
Flashback sehari sebelumnya....
Mayra baru saja akan keluar menuju ke teras karena mendengar suara Haezel yang sepertinya sudah datang. Saat tiba-tiba wanita itu mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Cheryl yang langsung membuatnya diam dan tak jadi keluar ke teras.
"Charlotte putri kandungmu!"
Mayra masih diam sembari berusaha mencerna kalimat Cheryl barusan. Mayra juga yakin kalau Cheryl tadi sedang berbicara pada Haezel. Jadi, apa itu artinya Charlotte adalah putri kandung Haezel?
Charlotte yang usianya sebaya dengan Zelyra ternyata putri kandung Haezel?
Tapi bagaimana bisa?
Apa Haezel kembali menjalain hubungan dengan Cheryl saat Mayra depresi waktu itu?
Mayra menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha menelan ganjalan pahit yang memenuhi tenggorokannya. Wanita itu rasanya ingin pergi. Namun lagi-lagi, kalimat yang terus dilontarkan oleh Cheryl malah membuat Mayra semakin penasaran.
"Tapi itu bukan salahmu dan aku sama sekali tak menyalahkanmu!"
"Lalu sekarang kau mau apa kesini kalau memang kau tak menyalahkanku? Kau mau minta pertanggungjawabanku dan mengganggu rumah tanggaku?"
"Sama sekali tidak!" Suara Cheryl terdengar semakin lirih, hingga Mayra harus memasang pendengaran baik-baik.
"Aku hanya ingin kau merawat Charlotte,"
"Tadinya aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk tak pernah lagi datang ke kehidupanmu dan mengganggu rumah tanggamu yang sudah bahagia bersama Mayra dan putrimu, Zelyra. Tapi aku terpaksa mengingkari janji itu, Ezel!"
Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Cheryl masih terus Mayra simak meskipun dengan hati yang sudah campur aduk tak karuan. Hingga pada kalimat terakhir yang Cheryl lontarkan, membuat Mayra benar-benar kehilangan kata-kata.
"Aku sakit."
Cheryl sakit?
Cheryl sakit apa?
Pertanyaan di hati Mayra langsung terjawab oleh gumaman Kak Aileen
"Kanker serviks stadium akhir."
Mayra menutup mulutnya dengan telapak tangan, kemudian wanita itu kembali ke playground di rumah Kak Aileen, dimana Charlotte yang sepertinya sudah lelah bermain kini terlelap dan saling memeluk bersama Zelyra yang juga sudah terlelap. Hati Mayra mencelos. Wanita itu menatap pada dua gadis kecil yang tak tahu apa-apa tersebut, lalu mendekati keduanya.
"Charlotte putri kandungmu!" Kalimat Cheryl kembali terngiang di benak Mayra.
"Wajah Charlotte mirip Mas Ezel, lho! Kok bisa, ya? Padahal Zelyra saja tidak mirip Mas Ezel!"
"Zelyra mirip kok sama aku! Zelyra itu putri kandungku, oke!"
"Mas tidak mau melakukan tes DNA pada Zelyra?"
"Untuk?"
"Golongan darah Mas Ezel dan Zelyra kan beda. Kali aja-"
"Golongan darah seorang ayah dan anak kandungnya tidak harus sama, May! Aku dan Papi juga punya golongan darah yang berbeda! Bukan berarti aku bukan anak kandung Papi! Aku anak kandung Papi! Dan Zelyra adalah putri kandungku, oke!"
"Jadi tak perlu pagi membesar-besarkan hal kecil begini!"
"Zelyra itu putri kandungku!"
Mayra masih bergelut dengan pikiran serta lamunannya, saat teguran dari Kak Aileen membuat wanita itu terlonjak.
"May, anak-anak sudah tidur?" Tanya Kak Aileen seraya memeriksa Zelyra dan Charlotte yang masih saling memeluk.
"Lyra dan Charlotte saja, Kak! Tisha dan Kenneth tadi masuk ke kamar dan May belum lihat mereka tidur atau tidak," jawab Mayra seraya menunjuk ke kamar Tisha. Kak Aileen segera memeriksa ke dalam kamar putrinya tersebut lalu geleng-geleng kepala.
"Mereka juga sudah tidur. Sepertinya lelah bermain," ujar Kak Aileen memberitahu Mayra yang hanya mengulas senyum tipis.
"Mas Ezel sudah sampai, Kak?" Tanya Mayra selanjutnya pura-pura tak tahu. Kak Aileen juga sepertinya tak tahu kalau tadi Mayra sempat menguping pembicaraan antara Cheryl, Haezel, dan Kak Aileen di teras.
"Sudah, dan tadi masih bicara pada Cheryl-" Kalimat Kak Aileen belum selesai saat ternyata Haezel sudah masuk ke dalam rumah.
"Nah, itu dia," tukas Kak Aileen setelah melihat Haezel masuk ke rumah.
__ADS_1
"May," panggil Haezel yang langsung membuat Mayra bangkit berdiri.
"Sudah bicara dengan Cheryl, Mas? Dari tadi dia nungguin Mas Ezel," ucap Mayra berusaha bersikap senormal mungkin pada Haezel, meskipun ada gumpalan sesak yang kini menghimpit dada Mayra.
"Charlotte putri kandungmu!"
"Aku yakin kau masih mengingat kejadian malam itu, Ezel!"
"Iya, aku sudah bicara pada Cheryl tadi." Ujar Haezel menjawab pertanyaan Mayra sekaligus membuyarkan lamunan istri Haezel tersebut. Mayra menelan ludahnya yang pahit dengan susah payah.
"Cheryl sedang tudak terburu-buru, kan? Karena Charlotte tertidur bersama Zelyra dan rasanya kasihan jika harus dibangunkan," ucapan Mayra sedikit terbata dan ekspresi wajah istri Haezel itu nampak kosong.
"May, kau baik-baik saja?" Tanya Haezel khawatir saat melihat perubahan di raut wajah Mayra.
"Charlotte mirip Mas Ezel, ya?" Racau Mayra tiba-tiba yang semakin membingungkan Haezel.
"Charlotte putri kandung Mas Ezel?" Tanya Mayra lagi nyaris tanpa suara, namun airmata wanita yang sudah berlinang di kedua pipinya.
Kini Haezel tahu, kalau Mayra pastilah sudah mendengar pembicaraan antara dirinya dan Cheryl tadi.
"May, aku bisa menjelaskan semuanya," Haezel berusaha merengkuh pundak Mayra, namun istrinya itu mengelak dengan cepat dan langsung meninggalkan Haezel, lalu masuk ke dalam kamar.
Haezel tentu saja tak tinggal diam dan langsung menyusul Mayra masuk ke dalam kamar. Pria otu langsung mendekap Mayra yang kini menangis tergugu di tepi tempat tidur.
Andai waktu bisa diulang dan diputar kembali, mungkin seumur hidup Haezel tak akan memilih profesi sebagai seorang detektif. Tapi semuanya sudah terlanjur dan itu adalah pilihan Haezel sendiri. Mau menyesal juga hanya percuma!
"May, aku minta maaf!"
"Itu sebuah ketidaksengajaan." Haezel mendekap erat tubuh Mayra dan ikut menangis bersama istrinya yang mungkin kini begitu terluka tersebut.
"Aku hanya mencintaimu, Mayra!"
"Aku benar-benar hanya mencintaimu," ucap Haezel lagi bersungguh-sungguh.
"Malam itu aku benar-benar tidak tahu kalau aku dan Cheryl-" suara Haezel tercekat di tenggorokan dan pria itu tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya. Hati Haezel ikut sakit melihat Mayra yang kini menangis sesenggukan.
"Aku akan melakukan tes DNA untuk membuktikannya, May!" Tukas Haezel lagi yang seolah masih tidak percaya kalau Charlotte adalah putri kandungnya.
"Apa wajah Charlotte yang begitu mirip dengan Mas Ezel masih belum cukup membuat Mas Ezel percaya?" Cecar Mayra yang sudah berbalik dan menatap tak percaya pada Haezel.
"Charlotte pastilah putri Mas Ezel seperti halnya Zelyra." Ujar Mayra seraya menyeka airmatanya. Dan perubahan sikap Mayra ini benar-benar membuat Haezel bingung. Tadinya pikiran Haezel sudah kemana-mana dan Haezel benar-benar takut jika Mayra marah lalu hendak pergi meninggalkannya.
Tapi kenapa sekarang Mayra malah seolah meyakinkan Haezel kalau Charlotte adalah putrinya.
"May, kau tidak marah?" Tanya Haezel khawatir seraya menghapus airmata di kedua pipi Mayra yang kini menggeleng.
"Untuk apa juga Mayra marah. Toh semuanya sudah terlanjur," jawab Mayra sesenggukan.
"Maaf jika tadi Mayra sedikit emosi-"
"Aku mengerti!" Potongan Haezel seraya menangkup wajah Mayra dan menatap lekat pada istrinya tersebut.
"Percayalah kalau aku hanya mencintaimu, Sayang!" Ucap Haezel lagi bersungguh-sungguh dan Mayra langsung mengangguk-angguk.
"May percaya, Mas!"
"Tapi Mas Ezel juga harus menunaikan kewajiban Mas Ezel untuk merawat Charlotte. Dia putri kandung Mas Ezel juga," ucap Mayra yang sesaat memunculkan raut keraguan lagi di wajah Haezel. Pria itu seperti masih belum rela.
"Kita rawat Charlotte bersama-sama!" Ujar Mayra lagi seraya menggenggam tangan Haezel yang masih menangkup wajahnya.
Haezel langsung menatap tak percaya pada kesungguhan di wajah Mayra.
"Kau tidak keberatan?" Tanya Haezel masih ragu. Namun Mayra segera menggeleng dengan cepat.
"Sama sekali tidak!" Ujar Mayra seraya menghambur ke pelukan Haezel.
Seperti halnya Haezel yang tetap menerima Mayra apa adanya setelah insiden beberapa tahun silam, kini Mayra juga akan menerima serta memaafkan kekhilafan Haezel. Toh ini bukan kemauan Haezel sendiri, dan Mayra yakin kalau Haezel benar-benar hanya mencintainya.
Haezel hanya mencintai Mayra!
Flashback off
__ADS_1
****
"Maaf, jika aku tiba-tiba datang dan menjadi perusak ketentraman rumah tanggamu bersama Ezel, Mayra!"
"Aku benar-benar tak bermaksud-" Cheryl tak mampu melanjutkan kata-katanya saat Mayra tiba-tiba sudah merengkuh dirinya ke dalam pelukan.
"Aku dan Haezel pasti akan merawat Charlotte, Cheryl!"
"Kami akan menyayangi Charlotte seperti halnya yang kami lakukan pada Zelyra selama ini," ujar Mayra menenangkan Cheryl yang kini hanya membisu.
"Kau bisa mulai berobat dengan tenang sekarang," ujar Mayra lagi meyakinkan Cheryl yang hanya menggeleng seraya tersenyum kecut. Mayra memang tak tahu-menahu perihal Cheryl yangvsydah menghabisi nyawa Reynold, memutilasinya, dan menyimpan pria itu di dalam freezer selama lima tahun. Haezel dan Randu sedang ke TKP beberapa jam yang lalu dan Cheryl sangat yakin kalau dua pria itu akan kembali sebentar lagi untuk menggelandangnya ke kantor polisi, lalu menjebloskannya ke dalam jeruji besi.
"Sudah tidak ada harapan sembuh untuk sakitku ini, Mayra!"
"Mungkin ini memang balasan yang setimpal atas semua dosa yang oernah aku perbuat," ucap Cheryl yang masih tersenyum kecut.
"Selalu ada harapan, Cheryl!" Mayra masih positif thinking. Namun Cheryl kekeh menggeleng.
"Setidaknya sekarang aku bisa merasa lega karena Charlotte akan dibesarkan oleh seorang Mom yang berhati mulia sepertimu. Charlotte tak perlu menjadi wanita murahan dan jahat sepertiku ke depannya-"
"Cheryl!"
"Aku titip Charlotte, berikan dia kasih sayang yang selama lima tahun inj tak banyak ia dapatkan. Ajari Charlotte cara menjadi wanita yang tegar dan berhati mulia sepertimu, dan jangan biarkan gadis kecil itu merasa sedih atau kesepian lagi." Cheryl memohon pada Mayra.
"Charlotte segalanya bagiku." Lirih Cheryl lagi sebelum kemudian Mayra merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Di saat yang sama, Haezel dan Randu sudah tiba lagi di rumah Kak Aileen dan dua pria itu berbicara sebentar pada Kak Aileen yang sudah tahu semuanya. Kak Aileen masuk ke rumah dan menghampiri Cheryl yang masih berpelukan dengan Mayra.
"Cheryl, kau mau pamit pada Charlotte dulu?" Tanya Kak Aileen hati-hati.
Cheryl mengangguk dan segera melepaskan pelukan Mayra. Wanita itu lalu bangkit berdiri dan menghampiri Charlotte yang masih tertawa bersama Zelyra dan Tisha serta Kenneth di playground.
"Mami!" Charlotte bersorak senang dan langsung memeluk Cheryl dengan riang.
"Charlotte betah disini?" Tanya Cheryl yang sekuat tenaga menahan airmatanya agar tak jatuh di depan Charlotte.
"Betah, Mi! Semuanya baik sama Charlotte!" Jawab Charlotte dengan mata berbinar.
"Charlotte ingat pesan Mami kemarin, kan?"
"Charlotte akan tinggal bersama Zelyra mulai sekarang." Jawab Charlotte sedikit ragu.
"Ya! Charlotte akan tinggal bersama Zelyra muqli sekarang dan Charlotte haris sayang pada Zelyra dan nggak boleh bertengkar."
"Lalu itu Mommy-nya Zelyra," Cheryl menunjuk ke arah Mayra.
"Dan yang disana itu Dad-nya Zelyra." Cheryl ganti menunjuk ke arah Haezel.
"Mulai sekarang, mereka juga akan menjadi Mom dan Dad-nya Charlotte. Jadi Charlotte harus menyayangi mereka. Oke!"
"Mami mau kemana memangnya?" Tanya Charlotte yang sepertinya langsung paham.
"Mami harus pergi menyelesaikan urusan Mami di suatu tempat. Nanti Mami akan mengirim surat untuk Charlotte, ya!" Cheryl mengusap setiap jengkal dari wajah putrinya tersebut seolah sedang menyimpannya ke dalam memori.
"Lalu mami kapan pulang? Nanti Mami akan menjemput Charlotte lagi, kan?" Tanya Charlotte yang balik menangkup wajah Cheryl.
"Iya, nanti mami akan pulang!"
"Tapi Mami belum tahu kapan. Jadi sementara mami pergi, Charlotte tinggal bersama Zelyra dulu dan Charlotte tidak boleh nakal, oke!" Pesan Cheryl sekali lagi pada Charlotte.
"Iya, Mi! Charlotte tidak akan nakal," jawab Charlotte sebelum kemudian Cheryl memeluk erat putrinya tersebut. Pelukan yang mungkin untuk terakhir kalinya pada Charlotte.
Cheryl akan menghabiskan sisa waktu dan sisa usianya di balik jeruji besi setelah ini.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.