
Haezel mendekap Mayra dengan erat sembari memejamkan matanya, serta berusaha melupakan kejadian apapun yang malam ini baru saja Haezel lewati.
Tidak!
Tidak terjadi apa-apa antara Haezel dan Cheryl!
Haezel terus merapalkan kalimat tadi di dalam hatinya serta berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau memang tidak terjadi apa-apa di antara dirinya dan Cheryl semalam.
"Seharusnya kau tak datang ke tempat ini!"
"Reynold sedang berusaha menjebakmu dan dia hendak menghancurkan kariermu."
Haezel membuka kembali kedua matanya, saat mendadak dua kalimat tadi terngiang di dalam kepalanya.
"Ezel, jika nanti...."
Kalimat Cheryl yang belum selesai saat pertemuan terakhir mereka di rumah sakit juga kembali hadir di ingatan Haezel.
Mungkinkah Cheryl tahu sesuatu?
Lalu semalam saat Haezel melihat wanita itu mondar-mandir di dekat kafe, apakah mungkin Cheryl ingin memberitahu sesuatu pada Haezel?
"Mas," panggil Mayra yang langsung membuyarkan lamunan Haezel.
"Iya, Sayang!" Haezel mencium puncak kepala Mayra.
"Baru pulang? Tangan Mas Ezel dingin," Mayra berbalik dan menatap wajah Haezel sejenak, lalu mengusap wajah tersebut.
"Iya. Di luar udaranya dingin," jawab Haezel seraya menggenggam dan menciumi tangan Mayra.
"May baru saja mimpi sesuatu, Mas," ucap Mayra yang langsung membuat Haezel berhenti menciumi tangan istrinya tersebut. Haezel ganti menatap pada wajah Mayra.
"Mimpi apa?"
"Mimpi yang indah." Mayra mengulas senyum di bibirnya seolah mimpi yang baru saja menghampirinya benar-benar mimpi yang sangat indah.
"Ceritakan!" Titah Haezel penuh antusias.
"May memakai gaun pengantin yang indah dalam mimpi itu, Mas! Lalu May berdiri di sebuah pulau yang begitu indah. Di tepi pantai yang lautnya begitu biru," kedua mata Mayra terlihat begitu berbinar saat bercerita pada Haezel.
"Tapi Mayra tidak mengerti kenapa Mas Ezel tak terlihat di mimpinya Mayra," lanjut Mayra lagi seraya tertawa kecil.
"Kau ingin berlibur ke pulau yang indah?" Tawar Haezel tiba-tiba yang langsung membuat Mayra menatap pada suaminya tersebut.
"Memang bisa? Bukankah Mas Ezel sibuk belakangan ini?" Tanya Mayra merasa ragu
"Bisa!" Haezel mengecup kening Mayra dan meyakinkan istrinya tersebut.
"Nanti aku akan mengaturnya," lanjut Haezel lagi.
Mayra tak berkomentar apapun dan langsung menyusupkan kepalanya di dada Haezel, seraya menggenggam tangan Haezel dengan erat.
"Ezel, jika nanti...."
"Cheryl!"
"Ada apa, May?"
"Tidak apa-apa, Mas! Ayo pulang!"
Kelebat kejadian di halaman parkir rumah sakit mendadak kembali menari-nari di benak Haezel, saat Haezel merasakan genggaman tangan Mayra. Tentang Mayra yang terlihat ketakutan saat mendengar suara Reynold.
"Mas," gumam Mayra yang langsung membuat lamunan Haezel kembali buyar.
"Ada apa, Sayang?"
"Mas ingat tadi sore saat kita di halaman rumah sakit lalu Mas Ezel bertemu-"
__ADS_1
"Cheryl dan Reynold!" Haezel memotong sekaligus melanjutkan kalimat Mayra.
"Reynold?" Mayra bergumam dan seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Ada apa? Kau pernah melihat Reynold di suatu tempat?" Tanya Haezel sedikit memancing.
Mayra menggeleng ragu. Dan spekulasi Haezel tentang Reynold yang mungkin terlibat dalam kasus pemerkosaan Mayra mendadak kembali buntu.
"Tapi Mayra kenal suaranya," ujar Mayra lagi yang langsung membuat Haezel menatap serius pada sang istri. Haezel baru saja akan menanyakan hal tersebut pada Mayra, tapi sekarang istri Haezel malah sudah menceritakannya.
"Kau kenal dan pernah mendengar suaranya? Dimana?" Cecar Haezel seraya menangkup wajah Mayra yang kini menatap Haezel dengan tatapan takut. Haezel mendadak jadi merasa bersalah karena pertanyaan Haezel mungkin saja membuat Mayra kembali ingat pada kejadian pilu yang pernah menimpanya
"Baiklah, tak apa. Mungkin kau bisa menceritakannya lain kali," tukas Haezel akhirnya yang tak mau membuat trauma dalam diri Mayra kembali membuncah.
"Dia yang memberikan minuman dan bayaran pada pria-pria-" Mayra tak melanjutkan kalimatnya dan wanita itu langsung bersembunyi di dalam dekapan Haezel.
Namun satu kalimat yang baru saja Mayra ucapkan, seolah menjadi titik terang.
"May masih ingat dengan suaranya, Mas! Meskipun Mayra setengah sadar waktu itu," cicit Mayra lagi yang masih menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan Haezel yang kini langsung sibuk dengan pikirannya.
Disaat bersamaan, ponsel Haezel yang masih berada di dalam saku celana tiba-tiba bergetar menandakan ada telepon yang masuk.
"Halo!" Sapa Haezel pada salah satu rekan kerjanya.
"Ezel, Randu mengalami kecelakaan semalam."
"Apa?"
****
Haezel menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa, dan langsung terliaht beberapa orang polisi yang berjaga di depan kamar perawatan.
"Selamat pagi, Pak Ezel!" Sapa para polisi tersebut pada Haezel yang hanya menganggukkan kepala. Haezel langsung membuka pintu kamar perawatan dan masuk ke dalam. Sudah ada Pak Kepala di dalam yang langsung melempar tatapan penuh tanya pada Haezel.
"Pagi, Pak Kepala!" Sapa Haezel pada atasannya tersebut.
"Kau darimana barusan?" Tanya Pak Kepala selanjutnya masih sambil bersedekap.
"Dari rumah, Pak!"
"Tadi malam selesai melakukan pengintaian saya langsung pulang dan istirahat," ujar Haezel menjelaskan dan Pak Kepala langsung mengangguk.
"Pulang jam berapa?" Tanya Pak Kepala lagi.
"Hampir tengah malam," jawab Haezel sedikit mengarang. Haezel juga tidak tahu pasti, jam berapa ia meninggalkan kelab tadi malam bersama Cheryl.
Sial!
Berhentilah memikirkan tentang Cheryl, Ezel!
"Kau langsung pulang setelah dari kelab? Atau kau pergi dulu ke satu tempat?" Tanya Pak Kepala lagi yang sudah mendekat ke arah Haezel dan caranya bertanya seperti sedang menginterogasi Haezel.
"Sa-saya langsung pulang, Pak!" Jawab Haezel tergagap.
"Langsung tidur juga setelah sampai di rumah?" Tanya Pak kepala lagi.
"Iya!" Jawab Haezel cepat. Meskipun sebenarnya pria itu sedang berdusta.
Pak Kepala akhirnya mengangguk dan terlihat percaya. Haezel sedikit bernafas lega.
"Randu mengalami kecelakaan semalam saat perjalanan menuju ke kelab," terang Pak Kepala lagi sebelum Haezel melontarkan pertanyaan.
"Aku sudah menghubungimu semalam. Tapi kau tak mengangkat telepon. Mungkin seperti katamu tadi, kau sudah tidur nyenyak dan tak mendengar telepon-"
"Ponsel kebetulan saya silent sejak semalam, Pak! Saya lupa membukanya," sela Haezel beralasan.
"Ya! Aku paham!"
__ADS_1
"Bukankah itu manusiawi?" Pak Kepala tertawa kecil lalu menepuk punggung Haezel sebelum kemudian pria paruh baya itu menguap karena mungkin mengantuk.
"Aku pulang dulu," pamit Pak Kepala akhirnya dan Haezel hanya mengangguk. Haezel mengantar Pak Kepala hingga ke pintu kamar perawatan, sebelum kemudian ia kembali lagi ke dalam dan menghampiri Randu yang rupanya sudah bangun.
"Kau sudah bangun?"
"Sudah sejak tadi," jawab Randu seraya meringis. Berbeda dengan Haezel yang justru mengernyit.
"Pak Kepala sudah pergi, kan?" Tanya Randu selanjutnya.
"Iya, sudah!"
"Bagaimana ceritanya kau bisa kecelakaan-"
"Rem mobilku tiba-tiba blong!" Jawab Randu sebelum Haezel menyelesaikan pertanyaannya. Sahabat Haezel itu kembali meringis dan Haezel bergegas mengatur bed perawatan agar posisi Randu bisa setengah berbaring.
"Sebelumnya kau darimana memang?" Tanya Haezel lagi penuh selidik.
"Dari kantor! Aku lembur mengerjakan laporan, lalu Pak Kepala mendadak menghubungiku dan menyuruh aku melakukan pengintaian di kelab malam itu. Pak Kepala juga menyuruh aku untuk mengajakmu," ujar Randu menceritakan kronologi kejadian tadi malam.
"Jadi maksudmu, petunjuk yang kau katakan semalam itu-"
"Dari Pak Kepala!" Sergah Randu cepat.
"Bukankah ini aneh? Jelas-jelas yang menangani kasus ini kita berdua sejak awal. Lalu kenapa sekarang Pak Kepala ikut-ikutan mencari petunjuk juga dan seolah ikut campur." Ujar Randu lagi mulai menerka-nerka.
"Sikap Pak Kepala juga aneh belakangan ini," timpal Haezel berpendapat.
"Tepat! Dan itu sejak kasus Mayra! Bukankah ini aneh?" Gumam Randu yang mulai berpikir sambil terus menerka-nerka.
"Ngomong-ngomong soal kasus Mayra, aku baru saja dapat informasi baru dari Mayra," Haezel mengganti pembicaraan.
"Info apa?" Tanya Randu antusias.
"Kemarin saat aku mengantar Mayra periksa, aku tak sengaja bertemu Reynold. Dan sikap Mayra berubah aneh saat mendengar suara Reynold-"
"Mayra mengenali suara Reynold?" Tebak Randu menyela, dan Haezel langsung menghela nafas.
"Saat aku tanya, Mayra mengatakan kalau suara Reynold mirip-"
"Tidak kata Mayra bukan mirip lagi tapi sama dengan suara orang yang membayar para keparat itu." Jelas Haezel panjang lebar.
"Apa itu artinya memang ada dalang utama dari kasus pemerkosaan Mayra kemarin?"
"Aku sudah mengatakannya kepadamu." Ujar Haezel mengingatkan Randu yang langsung meringis karena sepertinya pria itu menyadari kekeliruannya kemarin.
"Tapi kita tak punya bukti kuat untuk menuduh Reynold! Para pelaku juga tak ada yang mengaku siapa yang membayar mereka." Ujar Randu kembali pesimis.
"Kesaksian Mayra tak akan cukup karena ia hanya mendengar suara saja dan tak melihat Reynold secara langsung."
"Kata Mayra, Reynold juga memberikan mereka minuman," Haezel memberikan petunjuk lain pada Randu.
"Pasti ada jejak Reynold di TKP meskipun itu kecil, Randu!" Ujar Haezel lagi penuh keyakinan.
"Sayangnya aku tak bisa membantumu mencari ke TKP," ucap Randu seraya menatap ke kakinya sendiri yang terbungkus gips.
"Aku sendiri yang akan mencari nanti," ujar Haezel penuh tekad.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1