Detektif Haezel

Detektif Haezel
BAHAGIA


__ADS_3

"Masih kuat?" Tanya Haezel yang terlihat semakin khawatir. Suami Mayra itu menggenggam erat tangan Mayra, lalu kadang memciumi dan mengusap-usap wajah Mayra.


"Iya masih, Mas!" Jawab Mayra seraya menarik nafas panjang,lalu menghembuskannya perlahan. Saat ini Mayra memang sedang di ruang persalinan setelah koktraksi teratur yang Mayra rasakan beberapa jam yang lalu.


"Kamu terlihat kesakitan, Sayang," Haezel kembali khawatir.


"Dimana-mana orang melahirkan ya sakit, Mas!" Ujar Mayra sedikit gemas pada Haezel. Wanita itu meringis karena kontraksi yang kembali datang.


"Sakit sekali, ya?" Tanya Haezel seraya menyeka butir-butir keringat di kening dan wajah Mayra.


"Ya!" Jawab Mayra jujur.


"Udah, lanjut operasi saja!" Ujar Haezel memberikan usul.


"Ish! Mas Ezel!"


"Kan kemarin janji mau dukung Mayra lahiran normal," Mayra sedikit merengut.


"Tapi kamu kesakitan begitu. Aku kan jadi nggak tega," ujar Haezel beralasan.


"Namanya juga orang lahiran ya sakit."


"Sini tangannya!" Mayra mencari-cari tangan Haezel.


"Dari tadi tangan aku kamu genggam begini." Haezel menunjukkan tangannya dan tangan Mayra yang masih saling menggenggam.


"Kalau Mayra rem*s begini sakit, nggak?" Tanya Mayra saat kontraksi kembali datang dan wanita itu merem4s kuat tangan Haezel.


"Nggak sakit, kok!"


"Karena yang sekarang kamu rasain pasti berlipat-lipat rasanya," Haezel mencium tangan Mayra yang berulang kali menarik nafas panjang.


"Saya cek lagi pembukaannya ya, Bu!" Izin perawat seraya membuka kedua kaki Mayra. Haezel ikut melongok untuk turut melihat.


"Loh, itu kepala anak saya, Sus!" Celetuk Haezel saat melihat kepala anaknya yang sudah nyaris keluar.


"Sebentar, Bu!" Perawat langsung bergegas memanggil rekannya yang lain saat Mayra merasa tak tahan lagi untuk mengejan.


"Sayang, sabar dulu! Dokternya masih siap-siap!" Haezel menyuruh Mayra untuk menahan diri. Namun istri Haezel itu malah menggeleng-gelengkan kepalanya dan terus saja mengejan.


"May!"


"Udah nggak bisa tahan, Mas!" Teriak Mayra pada Haezel.


"Suster! Dokter!" Haezel berteriak-teriak pada tenaga medis yang langsing berhamburan masuk ke dalam ruang persalinan. Merrka semua bergerak cepat karena bayi Haezel dan Mayra yang kepalanya sudah keluar sebelum Dokter sempat memberikan aba-aba.


"Sedikit lagi, Sayang! Dorong lagi!" Haezel mengusap wajah Mayra dan memberikan semangatpada istrinya tersebut dan sedetik kemudian, tangis bayi laki-laki Mayra dan Haezel langsung menggema di dalam kamar persalinan.


Mayra tak kuasa menahan airmatanya dan Haezel langsung menciumi istrinya tersebut berulang-ulang.


"Terima kasih, Sayang!"


"Terima kasih atas semua perjuanganmu," Bisik Haezel yang masih belum berhenti menciumi wajah Mayra.

__ADS_1


Bayi laki-laki dengan berat tiga koma dua kilogram tersebut langsung diletakkan di dada Mayra, sesaat setelah selesai dibersihkan.


"Tampan sekali kamu, Nak!" Puji Mayra seraya mengusap pipi gembil sang bayi.


"Akhirnya Dad punya jagoan juga!" Ujar Haezel yang turut mengusap pipi bayi mungilnya.


"Terima kasih atas semua perjuanganmu, Sayang!" Ucap Haezel sekali lagi seraya mengecup kening Mayra.


"Terima kasih juga karena Mas Ezel selalu setia mendampingi Mayra," balas Mayra seraya mengulas senyum, meskipun kedua mata wanita itu masih berkaca-kaca karena menangis bahagia.


"Welcome to the world, Baby Eyzar Biantara."


****


Dua tahun kemudian....


"Bagus, nggak?" Tanya Zelyra seraya menunjukkan gambar di tangannya pada Mayra yang sedang menyusui Baby Eyzar yang sebentar lagi lulus ASI dua tahun.


"Cantik!" Puji Mayra setelah melihat gambar Zelyra. Putri pertama Haezel dan Mayra tersebut memang mewarisi bakat Omi Emily yang jago menggambar. Semua hasil gambaran tangan Zelyra begitu cantik dan memanjakan mata.


Sementara Charlotte, justru memiliki bakat yang berbeda. Gadis yang usianya hanya selisih beberapa bulan dari Zelyra tersebut sudah pandai mengenali aroma serta rasa kopi di usianya yang masih belia.


Sejak pertama kali melihat sang Opi yang berkutat di kafe milik keluarga Biantara, Charlotte sudah langsung tertarik dan memaksa untuk diajari serta dikenalkan dengan nama-nama kopi yang ada di sana.


Ajaibnya, Charlotte langsung bisa mengenali semuanya dan hampir setiap hari gadis kecil itu ikut sibuk di kafe membantu Opi Galen.


"Charlotte!" Panggil Mayra pada Charlotte yang masih berkutat dengan biji-biji kopi.


"Apa?" Charlotte bergegas menghampiri Zelyra, lalu melihat gambar yang ditunjukkan oleh Zelyra.


"Kau suka?"


"Ya! Boleh aku tempel di dinding kamarku?" Tanya Charlotte meminta izin.


"Mmmm, aku warnai dulu, ya!" Ujar Zelyra seraya mengambil kembali gambarnya.


"Yess!" Charlotte langsung bersorak senang karena ia akan mendapatkan sebuah gambar dari Zelyra.


Begitulah keakraban Zelyra dab Charlotte. Meskipun kedua gadis itu lahir dari rahim yang berbeda, serta memiliki minat dan bakat yang berbeda juga, namun keduanya selalu rukun dan sangat jarang berselisih. Sebisa mungkin Mayra dan Haezel juga selalu bersikap adil pada Charlotte dan pada Zelyra. Karena bagi Haezel dan Mayra, Charlotte dan Zelyra sama-sama putri mereka yang harus selalu mereka perlakukan dengan adil dan haris selalu mereka berikan kasih sayang berlompah tanpa membeda-bedakan satu sama lain.


"Hai, Eyzar! Udahan nennya!" Charlotte sudah ganti menghampiri Eyzaryang masih bergelayut pada Mayra.


"Ayo main sama kakak!" Ajak Charlotte lagi pada Eyzar yang tetap asyik menghisap-hisap pay*dara Mayra.


"Eyzar, udahan nennya!" Sekarang Zelyra sudah meninggalkan kertas gambar serta crayonnya dan ikut-ikutan merayu Eyzar agar berhenti menyusu.


"Ayo main bola!" Zelyra menunjuk ke bola kesayangan Eyzar.


"Naik mobil!" Sedangkan Charlotte menunjuk ke mobil besar kesukaan Eyzar juga. Jadilah balita laki-laki itu bingung harus menghampiri Charlotte atau Zelyra. Dan Eyzar juga sudah berhenti bergelayut pada Mayra.


"Mobil!" Charlotte terus merayu Eyzar.


"Bola bola bola!" Seru Zelyra tak mau kalah.

__ADS_1


Eyzar sepertinya bingung harus memilih siapa. Jadilah balita itu sebentar ke arah Zelyra dan sebentar ke arah Charlotte.


"Mobil!"


"Bola!"


"Mobil!"


"Bola!"


"Sudah, jangan membuat Eyzar bingung!" Mayra akhirnya menegur kedua putrinya, bersamaan dengan suara dari seseorang yang baru tiba.


"Dad pulang!"


"Dadda!" Seru Eyzar yang langsung berjalan menghampiri Haezel yang baru pulang kerja.


"Dadda!" Celoteh Eyzar lagi yang langsung diangkat oleh Haezel dan dibawa ke dalam gendongan.


"Udah, deh! Kita kalah sama dadda-nya," gumam Zelyra seraya menghampiri Charlotte yang masih nangkring di atas mobil mainan Eyzar.


"Dadda ulang!" Celoteh Eyzar tanpa henti seolah sedang pamer pada Charlotte dan Zelyra.


"Iya, iya! Dad pulang!" Sahut Zelyra mengoreksi sang adik yang masih cedal.


"Tadi sedang ngapain?" Tanya Haezel mengacak rbut Charlotte dan Zelyra bergantian.


"Dad!" Protes dua gadis itu karena rambut mereka jadi berantakan. Mayra sontak tergelak dengan adegan tersebut.


"Apa, sih? Gitu aja teriak-teriak!" Cibir Haezel pada kedua putrinya.


"Mereka baru dari salon tadi, kamu acak-acak rambutnya, ya ngamuk." Mayra memberitahu Haezel, sebelum kemudian wanita itu menghilang ke dapur kafe untuk membuat sesuatu.


"Keturunan Mami Emily yang nggak bisa keramas sendiri, ya! Sampai keramas aja harus ke salon!" Cibir Haezel lagi pada kedua putrinya.


"Namanya juga perawatan, Dad!" Jawab Zelyra dan Charlotte kompak.


"Iya, iya!" Decak Haezel.


"Eyzar ke salon juga tadi, hah?" Haezel ganti menciumi putranya dengan gemas sampai balita itu tergelak.


Mayra sudah kembali lagi dan membawa secangkir kopi untuk Haezel. Wanita itu meletakkan kopi Haezel di meja, lalu menghampiri Zelyra yang sudah asyik mewarnai gambarnya lagi, sementara Charlotte yang duduk di depan Zelyra begitu antusias melihat bagaimana Zelyra memberikan sentuhan warna pada gambar buatannya. Mayra akan duduk bersama kedua putri tersebut sambil bercerita apa saja dan mendengarkan ceotehan Zelyra dan Charlotte mengenai sekolah dan kadang hobi mereka juga.


Sedangkan Haezel sudah sibuk menemani Eyzar bermain bola di halaman kafe. Setiap sore keluarga kecil itu akan berkumpul di area depan kafe, hingga kafe mulai buka dan pengunjung berdatangan.


Kafe Analogy saat ini masih dikelola oleh Opi Galen dan Omi Emily. Mayra dan Haezel juga akan sesekali membantu sembari mengawasi Charlotte yang begitu tertarik dengan biji-biji kopi serta bagaimana meraciknya menjadi secangkir kopi yang lezat. Sepertinya gadis itu punya bakat terpendam untuk menjadi seorang barista.


*************TAMAT*************


Terima kasih sebesar-besarnya untuk para reader budiman yang sudah membaca dan mengikuti karya ini sampai tamat.


Mohon maaf jika masih banyak typo dan kata-kata yang kurang berkenan serta konflik yang amat sangat memguras airmata.


Terima kasih juga untuk yang sudah memberikan like, komen, hadiah, vote, dan banyak sekali dukungan.

__ADS_1


Cerita Haezel dan Mayra othor akhiri sampai disini. Sampai jumpa di karya selanjutnya. Bye 💜


__ADS_2