
"Mana Mayra, Kak?" Tanya Haezel pada Aileen yang menyambutnya.
"Ada di dapur. Dapat kelapa mudanya?" Jawab Aileen sekaligus bertanya.
"Ya!" Haezel menunjukkan dua buah kelapa muda di tangannya.
"Kamu berikan pada Mayra, ya!" Ujar Aileen seraya mengantar Haezel ke dapur. Mayra yang tadinya tenang menikmati potongan buah di depannya mendadak terlihat ketakutan saat melihat Haezel.
"May, Ezel bawain kamu kelapa muda," ujar Aileen seraya merangkul pundak Mayra dengan lembut.
"Mayra nggak mau kelapa muda, Kak!" Mayra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Loh! Tadi katanya ngidam kelapa muda?"
"Iya, tapi-"
"Aku bukain, ya!" Haezel berucap lembut pada Mayra, lalu membuka kelapa muda yang tadi ia bawa di depan Mayra. Tangan Haezel begitu telaten memindahkan air kelapa ke dalam gelas, lalu mengerok daging kelapanya juga.
"Ayo diminum!" Ujar Haezel seraya menyodorkan gelas berisi kelapa muda tadi ke hadapan Mayra.
Mayra menatap sekilas pada Haezel sebelum kemudian wanita itu memalingkan wajahnya dan tak mau lagi menatap pada Haezel. Mayra lalu mengaduk-aduk kelapa muda yang ada di gelas.
"Diminum, May! Kan Ezel sudah mencarikannya untukmu. Tadi dia berkeliling kota untuk mencarinya, lho!" Bujuk Aileen seraya menceritakan perjuangan Haezel mencari kelapa muda pada Mayra.
Mayra menyendok pelan kelapa muda dari gelas, lalu memakannya dengan pelan saat tiba-tiba airmata wanita itu jatuh. Cepat-cepat Mayra menyeka airmatanya.
"Kenapa menangis?" Tanya Aileen bingung.
"Aku akan pergi," tukas Haezel cepat yang merasa kalau Mayra mungkin tertekan dengan keberadaannya.
"May, ada apa?" Tanya Aileen seraya meraih tisu untuk menyeka air mata Mayra.
"Kenapa Mas Ezel tidak menceraikan Mayra saja, Kak?" Tanya Mayra tiba-tiba yang ternyata didengar juga oleh Haezel. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak dan tak mengerti dengan pertanyaan Mayra barusan.
Dan apa Mayra baru saja menyebut Mas Ezel?
Apa itu artinya Mayra sebenarnya ingat pada Ezel dan tak pernah melupakan suaminya tersebut.
"Kenapa bertanya seperti itu, May?" Aileen balik bertanya tak mengerti.
Mayra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mayra wanita kotor, Kak!" Cicit Mayra yang langsung membuat Haezel berbalik lalu segera menghampiri Mayra dan meraup wanita itu ke dalam pelukannya.
"Lepas, Mas!" Mayra berontak dan memukul-mukul dada Haezel seolah menolak untuk dipeluk.
"Tidak!" Jawab Haezel tegas.
"Lepas!"
"Jangan memeluk atau menyentuh Mayra lagi!"
"Mayra udah nggak pantas buat Mas Ezel!" Tangis Mayra pecah sebelum akhirnya wanita itu berhenti memukul-mukul dada Haezel karena pria itu yang tetap kukuh memeluknya dengan erat.
"Kamu istriku!" Ucap Haezel tegas.
__ADS_1
"Kamu istriku, Mayra!"
"Dan aku mencintaimu!" Ujar Haezel lagi yang sudah ganti menangkup wajah Mayra yang kini berurai airmata.
"Aku mencintaimu, Mayra!"
"Aku akan tetap mencintaimu bagaimanapun keadaanmu," tutur Haezel menatap Mayra dengan bersungguh-sungguh. Kedua mata pria itu bahkan sudah berkaca-kaca sekarang.
Mayra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mayra udah nggak pantas buat Mas Ezel!"
"Mayra-"
"Mayra-"
"Ssssttt!" Haezel meletakkan telunjuknya di bibir Mayra yang berbicara dengan terbata-bata.
"Kau tetap istriku sampai kapanpun, Mayra!" Ucap Haezel yang kembali meraup Mayra ke dalam pelukannya. Mayra masih menangis sesenggukan sekarang.
"Apa ini alasanmu tidak mau dekat-dekat denganku?" Tanya Haezel menebak-nebak.
"Mayra pikir, dengan Mayra bersikao seperti itu Mas Ezel akan benci pada Mayra lalu menceraikan Mayra secepatnya," ungkap Mayra jujur.
"Cintaku tak selemah itu!" Haezel menyeka sisa-sisa butir bening di wajah Mayra.
"Maaf," cicit Mayra yang kembali menundukkan wajahnya.
"Jangan minta maaf, Sayang!"
"Tapi satu hal yang harus kau tahu, Mayra!"
"Aku akan tetap berada di sampingmu dan menemanimu hingga nanti, bagaimanapun keadaanmu."
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu," ucao Haezel penuh kesungguhan yang lagi-lagi membuat airmata Mayra berlinang.
"Kamu percaya, kan, Sayang?" Haezel menggenggam erat tangan Mayra lalu menciuminya berulang-ulang.
"Iya," jawab Mayra lirih seraya mengangguk-angguk.
"Jadi jangan pernah meragukan cintaku lagi!"
"Kita akan melalui semua hal berat ini bersama-sama!" Tutur Haezel lagi.
"Iya, Mas!" Jawab Mayra yang kembali menghambur ke pelukan Haezel.
"Terima kasih karena tetap menerima dan mencintai Mayra, serta anak-" Mayra mengusap perutnya dan merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Mayra bahkan tak tahu janin yang kini ia kandung anak siapa.
"Anak kita!" Haezel menyambung kalimat Mayra.
"Ini anak kita berdua! Bagaimana kau bisa lupa saat aku kehabisan pengaman malam itu?" Ujar Haezel penuh keyakinan seraya menyatukan keningnya dengan kening Mayra.
"Ini anak kita berdua!" Haezel meyakinkan Mayra sekali lagi. Istri Haezel itu akhirnya mengangguk dan mencoba untuk yakin kalau benih yang kini tumbuh di dalam rahimnya adalah benih Haeze dan bukan benih para pria bejat yang memperkosanya malam itu.
Ya!
__ADS_1
Jika Haezel saja sudah yakin dan percaya, maka Mayra juga harus yakin dan percaya!
"Iya, Mas!" Ucap Mayra pada akhirnya. Haezel memeluk istrinya itu sekali lagi, sebelum kemudian membimbingnya untuk duduk dan menghabiskan kelapa muda yang tadi Haezel belikan. Sesekali Haezel juga akan menyuapi Mayra sembari mengusap-usap perut isttinya tersebut.
"Ideku berhasil, kan?" Celetuk Aileen dengan nada sombong.
"Mayra akhirnya mau terbuka pada Hanya dan mengeluarkan semua beban di hatinya," ujar Aileen lagi seraya menatap penuh bahagia ke arah Mayra dan Haezel yang kini sudah kembali mesra.
"Ya! Idemu selalu luar biasa, Sayang!" Cliff mengecup kepala Aileen yang kini bersandar di dadanya.
"Mau aku beri hadian untuk ide luar biasamu ini?" Tawar Cliff selanjutnya pada Aileen.
"Hadiah apa?" Tanya Aileen antusias seraya menatap pada wajah sang suami.
"Hadiah istimewa!" Ujar Cliff yang langsung membuat Aileen menebak-nebak.
"Makan malam romantis? Jalan-jalan keliling dunia? Atau shopping sesuka hatiku?"
"Lembur di atas ranjang!" Bisik Cliff nakal yang langsung berhadiah pukulan di lengan dari Aileen.
"Auuw! Kenaoa barbar begitu?" Protes Cliff seraya mengusap-usap lengannya sendiri.
"Hadiahmu tak menarik sama sekali! Nanti ujung-ujungnya aku hamil kalau kamu gempur terus!" Gerutu Aileen bersungut-sungut pada Cliff.
"Hmmmm, padahal kalai kamu hamil kan aku manjain terus."
"Coba hitung berapa kali kita dulu pergi babymoon saat kau hamil Latisha?" Cliff mengiming-imingi Aileen.
"Hampir setiap bulan. Kau juga membelikan apapun yang aku inginkan-" Aileen menatap pada Cliff sembari menggigit bibir bawahnya dengan sensual demi menggoda suaminya tersebut.
"Hamili aku lagi, Cliff!" Rayu Aileen seraya mengalungkan kedua lengannya di leher Cliff.
Cliff benar-benar harus menahan tawa dengan sikap agresif Aileen ini.
"Udah siap memang?" Tanya Cliff menggoda.
"Siap sekali! Kan nanti tinggal minta baby sitter kalau aku kewalahan di rumah," jawab Aileen seraya mengerling-ngerling manja pada Cliff.
"Baiklah!" Cliff langsung mengangkat tubuh Aileen dan menggendongnya ala bridal.
Tepat saat Cliff dan Aileen masuk ke kamar dan menutup pintu, terdengar tangis Latisha yang sepertinya terbangun.
Oh, ya ampun!
Gagal sudah rencana lembur malam ini karena bayi menangis!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1