Detektif Haezel

Detektif Haezel
HARUS KUAT


__ADS_3

"Mayra kenapa lagi, Mi?" Tanya Haezel yang baru tiba di rumah sakit. Mayra sudah terbaring di atas brankar di dalam ruang UGD dengan beberapa alat medis yang tersambung ke tubuhnya.


"Mami juga tidak tahu!"


"Tadi Mayra mengeluh pusing dan pandangannya kabur setelah mandi. Pas Mami cek, Mayra sudah demam."


"Lalu saat hendak Mami antar ke kamar, Mayra tiba-tiba pingsan," terang Mami Emily menceritakan kronologi pingsannya Mayra pada Haezel.


Haezel masuk ke dalam UGD untuk melihat Mayra yang kini matanya terpejam.


"Sayang, bangun!" Ucap Haezel dengan nada sendu seraya menggenggam tangan Mayra.


"Katanya mau liburan ke rumah Kak Aileen?" Lirih Haezel lagi yang sudah ganti menciumi tangan Mayra yang sama sekali tak merespon.


Dokter akhirnya datang dan langsung memeriksa kondisi Mayra.


"Dok!" Haezel menatap penuh harap pada dokter.


"Kita akan memberikan suntikan untuk mempercepat pematangan paru-paru janin-"


"Usia kandungan Mayra baru tiga puluh satu minggu..." Suara Haezel tercekat di tenggorokan. Kini pria itu sudah kehilangan kata-kata.


"Mayra akan istirahat tital di rumah sakit sampai bayinya siap dilahirkan agar kami semua bisa terus memantau kondisinya." Ujar dokter menerangkan pada Haezel.


"Mayra pasti bisa melalui ini semua, Ezel!" Sambung dokter lagi memberikan secercah harapan untuk Haezel yang tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya. Haezel menggenggam erat tangan Mayra sambil tak berhenti merapalkan doa agar Mayra dan calon anaknya selalu kuat.


"Kau wanita yang kuat, Sayang! Kau pasti bisa melalui ini semua," gumam Haezel dengan mata berkaca-kaca sambil tak berhenti menciumi tangan Mayra.


****


Minggu ketiga Mayra dirawat di rumah sakit...


Kak Aileen masuk ke dalam kamar perawatan dan langsung menyapa Haezel yang sedang menyuapi Mayra.


"Sore, Calon Mom dan calon Dad!"


"Sore, Kak Aileen!" Jawab Mayra seraya mengulas senyum.


"Kak Aileen membawa Latisha?" Tanya Mayra yang langsung membuat Aileen menggeleng.


"Latisha tidur tadi. Jadi aku tinggal dj rumah bareng Mami dan Papi. Besok, ya!" Ujar Kak Aileen memberikan pengertian pada Mayra yang sedikit kecewa.


"Iya, Kak! Tidak apa-apa," gumam Mayra sebelum wanita itu kembali membuka mulut dan menerima makanan yang disuapkan oleh Haezel.


"Kau tidak kerja? Atau sudah pulang?" Kak Aileen ganti bertanya pada Haezel, sekaligus mengambil alih makanan dari tangan adiknya tersebut. Sekarang gantian Kak Aileen yang menyuapi Mayra yang makannya begitu lahap.


"Ezel pulang cepat tadi," jawab Haezel. Pria itu sudah ganti mengusap perut Mayra dan meletakkan kepalanya disana seolah sedang mendengarkan pergerakan calon anaknya.


"Cowok? Atau cewek?" Tanya Kak Aileen selanjutnya pada Mayra.


"Cewek, Kak! Jadi temannya Latisha nanti," jawab Mayra dengan mata yang berbinar.


"Cucunya Mami dan Papi cewek dan cewek lagi. Semoga yang ini cowok-"


"Eh!" Kak Aileen membungkam mulutnya sendiri.

__ADS_1


"Kak Aileen hamil lagi?" Tanya Haezel yang langsung tanggap.


"Cliff kebablasan," jawab Aileen beralasan bersamaan dengan pintu kamar perawatan yang dibuka dari luar.


"Siapa yang kebablasan?" Tanya Cliff yang baru datang.


"Abang Cliff kata Kak Aileen." Jawab Haezel cepat masih sambil mengusap-usap perut Mayra.


"Mana ada! Kau sendiri yang minta aku hamili," tukas Cliff yang langsung membuat Aileen meringis.


"Kau yang awalnya memaksa!" Kak Aileen masih balik menyalahkan sang suami.


"Iya tapi kan atas persetujuanmu juga!"


"Iya, iya! Salah kita berdua!" Ujar Aileen mulai kesal. Kakak kandung Haezel sudah kembali menyuapi Mayra yang hanya terkekeh menyaksikan perdebatan Cliff dan Aileen.


"Sudah sama-sama tua, anaknya sudah mau dua, masih saja seperti kucing dan tikus," cibir Haezel pada kakak dan abang iparnya tersebut.


"Ck! Kami belum tua!" Aileen refleks menoyor kepala Haezel.


"Lebih tua dari Ezel dan Mayra, kan? Bearti memang sudah tua!" Haezel masih kekeh meledek.


"Iya kamu juga lebih tua dari Mayra. Berarti kamu juga tua!" Aileen balik mengejek Haezel.


"Mayra yang paling ABG disini!" Celetuk Mayra menimpali perdebatan Haezel dan Aileen.


"Masih ABG tapi udah mau jadi Mom!" Sahut Cliff yang langsung membuat mereka berempat tergelak.


"Uhuuk! Uhuuk!" Mayra terbatuk-batuk mungkin saking semangatnya tertawa.


"May, pelan-pelan tertawanya!" Haezel cepat-cepat mengusap punggung Mayra yang belum berhenti batuk-batuk. Wajah istri Haezel itu bahkan sudah merah padam sekarang karena kesulitan bernafas.


"May,"


"Uhuuk! Uhuuk!" Mayra terus-terusan batuk dan wajahnya semakin pucat.


Cliff sudah kembali bersama dokter dan beberapa perawat yang langsung melakukan tindakan pada Mayra. Haezel tak beranjak dari samping istrinya tersebut. Sementara Aileen dan Cliff hanya diam sambil saling merangkul serta berdiloa agar Mayra baik-baik saja dan tidak terjadi hal buruk.


****


Tengah malam.


Haezel masih terlelap saat samar-samar pria itu mendengar suara Mayra memanggil serta mengusap-usap kepalanya.


"Mas."


"Mas Ezel," panggil Mayra lirih.


"Hmmm!"


"Ada apa, Sayang?" Haezel sudah bangun dengan cepat.


"Kau butuh sesuatu?" Tanya Haezel sigap.


"Kapan May bisa pulang, Mas?" Tanya Mayra masih dengan nada lirih.

__ADS_1


"Nanti, setelah May sehat, ya!" Jawab Haezel seraya mengusap lembut kepala Mayra.


"May sudah sehat, Mas!"


"Dan May baru saja bermimpi barusan." Cerita Mayra yang langsung membuat dada Haezel mendadak kembali sesak.


Mimpi apalagi, May!


Jangan baju pengantin lagi!


"May mimpi bertemu ibu dan bapak, Mas!" Ujar Mayra lagi yang sukses membuat hati Haezel mencelos.


"May kangen Bapak dan ibu?" Tanya Haezel yang sedang sekuat tenaga menahan airmatanya agar tak jatuh.


"May ingin ziarah ke makam mereka, Mas," tutur Mayra mebgungkapkan keinginannya.


"Iya!"


"Nanti kalau Mayra sudah pulih Mas antar, ya!" Ujar Haezel berjanji pada Mayra.


"May ingin kesana sebelum melahirkan, Mas!" Pinta Mayra bersikeras.


Haezel menggeleng.


"Pekan depan May sudah melahirkan. Jadi May harus istirahat total di rumah sakit," ucap Haezel akhirnya memberitahu hal tersebut pada Mayra.


Preeklamsia yang dialami Mayra sudah masuk kategori berat. Dan satu-satunya jalan agar tak terjadi komplikasi adalah bayi Mayra harus secepatnya dilahirkan.


"Pekan depan?" Mayra terlihat kaget.


"Tapi bukannya kandungan May baru-"


"Sudah tiga puluh lima minggu," ujar Haezel cepat.


"Kemarin dokter sudah melakukan USG dan berat bayi kita sudah dua koma dua kilo. Paru-parunya juga sudah matang."


"Putri kita sudah siap dilahirkan," jelas Haezel panjang lebar memberikan pengertian pada Mayra.


"May harus kuat dan berjuang, ya!"


"May pasti akan bisa melalui ini semua," ujar Haezel panjang lebar seraya menggenggam erat tangan Mayra.


"Mas Ezel akan selalu ada di samping May, kan?" Tanya Mayra lirih.


"Tentu saja!"


"Mas akan selalu mendampingi Mayra, hingga nanti putri kita lahir ke dunia, lalu kita bisa memeluknya bersama-sama." Ujar Haezel yang berusaha untuk berpikir positif.


Haezel tahu kalau Mayra wanita yang kuat, jadi Mayra pasti akan berjuang juga kali ini. Dan nanti setelah bayi mereka lahir, Mayra akan kembali pulih seperti sedia kala. Lalu Haezel dan Mayra akan membesarkan bayi mereka bersama-sama.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2