Detektif Haezel

Detektif Haezel
TERLAMBAT


__ADS_3

"Sudah siap?" Tanya Haezel seraya memindai penampilan Mayra yang pagi ini mengenakan celana jeans serta blouse longgar sepanjang paha.


"Ya! Ayo berangkat!" Ajak Mayra sembari membenarkan tas yang tersampir di pundaknya.


"Kau masih seperti anak ABG!" Puji Haezel yang sudah bangkit berdiri, lalu mengacak rambut Mayra dengan gemas.


"Memang masih ABG, Mas! Kan belum genap dua puluh tahun!" Mayra mengingatkan Haezel dengan tawa khasnya yang selalu membuat Haezel jatuh cinta.


"Iya, iya! Istriku yang ABG!" Haezel kembali mengacak gemas rambut Mayra. Istri Haezel itu langsung menggamiy lengan Haezel dan menyandarkan kepalanya di pundak sang suami sembari mereka berjalan krluar dari kamar.


"Pengantin baru, nemplok terus!" Cibir Opi Bian yang kebetulan memergoki Haezel dan Mayra yang baru keluar dari kamar.


"Eh, ada Opi!" Mayra langsung melepaskan gamitannya pada lengan Haezel dan menyapa Papi dari Papi Galen tersebut.


"Pagi, Opi! Omi mana?" Tanya Mayra berbasa-basi pada Opi Bian.


"Masih di kamar tadi."


"Itu!" Ujar Opi Bian lagi seraya mengendikkan dagu ke arah Omi Mia yang baru keluar dari kamar.


"Pweeet!" Haezel sedikit usil dan bersiul menyambut sang Omi tercinta.


"Jangan genit, Ezel!" Tegur Opi Bian yang langsung membuat Mayra dan Haezel tergelak.


"Sama cucu sendiri cemburu juga?" Cibir Omi Mia yang hanya membuat Opi Bian berdecak.


"Bucin tak kenal umur, Mi!" Celetuk Haezel yang kembali membuat Opi Bian berdecak.


"May kuliah hari ini?" Tanya Omi Mia yang entah mengapa malab membuat Opi Bian menahan tawa.


Sejak kedua orang tua Papi Galen ini menginap di rumah, Opi Bian selalu begitu terutama saat Omi Mia memanggil nama Mayra. Seolah nama itu familiar atau mungkin ada sejarahnya?


"Opi kenapa, sih, Mi?" Tanya Haezel heran.


Omi Mia hanya berdecak dan memutar bola mata.


"Mantan pacarnya punya nama panggilan May juga! Jadi dia bernostalgia gitu," ujar Omi Mia yang langsung membuat Opi Bian tertawa terbahak-bahak sebelum kemudian pria tua itu batuk-batuk karena faktor usia


"Pelan-pelan tertawanya, Opi!" Haezel buru-buru mengusap punggung sang Opi tercinta dan tak lupa mengangsurkan segelas air putih juga.


"Tapi lucu juga kalau dipikir-pikir," celetuk Omi Mia tiba-tiba.


"Apanya yang lucu?" Tanya Opi Bian dan Haezel kompak.


"Kau dulu saat masih muda gemar menipu, lalu sekarang cucumu seorang detektif. Apa kau tidak malu?" Bisik Omi Mia pada Opi Bian yang langsung berdecak.


"Aku menipu atas dasar cinta! Kenapa harus malu?" Sergah Opi Bian beralasan dan mencari pembenaran.


"Masih saja pandai beralasan! Ingat umur!" Omi Mia menggerutu pada sang suami.


"Aku ingat umurku! Tahun ini masih lima puluh tujuh tahun," ujar Opi Bian sebelum kembali terbatuk-batuk. Terang saja hal itu langsung membuat Omi Mia berdecak.


"Sepertinya terbalik." Gumam Omi Mia.

__ADS_1


"Opi awet muda, Omi!" Pendapat Haezel dan Mayra kompak.


"Iya!" Omi Mia sedikit mencibir.


"Omi juga awet muda!"


"Semoga Opi dan Omi sehat-sehat terus," ujar Haezel seraya merangkul Opi Bian dan Omi Mia.


"Aamiin!" Mayra mengaminkan dengan cepat.


"Berangkat sana sebelum Myra terlambat!" Titah Omi Mia selanjutnya pada Haezel dan Mayra.


"Siap, Omi!" Haezel meraih tangan Omi Mia, lalu mengecupnya dengan takzim.


"Ngomong-ngomong,mantan pacar Opi yang bernama May itu kepanjangannya bukan Mayra, kan?" Tanya Haezel sedikit berbisik pada Omi Mia.


"Bukan! Namanya Maymunah dan dia sedikit sinting." Omi Mia membuat gatis miring di dahinya.


"Siapa yang sinting?" Tanya Opi Bian penasaran.


"Maymunah!" Jawab Omi Mia dengan ekspresi wajah lebay yang terang saja langsung membuat Opi Bian terkekeh.


"Sudah sinting, bucin juga!" Timpal Opi Bian yang masih saja terkekeh.


Sementara Haezel dan Mayra juga masih terus tertawa sampai keduanya pamit dan pergi.


****


"Nanti aku jemput, ya!" Pesan Haezel seraya mengacak rambut Mayra sekali lagi.


"Sayang! Jangan diikat!" Cegah Haezel seraya mengambil ikat rambut Mayra.


"Ish!"


"Padahal kalau di rumah suka dikomentari Papi dan ditanya kenapa rambut jarang diikat," cerita Mayra pada Haezel.


"Nggak usah dengerin Papi! Kamu dengerin aku aja! Kamu cantik dengan rambut tergerai begini, jadi jangan ikat rambut lagi!" Pesan Haezel sekali lagi seraya mengusap wajah Mayra.


"I love you!" Ucap Haezel lagi.


"I love you too, Mas Ezel!" Balas Mayra seraya tersenyum.


"May masuk dulu!" Pamit Mayra selanjutnya sembari meraih tangan Haezel dan menciumnya.


"Ya! Nanti aku jemput pokoknya, ya!" Pesan Haezel sekali lagi sebelum pria itu mengecup kening Mayra.


"Iya, Mas! Iya!"


"Bye!" Mayra melambaikan tangan seraya membuka pintu mobil.


Setelah Mayra masuk ke gerbang utama kampus, Haezel baru melaju pergi menuju ke kantor polisi tempatnya bekerja.


****

__ADS_1


"Mau sekalian aku buatkan kopi?" Tawar Randu seraya menunjuk ke cangkir kopi Haezel yang sudah kosong. Haezel tak langsung menjawab dan pria itu melirik arlojinya terlebih dahulu


"Tidak usah! Aku akan menjemput Mayra lima belas menit lagi," ujar Haezel yang akhirnya menolak tawaran Randu.


"Baiklah!" Randu berbalik dan hendak meninggalkan meja Haezel, saat tiba-tiba bingkai foto yang terpajang di atas meja Haezel terjatuh.


"Randu, hati-hati!" Tegur Haezel sedikit geram karena yang jatuh adalah foto Haezel bersama Mayra.


"Apa? Aku tak menyenggol mejamu sama sekali!" Sanggah Randu mengelak dari tuduhan.


"Ck!" Haezel berdecak dan segera memungut fotonya bersama Mayra, lalu membersihkan foto tersebut dari pecahan kaca. Sementara Randu refleks memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan pecahan kaca di samping meja Haezel.


"Kau jadi menjemput Mayra?" Randu mengingatkan dan Haezel kembali melihat arlojinya.


"Ya!" Jawab Haezel seraya membereskan mejanya. Setelah memastikan semuanya beres, Haezel keluar dari ruangan.


Namun baru beberapa langkah meninggalkan ruangan, salah satu rekan Haezel memanggilnya.


"Detektif Ezel! Pak kepala memanggilmu!"


"Sial!" Umpat Haezel yang terpaksa berbalik lagi dan menuju ke ruangan Pak kepala. Haezel masih sempat mengirim pesan pada Mayra kalau ia sedikit terlambat menjemput.


****


[Aku sedikit terlambat, Sayang. Pergi dulu saja ke kafe dekat kampus untuk membeli minuman] -Haezel-


Mayra menghela nafas, lalu memutuskan untuk duduk saja di bangku taman yang berada di depan kampus sembari menunggu Haezel datang. Wanita itu sesekali menyesap jus mangga yang yafi ia beli di area kampus.


"Kok enak?" Mayra bergumam sendiri dan tertawa kecil. Wanita itu kembali menyesap jus mangganya saat seorang gadis menghampiri Mayra.


"Mbak, boleh duduk di sini juga?" Izin gadis itu pada Mayra.


"Silahkan!" Jawab Mayra ramah seraya bergeser sedikit.


"Nunggu jemputan dari pacar, ya, Mbak?" Gadis itu berbasa-basi pada Mayra.


"Jemputan dari suami." Mayra mengoreksi dengan cepat.


"Oh, sudah menikah," gadis itu tertawa kecil, sebelum kemudian sibuk dengan ponselnya.


Mayra sendiri tak terlalu memperhatikan lagi dan hendak kembali menyesap jus mangganya. Namun saat bibir Mayra naru menempel ke sedotan, sebuah sapu tangan tiba-tiba sudah membekap hidung dan mulut Mayra.


Jus mangga di tangan Mayra juga langsung jatuh, saat Mayra mencoba meronta. Namun hal itu tak berlangsung lama, dan hanya beberapa detik,Mayra sudah tak sadarkan diri.


Gadis yang tadi duduk di samping Mayra segera bangkit dan memapah Mayra menuju ke mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Tak berselang lama, mobil sudah melaju meninggalkan area kampus.


.


.


.


Segala kesomplakan Opi Bian dan mantan pacarnya, Maymunah ada di "Nona Mia"

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2