
Mayra mengambil sebuah amplop putih dari dalam jaket Haezel yang hendak ia masukkan ke dalam keranjang baju kotor. Wanita itu mengernyit mendapati amplop yang bagian luarnya sama persis dengan amplop yang tadi diberikan oleh Haezel.
Tapi sepertinya yang ini isinya berbeda dengan amplop tadi. Mayra akhirnya membuka amplop tersebut dan membaca tulisan di dalamnya. Isinya serupa dengan hasil tes DNA Haezel dan Zelyra tadi. Hanya saja, nama yang tertera di kertas yang ini adalah nama Haezel dan Charlotte.
Berarti memang benar Charlotte adalah putri kandung Haezel.
Mayra menghela nafas panjang, lalu melipat kembali kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam laci nakas. Disaat bersamaan,ponsel Haezel yang berada di atas nakas berdering dan menampilkan nama Randu di layarnya.
Bergegas Mayra nengqngkat telepon karena barangkali ada hal penting yang hendak disampaikan oleh Randu. Kebetulan Haezel juga belum selesai mandi.
"Halo, Randu." Sambut Mayra.
"May, Ezel ada?"
"Masih mandi." Mayra melihat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup.
"Apa ada hal penting yang bisa aku sampaikan?" Tanya Mayra lagi pada Randu.
"Nanti saja kau suruh dia menelepon balik kalau sudah selesai mandi."
"Baiklah! Nanti aku sampaikan," ucap Mayra.
"Ngomong-ngomong, selamat atas kehamilanmu, May!"
"Mas Ezel sudah memberitahumu?" Mayra tertawa kecil.
"Ya! Semoga yang kedua ini laki-laki, ya!"
"Amiin! Sampaikan salamku juga untuk Lea!" Ujar Mayra menyebut nama istri Randu yang juga tengah mengandung. Usia kandungan Lea hanya selisih beberapa bulan dari Mayra.
"Nanti aku sampaikan. Bye!"
"Bye!" Balas Mayra sebelum kemudian wanita itu meletakkan kembali ponsel Haezel ke atas Nakas. Mayra baru saja berbalik, saat Haezel ternyata sudah berada di balik punggungnya dan hanya mengenakan handuk yang membalut bagian bawah tubuhnya.
"Siapa yang menelepon?" Tanya Haezel seraya menunjuk ke ponselnya di atas nakas.
"Randu."
__ADS_1
"Randu bilang apa?" Tanya Haezel lagi.
"Dia tidak bilang apa-apa dan menyuruh Mas Ezel menelepon balik kalau sudah selesai mandi," jelas Mayra seraya berjalan ke arah lemari untuk mengambilkan baju untuk Haezel.
"Sepertinya ada hal penting," ujar Mayra lagi yang sudah mengambil satu kaus dan celana pendek dari dalam lemari. Wanita itu lalu memberikannya pada Haezel.
"Pakaikan!" Titah Haezel dengan nada manja.
"Manja!" Gerutu Mayra seraya membuka handuk Haezel dan wanita itu langsung terlonjak kaget.
"Ya ampun!"
"Kenapa belum pakai underwear, Mas?" Mayra kembali membalutkan handuk Haezel sebelum wanita itu kembali ke lemari untuk mengambil underwear Haezel.
Mayra lalu memakaikan satu persatu baju Haezel, sementara Haezel kembali menelepon Randu.
"Halo! Cepat sekali mandimu?"
"Ck! Tadi telepon ada apa?" Tanya Haezel to the point yang sedang malas meladeni kelakaran Randu.
"Apa? Lalu kondisinya bagaimana?" Tanya Jawab sedikit cemas.
"Masih belum sadarkan diri kata pihak rutan. Dan sekarang malah masuk ke ruang isolasi."
"Sepertinya sakit Cheryl sudah parah. Dia bilang sakit apa kemarin?"
"Kanker serviks stadium akhir." Jawab Haezel cepat.
Mayra sendiri yang sejak tadi turut menyimak pembicaraan Haezel dan Randu langsung tahu siapa yang sedang dibicarakan oleh dua pria tersebut.
"Ah, iya! Sudah parah memang. Semoga masih ada keajaiban."
"Aku perlu ke rumah sakit?" Tanya Haezel meminta pendapat Randu.
"Tidak usah! Tidak ada gunanya juga karena Cheryl sudah di ruang isolasi."
"Lagipula, sudah ada petugas rutan yang pasti mengurusnya."
__ADS_1
"Baiklah kalai begitu. Terima kasih informasinya, Randu!"
"Sama-sama! Aku tutup dulu teleponnya, Bye!"
"Bye!" Haezel menutup telepon dan Mayra langsung menyusupkan kepalanya ke dalam dekapan Haezel.
"Cheryl kenapa, Mas?" Tanya Mayra.
"Drop dan masuk ruang isolasi kata Randu," jawab Haezel menerawang.
"Kita doakan yang terbaik untuk Cheryl saja," lanjit Haezel seraya mengecup puncak kepala Mayra. Istri Haezel itu langsung mengangguk-angguk.
"May nemu hasil tes DNA Mas Ezel dan Charlotte tadi," gumam Mayra yang masih menyusupkan kepalanya di dada Haezel.
"Charlotte putri kandung Mas Ezel," sambung Mayra lagi.
"Kau keberatan dia disini? Kalau iya nanti kita cari panti asuhan-"
"Mas!" Tegur Mayra cepat memotong kalimat Haezel.
"Baiklah tidak jadi!" Haezel menangkup wajah Mayra.
"Charlotte akan jadi putri kedua kita," lanjut Haezel serata menatap Mayra dengan sungguh-sungguh dan Mayra langsung mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Lalu yang ini ketiga, semoga cowok," ucap Haezel lagi penuh harap seraya mengusap dan menciumi perut Mayra.
"Cowok dan seganteng dad-nya nanti," ucap Mayra yang langsung diaminkan oleh Haezel.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1