
Haezel masuk ke sebuah ruangan, dimana Mayra pernah disekap beberapa bulan lalu disini, lalu dirudapaksa oleh empat pria biadab.
Ini kali pertama Haezel masuk ke tempat terkutuk ini, karena sebelum-sebelumnya Haezel hanya sekedar datang dan berhenti di depan pintu. Bahkan saat rekonstruksi kejadian, Haezel juga hanya menyaksikan dari kejauhan dan sama sekali tak mendekat.
Rasanya masih sakit jika membayangkan kebiadaban para baj*ngan keparat itu pada Mayra.
Haezel menghela nafas panjang, lalu mulai menyusuri setiap bagian dari ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut. Ruangan ini sebenarnya adalah bagian dari sebuah rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan.
"Suaranya sama dengan pria yang membayar dan memberikan mereka minuman."
Haezel memejamkan matanya sejenak untuk menarik nafas panjang, lalu pria itu kembali mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, seolah sedang mencari sesuatu.
Klunting!
Kaki Haezel tak sengaja menyenggol beberapa botol beling yang teronggok di sudut ruangan hingga menimbulkan suara nyaring.
"Memberikan mereka minuman!" Kalimat Mayra terus berkelebat di benak Haezel. Pria itu berjongkok dan mengamati botol beling di depannya. Disaat bersamaan, ponsel Haezel di dalam saku berdering.
Randu menelepon!
"Halo!" Sambut Haezel.
"Kau sudah sampai?"
"Ya!" Haezel kembali mengamati botol beling di depannya.
"Randu,"
"Ada apa? Kau menemukan sesuatu?"
"Kau sudah mengambil sidik jari di botol beling yang ada di ruangan ini? Kata Mayra, pria yang suaranya mirip Reynold itu juga memberikan minuman pada para pelaku."
"Hanya ada sidik jari pelaku."
"Berapa botol yang kau periksa?" Tanya Haezel penuh selidik.
"Bukan aku! Tapi Pak Kepala waktu itu yang menyuruhku mengambil sampel satu botol saja!"
"Pak Kepala?" Haezel kembali mengernyit dan benar-benar tak menduga jika Pak Kepala turut ikut campur juga dalam penanganan kasus Mayra. Apa itu juga alasan Randu cepat-cepat menutup kasus Mayra waktu itu?
Randu terus didesak oleh Pak Kepala!
"Ya, Pak Kepala ikut datang saat pengumpulan barang bukti di lokasi."
Kalimat Randu membuat kecurigaan Haezel pada Pak Kepala semakin menjadi. Kenapa Pak Kepala waktu itu melarang Haezel menyelidiki kasus Mayra, namun ia sendiri malah ikut campur?
__ADS_1
Atau jangan-jangan Pak Kepala juga yang menekan Randu untuk segera menyelesaikan kasus Mayra? Randu waktu itu terkesan buru-buru dan itu sama sekali bukan tipe Randu yang biasanya begitu teliti saat menangani sebuah kasus.
"Aku akan memeriksa semua sidik jadi di botol-botol ini. Pasti ada sesuatu!" Putus Haezel seraya mengeluarkan kantung yang lumayan besar untuk mengumpulkan botol bening tersebut.
"Aku tunggu hasilnya." Pungkas Randu sebelum panggilan terputus.
Haezel sudah selesai mengumpulkan botol-botol tadi, saat ponselnya kembali berbunyi. Kali ini Mayra yang menelepon.
"Halo, Sayang!" Sapa Haezel.
"Mas pulang jam berapa?"
"Sebentar lagi. Ada apa? Kau ingin sesuatu?" Tanya Haezel seraya meninggalkan ruangan yang yadi ia sambangi. Haezel langsung menuju ke mobilnya membawa satu plastik botol beling yang tadi ia kumpulkan.
"Emmmm, enggak!"
"May hanya kangen sama Mas Ezel." Suara Mayra terdengar imut dan merayu. Membuat Haezel tak sabar untuk segera pulang dan memeluk istrinya tersebut.
"Begitu, ya? Mau segera dipeluk?" Haezel sedikit menggoda Mayra.
"Iya!" Jawaban Mayra sukses membuat Haezel mengulas senyum di bibirnya.
"Tadi sudah makan?" Tanya Haezel selanjutnya.
"Sudah, Mas!"
"Oh, ingin jalan-jalan? Tadi katanya tidak mau sesuatu?" Haezel kembali menggoda Mayra.
"Ck! Mas Ezel!"
"Apa, Sayang?" Jawab Haezel mesra.
"Cepat pulang!"
"Iya! Bentar lagi aku pulang! Kamu siap-siap dulu. Nanti kita jalan-jalan!" Ujar Haezel pada istrinya di seberang telepon tersebut.
"Jalan-jalan ke pulau, ya?"
"Pulau?" Haezel mengernyit.
"Bercanda!" Terdengar kikikan Mayra dari seberang telepon.
Haezel tertawa kecil dan menebak kalau Mayra sepertinya benar-benar ingin pergi ke sebuah pulau untuk berlibur. Mungkin Haezel akan merencanakan sebuah babymoon untuk istrinya tersebut. Haezel akan menghubungi Ethan dan Ruby nanti. Pasangan itu selalu tahu tempat-tempat romantis untuk honeymoon dan babymoon.
"Mas Ezel!"
__ADS_1
"Iya, Sayang!" Jawab Haezel cepat.
"Cepat pulang!"
"Iya! Ini udah mau pulang!" Haezel tertawa kecil dan sedikit gemas dengan sikap manja Mayra sekarang.
"Baiklah! May tunggu, ya!"
"I love you!"
"I love you too, Mayra Sayang!" Pungkas Haezel sebelum telepon terputus. Haezel menyimpan kembali ponselnya, sebelum melajukan mobilnya pergi dari TKP.
****
"Tadi baju bayinya lucu-lucu, ya!" Komentar Mayra saat ia dan Haezel keluar dari sebuah babyshop.
"May jadi pengen borong semuanya," ujar Mayra lagi seraya tertawa kecil.
"Besok saja kalau udah tahu jenis kelaminnya, ya!" Haezel memberikan nasehat sekaligus merapikan rambut Mayra yang jatuh ke wajahnya.
"Kok kamu pucat, May?" Tanya Haezel mulai cemas.
"Hanya sedikit pusing, Mas!" Keluh Mayra seraya mengeratkan gamitannya pada lengan Haezel.
Haezel meletakkan punggung tangannya di kening Mayra.
"Kamu demam, Sayang?"
"Ayo pulang, Mas!" Ajak Mayra yang sudah menyandarkan kepalanya di pundak Haezel. Kepala Mayra tiba-tiba terasa berat.
"Kita ke rumah sakit dulu, ya!" Haezel segera memapah Mayra yang sedikit limbung.
"Kok semua jadi kabur, ya, Mas?" Keluh Mayra seraya memegangi kepalanya.
"Pelan-pelan!" Haezel terus membimbing Mayra dengan hati-hati ke arah tempat parkir.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, Haezel langsung melaju ke rumah sakit terdekat, karena wajah Mayra yang semakin terlihat pucat.
Mayra kenapa lagi?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.