Detektif Haezel

Detektif Haezel
MASIH KECIL


__ADS_3

"Tapi Mayra itu masih kecil, Pak Galen! Tahun ini saja baru lulus SMA anaknya," tutur Mbok Sum saat Papi Galen mengutarakan keinginannya untuk meminang Mayra menjadi istri Haezel.


"Iya, kami juga tahu, Mbok! Dan justru karena itulah kami ingin Mayra langsung menikah saja dengan Haezel. Agar ke depannya Mayra tetap bisa lanjut kuliah dan tak perlu merasa sungkan lagi pada kami semua," tukas Papi Galen mencoba memberi pengertian pada Mbok Sum.


"Mayra juga kan sudah yatim piatu, Mbok! Jadi biar kami menjadi orang tua pengganti untuk Mayra. Kami pasti akan memperlakukan dan menyayangi Mayra seperti putri kami sendiri," timpal Mami Emily ikut-ikutan membujuk Mbok Sum yang terlihat ragu-ragu.


"Kami tahu betul bagaimana Haezel, Mbok!"


"Haezel pria baik dan dia sungguh-sungguh menyukai Mayra. Ke depannya Haezel juga pasti akan menyayangi Mayra sekaligus membimbing Mayra dengan sabar," tutur Aileen turut menimpali dan ikut meyakinkan Mbok Sum.


Mbok Sum menghela nafas sejenak.


"Saya tanya ke Mayra dulu, Pak, Bu! Karena nantinya kan Mayra yang akan menjalani," izin Mbok Sum akhirnya yang langsung disetujui oleh Mami Emily, Papi Galen, dan Aileen.


Mbok Sum masuk ke rumah, dan Mayra yang sejak tadi menguping pembicaraan keluarga Haezel bersama Mbok Sum di teras depan, langsung buru-buru masuk ke dapur.


"Aduh!" Mayra tersandung karpet di ruang tengah dan gadis itu langsung jatuh tersungkur karena buru-buru.


"May! Ya ampun!" Mbok Sum buru-buru menolong dan membantu Mayra untuk berdiri.


"Kamu ngapain lari-lari?" Tegur Mbok Sum curiga.


"May nggak lari-lari, Budhe! May cuma nggak lihat dan meleng sedikit tadi pas jalan," kilah Mayra beralasan.


"Ayo ke depan! Pak Galen dan Bu Emily mau bicara sama kamu," ajak Mbok Sum selanjutnya seraya membimbing Mayra menuju ke teras depan.


"Mau bicara apa, Budhe?" Tanya Mayra pura-pura tak paham.


"Sudah! Pokoknya ke depan saja!" Ujar Mbok Sum memaksa yang terus membimbing Mayra menuju ke teras. Jantung Mayra langsung berdetak tak karuan saat akhirnya ia dan Mbok Sum tiba dibteras depan dan melihat semua keluarga Bu Aileen menatap ke arahnya.


"Duduk, Mbok!" Titah Aileen mempersilahkan Mbok Sum dan Mayra yang asih berdiri. Budhe dan keponakannya itu langsung duduk di kursi panjang yang ada di teras.


"Ini ada apa, ya, Bu Aileen?" Tanya Mayra yang hanya menatap sekilas pada Aileen sebelum kemudian gadis itu kembali menunduk sungkan.


"Jadi begini, Mayra...." Papi Galen mengernyit pada Mbok Sum karena tak tahu nama panjang Mayra.


"Mayra Dewanti, Pak!" Ujar Mbok Sum cepat memberitahu.


"Namanya bagus sekali!" Puji Aileen yang langsung dibenarkan oleh Mami Emily.

__ADS_1


"Baiklah." Papi Galen mengulangi kalimatnya.


"Jadi begini, Mayra Dewanti."


"Kamu mau tidak jadi istri untuk Haezel, putra kami?" Tanya Papi Galen to the point yang langsung membuat Mayra diam dan sepertinya gadis itu shock.


"Istri untuk Pak Ezel?" Mayra bergumam pelan dan seolah tak percaya dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan Papi Galen.


Apa Mayra seeang bermimpi sekarang?


"Iya, istri untuk Haezel, May!" Mami Emily memperjelas.


"Ta-tapi Mayra kan masih sekolah, Pak,Bu," jawab Mayra tergagap


"Nikahnya nanti kalau kamu sudah lulus, May! Kan sekolah kamu juga tinggal dua bulan lagi," ujar Aileen menenangkan Mayra.


"Jadi bagaimana, May? Mau tidak?" Tanya Papi Galen sekali lagi dan Mayra kembali berpikir.


"Mau tidak, May? Kenapa malah diam?" Bisik Mbok Sum seraya menyenggol pundak sang keponakan.


"May...." Mayra mengangkat sedikit wajahnya, lalu menatap satu persatu anggota keluarga Biantara yang amsih menunggu jawaban dari Mayra.


"May..."


Mami Emily langsung menghampiri Mayra dan meraih jari gadis itu.


"Untuk tanda saja," jelas Mami Emily seraya menyematkan cincin di jari manis Mayra. Wanita paruh baya itu lalu memeluk Mayra dengan hangat seperti pelukan seorang ibu.


"Nanti setelah ujian, kau ikut kami ke rumah, ya, May!"


"Sekalian nanti kamu mencari universitas di sana untuk lanjut kuliah. Jadi nanti kamu kuliahnya di kota kami," terang Papi Galen selanjutnya seraya menatap pada Mayra yang kini berkaca-kaca.


"Iya, Pak!" Jawab Mayra patuh.


"Mulai sekarang panggilnya Papi dan Mami, dong!" Celetuk Aileen seraya tertawa kecil.


"Nanti pelan-pelan saja! Lama-lama pasti terbiasa, ya!" Ujar Mami Emily seraya mengusap kepala Mayra yang hanya mengangguk-angguk.


Mayra kembali menatap ke arah cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Rasanya benar-benar seperti mimpi!

__ADS_1


****


Satu bulan kemudian....


"Satu minggu juga tidak apa-apa!" Haezel sedang berbicara pada reksnnya di telepon dan wajah pria itu terlihat sedikit frustasi.


"Iya! Aku harus menjemput kedua orang tuaku!" Haezel kembali beralasan.


"Tak ada yang menggantikanmu, Ezel! Kau tidak bisa mengambil cuti bulan ini."


"Brengsek!" Umpat Haezel seraya menutup telepon. Haezel yang kesal membanting ponselnya ke sofa. Satu bulan sudah Mami Emily dan Papi Galen berada di rumah Kak Aileen dan Haezel masih belum.bisa menyusul lagi ke sana hingga detik ini karena banyaknya kasus yang harus Haezel tangani.


"Mami capek sekali!" Terdengar suara Mami Emily bersamaan dengan pintu depan yang dibuka dari luar. Haezel yang sedari tadi sibuk menggerutu dalam hati, langsung menoleh ke arah pintu masuk untuk memastikan siapa yang datang.


Apa mami dan papi sudah pulang?


"Nanti malam papi pijitin mau?" Tawar Papi Galen genit.


"Mami, Papi! Sudah pulang?" Tanya Haezel menyapa kedua orangtuanya tersebut.


"Sudah di rumah ya berarti sudah pulang, Ezel!" Jawab Papi Galen sedikit ketus.


"Tapi Ezel baru saja mau menjemput ke rumah Kak Aileen," Haezel terlihat kecewa, frustasi, dan mungkin ingin mengumpat sekarang. Buyar sudah rencana Haezel untuk bisa menemui Mayra.


"Udah, nggak usah! Mami dan Papi kan sudah sampai di rumah!" Tukas Mami Emily seraya menepuk bahu Haezel.


"Tolong koper Mami dan Papi kamu naikin ke atas, Ezel!" Titah Papi Galen selanjutnya sebelum pria paruh baya tersebut masuk ke kamar dan disusul oleh Mami Emily.


Haezel hanya berdecak dan tak berhenti menggerutu, meskipun akhirnya pria itu tetap menuruni tangga untuk mengambil koper Mami Emily dan Papi Galen. Tepat di tikungan tangga, Haezel hampir menabrak seseorang yang membuat Haezel kaget bukan kepalang.


"Mayra!"


.


.


.


Hahaha!

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2