
"Besok kalau kita punya anak, kita kasih nama pakai akronim nama kita berdua juga, ya!"
Haezel menghela nafas,lalu berjongkok di samping makam Cheryl yang masih basah. Baru beberapa saat yang lalu, Cheryl dimakamkan. Wanita itu akhir menghembuskan nafas terakhir setelah hampir satu bulan dirawat di rumah sakit karena komplikasi penyakitnya yang sudah menyebar.
Haezel meletakkan setangkai bunga mawar putih ke atas makam Cheryl, lalu menatap cukup lama pada pusara mantan kekasihnya tersebut. Cheryl memang dimakamkan berdampingan dengan makam Pak Wardhana. Semoga ini bisa menjadi kebahagiaan Cheryl untuk yang terakhir kalinya karena ia kini sudah beristirahat dengan tenang, berdampingan dengan sang ayah yang begitu ia sayangi.
"Aku dan Mayra akan merawat Charlotte. Jadi kau tak perlu risau lagi dan beristirahatlah dengan tenang di sana," ucap Haezel pada makam Cheryl, sebelum kemudian pria itu bangkit berdiri dan meninggalkan gundukan tanah basah tersebut. Haezel menghampiri Mayra yang sejak tadi berdiri sedikit jauh dari makam Cheryl seraya menggandeng tangan Charlotte yang wajahnya terlihat murung.
"Hai!" Sapa Haezel pada Charlotte seraya berjongkok untuk menyamakan posisi.
"Apa Om dan Tante akan mengantar Charlotte ke panti asuhan setelah ini?" Tanya Charlotte tetap dengan raut wajah murung.
"Kenapa Charlotte berpikir seperti itu?" Tanya Mayra yang sudah ikut berjongkok di samping Haezel dan di depan Charlotte.
"Kemarin Mami kan hanya menitipkan Charlotte pada Om dan Tante. Tapi sekarang Mami sudah meninggal-" suara Charlotte tercekat di tenggorokan dan Mayra segera memeluk gadis lima tahun tersebut. Mayra tentu paham artinya kehilangan karena Mayra juga pernah di posisi Charlotte saat kedua orang tunya pergi untuk selamanya.
"Charlotte akan tetap tinggal bersama Zelyra, Om, dan Tante. Jadi Charlotte tak perlu khawatir lagi, oke!" Ujar Mayra seraya menyeka airmata di kedu pipi Charlotte.
"Benar?" Tanya Charlotte masih ragu.
"Ya!"
"Tapi ada syaratnya," ujar Mayra lagi.
"Syarat apa?" Wajah Charlotte kembali menyiratkan keraguan. Mayra menatap sejenak pada Haezel sebelum wanita itu menjawab pertanyaan Charlotte.
"Charlotte mulai sekarang panggilnya Mom dan Dad, ya!" Ujar Mayra menjawab pertanyaan Charlotte tadi.
"Memang boleh?" Tanya Charlotte yang masih ragu.
__ADS_1
"Sangat boleh! Charlotte sekarang putri Dad dan Mom juga. Charlotte mau 'kan, jadi adiknya Zelyra?" Bukanayra mealinkan Haezel yang kali ini menjawab.
"Mau, Om-" Charlotte dengan cepat menutup bibirnya sendiri.
"Eh, Dad!"
"Charlotte mau," jawab Charlotte dengan kedua mata yang sudah berbinar bahagia.
"Ayo pulang! Lyra pasti sudah menunggu di rumah,", ajak Mayra selanjutnya pada Charlotte dan Haezel.
Haezel segeta sigap membantu Mayra untuk berdiri, saat Charlotte langsung memeluk perut Mayra.
"Apa itu artinya, ini calon adik Charlotte juga, Mom?" Tanya Charlotte yang masih memeluk perut Mayra.
"Tentu saja, Charlotte! Nanti Charlotte akan jadi kakak juga,sama seperti Zelyra," jawab Mayra seraya mengusap lembut kepala Charlotte.
"Charlotte jadi kakak!" Gumam Charlotte kembali dengan mata berbinar.
****
"Laki-laki!"
"Selamat, ya!" Ucap dokter saat Mayra dan Haezel melakukan USG pada kandungan Mayra.
"Sehat, kan, Dok?" Tanya Haezel yang tak bisa lagi menyembunyikan binar kebahagiaan dari matanya.
"Sehat! Berat badan sudah cukup, air ketiban juga cukup, posisi bagus, dan yang terpenting tekanan darah Mayra sejauh ini selalu normal serta tak ada tanda-tanda preeklamsia." Jelas Dokter panjang lebar yang langsung membuat Haezel dan Mayra bernafas lega serta tak berhenti tersenyum.
Di kehamilan keduanya ini Mayra mrmang terlihat begitu bahagia serta semakin manja pada Haezel.
__ADS_1
"Bisa lahiran normal berarti, Dok?" Tanya Mayra tiba-tiba yang langsung membuay Haezel kaget.
"Kenapa tidak operasi saja, Sayang? Yang sebelkan sudah operasi," ujar Haezel yang sepertinya merasa khawatir kalau Mayra lahiran normal. Padahal lahiran cesar risikonya juga sama besar.
"Kan tidak ada salahnya mencoba normal dulu, Sayang! Kata dokter posisinya sudah bagus," tutur Mayra mencari alasan.
"Iya, posisinya sudah sangat bagus dan sebenarnya Mayra sangat bisa melahirkan normalkarena jarak dari kelahiran pertama juga sudah lima tahun lebih."
"Jadi aman-aman saja jika memang Mayra ingin melahirkan secara normal, Ezel! Kita hanya perlu menunggu Mayra mendapat kontraksi," jelas Dokter panjang lebar menenangkan Haezel yang begitu khawatir.
"Saya ingin mencoba lahiran normal dulu, Dokter," putus Mayra yang lagi-lagi sedikit diprotes oleh Haezel.
"Sayang!"
"Mayra pasti bisa, Mas!"
"Mas Ezel harus dukung Mayra pokoknya!" Ujar Mayra keras kepala. Wanita itu menggenggam tangan Haezel dan menaksa sang suami untuk mendukung permintaannya kali ini.
"Tim medis akan tetap siap siaga nantinya, Ezel! Jadi misalnya lahiran normal ternyata tak berhasil, maka operasi akan sehera dilakukan," timpal Dokter ikut-ikutan meyakinkan Haezel.
"Ya, Sayang, ya!" Mayra kembali membujuk Haezel dan sedikit merayu suaminya tersebut.
"Baiklah!" Jawab Haezel yang akhirnya setuju. Senyum penuh kebahagiaan langsung terukir di bibir Mayra.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.