Detektif Haezel

Detektif Haezel
MENCARI TAHU


__ADS_3

"Mas tahu, nggak?"


"Wajah Charlotte pas tadi May perhatikan, kok mirip Mas Ezel, ya," celetuk Mayra seraya terkekeh tetapi justru membuat Haezel menjadi gundah.


"Apanya yang mirip? Perasaanmu saja mungkin, May!" Jawab Haezel menfoba menanggapi celetukan Mayra dengan tawa juga namun malah terdengar kaku.


"Mirip, Mas! Hidung sama dagunya itu mirip banget sama punya Mas Ezel!" Mayra mengusap dagu Haezel.


"Ada belahannya juga begini," lanjut Mayra lagi.


"Mungkin hanya kebetulan," gumam Haezel sedikit malas menanggapi.


"Padahal Zelyra saja tidak terlalu mirip Mas Ezel-"


"Zelyra mirip kok sama aku!" Sergah Haezel cepat.


"Rambut dan mata Zelyra persis denganku. Mami dan Papi juga bilang kalau Zelyra mirip dengan aku waktu berusia lima tahun!"


"Kata Mami, Zelyra adalah Haezel kecil versi cewek," tutur Haezel lagi membeberkan kemiripan Zelyra dengan dirinya.


"Iya, Mas! Iya!"


"May kan hanya memberitahu," tukas Mayra seraya menyusupkan kepalanya ke dalam dekapan Haezel.


****


"Pak Kepala! Liburanmu sudah selesai?" Suara Randu dari seberang telepon langsung membuyarkan lamunan Haezel. Lamunan tentang perbincangannya semalam bersama Mayra, dimana istri Haezel itu nengatakan kalau Charlotte wajahnya mirip Haezel.


"Belum! Jadwal cutiku masih sampai lusa," jawab Haezel.


"Lalu kenapa menelepon? Mau menawari oleh-oleh?"


"Ya! Kau mau oleh-oleh apa memangnya?" Tanya Haezel menanggapi gurauan Randu.


"Apa saja. Asal jangan istri-"


Praang!


Haezel tergelak saat mendengar suara dari benda yang sepertinya dilempar didekat Randu.


"Lea mengamuk?" Goda Haezel pada sahabatnya tersebut.


"Aku keceplosan! Sial!"


"Kau mau bicara apa tadi? Aku harus menjinakkan Lea!" .


"Pergilah kalau begitu. Nanti aku telepon lagi," ujar Haezel akhirnya bersamaan dengan mobilnya yang sudah tiba di depan toko sekaligus laundry tempat Cheryl bekerja kemarin. Haezel memang berniat menemui Cheryl lagi untuk meminta penjelasan tentang semua hal.


Tentang siapa sebenarnya ayah kandung Charlotte Lalu tentang keberadaan Reynold. Dan tentang paket yang pernah dikirim Cheryl pada Haezel dengan mengatasnamakan Kak Aileen.


Haezel butuh jawaban dari semua hal tersebut.


Haezel menyimpan ponselnya dan segera turun dari mobil. Pria itu langsung menemui ibu pemilik toko yang kebetulan sedang berjaga.


"Permisi!" Haezel mengucapkan salam.


"Mau beli apa, Mas?" Tanya ibu pemilik toko yang sepertinya sudah lupa pada Haezel.


"Mau beli air mineral dingin, Bu!"

__ADS_1


"Sekalian saya ingin bertemu karyawan ibu yang bernama Cheryl," ujar Haezel menyampaikan tujuannya.


"Cheryl tidak datang bekerja hari ini,", jawab ibu pemilik toko seraya mengangsurkan sebotol air mineral dingin pada Haezel.


"Dia sakit?" Tanya Haezel khawatir karena kemarin Cheryl memang terlihat pucat dan tubuh wanita itu kurus sekali.


"Tidak tahu."


"Masnya yang kemarin beli susu dan bertanya tentang Cheryl juga, kan?"


"Masnya kenal dengan Cheryl?" Cecar ibu pemilik toko pada Haezel.


"Iya, saya baru ingat kalau kami teman lama," Haezel menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ibu tahu Cheryl tinggal dimana?" Tanya Haezel selanjutnya penuh harap.


"Di kost-kostan dekat gedung olahraga." Jawab Ibu pemilik toko.


"Dimana itu, Bu?" Tanya Haezel seraya mengernyit.


Ibu pemilik toko akhirnya menggambarkan denah untuk Haezel dari arah lapangan ke kost-kostan Cheryl yang letaknya lumayan tersembunyi.


Setelah sedikit berbasa-basi dan mengucapkan terima kasih, Haezel akhirnya berpamitan dan langsung menuju ke kost-kostan Cheryl.


****


"Cheryl!" Haezel mengetuk sekali lagi pintu kamar kost berwarna hijau di depannya. Sudah lebih dari lima belas menit Haezel mengetuk, namun tak ada jawaban dari dalam.


Apa mungkin Cheryl sedang pergi?


"Cheryl! Charlotte!" Panggil Haezel sekali lagi seraya mengetuk pintu. Namun terap tak ada jawaban.


Haezel membuang nafas dengan kasar, lalu memilih untuk berbalik dan hendak pulang saja. Namun baru saja Haezel membuka pintu mobil, ponselnya berbunyi dan tertera nama Mayra di layar ponsel.


"Mas Ezel dimana?"


"Ini masih di jalan. Ada apa? Kau sudah kangen?" Haezel masuk ke dalam mobil dan berbicara dengan nada merayu pada Mayra.


"Masih lama pulangnya?"


"Udah mau pulang. Ada apa memangnya, May? Kau mau dibawakan sesuatu?" Tawar Haezel lagi yang merasakan kalau nada bicara Mayra sedikit berbeda.


"Ada yang mencari Mas Ezel di rumah Kak Aileen."


"Siapa?" Tanya Haezel sedikit bergumam, seraya menerka-nerka siaoa yang sedang mencarinya.


"Cheryl. Dia datang bersama Charlotte, Mas!"


Haezel mematung mendengar jawaban dari Mayra. Pria itu seketika kehilangan kata-kata dan pikirannya mendadak blank! Merasa bingung harus mengatakan apa pada Mayra.


Jangan bilang, Cheryl ke rumah karena ingin mengatakan kalau Charlotte adalah anak kandung Haezel! Lalu wanita itu minta pertanggungjawaban dari Haezel.


Tidak!


Tidak mungkin!


"Mas!" Teguran Mayra dari seberang telepon langsung membuyarkan lamunan Haezel.


"Iya, May!".

__ADS_1


"Mas cepat pulang, ya! Cheryl kelihatannya ingin bicara hal penting."


"Dan-"


"Dan apa, May? Cheryl mengatakan sesuatu?" Sela Haezel tak sabar.


"Dan Cheryl terlihat sakit, Mas!"


Haezel sejenak terdiam.


"Mas cepat pulang dan hati-hati!"


"Iya! Aku pulang sekarang," pungkas Haezel seraya bergegas menyalakan mesin mobilnya. Lalu tak berselang lama, mobil sudah melaju ke arah rumah Kak Aileen.


****


"Mi! Mainannya Lyra, Kak Tisha, dan Abang Kenneth banyak banget," lapor Charlotte yang sudah kembali menghampiri Cheryl yang sejak tadi memang hanya duduk di teras rumah Aileen.


Padahal baik Aileen maupun Mayra sudah mempersilahkan wanita itu untuk masuk, namun Cheryl menolak dan memilih di teras saja sembari menunggu Haezel datang. Berbeda dengan Charlotte yang langsung diajak masuk dan main oleh Zelyra. Bahkan putri Haezel dan Mayra itu juga terlihat girang saat tahu Charlotte berkunjung ke rumah Aileen bersama maminya.


"Charlotte ijin dulu kalau mau pakai mainannya Zelyra, ya! Jangan direbut paksa kalau Zelyra tidak mau meminjamkan," nasehat Cheryl pada sang putri.


"Zelyra nggak pelit, Mi! Semua mainan Zelyra boleh Charlotte pinjam kata Zelyra." Cerita Charlotte pada Cheryl.


"Mami nggak masuk?" Tanya Charlotte lagi pada sang mami.


"Mami disini saja," jawab Cheryl seraya mengulas senyun.


"Banyak kue di dalam, Mi! Tadi Charlotte dikasih susu juga sama Mommy-nya Zelyra." Cerita Charlotte lagi pada Cheryl yang hanya mengangguk. Hati Cheryl terasa diiris sembilu karena selama lima tahun ini dirinya belum mampu memenuhi kebutuhan putrinya. Bahkan untuk sekedar membelikan susu Charlotte, Cheryl harus kerja banting tulang.


"Charlotte makan secukupnya saja dan jangan dihabiskan semua, ya! Nanti Charlotte sakit perut," nasehat Cheryl lagi pada Charlotte yang langsung mengangguk-angguk. Disaat bersamaan, Mayra keluar dari rumah bersama Kak Aileen dan langsung menghampiri Cheryl yang masih berbicara pada Charlotte.


"Charlotte, tidak main bareng Lyra dan Tisha lagi?" Tanya Mayra seraya mengulurkan tangannya ke arah Charlotte yang kini bergelayut pada sang mami.


"Ayo!" Ajak Mayra sekali lagi.


"Charlotte masuk lagi boleh, Mi?" Izin Charlotte pada Cheryl yang langsung mengangguk.


"Jangan nakal, ya!" Pesan Cheryl sebelum kemudian gadis lima tahun itu digandeng oleh Mayra dan dibawa masuk ke dalam rumah.


"Ezel masih dalam perjalanan," ujar Kak Aileen memberitahu Cheryl. Kini hanya ada dua wanita tersebut di teras rumah.


"Cheryl akan menunggu, Kak! Ada hal penting yang harus Cheryl sampaikan," tukas Cheryl seraya merem*s kedua tangannya yang saling menggenggam.


"Apa ini tentang Reynold?" Tebak Kak Aileen sedikit berbisik. Namun Cheryl hanya diam dan tak menjawab.


"Kau tahu Reynold dimana?" Tanya Kak Aileen lagi dan Cheryl tetap membisu.


"Jawab, Cheryl!" Paksa Kak Aileen lagi bersamaan dengan mobil Haezel yang akhirnya tiba di halaman rumah. Cheryl langsung menatap pada mobil tersebut dan menunggu hingga akhirnya Haezel keluar dari pintu pengemudi.


Haezel langsung menatap tajam ke arah Cheryl yang juga sedang menatapnya.


"Aku ingin bicara satu hal penting, Ezel!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2