Detektif Haezel

Detektif Haezel
SUDAH SIAP


__ADS_3

"Malam, Oma!" Sapa Mayra pada Oma Naya yang menyambutnya saat baru tiba.


"Malam, May!"


"Bagaimana hasil pemeriksaannya? Ssmua bagus, kan?" Tanya Oma Naya seraya mengusap perut Mayra.


"Semuanya bagus, Oma! Hanya harus banyam istirahat saja dan tidak boleh stress," jawab Mayra.


"Opa mana, Bund?" Tanya Haezel yangvtak melihat keberadaan Opa Satria.


"Ke kafe mengambil kudapan dan kopi katanya," jawab Oma Naya bersamaan dengan Opa Satria yang sudah tiba di rumah.


"Nah! Itu orangnya," ujar Oma Naya selanjutnya.


"Sudah pulang, ya?" Opa Satria menyapa Haezel dan Mayra bergantian.


"Mau makan kudapan dulu, May?" Tawar Oma Naya.


"Mayra sebenarnya udah ngantuk, Oma," jawab Mayra seraya meringis.


"Oh, yaudah! Kamu langsung ganti baju dan istirahat saja! Tadi baju-baju kamu sudah diantar kesini dan sudah Oma susun juga di lemari." Oma Naya menunjuk ke kamar lama mami Emily.


"Yang nyusun Oma, kan? Bukan Papi?" Tanya Haezel seraya menahan tawa.


"Bukan! Nanti kalau yang nyusun papi kamu bisa-bisa selesainya lama karena harus dipilah berdasarkan warna," sahut Oma Naya ikut tertawa.


"Udah bawaan kayaknya dan nggak bakal sembuh meskipun bertambah tua," komentar Opa Satria ikut menimpali.


"Besok kamar anaknya Haezel biar Galen yang menata. Pasti akan aestetik hasilnya dan rapi sekali," usul Oma Naya yang langsung diiyakan oleh semuanya.


"Ayo, Mas!" Ajak Mayra yang sudah menguap. Mayra juga menggamit lengan Haezel dan sedikit bergelayut manja.


"Jamu antar Mayra ke kamar dulu, Ezel! Ngobrolnya sama Opa nanti saja!" Titah Oma Naya karena Mayra sudah kembali menguap


"Siap, Oma!" Jawab Haezel yang langsung membimbing Mayra untuk masuk ke kamar lama Mami Emily. Tak banyak yang berubah dari kamar tersebut.


"Mami memang anak tunggal, ya, Mas?" Tanya Mayra sembari menunggu Haezel mengambilkan piyama untuknya.


"Iya! Tapi Mami punya saudara satu ayah. Namanya Uncle Kyle. Yang papanya Via, Alice, dan Riley itu! Pernah ngajak kamu ngobrol saat di acara pernikahan kita, kan?" Terang Haezel yang langsung membuat Mayra mengangguk.


"Semua keluarga besar Mami dan Papi harmonis, ya!" Ujar Mayra lagi yang merasa beruntung menjadi bagian dari keluarga besar Haezel. Mayra benar-benar mendapat limpahan kasih sayang dari semua anggota keluarga Biantara yang sudah welcome sejak awal Mayra mengenal mereka.


"Iya! Keluarga adalah segalanya," tukas Haezel yang sudah kembali duduk di samping Mayra. Haezel meraba punggung Mayra untuk mencari ritsleting gaun istrinya tersebut.

__ADS_1


"Mas-" Mayra sedikit berjenggit.


"Aku hanya akan membantumu berganti baju," ujar Haezel menenangkan Mayra.


Mayra akhirnya mengangguk dan menurut saja, saat Haezel mulai menurunkan ritsleting gaunnya, lalu menutunkan perlahan gaun tersebut. Sudah beberapa bulan Haezel tak melihat Mayra setengah naked begini, dan sekarang hasrat Haezel mendadak membuncah saat ia kembali bisa melihatnya secara langsung.


"Piyama May, Mas!" Mayra mengingatkan Haezel yang sejak tadi hanya diam seraya menatap pada tubuh Mayra.


"Iya!" Haezel meraih atasan dari piyama Mayra dan memakaikannya perlahan. Namun saat akan dikancingkan, piyama itu ternyata sudah kekecilan.


"May tambah gendut," keluh Mayra seraya tertawa kecil dan masih memaksa untuk mengancingkan piyamanya.


"Udah, jangan dipaksa, Sayang!" Ujar Haezel seraya menahan tangan Mayra agar tak memaksa untuk mengancinngkan piyamanya lagi.


"Yang gaun tidur sepertinya masih muat. Itu dulu kan lumayan longgar pas sebelum kamu hamil," cetus Haezel yang mendadak ingat pada beberapa gaun tidur Mayra yang dulu kerap dipakai oleh wanita itu saat awal-awal pernikahan. Haezel langsung kembali membuka lemari untuk mengambil satu gaun tidur Mayra.


"Coba!" Haezel memakaikan gaun tidur tersebut dan benar saja. Ternyata masih muat. Malahan di bagian dada terlihat sudah pas, setelah dulu sempat kedodoran karena dulu dada Mayra memang belum terlalu berisi seperti sekarang.


"Muat, Mas!" Wajah Mayra sedikit bersemu.


"Dingin, nggak? Aku kecilin AC-nya." Haezel sudah meraih remote AC dinatas nakas.


"Jangan dikecilin!" Cegah Mayra cepat.


"Begini saja?" Tanya Haezel memastikan posisi Mayra apa sudah nyaman atau belum. Meskipun saat melakukan hal tersebut, Haezel harus berulang kali menelan saliva karena sekarang lekuk tubuh Mayra terlihat semakin sexy dan menggiurkan.


Tapi Haezel masih harus menahan diri karena Mayra sepertinya masih belum siap untuk menunaikan kewajibannya. Haezel tak mau memperparah kondisi psikis Mayra yang masih belum pulih seutuhnya.


"Iya, Mas! Mayra udah nyaman," jawab Mayra seraya memeluk guling,lalu berbaring miring menghadap ke arah Haezel yang hanya duduk di tepi tempat tidur. Mayra menatap lekat pada wajah suaminya tersebut.


"Mau aku pijitin?" Tawar Haezel yang sejak tadi juga menatap lekat pada wajah Mayra.


"Iya!" Mayra mengulurkan tangannya agat dipijit oleh Haezel.


Haezel segera berpindah posisi, dan duduk di samping Mayra, lalu memangku tangan Mayra dan mulai memijitnya dengan lembut. Sesekali Haezel juga akan mengusap kepala dan wajah Mayra dengan lembut sambil tetap menatap lekat wajah istrinya tersebut.


"Mas," ucap Mayra lirih seraya menggenggam tangan Haezel yang tadi berada di wajahnya.


"Ada apa?"


"Kalau Mas Ezel tak bisa lagi menahan, Mayra udah siap." Mayra menjeda kalimatnya sejenak.


"Mayra sudah siap melaksanakan kewajiban Mayra sebagai istri," lanjut Mayra lagi setelah wanita itu menarik nafas panjang.

__ADS_1


Haezel menggeleng.


"Kau terlihat belum siap, May!" Haezel mengusap lembut wajah Mayra.


"May sudah siap, Mas!" Ucap Mayra bersungguh-sungguh. Mayra bahkqn dengan berani meraih tangan Haezel lalu menaruhnya di atas dada. Haezel menatap wajah Mayra yang memang terlihat bersungguh-sungguh.


"May yakin kalau Mas Ezel tidak akan menyakiti Mayra," ucap Mayra masih dengan raut wajah yakin dan tatapan lekat pada Haezel.


"Apa ini efek dari hormon kehamilan?" Tanya Haezel tiba-tiba yang langsung membuat Mayra berekspresi bingung.


"Hormon kehamilan?"


"Maksudnya?" Gumam Mayra tetap bingung.


Haezel tak menjawab dan pria itu langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Mayra, lalu mencium sekilas bibir Mayra. Istri Haezel itu langsung berjenggit sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Kau yakin sudah siap?" Tanya Haeze yang mendadak merasa ragu. Namun kemudian anggukan dari Mayra seolah menghempaskan keraguan Haezel.


"Bagaimana kalau sedikit pemanasan dulu dan jika kau merasa tak nyaman aku tak akan melanjutkannya," Haezel mengajukan sebuah ide.


"Terserah Mas Ezel saja-" Suara Mayra terdengar lirih, saat wanita itu merasakan kecupan Haezel di belakang telinganya.


Mayra sedikit menggeliat, namun wajita itu tak sedikitpun menolak atau memberontak. Haezel lanjut menyematkan tanda kepemilikan di belakanh telinga Mayra yang sukses membuat Mayra melenguh.


"Apa aku menyakitimu? Atau membuatmu takut?" Tanya Haezel masih khawatir. Namun Mayra dengan cepat menggeleng, lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Haezel. Sebuah senyuman bahagia langsung tersungging di bibir Haezel.


"Mau lanjut?" Tanya Haezel seraya menyatukan keningnya dengan kening Mayra.


"Ya!" Jawab Mayra lirih dan tangan Haezel langsung bergerak menyusuri setiap lekukan tubuh Mayra. Tak lupa, Haezel juga menanggalkan gaun tidur Mayra,lalu membaringkan tubuh istrinya tersebut dengan lembut ke atas ranjang. Haezel menatap wajah Mayra dengan penuh cinta sebelum lanjut memagut bibir merekah sang istri dan memulai permainan yang sudah sangat Haezel rindukan.


.


.


.


Opa Satria nungguin Haezel padahal.


Mau diajak main catur 😆😆


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2