
"Silahkan!" Seorang bartender menyodorkan segelas minuman pada Haezel yang tetap awak memata-matai target. Masih belum ada kabar dari Randu yang entah tersasar di mana.
Haezel baru saja akan meneguk minuman dari gelasnya, saat seorang pria tak sengaja menabrak punggung Haezel darj arah belakang. Pria itu langsung minta maaf pada Haezel yang belum jadi minum dan terpaksa meletakkan gelasnya kembali ke atas meja.
Haezel hanya mengangguk dan tak mau ambil pusing. Pria itu lanjut meneguk minuman di gelasnya hingga tinggal setengah. Pria itu lalu lanjut mengawasi target. Namun selang beberapa menit, Haezel merasakan tubuhnya yang muali berkeringat dengan aneh. Pikiran Haezel juga mulai gelisah dan hasratnya untuk menyentuh seorang wanita mendadak membuncah.
Ada apa ini?
Apa seseorang baru saja mencampurkan sesuatu ke minuman Haezel?
Haezel turun dari kursinya dan mulai merasakan pandangannya yang berkabut. Milik Haezel juga sudah mulai menegang di bawah sana.
Haezel masih berusaha mengendalikan dirinya sendiri, saat beberapa wanita datang menghampiri detektif muda tersebut. Haezel berusaha jeras mengendalikan dirinya serta menghalau para wanita yang berusaha untuk menggodanya tersebut.
"Awas!" Usir Haezel galak pada para wanita penggoda tersebut. Namun beberapa darj mereka sepertinya keras kepala dan terus menggoda Haezel serta tangannya begitu lancang mengusap-usap beberapa bagian tubuh Haezel.
Tentu saja Haezel dengan cepat menyentak, meskipun otaknya mengirimkan sinyal kalau ia merasa nyaman disentuh seperti tadi.
Sial!
Haezel harus tetap menjaga kesadarannya dan tak boleh terlena.
"Jangan menyentuhku!" Sentak Haezel galak dengan nafas yang semakin tak beraturan. Haezel mulai hilang kendali, saat sebuah tangan tiba-tiba menariknya dengan kasar dan mengajaknya keluar darj kelab dengan langkah tergesa.
"Kau baik-baik saja?" Tanya wanita yang suaranya terdengar tak asing tersebut. Tapi otak Haezel tak mampu mengingat wanita tersebut. Wajahnya juga hanya samar-samar karena selain penerangan yang remang-remang, kedua mata Haezel juga masih berkabut.
"Seharusnya kau tadi tak datang kemari!" Wanita itu tiba-tiba menarik tubuh Haezel agar berjongkok, seolah mereka sedang sembunyi dari sesuatu.
"Cheryl!" Tanya Haezel memastikan setelah pria itu mengamati dengan seksama wajah wanita di sampingnya. Haezel langsung sedikit menjaga jarak dari Cheryl. Namun disaat bersamaan, tubuh Haezel malah ingin disentuh Cheryl sekarang.
Sial!
"Reynold menjebakmu dan hendak menghancurkan kariermu-" Cheryl tak melanjutkan kalimatnya karena saat wanita itu menoleh ke arah Haezel, ada sesuatu yang janggal.
"Kau baik-baik saja, Ezel? Kenapa kau berkeringat?" Tanya Cheryl mulai khawatir dengan wajah Haezel yang sudah memerah dengan aneh, lalu nafas pria itu juga mulai tak beraturan.
"Kau minum minuman yang mereka berikan?" Tanya Cheryl lagi yang sama sekali tak dijawab oleh Haezel yang mulai hilang kendali.
"Aaarrgh!" Haezel mulai menggeram dan menjambak rambutnya sendiri karena hasrat sialan yang tiba-tiba membuncah dalam dirinya.
Cheryl beringsut mundur dan hendak pergi, namun kemudian tangan Cheryl dicekal Haezel dengan cepat.
__ADS_1
"Cheryl bantu aku!" Haezel memohon pada Cheryl.
"Antar aku pulang!" Pinta Haezel lagi yang tetap mencekal tangan Cheryl. Haezel benar-benar sedang butuh pelampiasan sekarang dan jalan satu-satunya Haezel haris segera pulang untuk menemui Mayra lalu menuntaskan semuanya.
"Mobilmu di sana!" Cheryl menunjuk ke arah mobil Haezel yang terparkir dengan jarak tak terlalu jauh. Cheryl juga segera membimbing Haezel menuju ke mobilnya, saat pria itu tiba-tiba sudah menggosok-gosokkan hidungnya di leher Cheryl.
"Mayra, Sayang!" Racau Haezel yang mulai setengah sadar.
"Aku bukan Mayra!" Gumam Cheryl seraya mempercepat langkahnya menuju ke mobil Haezel. Cheryl membuka pintu mobil dan langsung mendudukkan Haezel di samping kursi kemudi, lalu memakaikan sabuk pengaman pada pria tersebut.
Setelah menutup pintu mobil, Cheryl mengitari mobil, lalu masuk ke belakang kemudi, dan segera menjalankan mobil Haezel keluar dari parkiran kelab malam.
"Mayra, Sayang!"
"Aku mencintaimu!" Haezel mulai meracau tak karuan saat Cheryl berusaha untuk fokus mengemudi.
"Mayra!" Racau Haezel lagi yang tiba-tiba tangannya sudah mengganggu tangan Cheryl yang sedang memegang kemudi, hingga akhirnya Cheryl kehilangan kendali dan mobil keluar dari jalur utama.
"Ezel!" Pekik Cheryl saat mobil masuk ke semak-semak. Cheryl buru-buru menginjak rem untuk menghentikan mobil.
"Apa yang kau-" kalimat Cheryl belum selesai, saat tiba-tiba Haezel sudah merebahkan kursi Cheryl ke belakang, hingga membuat posisinCheryl menjadi setengah berbaring sekarang. Haezel yang sepertinya mengira kalau Cheryl adalah Mayra juga langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Cheryl.
Apa?
Cheryl benar-benar dibuat tak berkutik saat Haezel terus menjamah setiap bagian tubuh Mayra hingga akhirnya milik Haezel menyentak masuk ke dalam milik Cheryl.
Namun satu hal yang menyakitkan dari itu semua adalah bibir Haezel yang tak henti menggumamkan nama Mayra. Bahkan saat pelepasannya pun, Haezel juga mendes*hkan nama istrinya tersebut.
"I love you, Mayra!" Pungkas Haezel sebelum akhirnya pria itu terkapar di jok di samping Cheryl yang hanya membisu.
Hati Cheryl terasa diiris sembilu!
Meskipun sebenarnya Cheryl tahu kalau ia tak pantas untuk marah.
Salah Cheryl sendiri yang nekat membawa pergi Haezel yang sudah terlanjur terpengaruh oleh obat setan yang pasti ulah dari Reynold.
"Kita hancurkan detektif keparat itu sampai ke akarnya!"
"Kita akan merekam langsung video itu lalu menyebarkannya secara random."
"Haezel dan semua karier cemerlangnya akan langsung hancur!"
__ADS_1
Cheryl menarik nafas panjang, lalu menatap pada Haezel yang masih memejamkan mata di sampingnya.
"Kau ternyata begitu mencintai istrimu," gumam Cheryl seraya meneteskan airmata. Rasa sakit, kecewa, serta penyesalan bergumul menjadi satu di dalam diri Cheryl.
Cheryl menghela nafas sekali lagi seraya merapikan bajujya, sebelum akhirnya wanita itu turun dari mobil Haezel, lalu meninggalkan Haezel serta mobilnya yang masih berada di semak-semak.
Cheryl mungkin akan pergi jauh....
****
Haezel mengerjapkan matanya saat pria itu merasakan beban berat yang seakan menimpa tengkuk serta kepalanya. Haezel sedikit meregangkan otot tubuhnya saat kemudian pria itu menyadari ada yang tak benar dengan dirinya serta penampilannya.
Dan sejak kapan Haezel berada di dalam mobilnya yang kini bentuknya sedikit tak karuan serta terperangkapdi semak-semak?
Jaket Haezel juga sudah lepas dari tubuhnya dan Haezel baru sadar kalau celananya sudah turun lumayan jauh ke bawah seolah Haezel baru saja memperkosa seseorang.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Haezel memegangi kepalanya yang terasa berdentum sakit, saat kemudian pria itu menemukan sebuah gelang di jok di dalam mobilnya. Haezel berusaha mengingat pemilik gelang tersebut karena seingat Haezel, ia baru saja mencekal tangan seorang wanita yang mengenakan gelang tersebut....
Cheryl!
Apa yang sudah terjadi di antara Haezel dan Cheryl?
Haezel masih bergelut dengan pikiran serta lamunannya, saat bayangan wajah Cheryl yang sedang mendes*h penuh gairah mendadak berkelebat di benak Haezel.
Sialan!
Kenapa Haezel tak bisa berhenti memikirkan mantan kekasihnya itu?
Haezel memeriksa jam di arlojinya yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Bergegas Haezel mengeluarkan mobilnya dari semak-semak, lalu segeralah memacu kuda besi tersebut menuju ke rumah Opa Satria.
Haezel hanya ingin memeluk Mayra sekarang!
.
.
.
Mblundet
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.