Detektif Haezel

Detektif Haezel
SALAHMU!


__ADS_3

"Aku ingin bertemu Detektif Haezel!" Cheryl mengamuk di kantor polisi setelah gadis itu menerima kabar tentang kematian sang ayah. Gadis itu kini juga bersimbah airmata.


"Detektif Haezel masih honeymoon bersama istrinya. Tapi kami sudah menghubungi tadi-" kalimat rekan Haezel terjeda saat Haezel sudah tiba di kantor polisi.


"Itu Detektif Haezel," ujar rekan Haezel tadi.


"Brengsek kamu!" Cheryl langsung menyerang Haezel yang baru tiba. Terang saja hal itu langsung membuat beberapa rekan-rekan Haezel melerai dengan cepat.


"Ini semua gara-gara kamu!" Cheryl berteriak marah sembari berurai air mata. Gadis itu juga menunjuk-nunjuk ke arah Haezel.


"Ayah stress karena kau menjebloskannya ke penjara! Dan sekarang-" Cheryl menangis tersedu-sedu sekarang.


"Ayah memilih untuk mengakhiri hidupnya!"


"Keparat kamu, Ezel!" Maki Cheryl meluapkan semua emosinya pada Haezel.


"Seumur hidup aku tak akan pernah memaafkanmu atau membuat hidupmu bahagia!"


"Kau akan menerima balasan nanti!" Cheryl menyumpahi Haezel sebelum gadis itu dibawa keluar oleh beberapa petugas kepolisian.


Haezel hanya diam dan terus menatap pafa Cheryl yang akhirnya menghilang dari ruangan tersebut.


"Tak perlu diambil hati!!" Randu yang merupakan rekan kerja Haezel menepuk punggung Haezel.


"Kapan kejadiannya, Randu? Kenapa tidak ada yang berusaha menghentikan Pak Wardhana? Apa ini sebuah kesengajaan?" Cecar Haezel pada Randu yang langsung mengendikkan kedua bahunya.


"Duduklah dulu dan aku akan menceritakan kronologinya!" Randu membimbinh Haezel agar duduk di kursi, lalu mengambilkan minum untuk Haezel.


"Apa jenazahnya sudah diotopsi, Randu? Kapan hasilnya keluar-"


"Cheryl menolak dilakukan autopsi karena berdasarkan hasil visum, pak Wardhana murni bunuh diri dan sama sekali tak ada tanda-tanda kekerasan.


"Satu narapidana yang kemarin menempati sel yang sama dengan Pak Wardhana juga baru saja bebas karena masa hukumannya sudah berakhir-"


"Kapan?"


"Dua hari yang lalu."


"Jadi Pak Wardhana berada di sel sendirian?" Haezel memastikan.


"Tadinya ada narapidana yang akan dipindahkan ke sel Pak Wardhana pagi ini. Tapi ternyata tadi malam beliau sudah melancarkan aksinya." Jelas Randu.


"Lalu dia dapat tali darimana?" Tajya Haezel yang mendadak pikirannya menjadi blank. Padahal hal itu sangat mudah ditebak.


"Sprei yang disobek, Ezel! Sudah pernah terjadi juga di beberapa kasus," Randu mengingatkan dan Haezel langsung merutuki dirinya sendiri.


"Kapan Pak Wardhana akan dimakamkan?" Tanya Haezel selanjutnya dengan suara lirih.


"Rencananya sore ini." Jawab Randu.


"Nanti aku jemput!" Ujar Randu lagi sebelum pria itu pamit keluar dari ruangan. Haezel memijit pelipisnya sendiri lalu menarik nafas panjang berulang kali.


"Ayo masuk!" Cheryl menggamit lengan Haezel dengan wajah riang dan mengajak pemuda itu masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Ayah! Lihat siapa yang Cheryl bawa!" Seru Cheryl pada seorang pria paruh baya yang sedang membaca koran di teras belakang.


"Siapa?" Tanya pria paruh baya tersebut.


"Calon menantu papi!" Seloroh Cheryl yang sudah menarik Haezel ke teras belakang.


"Ezel!" Sapa Pak Wardhana, dan Haezel segera mencium punggung tangan ayah kandung Cheryl itu dengan takzim. Haezel lanjut duduk di depan Pak Wardhana yang sudah melipat korannya. Sedangkan Cheryl sudah menghilang ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Haezel dan Pak Wardhana.


"Bagaimana perkembangan kasus yang baru-baru ini kau tangani?" Tanya Pak Wardhana membuka obrolan.


"Hanya tinggal mencari beberapa bukti pendukung, Om!" Jawab Haezel menjelaskan. Pak Wardhana langsung mengangguk mengerti.


"Lalu kondisi sepupumu yang menjadi korban penganiayaan waktu itu?" Tanya Pak Wardhana lagi.


"Sudah pulih dan minggu depan dia akan menggelar resepsi pernikahan." Jawab Haezel cepat.


"Syukurlah kalau begitu."


"Pelaku penganiayaan yang menimpanya waktu itu berarti sama dengan yang menganiaya sahabatnya?" Tanya Pak Wardhana memastikan.


"Tepat sekali!" sahut Haezel cepat.


"Satu orang menganiaya dua orang yang berbeda namun dengan cara yang sama." Pak Wardhana bergumam sendiri.


"Hanya faktor iri sekaligus balas dendam sebenarnya. Tapi dendam selalu bisa membuat hatinorang menjadi buta," ujar Haezel mengungkapkan pendapatnya. Cheryl sudah kembali ke teras belakang seraya membawa dua cangkir kopi sekaligus kue.


"Ezel mau minta izin sesuatu, Yah!" Ujar Cheryl memberitahu Pak Wardhana.


"Ezel hanya ingin minta izin untuk mengajak Cheryl ke pernikahan sepupu Ezel minggu depan, Om!" Jelas Haezel akhirnya mengungkapkan rencananya.


"Silahkan!" Jawab Pak Wardhana cepat.


"Yeay!" Cheryl langsung merangkul dan bergelayut pada Pak Wardhana.


"Ambilkan papan catur, Cheryl!" Titah Pak Wardhana selanjutnya bersamaan dengan ponsel Haezel yang tiba-tiba berdering.


"Ezel permisi angkat telepon dulu, Om!" Izin Haezel pada Pak Wardhana.


"Silahkan, Ezel! Nanti kesini lagi dan kita bermain catur!" Ujar Pak Wardhana yang langsung membuat Haezel mengangguk.


Haezel segera mengangkat telepon dari salah satu rekannya tersebut.


"Halo!"


"Kelab malam tempat Zack biasa datang sudah ketemu!"


"Kirimkan alamatnya kalau begitu! Malam ini aku akan kesana menyelidiki." Jawab Haezel cepat sekaligus bersorak karena kasus Zack perlahan mulai menemukan titik terang.


"Baiklah! Dan menurut informasi, Zack juga biasa bertemu orang yang mem-back-up nya itu disana. Kau harus mengulik info itu, Ezel!"


"Akan aku lakukan." Jawab Haezel yang juga sudah tak sabar untuk segera tahu siapa orang dalam yang selama ini sudah melindungi Zack.


"Baiklah. Sudah ku kirim alamatnya ke ponselmu."

__ADS_1


"Oke, terima kasih!" Pungkas Haezel seraya menutup telepon. Haezel lalu kembali menghampiri Pak Wardhana dan kedua pria itu langsung sibuk bermain catur bersama untuk menghabiskan waktu.


"Ezel!" Teguran Randu langsung membuyarkan lamunan Haezel yang masih duduk di tempat tadi saat ia baru datang ke kantor polisi. Haezel mengusap wajahnya dan sedikit bingung kenapa lamunannya malah terus-terusan ingat pada keakraban dirinya dan Pak Wardhana di masa lalu.


"Aku pikir kau sudah pulang," ujar Randu lagi menatap heran pada Haezel.


"Aku masih perlu memeriksa beberapa file kasus," Haezel sedikit salah tingkah dan pria itu bangkit berdiri lalu mencari sesuatu di rak.


"Kasus yang mana? Bukankah seharusnya kau masih cuti hari ini?"


"Istrimu dimana? Kau tinggal di hotel?" Cecar Randu lagi sedikit mengajak berkelakar agar suasana tak terlalu tegang.


Kasus narapidana yang bunuh diri di dalam sel sebenarnya bukan kali ini saja terjadi. Hanya saja yang mungkin membuat kasus kali ini luar biasa adalah narapidana yang bunuh diri adalah mantan calon mertua Haezel. Mungkin hal itu menjadi tekanan tersendiri untuk Haezel. Terlebih, kasus ini memang dipegang oleh Haezel sejak pertama kali bergulir.


"Aku mengantar Mayra pulang ke rumah orang tuaku tadi sebelum kesini," Haezel sudah kembali duduk di kursinya lagi, lalu mengambil kopi dari tangan Randu.


"Hey, Bung! Itu kopiku!" Protes Randu.


Haezel meringis setelah menyesal sedikit kopi Randu.


"Manis sekali! Kau tidak takut diabetes?" Komentar Haezel seraya mengembalikan kopi Randu.


"Ngomong-ngomong, Pak Wardhana juga punya riwayat sakit diabetes," Randu membelokkan pembicaraan dan malah kembali membahas tentabg Pak Wardhana.


"Sakitnya belum terlalu berat. Mustahil beloau bunuh diri karena sakitnya itu," jawab Haezel sangsi.


"Mungkin memang kqrenq ia sudah terlalj malu akan kasus yang menimpanya,"pendapat Randu lagi.


"Setiap orang pernah berbuat salah dan setiap orang juga selalu punya kesemoatan untuk memperbaiki-"


"Kecuali kalau dia sudah tak hidup lagi," timpal Randu memotong kalimat Haezel.


"Tidak baik membicarakan orang yang sudah meninggal!" Pungkas Haezel bijak seraya bangkit dari duduknya.


"Hei, kau sudah move on dari Cheryl, kan?" Tanya Randu tiba-tiba saat Haezel akan keluar dari ruangan.


"Kenapa bertanya hal itu? Aku hanya mencintai istriku sekarang!" Jawab Haezel tegas.


"Baiklah, aku hanya memastikan," Randu mengendikkan kedua bahunya tanpa dosa.


"Aku akan pulang," pamit Haezel akhirnya.


"Nanti aku jemput ke pemakaman Pak Wardhana!" Seru Randu yang sama sekali tak dijawab oleh Haezel.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2