
Haezel baru tiba di rumah, saat Mayra sudah menyambutnya di teras seraya mengulas senyuman manis ke arah Haezel
"Sudah pulang, Mas?" Sapa Mayra yang langsung menghampiri Haezel.
"Kelihatan senang sekali!"
"Ada apa?" Tanya Haezel penasaran seraya merapikan rambut Mayra yang sedikit berserak.
"Kak Aileen kirim paket barusan," cerita Mayra seraya menggamit lengan Haezel. Pasangan suami istri itu masuk bersamaan ke rumah Opa Satria yang tumben sepi.
"Paket apa? Oma dan Opa kemana?" Tanya Haezel selanjutnya.
"Oma arisan, trus Opa pergi sebentar tadi karena Mayra mendadak ingin makan dessert box di toko kue Ruby."
"Padahal Mayra sudah bilang agar delivery order saja, tapi Opa bersikeras pergi buat beliin langsung," cerita Mayra yang langsung membuat Haezel mengangguk.
"Opa sayang banget sama calon cicitnya berarti," pendapat Haezel seraya membimbing Mayra agar duduk di sofa, lalu pria itu mengusap-usap perut Mayra dan menciuminya berulang kali.
"Geli, Mas!" Mayra sedikit tergelak saat Haezel tak berhenti menciumi perutnya.
"Hari ini aktif?" Tanya Haezel seraya menatap ke wajah Mayra yang terlihat semakin berseri dan semakin cantik. Haezel semakin yakin kalau calon bayinya pasti berjenis kelamin perempuan.
"Aktif!" Jawab Mayra seraya mengangguk.
"Coba nendang, Sayang!" Bujuk Haezel seraya mengusap lembut perut Mayra dan mengajak bicara calon anaknya.
"Nggak mau kalau ada dad-nya," kekeh Mayra yang tangannya sudah mengusap-usap rambut Haezel yang masih berada di pangkuannya.
"Ayo, Sayang!" Haezel sudah ganti menciumi perut Mayra.
"Udah, jangan dipaksa, Dad!" Mayra memaksa untuk mengangkat kepala Haezel dari pangkuannya, lalu menepuk ruang kosong di sampingnya dan meminta Haezel untuk duduk di sana.
"Jadi, Kak Aileen mengirim paket apa? Kok tumben sekali?" Tanya Haezel setelah pria itu duduk di sofa.
"Beberapa keperluan bayi," cerita Mayra serayq bangkit berdiri, lalu mengambil sebuah box warna pink dan menunjukkannya pada Haezel.
"Pink?"
"May juga heran, kenapa box-nya pink," kekeh Mayra yang sudah meletakkan box tadi di atas meja.
"Lihat! Baju bayinya lucu-lucu!" Pamer Mayra seraya menunjukkan beberapa baju serta sepatu bayi dari dalam box.
"Iya," ujar Haezel menanggapi sekenanya. Haezel masih merasa heran karena Kak Aileen yang jarang sekali mengirim hadiah seperti ini. Biasanya kakak kandung Haezel itu akan langsung terbang kemari jika ingin mengajak Mayra shopping atau membelikan sesuatu untuk Mayra.
"Trus yang ini kayaknya buat Mas Ezel. May belum buka tadi. Takutnya dokumen penting." Mayra ganti memberikan sebuah amplop pada Haezel yang langsung mengernyit.
Dokumen apa?
Haezel membaca tulisan di bagian depan amplop.
"To: Haezel"
Huruf "a" yang diganti dengan tanda love langsung mengingatkan Haezel pada tulisan tangan seseorang.
__ADS_1
Ini bukanlah tulisan tangan Kak Aileen!
Ini lebih mirip tulisan tangan Cheryl yang masih sangat Haezel hafal bentuknya.
"Kertas alamatnya mana?" Tanya Haezel seraya memeriksa setiap sisi box untuk mencari kertas berisi alamat sekaligus memastikan.
Ketemu!
Kertas berisi alamat model tulisannya juga mirip tulisan tangan Cheryl. Dan alamat yang dituju adalah alamat kafe Analogy, sedangkan pengirim memakai alamat Kak Aileen.
Aneh!
Siapa sebenarnya yang mengirim paket ini?
"Ada apa, Mas?" Tanya Mayra yang bisa menangkap kebingungan di wajah Haezel.
"Tidak ada!" Haezel langsung merangkul dan mencium kening Mayra.
"Mas nggak buka amplopnya?" Tanya Mayra seraya menunjuk ke amplop yang masih berada di pangkuan Haezel.
"Nanti saja. Isinya hanya tentang pekerjaan," jawab Haezel berdusta karena Haezel sendiri juga tak tahu isi amplop itu apa.
Haezel takut jika ternyata isi amplop yang mungkin dikirim oleh Cheryl itu adalah surat keterangan hamil dari dokter.
Sial!
Kenapa pikiran Haezel bisa sejauh itu?
Tapi malam itu Haezel sama sekali tak memakai pengaman saat ia melakukannya pada Cheryl. Haezel mengira kalau Cheryl adalah Mayra dan ia bahkan tidak ingat berapa kali ia menyentak masuk dan menanamkan benihnya di rahim Cheryl.
"Mas!" Teguran Mayra menyentak lamunan Haezel.
"Iya, Sayang!" Jawab Haezel setelah pria itu susah payah menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit.
"May jadi ingin tinggal lagi di rumah Kak Aileen,", tutur Mayra mengungkapkan keinginannya, seraya bersandar di dada Haezel.
"Yakin mau kesana?" Tanya Haezel yang pikirannya masih saja melanglang buana kesana kemari. Memikirkan kemungkinan isi dari amplop yang dikurim Cheryl.
"Iya! Mas Ezel keberatan, ya?" Tanya Mayra yang tiba-tiba merasa sungkan.
"Tentu saja tidak!" Jawab Haezel cepat.
"Kau mau disana sampai kapan? Nanti aku akan menghubungi Kak Aileen dulu," ujar Haezel lagi bertanya pada Mayra.
"Sampai melahirkan," pinta Mayra yang langsung membuat Haezel terdiam.
"Itu masih sekitar empat bulan lagi, Sayang!"
"Dan aku tak bisa mengambil cuti selama itu," ungkap Haezel sedikit keberatan.
"Tapi Mas Ezel bisa kesana tiap weekend, kan?" Tanya Mayra memastikan.
"Dan cutinya nanti saja kalau Mayra sudah dekat-dekat lahiran," ujar Mayra lagi memberikan saran.
__ADS_1
Haezel mengusap wajahnya sendiri dan merasa berat jika harus menjalin hubungan jarak jauh lagi dengan Mayra.
"Tapi misalnya Mas Ezel keberatan, yaudah Mayra nggak usah pergi," ucqp Mayra lagi dengan raut wajah sendu.
"Kita menginap disana dua minggu dulu, ya! Lalu nanti kita pulang lagi dan sebulan sebelum lahiran, kita terbang ke sana lagi agar kau bisa melahirkan disana."
"Bagaimana?" Tutur Haezel panjang lebar memberikan opsi pada Mayra.
"Mas Ezel tidak mau jauh-jauh dari Mayra, ya?" Tanya Mayra yang sudah kembali menyusupkan kepalanya di dada Haezel.
"Iya! Aku nggak bisa jika harus tidur sendiri setiap malam, tanpa memeluk dan mengusap perutmu, Sayang!" Jawab Haezel yang tangannya sudah mengusap-usap kepala Mayra.
"Tapi Mas Ezel harus terbiasa! Nanti kalau tiba-tiba Mayra pergi jauh bagaimana?"
Celetukan Mayra seperti petir yang menyambar hati Haezel.
Pergi jauh?
Pergi kemana maksudnya?
"Di keluarga besarku, mimpi memakai baju pengantin bukanlah sebuah pertanda bagus. Biasanya yang mendapatkan mimpi itu akan jatuh sakit."
Haezel kembali menelan salivanya dengan susah payah saat kalimat Randu di kantor tadi berkelebat di kepala pria itu.
"Kau mau pergi jauh kemana memangnya, Sayang!"
"Aku pasti akan mengikutimu kemanapun kau pergi," tutur Haezel seraya menahqn sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya.
Tidak!
Itu bukan firasat!
Mayra baik-baik saja dan istri Haezel itu akan melahirkan bayi mereka dengan selamat nantinya.
"Mas kan harus jagain dedek bayi," ujar Mayra seraya tertawa kecil. Berbeda dengan Haezel yang tak bisa lagi tertawa sekarang.
"Tapi setelah Mayra pikir-pikir, Mayra melahirkan disini saja, Mas!" Putus Mayra akhirnya seraya membenamkan tubuhnya lebih dalam ke pelukan Haezel.
"May juga tidak mau jauh-jauh dari Mas Ezel," ujar Mayra lagi yang tangannya sudah membimbing tangan Haezel agar mengusap-usap perutnya yang kini sudah membulat.
Tangan Haezel mengusap-usap perut Mayra namun tatapan mata pria itu tetap kosong.
Entahlah!
Haezel merasa bingung sekarang!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.