
Setelah berpamitan pada Charlotte, Cheryl keluar dari rumah Kak Aileen dan sudah ada Randu dan Haezel yang menyambut wanita tersebut di teras. Cheryl menghela nafas panjang, lalu menyodorkan kedua tangannya pada Randu yang sudah memegang borgol.
"Sadis!" Hanya satu kata itu yang diucapkan oleh Randu untuk menggambarkan apa yang sudah dilakukan Cheryl terhadap Reynold. Randu memasangkan borgol di tangan Cheryl, lalu membawa wanita itu masuk ke dalam mobil.
"Jaga dan rawat Charlotte, Ezel!" Pesan Cheryl pada Haezel yang hanya membisu. Randu dan beberapa anggota kepolisian yang sudah menunggu di airport akan pulang terlebih dahulu dan membawa Cheryl. Sementara Haezel akan pulang nanti bersama Mayra dan Zelyra sekalian.
Mami Emily dan Papi Galen sendiri sudah pulang sebelum Haezel bertemu Charlotte waktu itu. Dan kedua orang tua Haezel itu masih belum tahu perihal Charlotte yang kata Cheryl adalah anak kandung Haezel.
"Saranku, lebih baik kau tes DNA saja untuk memastikan. Jika qnnti hasipnyq Charlotte memanglah putri kandungmu, rawat dia! Toh Mayra juga sudah menerima Charlotte dan sama sekali tak mempersoalkan. Tapi misalkan Charlotte bukan putri kandungmu, kau punya dua pilihan. Tetap merawat Charlotte atas dasar kemanusiaan atau menitipkannya di panti asuhan yang memang layak."
Saran panjang lebar dari Randu terus terngiang di benak Haezel saat tiba-tiba sebuah bola menggelinding ke arah kaki Haezel dan Charlotte terlihat berlari keluar dari rumah untuk mengambil bola tersebut.
"Om, sudah pulang?" Sapa Charlotte pada Haezel sebelum kemudian gadis kecil itu kembali masuk ke rumah dan bermain lagi bersama Tisha, Zelyra, dan Kenneth. Dan Haezel kembali larut dalam lamunannya, hingga seruan dari Zelyra membuyarkan lamunan Haezel.
"Dad!" Zelyra langsung melompat ke gendongan Haezel dan sebuah senyuman langsung terukir di bibir Haezel.
"Sudah makan tadi?" Tanya Haezel seraya membawa Zelyra masuk ke dalam rumah Kak Aileen.
"Sudah!" Jawab Zelyra penuh semangat.
"Mommy itu yang belum makan sejak pagi!" Lapor Zelyra lagi.
"Masa dari pagi ngemilin mangga muda terus Dad!" Ujar Zelyra lagi melengkapi laporannya.
"Masa, sih?" Haezel mengernyit heran.
"Iya! Kan bisa sakit perut kalau makan yang asem-asem!" Celetuk Zelyra lagi sok tahu.
"Trus Mommy kemana sekarang?" Tanya Haezel lagi yang tak melihat keberadaan Mayra maupun Kak Aileen di sekitar playground. Hanya ada pengasuh Tisha dan Kenneth yang mengawasi anak-anak. Mbok Sum sendiri sudah lama pensiun sebagai ART di rumah Aileen dan kini Budhe dari Mayra itu memilih menikmati masa tuanya di kampung. Sudah ada ART serta pengasuh baru pengganti Mbok Sum di rumah Aileen.
"Lyra tidak tahu dan Lyra mau turun!" Jawab Zelyra seraya mengendikkan kedua bahunya. Haezel akhirnya menurunkan Zelyra di playground dan membiarkan putrinya tersebut bermain kembali bersama Charlotte, Tisha, serta Kenneth
Sementara Haezel langsung ke kamar untuk memeriksa Mayra.
"May!" Panggil Haezel saat dirinya melihat Mayra yang baru keluar dari kamar mandi seraya menyeka bibirnya dengan tisu.
"Ada apa, Mas?" Tanya Mayra cepat.
"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Haezel khawatir seraya memeriksa suhu tubuh Mayra.
"May nggak sakit, kok, Mas! May sehat!" Jawab Mayra seraya terkekeh.
__ADS_1
"Tapi kata Zelyra tadi kamu nggak makan sejak pagi dan katanya hanya ngemilin mangga muda-" Haezel tak melanjutkan kalimatnya dan menatap penuh curiga pada Mayra.
"Apa?" Tanya Mayra pura-pura tak paham.
"Coba lihat!" Haezel mengusap perut Mayra yang bentuknya masih sama seperti sebelumnya.
"Ada adik Zelyra disini?" Tanya Haezel masih sambil mengusap-usap perut Mayra.
Mayra hanya menipiskan bibir danntak langsung menjawab.
"May!" Haezel kembali bertanya pada Mayra yang sepertinya sengaja membuat Haezel penasaran.
"May juga baru memeriksanya pagi tadi," jawab Mayra akhirnya yang langsung membuat kedua mata Haezel berbinar tak sabar.
"Hasilnya positif, kan?" Tanya Haezel memastikan sekaligus tak sabar.
"Mas lihat sendiri!"Mayra menarik Haezel masuk ke dalam kamar mandi lalu mengambil tespack dari dalam laci dan menunjukkannya pada Haezel.
"Dua garis!" Haezel bersorak gembira dan langsung mengangkat tubuh Mayra saking bahagianya.
"Sudah telat berapa hari, May?" Tanya Haezel yang kini sudah menangkup wajah Mayra dengan begitu bahagia.
"Siklus haid Mayra berantakan beberapa bulan kemarin. Kemarin juga iseng test saja karena Mayra pikir bakal negatif lagi-"
"Kapan memangnya kamu test dan hasilnya negatif? Kok tidak memberitahuku?" Tanya Haezel penasaran.
"Awal tahun itu. Kan May nggak dapat haid dua bulan berturut-turut. May kira May hamil, eh ternyata negatif, trus malah tamunya datang."
"Pas aku habis dari luar kota, trus pulang-pulang kena palang merah itu?" Tanya Haezel seraya terkekeh.
"Iya yang itu! Mas uring-uringan jadinya!" Mayra mencubit gemas perut Haezel.
"Iya trus habis itu?"
"Kan pas kamu selesai itu kita lembur terus. Kamu ada dapat tamu bulanan lagi?" Tanya Haezel penasaran.
"Dapat, tapi selang satu bulan kayaknya," Mayra mengingat-ingat.
"Trus setelahnya?" Tanya Haezel lagi.
"Nah trus habis itu May lupa kapan dapat tamu lagi." Cerita Mayra terkekeh.
__ADS_1
"Nanti kita USG saja biar tahu tepatnya," putus Haezel akhirnya seraya merangkul Mayra. Haezel lalu bersimpuh dan mencium perut Mayra.
"Sepertinya sudah dua bulan lebih ini," pendapat Haezel lagi mengira-ngira.
"Ck! Sekarang alih profesi jadi detektif kandungan juga?" Cibir Mayra.
"Iya! Pasiennya kamu doang tapi!" Jawqb Haezel asal yang matanya masih menunjukkan binar kebahagiaan.
Haezel seolah lupa tentang kasus Cheryl serta pengakuan Cheryl soal Charlotte.
"Yang ini akan jadi anak ketiga kita, kan, Mas?" Tanya Mayra selanjutnya yang sesaat membuat senyuman Haezel sedikit pudar. Mayra tahu kalau Haezel masih belum sepenuhnya menerima kejadiran Charlotte.
"Mas nggak boleh begitu! Nanti Charlotte sedih kalau Mas keberatan seperti itu!" Mayra sudah ikut bersimpuh dan menangkup wajah Haezel seraya menasehati suaminya tersebut.
"Aku sudah bilang ke Randu untuk melakukan tes DNA-"
"Mas!"
"Ini sudah keputusanku!" Ucap Haezel keras kepala.
"Charlotte tidak tahu apa-apa tentang apapun masalalu Cheryl, Mas!"
"Charlotte hanya anak-anak seperti halnya Zelyra, Tisha, atau Kenneth!"
"Jadi apapun hasil tes DNA nanti, kita tetap harus merawat Charlotte, Mas!" Ujar Mayra berusaha membujuk Haezel.
Suami Mayra itu masih membisu.
"Mas!" Mayra membujuk sekali lagi.
"Iya!" Jawab Haezel akhirnya seraya meraup Mayra ke dalam pelukan dan tak lupa mengusap-usap perut Mayra.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1