Detektif Haezel

Detektif Haezel
HAL PENTING


__ADS_3

"Aku ingin bicara satu hal penting, Ezel!" Ucap Cheryl seraya menatap pada Haezel yang baru tiba di teras rumah Kak Aileen.


"Bicara apa?" Tanya Haezel to the point.


Cheryl ganti menatap pada Kak Aileen yang sejak tadi masih berdiri di teras juga seolah ingin ikut mendengarkan tebtang hal penting yang hendak disampaikan oleh Cheryl.


"Baiklah, aku akan masuk jika memang kalian ingin bicara empat mata," tukas Kak Aileen yang merasa terusir oleh tatapan dari Cheryl. Meskipun sebenarnya kakak kandung Haezel itu juga penasaran sekali.


"Mayra dimana, Kak?" Tanya Haezel pada Aileen yang sudah melangkah menuju ke pintu rumah.


"Ada di dalam. Menemani anak-anak bermain. Perlu aku panggilkan?" Tawar Kak Aileen seraya menghentikan langkahnya. Haezel tak langsung menjawab tawaran Kak Aileen dan lria itu malah berucap pada Cheryl,


"Jika yang ingin kau bicarakan tentang Charlotte-"


"Charlotte putri kandungmu!" Potong Cheryl to the point yang rupanya didengar juga oleh Kak Aileen yang langsung membelalakkan kedua matanya.


"Jangan menipuku!" Haezel langsung menuding geram pada Cheryl. Sementara Kak Aileen tak jadi masuk ke dalam rumah dan kembali menghampiri Cheryl dan Haezel.


"Ezel, katakan kalau ini tidak benar!" Kak Aileen merengkuh satu pundak Haezel seolah minta penjelasan pada adik kandungnya tersebut.


Tadi Kak Aileen sebenarnya sudah membatin tentang wajah Charlotte yang mirip sekali dengan Haezel terutama di bagian dagunya. Tapi Kak Aileen benar-benar tak punya pikiran kalau Charlotte adalah anak kandung Haezel. Apa ini sebuah lelucon?


"Aku yakin kau masih mengingat kejadian malam itu, Ezel," tukas Cheryl seraya menatap pada Haezel.


"Kau menjebakku malam itu!" Sergah Haezel yang balik menyalahkan Cheryl.


"Kau pasti sengaja bekerjasama dengan Reynold!" Tuduh Haezel lagi, dan Cheryl hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Reynold yang menjebakmu dan mencampurkan sebuah obat ke dalam minumanmu."


"Reynold juga membayar beberapa wanita untuk menggodamu setelah kau terpengaruh obat, lalu pria itu berniat merekam video skandal dirimu yang melakukan pesta ranjang dengan banyak wanita disaat Mayra sedang bergelut dengan depresinya."

__ADS_1


"Reynold ingin kariermu tamat." Ujar Cheryl menjelaskan panjang lebar sama persis dengan riwayat chat yang Haezel terima lima tahun silam. Berarti benar dugaan Haezel kalau yang mengirim paket itu adalah Cheryl.


"Lalu kau pura-pura menyelamatkan aku tapi kemudian kau menjebakku juga?" Sergah Haezel emosi.


"Aku tidak menjebakmu!"


"Aku tadinya ingin mengantarmu pulang ke rumah. Tapi kau terlanjur terpengaruh oleh obat itu, lalu kau mengira aku adalah Mayra!" Cerita Cheryl dengan airmata yang sudah berlinang di kedua pipinya. Namun Cheryl dengan cepat menyeka airmata tersebut.


"Kau tak berhenti memanggil Mayra dan mengira aku adalah Mayra, jadi...." suara Cheryl tercekat di tenggorokan dan sorot mata wanita itu menggambarkan sebuah rasa sakit yang begitu dalam.


"Tapi itu bukan salahmu dan aku sama sekali tak menyalahkanmu!" Cheryl akhirnya sudah bisa menguasai emosinya dan wanita itu melanjutkan penjelasannya.


"Lalu sekarang kau mau apa kesini kalau memang kau tak menyalahkanku? Kau mau minta pertanggungjawabanku dan mengganggu rumah tanggaku?" Tuduh Haezel lagi pada Cheryl yang langsung menggeleng.


"Sama sekali tidak!" Lirih Cheryl nyaris tanpa suara.


"Aku hanya ingin kau merawat Charlotte," lanjut Cheryl lagi tetap dengan nada lirih. Wanita itu menyeka airmata yang terus mengalir di kedua pipinya.


"Tadinya aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk tak akan pernah lagi datang ke kehidupanmu dan mengganggu rumah tanggamu yang sudah bahagia bersama Mayra dan putrimu, Zelyra."


"Aku sakit," lanjut Cheryl lagi seraya terduduk di kursi teras. Wanita itu mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya, lalu memberikan kertas tersebut pada Kak Aileen.


Kak Aileen membaca kertas tersebut dengan seksama sebelum kemudian kakak kandung Haezel itu menutup mulutnya dengan telapak tangan dan terlihat shock.


"Kanker serviks stadium akhir," gumam Kak Aileen seolah sedang memberitahu Haezel.


Haezel yang tadinya menatap penuh amarah pada Cheryl, kini ganti menatap iba pada wanita yang pernah menjadi kekasihnya tersebut.


Cheryl?


Kanker serviks?

__ADS_1


"Maaf, jika permintaanku berlebihan, Ezel!"


"Tapi bagaimanapun juga, Charlotte adalah putri kandungmu sama seperti halnya Zelyra. Sekalipun kau tak pernah menginginkannya," ujar Cheryl yang sedang berusaha untuk menguasai emosinya.


"Gadis itu tak tahu apa-apa tentang semua dosaku di masa lalu dan tolong jangan biarkan dia ikut menanggung semua dosa dan kesalahanku padamu, pada Mayra, pada semua keluargamu." Airmata Cheryl sudah kembali menganak sungai.


"Tolong rawat Charlotte dan berikan kasih sayang juga untuknya!" Cheryl sudah menangkupkan kedua tangannya di depan dada seolah sedang memohon pada Haezel.


"Kau masih bisa menjalani terapi dan pasti ada harapan untuk sembuh, Cheryl!" Ujar Haezel dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Pria itu mendongakkan kepalanya dan sekuat tenaga menahan airmatanya agar tidak jatuh.


"Sudah tidak ada harapan," Cheryl tersenyum kecut, lalu menarik nafas panjang.


"Lagipula, aku juga harus mempertanggungjawabkan satu kejahatan yang sudah aku lakukan sebelum aku mati," lanjut Cheryl lagi yang langsung membuat Haezel mengernyit bingung.


"Aku tak mau mati sambil menanggung sebuah rahasia besar yang hingga detik ini tak diketahui oleh siapapun," ujar Cheryl seraya menatap pada Haezel yang semakin terlihat bingung.


"Kejahatan apa maksudmu, Cheryl? Rahasia besar apa?" Cecar Haezel yang benar-benar tak mengerti dengan arah pembicaraan Cheryl.


"Kau mencari Reynold selama lima tahun ini, kan?"


"Aku tahu dimana pria itu dan aku akan memberitahumu sekarang!"


.


.


.


.


Hayo, Reynold dimana? 😅😅😅

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2