Detektif Haezel

Detektif Haezel
TAKUT


__ADS_3

Haezel terjaga dari tidurnya, saat samar-samar pria itu mendengar suara isak tangis yang begitu dekat.


Mayra yang sepertinya sudah kembali bangun, terlihat memunggungi Haezel, namun tubuh istri Haezel itu juga tampak berguncang sesekali menandakan kalau Mayra tengah menangis sesenggukan.


"May!" Panggil Haezel lembut seraya tangannya terulur untuk mengusap punggung Mayra. Namun kemudian Mayra berbalik dengan cepat dan menyentak tangan Haezel. Tatapan wanitq itu juga terlihat marah pada Haezel.


"Pergi!" Delik Mayra pada Haezel.


"May, aku Ezel suami kamu!" Haezel mencoba menjelaskan pada Mayra.


"Pergi!"


"Dan jangan menyentuhku!" Mayra berteriak kali ini hingga membuat Mami Emily dan Papi Galen yang memang menginap juga di rumah sakit, ikut terbangun.


"Pergi!" Mayra berteriak sekali lagi pada Haezel dan kini wanita itu kembali menangis.


"Mayra!" Mami Emily cepat menghampiri Mayra yang menangis, lalu memeluk menantunya tersebut.


"Suruh mereka pergi, Mi!"


"Suruh mereka pergi!" Mayra menangis tergugu di pelukan Mami Emily seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"May," Haezel mencoba mengusap punggung Mayra lagi namun gadis itu langsung menyentak dan kembali berteriak mengusir Haezel.


"Ezel!" Papi Galen akhirnya mencegah Haezel yang hendak membujuk Mayra lagi.


Mayra memang tak lagi berteriak histeris seperti sebelumnya, saat gadis itu bangun. Namun sekarang Mayra sering menangus tanpa sebab, dan dia akan langsung marah saat ada pria yang menyentuh apalagi mendekatinya. Termasuk Haezel yang notabene adalah suami Mayra.


Hanya Mami Emily yang sejauh ini bisa menenangkan Mayra kala wanita itu menangis.


"Ayo keluar dulu!" Ajak Papi Galen pada Haezel, seolah memberikan ruang pada Mami Emily agar bicara dari hati ke hati pada Mayra.


"Suruh mereka pergi, Mi!" Racau Mayra lagi yang masih bersembunyi di dalam pelukan Mami Emily.


"Mereka sudah pergi, May sayang!" Ujar Mami Emily seraya mengusap kepala Mayra dengan sabar.


"Jangan jauh-jauh, Mi!" Mayra terus mengeratkan kedua lengannya pada Mami Emily, seolah wanita itu tak mau berjauhan dari sang mami mertua.


"Mami ambil minum sebentar," Mami Emily meraih segelas air putih di atas nakas, lalu membantu Mayra untuk minum dengan perlahan.


"Mami jangan kemana-mana!" Ponta Mayra yang tetap bergelayut pada Mami Emily.


"Mayra takut, Mi!" Mayra kembali menangis sesenggukan dan saat itulah hati Mami Emily terasa disayat sembilu.


"Iya, Mami disini, Sayang!" Mami Emily sekuat tenaga menahan airmatanya agar tak menganak sungai.


"Mami akan menjaga Mayra disini, ya!"


"Bersama Papi, dan juga Mas Ezel," Mami Emily turut menyebut Papi Galen dan Haezel, berharap Mayra akan berhenti takut pada dua pria tersebut. Namun sepertinya trauma Mayra pada makhluk berjenis kelamin laki-laki masih begitu dalam.

__ADS_1


"Mas Ezel?" Mayra bergumam, lalu kemudian wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat lalu kembali menangis histeris seolah ada ketakutan yang dipendam oleh wanita sembilan belas tahun tersebut.


"Mayra!" Mami Emily kembali mendekap Mayra dengan erat.


"Sudah, Sayang!"


"Sudah!"


"Jangan takut lagi! Mami disini menjaga Mayra!" Mami Emily terus berusaha untuk menenangkan Mayra yang masih terus menangis.


"Sudah, Mayra sayang!"


"Sudah!" Mami Emily ikut berurai airmata karena Mayra yang tak kunjung berhenti menangis. Menandakan betapa dalam trauma yang kini dirasakan oleh Mayra.


Trauma yang disebabkan oleh para penjahat biadab!


****


Haezel menyesap kopi hitam yang disodorkan oleh Papi Galen. Pria itu berulang kali menghela nafas berat, menandakan begitu berat beban yang kini ia pikul di pundaknya.


"Mayra pasti akan bisa melewati semua ini, Ezel!" Ucap Papi Galen mencoba berpikiran positif. Haezel hanya mengangguk samar.


"Apa sudah ada titik terang tentang dalang dibalik semua ini?" Tanya Papi Galen selanjutnya pada Haezel.


"Kata Randu tidak berhubungan sama sekali dengan pekerjaan Ezel, Pi!"


"Baj*ngan!" Papi Galen mengumpat.


"Kemungkinan mereka memang mengincar Mayra yang polos, lalu timingnya tepat sekali saat Ezel terlambat menjemput Mayra." Haezel menghela nafas berat dengan berat dan tak melanjutkan kalimatnya.


Ya, tak ada satupun bukti yang mengarah ke Cheryl maupun Reynold. Haezel tak mau lagi berasumsi atau membuat tuduhan ke mereka berdua.


Bisa jadi ini rencana siapa saja yang memang benci pada Haezel selama ini. Karena bukan hanya satu dua penjahat yang berhasil Haezel kuliti kejahatannya.


Ada beberapa yang sudah mendekam di penjara dan keluarganya merasa tak terima mengingat beberapa dari mereka memanglah orang-orang yang cukup terpandang.


Jadi sebenarnya dalang dibalik kejahatan ini bisa siapa saja. Tergantung nanti para penjahat biadab itu mau buka suarq qtau tidak serta menunggu penyelidikqn selanjutnya.


Dan sebenarnya, kasus keluarga tahanan yang balas dendam pada keluarga penegqk hukum ini juga sangat jarang terjadi. Dari pengalaman yang sudah-sudah yang mereka incar biasanya ya langsung orang yang mengungkap kasus. Seperti dulu saat mobil Randu yang dipinjam oleh sepupunya ditabrak oleh orang tak dikenal. Setelah diselidiki, ternyata itu suruhan dari anggota salah satu tahanan yang kasusnya pernah ditangani oleh Randu mereka mengira yang berada di dalam mobil itu adalah Randu, sehingga mereka membuatnya celaka.


Jadi selama ini, Haezel memang hanya meningkatkan kewaspadaan terhadap dirinya sendiri dan mengabaikan keselamatan Mayra yang baru beberapa bulan menjadi istrinya.


Dan ternyata keteledoran Haezel ini benar-benar berujung fatal.


Sekarang Mayra yang harus menanggung semua akibatnya.


"Dasar suami rak berguna!" Haezel merutuki keteledorannya sendiri.


"Ezel! Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri!" Papi Galen yang mendengar gumaman Haezel tadi, langsung menegur dan menenangkan sang putra.

__ADS_1


"Bukankah katamu tadi kejadian ini sama sekali bukan dendam dari keluarga rapa penjahat yang kau ungkap kasusnya?" Lanjut Papi Galen lagi.


"Jadi jangan menyalahkan dirimu seperti ini terus!" Nasehat Papi Galen sekali lagi.


"Tapi andai sore itu Ezel tak terlambat menjemput Mayra!"


"Atau minimal Ezel menghubungi Mami atau Papi agar ganti menjemput Mayra! Mungkin semua ini tak akan terjadi, Pi!" Haezel mengungkapkan kemungkinan-kenungkinan.


Tapi nasi sudah menjadi bubur dan bubur tak akan kembali menjadi nasi.


"Mayra tak akan menjadi korban pemerkosaan dan tak perlu menanggung semua penderitaan ini," lanjut Haezel lagi dengan nada sedih dan pilu.


"Mayra wanita baik, Pi!" Papi Galen langsung memeluk Haezel dan menguatkan putranya tersebut.


"Tidak seharusnya semua hal buruk ini dialami oleh Mayra," terbata-bata Haezel mengungkapkan semua penyesalannya.


Penyesalan yang mungkin akan terus menghantui Haezel seumur hidup....


"Sudah cukup, Ezel!" Papi Galen segera menghentikan ratapan penyesalan Haezel atas apa yang sudah menimpa Mayra


"Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri dan hanya meratapi semua penyesalan ini!"


"Yang perlu kau lakukan sekarang adalah tetap menerima Mayra dan tetap mencintainya seperti dulu."


"Jangan pernah berubah hanya karena-"


"Ezel akan tetap mencintai Mayra, Pi!" Sela Haezel penuh keyakinan.


"Ezel akan tetap mencintai Mayra sampai kapanpun dan bagaimanapun keadaan Mayra," ujar Haezel lagi dengan penuh kesungguhan serta keyakinan.


"Iya seperti itu!" Papi Galen menepuk punggung Haezel dan memberikan semangat pada putranya tersebut.


"Kau harus membuktikan pada Mayra dan semua orang kalau cintamu pada Mayra masih sama besar dan tak sedikitpun berubah."


"Papi yakin dengan begitu, kondisi psikis Mayra juga akan secepatnya pulih." Papi Galen kembali berpikir positif.


"Mayra pasti akan segera ingat pada besarnya cintamu, Ezel!"


"Mayra pasti akan bisa bangkit dari semua keterpurukan ini!" Tukas Papi Galen panjang lebar yang sekali lagi mencoba memberikan semangat untuk Haezel.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2