
"Kasus pelecehan oleh seorang selebgram. Modus diajak review makanan lalu endingnya belok ke hotel." Randu melaporkan kasus baru pada Haezel seraya menunjukkan sebuah laporan yang sudah dijetik rapi. Haezel mekbaca dengan teliti laporan tersebut.
"Dilakukan atas dasar suka sama suka," Haezel bergumam seraya geleng-geleng kepala.
"Tapi direkam tanpa izin dari pihak wanita," Randu menunjuk pada satu kalimat yang dicetak tebal.
"UU ITE. Kau saja yang menangani!" Haezel menyerahkan berkas kasus tadi pada Randu yang langsung meng*lum senyum.
"Kenapa para wanita mudah tergoda dengan rayuan pria hidung belang di luaran sana?" Haezel kembali geleng-geleng kepala.
"Menyerahkan begitu saja hal paling berharga milik mereka secara cuma-cuma sebelum menikah atas dasar cinta," lanjut Haezel lagi tak habis pikir.
"Tester," celetuk Randu seraya terkekeh.
"Aku pikir kau dan Cheryl dulu juga sudah sejauh itu," ujar Randu lagi yang langsung berhadiah tinjuan dari Haezel.
"Aku bukan pria brengsek!" Geram Haezel seraya mendelik ke arah Randu.
"Lalu Mayra bagaimana? Sudah berhasil kau hamili? Atau jangan-jangan kau tak tahu caranya karena kau bukan pria brengsek," ledek Randu pada Haezel.
"Sialan!"
"Mayra belum cukup umur untuk hamil! Jadi kami menunda dulu," jelas Haezel pada Randu.
"Sayang sekali! Aku padahal sudah tak sabar untuk segera menggendong keponakan." Randu mengendikkan kedua bahunya.
"Pergi dan kembali bekerja sana!" Usir Haezel selanjutnya pada Randu. Haezel sendiri sudah mulai membereskan meja dan mengemasi barang-barangnya.
"Jam pulang masih satu jam lagi," Randu mengingatkan sembari menunjukkan arlojinya pada Haezel.
"Aku ijin pulang duluan! Aku sudah janji untuk mengajak Mayra jalan-jalan," ungkap Haezel beralasan.
"Ck! Mana bisa begitu, Ezel!"
"Tentu saja bisa!" Jawab Haezel tanpa dosa. Pria itu langsung ngacir pergi meninggalkan Randu yang hanya mampu berdecak.
"Aku juga akan menikah kalau begitu agar bisa pulang cepat dan mengajak istriku jalan-jalan!" Gumam Randu menggerutu sendiri dan sepertinya juga tak didengar oleh Haezel.
****
"Ini enak!"
"Coba!" Haezel menyodorkan sesendok es krim rasa coklat pada Mayra yang langsung membuka mulut.
"Kok pahit, Mas?" Mayra mencecap es krim yang baru saja masuk kd mulutnya tadi.
"Dan ini bukan rasa coklat!"
__ADS_1
"Ini rasa kopi!" Mayra langsung merengut dan Haezel malah tergelak sekarang.
"Es krim kopi! Jarang-jarang mereka membuatnya, lho!" Haezel menaik turunkan alisnya ke arah Mayra yang langsung sibuk menetralkan rasa kopi di mulutnya dengan es krim vanilla yang ia pesan. Mayra memang tak pernah suka dengan kopi, sekalipun Haezel adalah pecinta berat kopi.
"Nanti malam kalau Mayra nggak bisa tidur bagaimana?" Rengut Mayra mengomel pada Haezel.
"Nanti aku temani begadang," jawab Haezel santai dan Mayra tetap merengut.
"Pelan-pelan makan es krimnya!" Haezel menyeka sudut bibir Mayra karena ada es krim yang meleleh dari sana. Mayra langsung ganti mengulas senyum tipis karena sikap manis Haezel tersebut.
"Ayo pulang, Mas!" Ajak Mayra selanjutnya setelah gadis itu melihat arlojinya.
"Nggak mau jalan-jalan lagi? Atau cari sesuatu untuk camilam di rumah?" Tawar Haezel sekali lagi. Haezel sudah berpindah tempat duduk menjadi di samping Mayra, lalu kembali menyeka sisa es krim di bibir Mayra. Tak lupa Haezel juga merapikan rambut Mayra yang sebagian menutupi wajah istrinya tersebut.
"Jangan diikat!" Cegah Haezel saat Mayra hendak mengikat rambutnya.
"Ck! Risih, Mas!" Mayra beralasan.
"Tapi kamu cantik kalau begini!" Haezel mendekap manja Mayra seolah lupa kalau mereka tengah berada di tempat umun.
"Mas, udah!"
"Nggak enak dilihatin orang!" Mayra berusaha melepaskan tangan besar Haezel yang tetap mendekapnya.
Dasar pak detektif keras kepala!
"Baiklah!" Jawab Haezel tak lagi protes. Pasangan suami istri itu segera beranjak dari kursi dan meninggalkan kedai es krim. Namun baru saja keduanya melewati pintu keluar, Mayra tak sengaja menabrak seorang wanita yang membawa minuman di tangannya hingga minuman wanita itu tumpah dan sebagian mengenai baju Mayra.
"Ya ampun!"
"Maaf, Mbak!" Ucap Mayra cepat pada wanita yang malah melempar tatapan penuh kebencian pada Mayra dan Haezel.
"Cheryl," gumam Haezel yang sedikit membuat Mayra bingung.
"Mas Ezel kenal mbaknya?" Tanya Mayra memastikan.
"Aku akan mengganti minumanmu! Mayra tidak sengaja menabrakmu tadi. Maaf!" Ucap Haezel pada Cheryl yang tak menjawab sepatah katapun.
"Cheryl! Kau kenapa?" Tanya Reynold yang ikut muncuk entah darimana.
"Istriku tak sengaja menabraknya tadi," Haezel menjelaskan duduk perkaranya.
"Saya benar-benar minta maaf, Mbak, Mas! Nanti minumannya akan diganti-"
"Tidak usah!" Jawab Cheryl memotong dengan ketus kalimat permintaan maaf dari Mayra.
"Ayo pergi!" Ajak Cheryl selanjutnya pada Reynold yang langsung melempar tatapan membunuh pada Haezel. Tentu saja hal iti tak membuat Haezel diam dan pria itu juga balas mendelik pada Reynold, sang mantan sahabat. Haezel venartak mengerti kenapa sekarang Reynold begitu membencinya.
__ADS_1
"Baju kamu kotor, Sayang?" Haezel memeriksa gaun Mayra yang tadi terkena tumpahan minuman Cheryl.
"Tidak apa, Mas! May akan membersihkannya sebentar di toilet," ujar Mayra menenangkan Haezel.
"Ayo aku akntar ke toilet!" Haezel merangkul Mayra lalu membawa istrinya itu ke toilet terdekat.
****
Mayra masih sibuk membersihkan noda bekas minuman di gaunnya, saat seseorang keluar dari salah satu bilik di toilet wanita tersebut.
Wanita itu berdiri di samping Mayra yang sepertinya tak terlalu menghiraukan keberadaannya.
"Suamimu itu seorang pembunuh!" Ucap wanita itu yang langsung membuat Mayra mengangkat wajah dan menatap pada wanita di sampingnya.
"Loh! Mbak yang tadi aku tabrak,kan?" Tanya Mayra memastikan.
"Mbak Cheryl?" Tanya Mayra lagi yang masih ingat dengan nama wanita itu.
"Suamimu yang sudah membuat ayahku mendekam di jeruji besi, lalu meninggal karena bunuh diri!" Cheryl menuduh ke arah Mayra yang terlihat bingung.
"Maaf, Mbak ngomong apa?" Tanya Mayra tergagap dan masih bingung.
"Suamimu itu pembunuh!" Pungkas Cheryl sebelum wanita itu keluar dari toilet meninggalkan Mayra yang masih terlihat bingung.
Di depan toilet, Cheryl berpapasan dengan Haezel yang masih menunggu Mayra. Cheryl tak berucap sepatah katapun dan berlalu begitu saja dari hadapan Haezel setelah wanota itu melemparkan tatapan membunuh.
Haezel yang khawatir buru-buru mendorong pintu toilet wanita dan pria itu hampir menabrak Mayra yang baru saja akan keluar.
"Mas!"
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" Tanya Haezel yang langsung memeriksa Mayra dari atas hingga bawah.
"Iya, May baik-baik saja!"
"Mas ngapain mau masuk ke toilet wanita?" Mayra balik bertanya heran.
"Aku hanya cemas karena kau lama sekali!" Haezel segera merangkul dan mengecup puncak kepala Mayra.
"Ayo pulang!" Ajak Mayra selanjutnya dan Haezel hanya mengangguk. Pasangan suami istri itu segera meninggalkan pusat perbelanjaan bersamaan dengan langit yang sudah berubah hitam.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.