersebut.
"Aborsi pada janin hasil pemerkosaan diperbolehkan! Toh usia Mayra juga masih dibawah dua puluh tahun-" kalimat Randu langsung dibungkam oleh lemparan sebuah kitab berisi undang-undang ke hadapannya.
"Diperbolehkan asal usianya dibawah empat puluh hari! Sedangkan hasil USG baru bisa diketahui setelah kandungan berusia sepuluh sampai dua belas minggu!"
"Kau hitung sendiri!" Cerocos Haezel merasa kesal. Randu langsung garuk-garuk kepala.
"Baiklah, aku kurang teliti." Sahabat Haezel itu meringis.
"Ini sudah menjadi keputusanku, Randu!" Ucap Haezel akhirnya menatap tegas pada Randu.
"Aku tahu! Hatimu seluas samudera!" Randu menepuk punggung Haezel dan sedikit merasa iri pada kebesaran hati Haezel yang tetap menerima Mayra setelah apa yang terjadi pada wanita itu. Karena kalau hal ini menimpa Randu atau pria lain di luaran sana, belum tentu mereka akan bersikap seperti Haezel.
Jelas sudah kalau cinta Haezel pada Mayra memang begitu besar dan tak perlu diragukan lagi. Pria itu sangat-sangat mencintai istrinya.
"Aku akan punya keponakan," celetuk Randu lagi sedikit mencairkan suasana yang tadi tegang.
"Lalu kapan kau punya pasangan?" Tanya Haezel menimpali celetukan Randu.
"Nanti saja kalau anakmu perempuan!" Jawab Randu asal namun sukses membuat Haezel tertawa.
"Aku tak menerima calon menantu yang lebih tua dariku!" Ucap Haezel yang langsung membuat Randu meninju pundak pria itu.
"Sialan!"
Randu kembali memeriksa berkas kasus di mejanya. Pun dengan Haezel yang juga sudah fokus pada layar laptop di hadapannya.
"Lalu Mayra masih di rumah kakakmu sekarang?" Tanya Randu lagi di sela-sela mereka bekerja.
"Ya! Mayra belum mau pulang."
"Sikap Mayra bagaimana? Masih takut padamu? Atau sudah mulai welcome?" Tanya Randu lagi.
"Masih takut saat dia sadar." Jawab Haezel yang langsung membuat Randu mengernyit.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Iya saat dia sadar dan bangun dia tak mau aku dekati. Tapi saat dia tidur, dan aku memeluknya dia sama sekali tak menolak," cerita Haezel seraya menerawang.
Meskipun Haezel hanya sempat menginap dua malam di rumah Kak Aileen kemarin, tapi ia sudah cukup puas karena akhirnya bisa kembali memeluk Mayra serta menghirup aroma tubuh istrinya tersebut.
"Kau pasti memberinya obat tidur," tuduh Randu yang langsung membuat Haezel berdecak. Namun Haezel tahu kalau Randu hanya berkelakar. Suasana hati Haezel sudah sedikit membaik sekarang.
"Kasus narkoba baru yang diduga melibatkan beberapa model dan artis," Randu menunjukkan sebuah berkas kasus pada Haezel.
"Bandar utamanya?" Tanya Haezel seraya membaca berkas kasus yang yadi diberikan Randu.
"Masih dalam proses penyelidikan. Sedikit sulit diungkap."
"Janeeta?" Haezel berhenti saat membaca sebuah nama dari beberapa nama model dan artis yang diduga terlibat.
"Ah, iya! Kau kenal? Sepertinya aku pernah melihatnya di acara pernikahanmu," cecar Randu menebak-nebak.
"Dia mantan istri dari sepupuku," ujar Haezel menjawab pertanyaan Randu.
"Oh, sudah jadi mantan?" Randu manggut-manggut.
"Yang pewaris di Kyler Realty itu bukan?" Tanya Randu memastikan.
"Iya, yang itu! Tapi dia sudah menikah lagi sekarang dengan sepupuku." Jawab Haezel yang sontak membuat Randu bingung.
"Sepupumu menikah dengan sepupumu?"
"Mereka sepupu satu buyut. Jadi tidak masalah. Begitu kata para tetua," terang Haezel yang malah membuat Randu garuk-garuk kepala karena semakin bingung.
"Tapi aku nanti akan menyelidiki keterlibatan Janeeta," ujar Haezel selanjutnya kembali fokus pada kasus.
"Dia pandai mengelak!" Randu memberikan informasi.
"Benarkah?"
Randu manggut-manggut.
"Tapi ditanganmu aku yakin akan tertangkap. Kau yang terbaik!" Puji Randu seraya menepuk punggung Haezel yang hanya membuat Haezel tertawa kecil.
.
.
.
Sekedar informasi biar nggak dikira othor menyesatkan.
Kehamilan yang tak diinginkan akibat pemerkosaan bisa digugurkan asal usianya kurang dari 40 hari, ya!
Dasar hukumnya ada di : pasal 75 ayat 2, UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.