DETEKTIF X (KASUS MANUSIA ULAR)

DETEKTIF X (KASUS MANUSIA ULAR)
CHAPTER 23


__ADS_3

...***...


Yho!!!. Pembaca tercinta.


Ini masih dalam flashback, karena itulah harap bersabar ya. Mohon maaf jika merasa tidak nyaman.


Tanpa banyak bacod!!!.


Rettsu baca!!!.


Renn on.


Itu adalah hal yang paling mengerikan yang Pernah aku alami di dalam hidupku. Aku tidak pernah menduga jika aku akan melihat seseorang yang bisa berubah menjadi ular raksasa dengan taring yang sangat tajam. Sebenernya apa yang terjadi pada saat itu?. Aku sangat ketakutan, tidak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi. Aku melarikan diri seperti seorang pengecut yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dan yang paling parah adalah ketika saat itu aku sedang mengoceh tidak jelas untuk menghilangkan rasa takut yang aku rasakan pada saat itu.


"Jika memilih kasus perselingkuhan aku lebih memilih kasus itu dari pada ini." Renn benar-benar panik, sangat panik hingga ia berkata-kata aneh. Ia jadi geregetan saking bingungnya mendapatkan kasus yang membuatnya hampir kehilangan nyawa karena kejaran ular cobra raksasa?. Ini bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh seorang detektif.


Di saat Renn sedang ngedumbel tidak jelas, di saat itulah ular raksasa yang masih mengejarnya itu muncul dari atas tembok?. Renn semakin ketakutan melihat wujud ular raksasa yang menakutkan itu.


"Apa ini?. Aaa aku lupa bahwa ular itu memiliki penciuman yang tajam, jadi wajar dia menemukan aku." Dalam hati Renn lupa akan hal itu.


Hingga kakinya tidak bisa digerakkan lagi melihat betapa besar dan runcingnya gigi ular dengan mulut menganga lebar yang siap menerkam tubuhnya.


"Tapi tunggu, kenapa tubuhku rasanya sangat sulit untuk digerakkan?!. Ayolah!. Apakah aku akan berakhir begitu saja?." Ia berusaha untuk menggerakkan kakinya, entah kenapa pada saat itu kakinya seperti sedang terpaku seperti ada magnet yang menariknya ke dalam bumi. Mata Renn melebar sempurna, wajahnya pucat pasi karena takut melihat betapa besar dan runcingnya gigi ular cobra raksasa itu.

__ADS_1


Lihatlah?. Bagaimana gambaran Ketakutan yang aku rasakan pada saat itu. Bahkan tubuhku hampir tidak bisa digerakkan sama sekali. Dalam keadaan seperti aku seperti sedang diseret oleh sebuah dimensi yang sangat aneh. Semuanya terasa sangat gelap. Pada saat itu aku merasakan seperti ada bisikan yang sangat aneh.


Deg!!!.


Seketika itu seperti di seret oleh dimensi kegelapan. Sekitar seketika menjadi gelap gulita, ia seperti tidak merasakan dirinya lagi.


"Haaaa aak!." Renn benar-benar pasrah dengan keadaannya sekarang. "Sepertinya aku memang berakhir di sini. Mika, yui, maafkan aku. Aku tidak bisa pulang malam ini untuk menemui kalian lagi." Ia benar-benar pasrah jika hari ini ia mati. Matanya hanya dihiasi oleh kegelapan yang membawanya pada putus asa.


Namun sayup-sayup ia mendengar suara bisikan-bisikan yang menyuruhnya untuk melakukan hal gila?. Entah mengapa ia menyeringai kecil dalam keadaan seperti ini?.


"Khaaaaaaaaa!." Hanya suara seperti itu yang ia dengar. Entah itu suaranya atau bukan, ia juga tidak mengetahuinya sama sekali.


Namun pada saat aku hampir putus asa karena tubuhku seperti akan di makan oleh ular itu. Jantungku jauh lebih merasakan sakit, mendengarkan suara tembakan yang sangat keras. Tapi yang lebih menyakitkan adalah ketika aku menyadari jika yang ditembak itu adalah pak Ryuzaki. Hatiku Sangat sakit karena dalam satu tembakan saja bisa membunuh ular raksasa?.


Sementara itu di alam nyata, ular itu telah menargetkan mangsanya. Ia telah siap menerkam mangsanya yang sudah tidak bergerak. Namun ketika Renn hampir mendapatkan kesadaran lain, telinganya menangkap suara letusan yang cukup keras, hingga ia benar-benar sadar?.


Renn mengalihkan pandangannya,  suara tembakan keras, ah lebih tepatnya suara meriam besar dilepaskan oleh seseorang. Mata Renn menatap tajam ke arah lelaki itu, kemudian ia alihkan pandangannya ke atas namun ia tidak melihat keberadaan ular itu, yang ada hanya tembok itu retak dan bolong.


"Eh?!." Renn sangat terkejut melihat itu, matanya sampai melotot lebar karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat pada saat itu.


"Yosh tembakan yang bagus!." Ucapnya dengan nada semangat karena berhasil melumpuhkan ular cobra raksasa tersebut.


"Hah?!. Ucapan macam apa itu?. Apakah dia tidak tahu dia nembak apa barusan?!." Renn menatap tidak suka pada lelaki itu, ia ingin memarahi lelaki itu, namun ucapan lelaki itu.

__ADS_1


Dan yang paling menyakitkan adalah ketika aku mendengarkan apa yang dia katakan. Dengan Santainya dia berkata seperti itu?. Apakah dia tidak menyadari jika yang telah dia bunuh itu sebenarnya adalah manusia yang sama dengannya?. Dengan seenaknya saja dia membunuh seseorang tanpa adanya perasaan bersalah?. Tapi dia malah terlihat kesenangan seperti itu?.


"Yho!. Kau masih hidup dari kejaran ular cobra itu?." Dengan santainya lelaki itu menyapa dirinya?.


"Siapa lelaki ini?. Mengapa dia sangat santai sekali?. Apakah dia tidak tahu apa yang ia lakukan?." Dalam hati Renn mencoba menebak apa yang terjadi sebenarnya.


"Hum?!. Kau masih aman bocah?." Karena tidak ada tanggapan dari Renn ia melambaikan tangannya ke arah Renn yang tidak menanggapinya sama sekali.


"Apa?!. Apa yang kau lakukan pada ular itu?!." Amarah Renn sangat membuncah, nafasnya naik turun menahan emosi yang mendesak paru-parunya.


"Heh!." Lelaki itu mendengus kecil, ia menghampiri Renn yang masih shock?. Ia menatap remeh ke arah Renn yang memiliki mental lemah. "Tentu saja membunuhnya." Dengan entengnya lelaki itu menjawab pertanyaan Renn. Santai dan tenang tanpa adanya perasaan bersalah sedikitpun.


"Hah?. Kau membunuhnya?!." Renn yang masih dalam keadaan panik seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Membunuh?!. Maksudnya dia membunuh pak ryuzaki?!." Degup jantung Renn seakan berpacu kencang mendengarkan apa yang dikatakan oleh lelaki itu?.


"Iya, aku membunuhnya. Lalu kenapa memangnya?. Kau mau apa?!. Hum?!." Lelaki itu malah balik bertanya, ia menatap Renn yang menggigil ketakutan.


"Kau bercanda?!. Ular itu jelmaan manusia loh!." Saking marahnya ia bergerak dengan alaminya. "Bagaimana bisa kau membunuhnya hanya dengan sekali tembakan seperti itu?!. Kau baru saja membunuh seorang manusia!." Rasa kesal, benci, dan marah menyelimuti hati Renn, bagaimana bisa orang ini melakukannya?.


Lelaki itu tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Renn. Dimana letak lucunya?. Mengapa lelaki itu malah menertawainya?.


Hatiku sangat sakit. Ok!. Dia adalah manusia yang tidak memiliki hati nurani yang pernah aku temui dimuka bumi ini. Sikapnya yang seperti itu membuat aku berpikir ingin membunuhnya saat itu. Sangat sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa pak Ryuzaki maninggal dengan cara seperti itu. lalu bagaimana dengan nasib anak-anak dipanti asuhan?. Aku tidak bisa memikirkannya dengan lebih baik lagi.


Renn off.

__ADS_1


Next.


...***...


__ADS_2