Detektif Haezel

Detektif Haezel
EMOSI


__ADS_3

"Selamat datang di rumah!" Ucap Mami Emily seraya membuka pintu depan dari kediaman Biantara. Sudah ada beberapa pernak-pernik yang sengaja disiapkan oleh Mami Emily, Papi Galen dan juga Haezel untuk menyambut kepulangan Mayra. Papi Galen juga menyodorkan sebuket bunga serta coklat untuk Mayra, namun Mayra masih diam dan tak sedikitpun tersenyum. Wanita itu masih tampak trauma dan terpukul atas apa yang sudah menimpanya.


"Kau lapar?" Tanya Mami Emily seraya merapikan rambut Mayra yang berserakan. Mami Emily hendak mengikat rambut Mayra, namun Haezel mencegah.


"Mi! Jangan diikat!" Pinta Haezel seraya menghampiri Mami Emily dan Mayra.


Mayra langsung beringsut mundur dan bersembunyi di balik punggung Mami Emily, tentu saja hal ini langsung membuat dada Haezel terasa sesak.


"Tidak apa-apa, Sayang! Ezel tak akan menyakitimu!" Bujuk Mami Emily yang masih terus mencoba untuk memberikan pengertian pada Mayra.


"Mau aku bukakan coklatnya, May? Kau dulu menyukai coklat ini," tawar Haezel seraya menyodorkan satu bungkus coklat kesukaan Mayra. Namun Mayra langsung menggeleng dan wanita itu memegang tangan Mami Emily dengan kuat, lalu menyembunyikan wajahnya di punggung mami Emily.


"Ezel, sudah! Jangan memaksanya!" Papi Galen menegur sang putra yang terus saja berusaha untuk mendekati Mayra.


"Pergi!" Mayra mulai meracau lagi.


"Mayra!" Mami Emily cepat-cepat mendekap dan memeluk Mayra demi memberikan rasa aman pada wanita itu.


"Tidak apa-apa! Mami disini menjagamu, oke!" Ucap mami Emily yang terus berusaha untuk menenangkan Mayra.


"Bawa ke kamar saja, Em! Mayra biar istirahat!" Titah papi Galen seraya membukakan pintu kamar Mayra. Mami Emily langsung membimbing Mayra untuk masuk ke dalam kamar, lalu pintu kembali ditutup oleh papi Galen.


"Aaargh!" Haezel menggeram dan menyugar kasar rambutnya karena masih belum berhasil memulihkan trauma yang dialami oleh Mayra. Istrinya itu bahkan kini takut pada Haezel dan sama sekali tak mau Haezel dekati.


"Semua butuh waktu, Ezel!"


"Mayra pasti akan secepatnya pulih," hibur Papi Galen seraya mengusap punggung Haezel dan memberikan semangat.


Disaat bersamaan ponsel Haezel yang berada di dalam saku berdering nyaring.


"Iya, Pi!" Haezel menarik nafas panjang berulang kali dan mencoba untuk mengendalikan emosinya.


"Ezel angkat telepon dulu," izin Haezel selanjutnyq seraya berjalan ke arah dapur sambil mengangkat telepon dari Randu. Haezel butuh minum air dingin agar amarahnya sedikit mereda.


"Ada apa, Randu?" Tanya Haezel setelah pria itu meneguk air dingin setengah botol.


"Mereka sudah tiba di kantor, Ezel! Barangkali kau mau-"


Haezel langsung mematikan telepon Randu sebelum sahabatnya itu selesai berbicara. Haezel tak membuang waktu lagi dan pria itu langsung melesat kekuar dari dapur.


"Mau kemana, Ezel?" Tanya Papi Galen saat melihat Haezel melangkah dengan cepat ke arah pintu.


"Ke kantor!"


"Para pemerkosa biadab itu sidah ada di kantor." Jawab Haezel yang langsung menbuat Papi Galen ikut menyusul langkah sang putra.


"Biar papi yang mengemudi, Ezel!" Seru Papi Galen seraya berlari menuruni tangga demi menyusul Haezel yang sudah tiba di garasi. Pria itu masuk ke mobil dengan cepat dan mengabaikan Papi Galen yang masih berusaha untuk menyusulnya.


"Ezel bisa mengemudi sendiri! Papi di rumah saja!" Tolak Haezel yang sudah duduk di belakang kemudi. Sedetik kemudian, mobil Haezel sudah melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan kediaman Biantara.

__ADS_1


"Ezel!" Panggil Papi Galen yang sama sekali tak digubris oleh Haezel. Papi Galen hanya mampu berdecak dan akhirnya naik mobil satunya untuk menyusul ke kantor polisi.


****


Haezel berjalan cepat menuju ke arah ruang penyidikan dan mengabaikan beberapa sapaan dari rekan kerjanya.


"Ezel, kau sudah da-"


Bugh!!


Haezel sudah melayangkan sebuah bogem mentah pada salah satu dari tersangka yang tangannya di borgol.


"Ezel!" Randu buru-buru menghentikan tingkah arogan Haezel yang hendak melayangkan tinju keduanya pada tersangka yang lain.


"Lepaskan aku!" Teriak Haezel menyentak cekalan Randu sekuat tenaga hingga rekannya itu jatuh dan tersungkur .


"Dasar keparat!"


Bugh!


Haezel memukul satu tersangka lagi.


"Baj*ngan!"


"Biadab!" Haezel terus mengumpat dan memukuli empat tersangka itu dengan membabi buta. Beberapa anggota kepolisian bergerak cepat untuk menenangkan Haezel dan membawanya keluar dari ruang penyidikan.


"Kalian akan mendekam selamanya di dalam penjara!"


Sedangkan Randu yang tadi tersungkur sudah kembali bangkit dan melanjutkan proses interogasi.


****


"Lepaskan aku!" Teriak Haezel di ruang Pak Kepal pada para polisi yang masih mencekal tangannya.


"Lepaskan dia dan kalian semua silahkan keluar!" Perintah Pak kepala. Para polisi tadi segera keluarcdari ruangan setelah melepaskan Haezel yang masih terlihat penuh amarah.


"Apa yang kau lakukan, Ezel?" Pak Kepala geleng-geleng kepala seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Haezel.


"Memberikan pelajaran pada para baj*ngan biadab yang sudah merudapaksa istri saya!" Jawab Haezel penuh emosi


"Kasus ini pasti akan ditangani sesuai prosedure, Ezel! Jadi tak seharusnya kau main tanagn seperti tadi-"


"Jika itu terjadi pada istri atau putri anda, apa anda kuga akan mrngatakan hal yang sama?" Potong Haezel menatap tajam pada Pak Kepala.


"Baiklah! Aku paham bagaimana perasaanmu!"


"Tapi main hakim dan main tangan tidak dibenarkan dalam proses penyidikan!"


"Randu akan melakukan pekerjaannya sesuai prosedur-"

__ADS_1


"Saya ingin ikut menginterogasi mereka, Pak!" Potong Haezel lagi meminta izin.


"Tidak!" Tolak Pak Kepala tegas.


"Randu sudah menangani kasus ini! Apa kah tak percaya pada sahabatmu sendiri?" Sergah Pak kepala lagi bertanya pada Haezel.


"Sekarang pulanglah dan temani istrimu melalui semua hal berat ini!"


"Bantu istrimu untuk bangkit dan aku menjamin kalau kasus ini akan bergulir dengan semestinya!"


"Mereka akan mendapatkan hukuman yang memang pantas mereka dapatkan!" Ujar Pak Kepala panjang lebar seolah berusaha untuk meyakinkan Haezel.


"Saya pegang janji anda, dan jika kasus tak berjalan sesuai semestinya! Saya sendiri yang akan turun tangan untuk menyelesaikannya!" Ancam Haezel berani pada pak kepala.


"Silahkan! Aku tak akan menghalangi nanti, jika menurutmu ada yang ditutupi dari kasus ini!" Jawab Pak Kepala tak gentar.


"Sekarang pulanglah!" Perintah Pak Kepala sekali lagi.


Haezel hanya menghela nafas dan akhirnya keluar dari ruangan Pak Kepala. Papi Galen rupanya sudah menunggu Haezel dan pria paruh baya itu langsung merangkul pundak sang putra.


"Kau itu seorang penegak hukum! Seharusnya kau tidak main hakim sendiri seperti tadi!" Ujar Papi Galen menasehati Haezel.


"Mereka sudah menyakiti Mayra dengan keterlaluan, Pi!"


"Mereka pantas mendapatkan hukuman setimpal!" Jawab Haezel merasa geram.


"Mereka pasti akan mendapatkannya!" Ujar Papi Galen penuh keyakinan.


"Randu pasti juga akan menangani kasus ini dengan serius!"


"Jadi kendalikan emosimu itu dan jangan pernah main hakim lagi!" Papi Galen menepuk dada sang putra sambil masih merangkulnya.


"Ayo pulang!" Ajak Papi Galen selanjutnya.


"Ezel akan disini dulu menunggu hasil interogasi dari Randu," tolak Haezel beralasan.


"Baiklah! Tapi kendalikan emosimu dan jangan memukuli tersangka dengan membabi buta seperti tadi!" Pesan Papi Galen.


"Iya, Pi!" Jawab Haezel patuh.


Papi Galen tak berucap lagi, dan pria paruh baya tersebut langsung pergi dari kantor polisi meninggalkan Haezel yang masih menunggu hasil interogasi yang dilakukan oleh Randu pada para tersangka.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2