
Haezel merapatkan selimut untuk menutupi tubuh Mayra, lalu mengecup kening istrinya tersebut. Haezel lanjut menyambar ponselnya yang terus bergetar sejak tadi di atas nakas, lalu mengangkat telepon yang rupanya dari Randu.
Jam hampir menunjukkan pukul sembilan malam. Ada apa Randu menelepon malam-malam?
"Halo!" sapa Haezel setelah mengangkat telepon.
"Kau sudah tidur?"
"Belum. Aku hanya menemani Mayra tadi. Ada apa?" Tanya Haezel to the point.
"Tadi Pak Kepala meneleponmu, tapi katanya tidak diangkat, jadi dia menyuruhku meneleponmu," ujar Randu yang langsung membuat Haezel memeriksa riwayat panggilan di ponselnya. Benar saja, ada tiga panggilan tak terjawab dari Pak Kepala. Sepertinya saat Haezel sibuk mencumbu Mayra tadi. Haezel terlalu menikmati permainan setelah berbulan-bulan puasa, jadi ia tak menghiraukan ponselnya yang mungkin tadi bergetar.
"Iya, aku sedang sibuk tadi." Haezel sedikit meringis.
"Jadi, apa yang disampaikan Pak Kepala?" Tanya Haezel lagi pada sahabatnya tersebut.
"Kasus nomor dua puluh tiga yang tadi siang kita bahas, sudah ada petunjuk."
"Benarkah?"
"Ya! Aku sedang menuju ke lokasi pengintaian sekarang."
"Bisa kau kirim alamatnya? Aku akan ikut bersamamu," pinta Haezel bersemangat. Itu adalah kasus lanjutan dari kasus narkoba yang kemarin melibatkan Janeeta. Haezel bertekad untuk menyelesaikannya hingga ke akar.
"Kau yakin? Baiklah, aku akan putar balik untuk menjemput-"
"Aku akan pergi sendiri. Kirim saja alamatnya!" Haezel memotong kalimat Randu.
"Baiklah kalau begitu! Hubungi aku saat sudah sampai!"
"Oke!" Pungkas Haezel seraya menutp telepon.
Haezel menatap Mayra sejenak, lalu tersenyum bahagia. Pria itu juga mengecup kening Mayra sekali lagi sebelum beranjak dari atas tempat tidur. Haezel masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri seperlunya, sebelum kemudian keluar dari kamar.
"Ezel, mau kemana?" Tanya Oma Naya sqat melihat Haezel yang sudah memakai jaketnya.
"Ada urusan sebentar, Oma!"
"Mayra sudah tidur," ujar Haezel lagi memberitahu Oma Naya.
"Tidak jadi main catur?" Tanya Opa Satria yang sepertinya sudah menunggu sejak tadi.
"Ini ada hubungannya dengan kasus yang sedang Ezel tangani, Opa! Main caturnya besok saja, bagaimana?" Haezel melakukan negosiasi.
"Baiklah kalau memang ini penting."
"Pergilah dan hati-hati!" Ujar Opa Satria seraya menepuk pundak sang cucu.
"Hati-hati!" Oma Naya turut berpesan.
"Nanti kalau May bangun-"
__ADS_1
"Oma yang akan menjelaskannya," jawab Oma Naya sebelum Haezel menyelesaikan kalimatnya.
"Baiklah! Ezel pergi dulu!" Pamit Haezel pada Oma dan Opanya tersebut.
Haezel langsung keluar dari rumah dan menuju ke garasi rumah Opa Satria untuk mengambil mobil. Tak butuh waktu lama, mobil Haezel sudah melaju pelan meninggalkan rumah Opa dan Omanya tersebut.
Tepat di jalan masuk kompleks yang bersebelahan dengan kafe Analogy milik keluarganya, Haezel sekilas melihat seorang wanita yang berdiri di dekat kafe seperti sedang menunggu seseorang.
"Seperti Cheryl," Haezel bergumam sendiri , namun akhirnya pria itu memilih untuk tak menggubrisnya. Lagipula, mau apa Cheryl berdiri di dekat kafe?
Atau jangan-jangan Cheryl sedang memata-matai Mayra dan Haezel?
Haezel segera menghubungi Opa Satria dan memasang loudspeaker.
"Ada apa, Ezel? Ada yang ketinggalan?"
"Tidak ada, Opa. Tapi tadi saat Ezel keluar dari kompleks, ada seseorang yang berdiri di dekat kafe dan terlihat mencurigakan seperti sedang mengawasi kafe Papi. Opa bisa memeriksanya?" Pinta Haezel yang benar-benar merasa khawatir.
"Akan Opa periksa! Nanti Opa kabari lagi."
"Baik, Opa! Terima kasih!" Pungkas Haezel seraya mematikan telepon. Haezel kembali fikus mengemudi setelah melihat alamat yang tadi dikirimkan oleh Randu. Sebuah kelab malam di pusat kota.
Baiklah! Haezel akan meluncur ke sana!
****
Cheryl masih berdiri agak jauh dari pintu masuk kafe Analogy dan berulang kali menatap ke dalam kafe yang lumayan ramai tersebut. Mobil Haezel tak terlihat di halaman depan, apa mungkin Haezel belum sampai di rumah setelah dari rumah sakit tadi?
Cheryl melihat sekali lagi ke arloji di tangannya, saat wanita itu juga tak sengaja melihat sebuah mobil melintas.
Tunggu!
Itu seperti mobil Haezel!
Cheryl memperhatikan dengan seksama plat mobil warna hitam tersebut untuk memastikan dan ternyata benar, itu adalah mobil Haezel.
Mungkinkah rencana kedua Reynold sudah mulai dijalankan dan Haezel baru saja akan menuju ke lubang perangkap?
Cheryl tak membuang waktu dan bergegas menghampiri ojek yang tadi memang ia minta menunggunya agak jauh di luar kompleks.
"Pak! Ikuti mobil hitam yang tadi keluar dari kompleks, ya!" Ujar Cheryl pada pengebdara ojek.
"Siap, Mbak!"
****
Haezel sudah tiba di sebuah kelab malam yang akan menjadi tempatnya melakukan pengintaian malam ini, saat ponselnya berdering dan ada panggilan masuk dari Opa Satria.
"Halo! Bagaimana, Opa?" Tanya Haezel to the point karena ia yakin kalau Opa Satria hebdam melaporkan tentang wanita mirip Cheryl yang tadi berdiri tak jauh dari kafe Analogy.
"Tidak ada siapapun, Ezel! Opa susah menyisir hingga keluar kompleks dan orang yang tadi kau maksud tidak ada."
__ADS_1
"Hanya ada pengunjung kafe saja."
"Begitu, ya?" Haezel sedikit berpikir.
"Opa sudah memeriksa sekitar rumah?" Tanya Haezel lagi masih merasa cemas.
"Sudah! Barusan Opa juga berkeliling kompleks untuk memastikan. Tidak ada yang mencurigakan."
"Baiklah! Mungkin tadi Ezel hanya terlalu khawatir, Opa!"
"Apa Mayra terbangun?" Tanya Haezel lagi yang mendadak malah rindu pada istrinya tersebut.
"Belum sepertinya. Opa masih di luar dan berbincang dengan security kompleks."
"Baiklah! Nanti malam jangan lupa mengunci pagar depan, Opa! Ezel sudah bawa kunci cadangan," pesan Haezel sekaligus berpamitan pada sang Opa. Haezel menutup telepon dari Opa Satria, lalu lanjut menghubungi Randu.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif!"
Haezel mengernyit saat mendengar operator yang menjawab teleponnya. Randu kemana? Kenapa teleponnya malah tidak aktif?
Haezel mengedarkan pandangannya ke arah kelab malam sembari berpikir. Apa mungkin sebaiknya Haezel masuk duluan dan tak usah menunggu Randu?
Ponsel Haezel kembali berdering. Kali ini Pak Kepala yang menelepon.
"Halo, Pak!"
"Ezel! Randu sudah menghubungimu?"
"Ya! Saya sudah di lokasi, Pak! Tapi Randu belum tiba dan ponselnya mendadak tidak aktif," lapor Haezel pada Pak Kepala.
"Kau sudah masuk ke dalam?"
"Belum, Pak!"
"Tapi saya akan segera masuk. Nanti Randu biar menyusul," ujar Haezel yang akhirnya membuat keputusan.
"Bagus! Tetap waspada dan hati-hati!"
"Baik, Pak!" Pungkas Haezel seraya melepaskan sabuk pengamannya.
Haezel mencoba menghubungi Randu sekali lagi, namun ponsel sahabat Haezel itu masih belum aktif.
Haezel akhirnya masuk ke dalam kelab malam sambil berharap Randu akan segera datang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.