
Wajah dokter yang kini duduk di depan Mayra dan Haezel terlihat serius. Dokter itu sedang membaca hasil tes darah lengkap Mayra yang baru saja diberikan oleh seorang perawat.
"Bagaimana, Dok?" Tanya Haezel yang mendadak merasa khawatir. Haezel mengeratkan genggamannya pada tangan Mayra yang terasa dingin. Sepertinya Mayra juga was-was menunggu penjelasan dokter.
"Tidak terlalu baik." Dokter tersebut melepas kacamatanya.
"Tekanan darah Mayra juga tinggi." Ujar dokter itu lagi.
"Dan kadar protein di dalam urine juga cukup tinggi." Dokter tersebut menatap pada Mayra.
"Sering pusing dan sakit kepala, May?" Tanya dokter memastikan. Haezel turut menatap ke arah istrinya tersebut menunggu jawaban dari Mayra.
"Iya, Dok! Belakangan ini lumayan sering. Tapi kata mami itu karena May jarang makan sayur, hadi anemia dan sering pusing," jawab Mayra panjang lebar.
"Apa pusing yang dialami Mayra ada kaitannya juga, Dok?" Tanya Haezel khawatir.
"Itu gejala preeklamsia," ujar dokter akhirnya memberitahu Mayra dan Haezel.
"Apa berbahaya?" Tanya Haezel lagi semakin khawatir.
"Bisa jadi berbahaya jika tak segera ditangani."
"Berhubung yang dialami Mayra sudah terdeteksi sejak dini, jadi kita akan secepatnya mengatasi dan mencegahnya agar tak berkembang jadi eklamsia," terang dokter lagi yang membuat Haezel sedikit bernafas lega.
Dokter lalu menuliskan resep obat yang cukup banyak untuk Mayra, serta memberikan beberapa pesan khusus pada Haezel agar benar-benar menjaga kondisi Mayra.
"Terima kasih banyak, Dokter!" Ucap Haezel setelah selesai berkonsultasi. Pria itu sekalian pamit, dan membimbing Mayra untuk bangkit berdiri. Namun Mayra sedikit limbung saat wanita itu bangkit berdiri.
"Ada apa? Kepalamu pusing lagi?" Tanya Haezel khawatir.
"Tidak, Mas!" Jawab Mayra cepat seraya menggamit lengan Haezel dengan erat.
"Kita ambil obat dulu, lalu langsung pulang, ya!" Ujar Haezel yang hanya membuat Mayra mengangguk. Pasangan suami istri itupun keluar dari ruangan dokter dan lanjut ke apotik rumah sakit untuk mengambil obat.
****
"Sehat-sehat, ya, Sayang!" Haezel masih mengusap-usap perut Mayra, sesaat setelah dirinya dan Mayra meninggalkan apotik rumah sakit.
"Kata Papi, May disuruh tinggal di rumah Oma dan Opa mulai malam ini, Mas!" Ujar Mayra memberitahu Haezel.
"Kau saja yang tinggal disana? Aku tidak?" Tanya Haezel yang langsung membuat Mayra merengut, lalu memukul lengan suaminya tersebut.
"Mas Ezel tinggal disana juga!"
"Nanti yang mijitin May siapa?" Rengek Mayra yang langsung membuat Haezel terkekeh.
"Iya, iya! Yang sekarang suka dipijitin!" Haezel merangkul Mayra dengan mesra, saat tiba-tiba seseorang yang sedang tak ingin Haezel lihat, menghampiri Haezel dan Mayra.
"Ezel!"
Haezel refleks mengeratkan dekapannya pada Mayra dan menatap tak senang pada Cheryl yang entah muncul darimana. Haezel sungguh tak mau lagi berurusan dengan mantan kekasihnya tersebut.
__ADS_1
Cheryl terlihat hendak mengatakan sesuatu pada Haezel namun wanita itu terlibat ragu-ragu dan cenderung ketakutan. Cheryl juga terus menatap bergantian pada Mayra dan Haezel
Ada apa sebenarnya?
"Ezel, jika nanti-" Cheryl tak melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba wanita itu melihat ke satu arah, lalu tergesa pergi seolah sedang ada yang mengejarnya.
"Cheryl!" Itu suara Reynold yang datang dari balik punggung Haezel. Mayra tiba-tiba mencengkeram erat lengan Haezel, saat mendengar suara Reynold yang memanggil Cheryl tersebut.
"Ada apa?" Tanya Haezel saat merasakan cengkeraman tangan Mayra. Istri Haezel itu menggeleng.
Reynold yang tadi mengejar Cheryl, langsung melempar tatapan penuh permusuhan pada Haezel saat mereka berpapasan.
"Ayo pulang, Mas!" Ajak Mayra yang masih mencengkeram erat lengan Haezel. Wajah istri Haezel itu terlihat takut juga.
Ada apa sebenarnya?
Apa ini ada hubungannya dengan kasus yang kemarin menimpa Mayra?
Apa kecurigaan Haezel tentang keterlibatan Reynold benar adanya?
Haezel akan mencari tahu nanti!
Haezel mulai melajukan mobilnya untuk keluar dari perkiraan rumah sakit, saat pria itu lagi-lagi menyaksikan Cheryl dan Reynold yang sepertinya sedang berdebat. Reynold terlihat memaksa Cheryl untuk ikut bersamanya, namun Cheryl terus menolak dan menyentak tangan Reynold. Wajah Cheryl juga terlihat lebam. Mungkinkah itu perbuatan Reynold?
Tapi kenapa Reynold begitu kasar pada Cheryl?
Haezel menggeleng-gelengkan kepalanya dan memilih untuk tak memikirkannya. Toh itu juga bukan urusan Haezel!
"Langsung ke rumah Opa, Mas!" Ujar Mayra mengingatkan Haezel yang sudah melajukan mobil di jalan raya yang cukup padat.
"Iya! Sudah lelah, ya?" Haezel mengusap sekilas wajah Mayra dan mengulas senyum
"Iya!"
****
"Lepas!" Cheryl menyentak tangan Reynold yang berusaha untuk terus mencekalnya.
"Kau tadi mau apa, hah?"
"Memberitahu Haezel tentang keterlibatanku pada kasus Mayra?"
"Kau pikir Haezel akan percaya?" Cecar Reynold seraya mendelik-delik pada Cheryl .
"Haezel tak akan pernah percaya padamu lagi!" Reynold menuding pada Cheryl yang kini hanya membisu.
"Pria itu membencimu!"
"Dan mungkin Haezel juga berpikir kalau kau adalah dalang dari kasus yang kemarin menimpa Mayra." Reynold tertawa mengejek pada Cheryl yang tetap bungkam.
"Haezel mungkin sedang mencari bukti sekarang untuk menjebloskanmu ke penjara!" Ujar Reynold lagi menakut-nakuti Cheryl.
__ADS_1
"Aku tak bersalah!" Sergah Cheryl yang akhirnya buka suara. Wanita itu melempar tatapan tajam ke arah Reynold.
"Yakin tak bersalah?" Tanya Reynold mengejek dan seolah mengingatkan Cheryl tentang perannya dalam kasus Mayra kemarin.
"Aku tak berperan apapun dan sama sekali tak terlibat dalam rencana busukmu itu!" Cheryl membantah tudingan Reynold sekali lagi.
"Kau memang tak berperan di lapangan. Tapi kau sangat tahu tentang rencana itu dari awal sampai akhir, dan kau tak sedikitpun berusaha untuk memberitahu mantan pacarmu itu!"
"Bukankah itu artinya kau mendukung rencana yang kau bilang sebagai rencana busuk itu?" Reynold tersenyum licik pada Cheryl.
"Kau menikmati apa yang aku lakukan pada istri Haezel juga, kan? Karena kau masih merasa dendam pada detektif keparat itu-"
"Kau itu yang keparat!" Sergah Cheryl emosi seraya mendorong pundak Reynold dengan kasar.
"Kau juga sama keparatnya denganku! Jadi tidak usah sok suci!" Reynold balas berteriak pada Cheryl.
"Cih! Tapi kau memang tak lagi suci dan murahan!" Ujar Reynold lagi berdecih pada Cheryl yang kini menatapnya dengan tajam.
"Kau pria keparat yang sudah membuatku menjadi wanita murahan!" Desis Cheryl penuh kebencian pada Reynold.
"Tidak usah menuduh karena bukan aku yang pertama melakukannya!" Reynold balas menatap tajam pada Cheryl.
"Apa maksudnya kau bukan yang pertama? Jelas-jelas kau yang pertama melakukannya setelah kau mencekokiku dengan obat setan itu!" Cheryl melayangkan tangannya dan bersiap menampar Reynold. Namun Reynold bergerak cepat untuk menahan tangan Cheryl.
"Kau pikir aku bodoh, hah? Kau sama sekali tak berdarah malam itu!"
"Bukankah itu artinya detektif keparat itu yang sudah terlebih dahulu mencicipimu, hah?"
"Atau kau melakukannya dengan pria lain? Ada pria lain selain Haezel keparat itu?"
"Dasar murahan!" Reynold menyentak kasar tangan Cheryl yang kini menitikkan airmata. Reynold sudah pergi meninggalkan Cheryl yang hanya mematung sembari merutuki kebodohannya selama ini karena percaya begitu saja pada Reynold.
"Iya malam ini jadi! Lakukan tugasmu dengan benar!" Samar-samar Cheryl masih bisa mendengar suara Reynold yang berbicara di telepon dengan seseorang.
Malam ini?
Apa itu artinya, Reynold akan melancarkan aksi keduanya malam ini?
Cheryl menghapus kasar airmatanya dan bergegas menuju ke pinggir jalan untuk mencari taksi.
Cheryl harus memperingatkan Haezel kali ini!
.
.
.
Otakku mblundet 😆
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.