Detektif Haezel

Detektif Haezel
IKHLAS


__ADS_3

"Nanti kalau May pergi jauh-"


"Kau mau kemana memangnya?"


"Pergi jauh."


"Pergi jauh kemana? Aku akan ikut kemanapun kau pergi."


"Tidak!" Mayra menggeleng.


"Mas Ezel harus jagain dedek bayi!"


Haezel menarik nafas panjang sembari mengusap lembut punggung bayi mungil yang kini berada di dekapannya. Baru dua hari yang lalu bayi mungil Haezel dan Mayra ini lahir ke dunia. Kondisinya juga sudah berangsur membaik, dan Haezel sudah bisa memeluknya sekarang du dalam ruang NICU.


Namun sayangnya, kondisi Mayra justru berbanding terbalik dengan sang putri yang semakin sehat. Mayra masih terbaring koma di atas bed perawatan, serelah istri Haezel itu berjuang untuk melahirkan putri kecil mereka. Mayra mengalami pendarahan yang tiba-tiba terjadi pasca persalinan, serta beberapa komplikasi lain.


"May, kau harus kuat!" Haezel bergumam pelan namun hatinya sedang menjerit. Seharusnya Haezel dan Mayra sedang memeluk putri mereka sekarang. Tersenyum bahagia karena akhirnya mereka sudah menjadi orangtua. Namun yang saat ini Haezel rasakan hanyalah sebuah perasaan kalut, ketakutan, kecemasan, yang semuanya bergelung menjadi satu memenuhi kepala dan hati Haezel.


"Lihatlah putri kecil kita! Dia secantik dirimu." Gumam Haezel lagi seraya mengusap lembut punggung putrinya. Makhluk kecil itupun mulai menggeliat, seolah ia turut merasakan kegundahan hati sang Dad.


Seorang perawat datang menghampiri Haezel dan sedikit membantu Haezel yang hendak meletakkan kembali bayi kecilnya ke dalam inkubator.


"Perkembangan kesehatannya sudah cukup bagus, Pak!" Ujar perawat tadi memberitahu Haezel.


"Lalu kapan kami bisa membawanya pulang?" Tanya Haezel.


"Setelah hasil tes keluar dan semua organ dinyatakan sehat serta berfungsi dengan baik, Pak!" Jawab perawat yang langsung membuat Haezel mengangguk.


"Dad jenguk Mom dulu, ya!" Pamit Haezel selanjutnya pada sang putri yang sudah kembali terlelap. Haezel bangkit dari duduknya, lalu keluar dari dalam ruang NICU untuk selanjutnya menuju ke ruang perawatan Mayra.


****


"Terima kasih, Mas Ezel!" Ucap Mayra seraya mencium sekilas bibir Haezel.


"Sekilas saja? Yang lama ciumnya!" Pinta Haezel yang langsung membuat wajah Mayra memerah. Istri Haezel itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ck!"

__ADS_1


"Sini!" Haezel menangkup wajah Mayra, lalu mencium bibir istrinya itu dengan begitu lama.


"Itu baru namanya mencium," celetuk Haezel yang lagi-lagi membuat wajah Mayra bersemu merah.


"May kan malu, Mas!"


"Sama suami sendiri malu? Aku cium lagi kalau begitu!" Haezel sudah memonyongkan bibirnya ke arah Mayra.


"Ish!" Tangan Mayra dengan cepat menahan bibir Haezel yang tetap pantang menyerah. Sekarang Haezel malah menciumi tangan Mayra.


"Mmmuah! Mmmmuah! Mmmmuah!" Haezel sedikit lebay dan Mayra sontak tergelak.


"Mas Ezel lucu!" Komentar Mayra.


"Lucu? Gemesin juga, nggak?"


"Enggak! Kan bukan bayi," kekeh Mayra yang langsung membuat Haezel berdecak. Pria itu lalu menarik Mayra ke dalam dekapannya dan mendekap erat wanita yang sudah hampir satu tahun menjadi istrinya tersebut.


"Tadi ucapin terima kasih buat apa?" Tanya Haezel seraya menyerukkan kepalanya di leher Mayra.


"Semuanya? Apa saja?"


"Cinta yang tulus, kasih sayang, keluarga...." Mayra tersenyum dan menjeda sejenak kalimatnya.


"Dulu sebelum nikah sama Mas Ezel, Mayra pernah membatin-"


"Membatin apa?" Sela Haezel penasaran.


"Membatin tentang keluarga Mas Ezel yang begitu harmonis dan rukun. Mayra pernah ngomong ke Budhe, kalau gadis yang jadi menantu di keluarganya Mas Ezel pastilah gadis yang beruntung-"


"Itu kau!" Haezel menyela lagi dan mencium puncak kepala Mayra.


"Ya!"


"Mayra benar-benar nggak nyangka." Mayra tertawa kecil sembari mengusap-usap tangan Haezel yang masih melingkar di pinggangnya.


"Kau bahagia selama ini?"

__ADS_1


"Sangat!" Mayra memutar kepalanya dan menatap penuh cinta pada Haezel.


"Terima kasih karena sudah mencintai Mayra dan memberikan keluarga yang penuh dengan limpahan kasih sayang pada Mayra, Mas!"


"Mayra bahagia. Sangat-sangat bahagia menjadi istri Mas Ezel."


Haezel mengusap airmatanya sendiri yang tiba-tiba berlinang saat mengenang semua ucapan manis Mayra. Suara lembut istrinya itu selalu terngiang di kepala Haezel dan kini Haezel begitu merindukannya.


"Mayra tiba-tiba kangen sama bapak dan ibu, Mas!"


"Tadi Mayra mimpi ketemu Bapak dan Ibu."


"Mayra mimpi memakai gaun pengantin cantik sekali! Lalu Mayra berdiri di tepi pantai di sebuah pulau yang begitu indah."


Haezel menghela nafas dengan berat, lalu mengusap kepala Mayra yang masih belum bangun dari komanya hingga detik ini.


"Sayang!"


"Jika memang ini yang terbaik dari semua perjuanganmu selama ini, aku ikhlas." Ucap Haezel dengan nafas tertahan.


"Aku berjanji akan merawat putri kecil kita dan memberikannya limpahan kasih sayang." Lanjut Haezel lagi nyaris tanpa suara.


"Lepaskan semua rasa sakit itu, Mayra Sayang! Aku sudah ikhlas." Airmata Haezel tak bisa terbendung lagi. Pria itu mencium kening Mayra sembari bercucuran airmata.


Suasana di dalam ruang perawatan sejenak menjadi sunyi, hingga kemudian terdengar suara peringatan panjang dari monitor detak jantung yang terhubung ke tubuh Mayra.


Kini Mayra tak akan merasakan sakit lagi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like.

__ADS_1


__ADS_2