
Lima tahun kemudian.....
Haezel menyisir rambut hitam Zelyra yang kini duduk di pangkuannya. Tangan pria itu juga dengan cekatan mengikat rambut sang putri, lalu menyematkan jepit rambut bermotif lucu di kepala Zelyra.
"Sudah siap!" Lapor Haezel yang langsung membuat Zelyra meraih kaca kecil di depannya, lalu melihat ke rambutnya yang kini sudah terikat dengan rapi. Bayangan wajah Zelyra di kaca yang sekilas mirip dengan Mayra, seketika membuat bibir Haezel mengulas senyum tipis.
"Lyra sudah cantik!" Celetuk Zelyra yang langsung membuat Haezel mengulas senyum.
"Kau memang selalu cantik, Sayang!" Puji Haezel seraya menciumi wajah Zelyra dan menghirup aroma khas dari putrinya yang kini sudah genap berusia lima tahun tersebut.
"Dad tidak lupa ini hari apa, kan?" Tanya Zelyra selanjutnya seoalh sedang mengingatkan Haezel.
"Kau ulang tahun?" Tebak Haezel pura-pura lupa.
"Bukan!"
"Mom yang ulang tahun!" Bisik Zelyra seraya bergelayut di leher Haezel.
"Ya! Mom ulang tahun. Tentu saja Dad ingat," jawab Haezel dengan senyum yang tetap menghiasi bibirnya.
"Kau mau memberikan bunga warna apa untuk Mom?" Tanya Haezel selanjutnya pada sang putri
"Putih!" Jawab Zelyra cepat.
"Putih! Baiklah!"
"Kita akan pergi membelinya setelah kau pulang sekolah, ya!" Haezel mencium Zelyra sekali lagi dengan gemas.
"Kenapa bukan sekarang?" Zelyra masih bergelayut di leher Haezel.
"Karena sekarang kau harus sekolah dulu," jawab Haezel yang langsung membuat Zelyra tergelak.
"Ayo, Dad antar ke sekolah!" Ujar Haezel selanjutnya seraya menggandeng Zelyra keluar dari kamar.
"Pagi Omi! Pagi Opi!" Sapa Zelyra riang pada Mami Emily dan Papi Galen yang sedang menyiapkan sarapan.
Zelyra melepaskan tangan Haezel dengan cepat dan langsung melompat le dalam gendongan Papi Galen.
"Pelan-pelan, Lyra! Opi bisa encok kalau kamu melompat seperti itu!" Haezel mengingatkan sang putri dan Mami Emily sontak tergelak.
"Papi belum setua itu!" Papi Galen mendelik ke arah Haezel.
"Papi juga rajin olahraga. Jadi mana mungkin encok hanya karrna menggendong Lyra."
"Bukan begitu, Princess?" Papi Galen bertanya gemas pada Lyra yang masih tertawa
"Ya!"
"Besok temani Lyra renang lagi, ya, Opi!" Rayu Zelyra setaya mengalungkan lengannya dengan manja ke leher Papi Galen. Seperti halnya Mayra dulu yang dekat dengan Papi Galen, kini Zelyra juga begitu dekat dan akrab dengan Ominya tersebut.
__ADS_1
"Siap!"
"Omi nggak diajak renang juga?" Tanya Mami Emily seraya menghampiri Zelyra yang masih bergelayut di gendongan Papi Galen.
"Diajak, dong!" Jawab Zelyra seraya mendaratkan satu ciuman di pipi Ominya tersebut.
"Mami dan Papi jangan lupa berkemas nanti. Ezel sudah memesan tiket untuk Mami dan papi juga," pesan Haezel pada kedua orang tuanya tersebut.
"Yeay! Omi dan Opi ikut juga nanti ke rumah Tisha dan Kenneth!" Zelyra bersorak senang.
"Iya! Iya! Jangan lupa membawa bunga yang akan dibawa ke pemakaman," ujar Mami Emily yang balik mengingatkan Haezel.
"Kak Aileen yang akan menyiapkannya," jawab Haezel santai. Pria itu sudah duduk dan bersiap menyantap sarapannya.
"Ayo sarapan dulu sebelum ke sekolah!" Ajak Mami Emily selanjutnya seraya memaksa Zelyra agar turun dari gendongan Papi Galen.
"Bekal untuk Lyra!" Papi Galen menyodorkan kotak bekal untuk cucu kesayangannya tersebut.
"Cantik!" Puji Zelyra dengan mata berbinar senang. Sudah jadi kebiasaan papi Galen yang selalu menghias bekal Zelyra dengan bentuk macam-macam. Kadang Mami Emily dan Haezel juga heran dengan kreativitas tanpa batas dari Papi Galen dalam urusan perbekalan untuk Zelyra.
"Makan dulu!" Ucap Haezel dan papi Galen berbarengan seraya menyodorkan sendok berbarengan juga ke delan wajah Zelyra yang kini dipangku oleh Mami Emily.
"Kau makan sendiri sarapanmu, dan biar Papi yang menyuapi Lyra!" Ujar Papi Galen seraya menuding pada Haezel.
"Opi! Nada bicaranya tolong dijaga!" Mami Emily mengingatkan sang suami.
"Ck! Dad dicueki," Haezel sedikit merengut dan mungkin juga cemburu karena Zelyra ternyata lebih memilih suapan dari Papi Galen ketimbang darinya.
"Aeeem!" Seorang wanita tiba-tiba datang dan langsung melahap makanan yang berada di sendok Haezel.
"Lihat! Sudah ada yang makan suapan Dad! Jangan ngambek lagi!" Ujar wanita itu lagi seraya mencubit gemas kedua pipi Haezel.
Haezel tak jadi merengut dan pria itu langsung mengusap wajah istrinya yang kini sudah duduk di sebelahnya, Mayra!
"Mommy!" Seru Zelyra dengan mulut yang masih penuh makanan. Gadis lima tahun itu nyaris menyemburkan semua makanannya keluar dan semua yang duduk di meja makan sontak tergelak dengan tingkah Zelyra tersebut.
"Happy birthday, Mommy!" Ucap Zelyra yang sudah turun dari pangkuan Mami Emily dan berpindah ke pangkuan Mayra.
"Happy birthday, Sayang!" Ucap Haezel juga seraya mendekap Mayra dengan penuh sayang.
Mimpi buruk dan ketakutan Haezel lima tahun silam tentang kepergian Mayra sudah lama sirna. Mayra yang memang sempat koma berhari-hari setelah melahirkan Zelyra, akhirnya berhasil pulih dan sehat seperti sedia kala.
Mayra dan Haezel akhirnya bisa memeluk Zelyra bersama-sama serta membesarkan putri kecil mereka sebagai keluarga yang lengkap yang dipenuhi oleh kehangatan dan kasih sayang.
"Terima kasih!" Ucap Mayra yang masih didekap oleh Haezel dan Zelyra.
"Hadiah untuk Mom?" Tagih Mayra selanjutnya pada Haezel dan Zelyra.
"Nanti ada di rumah Aunty Aileen!" Celetuk Zelyra cepat yang langsung membuat semua orang berdecak.
__ADS_1
"Lyra!" Mami Emily mengusap gemas kepala Zelyra karena sudah membocorkan kejutan untuk Mayra. Pun dengan Haezel yang ikut merasa gemas pada sang putri.
"Opi!" Zelyra langsung mengadu pada Papi Galen yang sama sekali tak menyalahkannya.
"Lyra kan nggak sengaja," rengut Zelyra lagi.
"Iya, Sayang! Jangan sedih, ya!"
"Kan Mommy juga tidak tahu kejutan macam apa yang ada di rumah Aunty Aileen," Papi Galen berusaha menghibur Zelyra dengan ekspresi lebay yang sontak mengundang tawa semua anggota keluarga Biantara.
****
"Pagi, Pak Kepala!" Sapa Randu dengan raut wajah yang terlihat lesu.
Haezel hanya menatap sekilas pada sahabatnya tersebut, sebelum lanjut memilah-milah kertas-kertas berisi DPO yang tersemat di papan.
Masih ada foto Reynold dengan segala keterangannya yang sudah mulai usang di deretan paling atas.
Lima tahun berselang dan pria itu masih belum diketahui keberadaannya. Semua tempat serta orang-orang yang sekiranya pernah bertemu dengan Reynold sebelum pria itu menghilang, sudah ditelusuri. Namun hingga detik ini semuanya masih buntu.
"Mungkin jatuh ke laut dan dimakan hiu," celetuk Randu saat melihat Haezel yang sedang merapikan kertas berisi gambar wajah Reynold di papan.
"Lea ngidam tentang hiu?" Tebak Haezel yang langsung membuat Randu berdecak dan mengusap-usap wajahnya berulang kali. Azzalea Andreas adalah istri Randu yang saat ini sedang hamil muda dan dalam fase ngidam aneh-aneh. Haezel masih ingat dengan jelas bagaimana pertemuan tak sengaja Randu dan Lea hingga akhirnya mereka berdua berakhir di pelaminan sebagai sepasang suami istri.
"Ya! Dia minta aku membeli semua boneka babyshark di toko! Bukankah itu konyol?" Curhat Randu menjawab pertanyaan Haezel yang tentu saja langsung membuat sahabatnya itu tergelak.
"Turuti saja, Papa Randu!" Ledek Haezel pada sahabatnya tersebut.
"Aku sampai mimpi buruk karena tidur dengan banyak boneka babyshark," curhat Randu lagi.
"Mimpi apa? Dikejar-kejar babyshark?" Tebak Haezel yang masih saja tergelak.
"Bagaimana kau bisa tahu? Aku bahkan belum memberitahumu," Randu kembali berdecak.
"Aku detektif!" Jawab Haezel sombong.
"Aku juga detektif!" Sergah Randu ikut-ikutan.
"Nikmati saja! Toh hanya sembilan bulan," Haezel menepuk-nepuk punggung Randu, sebelum pria itu masuk ke ruangannya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like.
__ADS_1