
Haezel mencium kening Mayra, lalu merapatkan selimut yang membalut tubuh istrinya tersebut. Tak lupa Haezel juga mengusap perut Mayra serta mengucapkan selamat malam untuk calon anaknya. Pria itu kemudian menarik nafas panjang, sebelum akhirnya beranjak dari atas tempat tidur.
Haezel duduk di sofa yang ada di kamar, lalu mengambil amplop coklat yang sepertinya dikirim oleh Cheryl tersebut.
Tapi apa maksud Cheryl mengirimkan amplop serta beberapa perlengkapan bayi ke alamat Haezel? Apa ini sebuah kode?
Setelah menyingkirkan jutaan rasa ragu di hatinya, Haezel akhirnya memberanikan diri untuk membuka amplop tersebut sembari berdoa semoga isinya bukan seperti yang Haezel terka.
Sebuah kertas!
Sial!
Haezel membuka kertas putih tersebut dan ternyata itu hanya sebuah kertas kosong. Namun ada amplop kecil di dalamnya, dan Haezel langsung mengambil amplop tersebut, lalu membukanya.
Ada sebuah memory card di dalamnya.
Memory card?
"Ajari aku cara menyadap ponsel seseorang!" Pinta Cheryl suatu hari dengan nada merayu pada Haezel.
"Mau menyadap ponsel siapa memangnya? Kau bisa minta bantuanku," Haezel menepuk dadanya dengan sombong.
"Ponselmu mungkin." Cheryl terkekeh.
"Kau takut aku selingkuh dengan gadis lain dan mengkhianatimu?"
"Hanya untuk jaga-jaga!" Cheryl bergelayut manja pada Haezel dan kembali merayu kekasihnya tersebut.
"Ayolah, Ezel!"
"Mmmmm," Haezel tak langsung menjawab iya dan pria itu sendiri mengulur agar Cheryl bergelayut lebih lama kepadanya.
"Ezel!"
"Apa?"
"Ajari aku!" Cheryl memasang raut wajah semanis mungkin.
"Baiklah! Aku ajari satu kali, tapi kalau kau tak paham aku tak akan mengulanginya," Haezel mengajukan syarat. Dan Cheryl langsung mengangguk setuju.
"Satu hal yang pasti, aku tak akan pernah mengkhianatimu ke depannya." Ujar Haezel lagi seraya berbisik pada Cheryl yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Bisa nge-gombal juga?" Cibir Cheryl malu-malu.
"Hei, itu bukan gombal biasa!" Sergah Haezel yang malah membuat Cheryl tergelak.
"Ayo ajari!" Tagih Cheryl lagi seraya mendekatkan kursi ke arah Haezel.
"Baiklah!"
Haezel sudah menyambungkan memory card yang dikirimkan oleh Cheryl ke laptopnya. Tapi mungkinkah yang mengirim memory card itu benar-benar adalah Cheryl?
Haezel menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali fokus ke layar ponselnya, saat beberapa file di dalam memory card tadi akhirnya muncul.
Belasan atau mungkin puluhan riwayat chat langsung terpampang di layar laptop Haezel.
[Misi gagal tadi malam! Aku tak menemukan Haezel dimanapun!] -Reynold-
[Aku sudah bertanya pada Haezel tadi, dia langsung pulang semalam setelah minum. Kau saja yang lambat] -No Name-
[Jangan mengataiku, Tua Bangka! Aku mau kau menyusun ulang rencana untuk menjebak Haezel! Dan yang selanjutnya tak boleh gagal atau semua rahasiamu akan aku bongkar] -Reynold-
[Keparat kau, Reynold!!] -No Name-
__ADS_1
[Lakukan saja yang aku mau dan semua rahasiamu akan aman bersamaku] -Reynold-
Haezel tercenung untuk beberapa saat setelah membaca beberapa bukti chat yang ada di dalam memory card. Itu adalah chat Reynold dengan seseorang yang Haezel yakni adalah Pak Kepala.
Semua rasa penasaran Haezel tentang hubungan di antara Reynold dan Pak Kepala seolah menemukan jawaban dan titik terang. Reynold memegang rahasia besar yang selama ini disembunyikan oleh Pak Kepala. Itulah yang membuat Pak Kepala tunduk dengan semua rencana jahat Reynold pada Haezel.
"Seorang detektif mengadakan pesta ranjang bersama beberapa wanita, setelah istrinya mengalami depresi. Bukankah itu judul yang bagus untuk headline berita? Karier Haezel akan langsung tamat! Rumah tangganya akan hancur berantakan!"
"Dendam macam apa yang sebenarnya kau simpan hingga kau ingin membuat Haezel sehancur itu, Reynold?"
"Detektif keparat itu sudah yang sudah membuat saudaraku menderita. Tanpa belas kasihan, dia sudah menjebloskan saudaraku yang lumpuh ke dalam penjara! Bukankah itu keterlaluan?"
Haezel mendengarkan dengan seksama rekaman percakapan di telepon yang juga tersimpan di dalam memory card.
"Haezel harus hancur! Pria itu harus hancur!"
Haezel menekan tombol pause dengan cepat dan pria itu mengusap wajahnya berulang-ulang.
"Bukannya aku tak punya belas kasihan, Reynold! Tapi Arkan memang pantas mendapatkan hukuman setimpal atas semua kejahatan yang dia lakukan!" Haezel bergumam sendiri sekaligus meluapkan rasa kesal dan geram di hatinya.
"Keadilan harus ditegakkan!" Ujar Haezel lagi seraya mencetak bukti-bukti chat antara Reynold dan Pak Kepala.
Kini untuk kedua kalinya, Haezel akan kembali menjebloskan atasannya ke dalam penjara karena sudah bersekongkol dengan Reynold untuk melakukan kejahatan.
****
Beberapa minggu berlalu...
"Bagaimana? Sudah ketemu lokasi Reynold?" Tanya Haezel pada Randu yang sedang berkutat dengan layar komputer di depannya.
"Masih buntu."
"Tapi kita akan terus melakukan pencarian, hingga pria brengsek dan keparat itu ditemukan!"
"Ngomong-ngomong, kabar soal promosi itu benar?" Tanya Randu selanjutnya yang sudah memutar kursinya.
"Promosi apa?" Haezel menggaruk kepalanya yang tak gatal dan pura-pura tak tahu.
"Kau! Jadi kepala divisi!" Randu menaik turunkan alisnya ke arah Haezel.
Setelah Haezel mengusut tuntas tentang kasus Pak Kepala serta keterlibatannya dalam semua kejahatan yang dilakukan oleh Reynold, kini jabatan kepala divisi memang sedang kosong untuk sementara.
"Aku tidak tahu!" Haezel mengendikkan kedua bahunya, lalu menarik kursi dan duduk di samping Randu.
"Aku kira rahasia yang disembunyikan Pak Kepala-"
"Maksudku Pak mantan kepala adalah sebuah rahasia besar. Ternyata oh ternyata." Randu menggeleng-gelengkan kepalanya dan terkekeh saat kembali mengenang tentang kasus Pak Kepala yang diungkap oleh Haezel beberapa minggu yang lalu.
"Bagi orang biasa, isu perselingkuhan mungkin adalah hal sepele. Tapi bagi seorang kepala kepolisian, itu adalah sebuah skandal yang memalukan."
"Terlebih sampai ada anak dari perselingkuhan tersebut." Terang Haezel panjang lebar.
"Ya! Dan aku rasa selain karena rahasia itu, Pak Kepala mungkin juga menaruh dendam pribadi kepadamu yang selalu bersikap jujur," pendapat Randu yang hanya membuat Haezel mengendikkan kedua bahunya.
"Aku benar-benar sampai tak bisa tidur memikirkan tentang hubungan Pak Kepala dan Reynold waktu itu!" Ujar Randu lagi yang langsung membuat Haezel tertawa kecil.
"Sekarang?"
"Sekarang aku masih belum bisa tidur nyenyak juga, karena si keparat Reynold belum ditemukan!" Randu mengepalkan tangannya dengan geram.
"Sembunyi dimana, baj*nga keparat itu?"
"Rumah Pak Brata dan apartemen Reynold masih diawasi, kan?" Tanya Haezel memastikan.
__ADS_1
"Ya! Dua puluh empat jam nonstop, meskipun kecil kemungkinan Reynold akan kembali ke tempat itu," ujar Randu memaparkan laporannya.
"Lalu lokasi yang waktu itu kau minta, tentang pengirim surat misterius yang mengatasnamakan kakakmu-"
"Iya, yang itu bagaimana? Sudah dapat lokasinya?" Tanya Haezel penasaran.
"Hanya sebuah rumah kost-kostan di dekat kampus. Dan sepertinya si pengirim sudah langsung pindah setelah mengirim paket." Tukas Randu yang kembali membuat Haezel mend*sah kecewa.
Hingga detik ini, keberadaan Reynold dan Cheryl memang masih belum diketahui. Dua orang itu seolah lenyap ditelan bumi.
Mungkinkah Reynold sudah menghabisi Cheryl.....
Haezel menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera membuang jauh pikiran buruknya tentang Cheryl. Haezel masih berharap kalau Cheryl baik-baik saja sekarang di suatu tempat. Karena bagaimanapun juga kasus Reynold dan Pak Kepala berhasil terungkap berkat barang bukti yang dikirimkan oleh Cheryl.
Ya!
Haezel yakin, jika sisi baik dalam diri Cheryl sebenarnya masih ada.
"Bung!" Randu menepuk pundak Haezel yang sejak tadi melamun.
"Ada apa?" Tanya Haezel tergagap.
"Kau mau pergi?" Tanya Randu setelah memindai penampilan Haezel.
"Ya! Aku baru mau bilang kalau aku akan mengambil cuti satu pekan. Aku akan mengantar Mayra ke rumah Kak Aileen dan memenuhi janjiku yang tertunda beberapa minggu lalu karena kasus Pak Kepala," terang Haezel panjang lebar menjelaskan pada Randu.
"Baiklah, Calon Pak Kepala yang baru! Semoga liburan dan cutimu menyenangkan."
"Dan jangan lupa membawakanku oleh-oleh minggu depan," pesan Randu yang langsung membuat Haezel terkekeh.
"Mau oleh-oleh apa? Calon istri?" Tanya Haezel sedikit menggoda rekannya tersebut.
"Yang itu juga tidak apa-apa!" Jawab Randu asal dan dua sahabat itu kembali tergelak bersama, saat ponsel Haezel berdering nyaring.
Mami Emily telepon!
"Aku angkat telepon dulu," pamit Haezel yang hanya membuat Randu mengangguk. Haezel bangkit dari duduknya sebelum mengangkat telepon dari Mami Emily.
"Halo, Mi!"
"Mayra tiba-tiba demam dan pingsan-"
"Apa?" Haezel langsung berteriak panik dan pria itu cepat-cepat keluar dari ruangan Randu.
"Sekarang dimana?" Tanya Haezel lagu pada Mami Emily.
"Sudah dibawa ke UGD! Cepatlah kemari!"
"Ezel segera kesana!"
.
.
.
Reynold masih ilang.
Karmanya nanti lumayan sadis 🙈🙈
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1