DETEKTIF X (KASUS MANUSIA ULAR)

DETEKTIF X (KASUS MANUSIA ULAR)
CHAPTER 41


__ADS_3

...***...


Seperti yang telah direncanakan, dan yang telah diumumkan, Akemi Chika hari ini benar-benar akan disidangkan di publik. Orang tua yang anaknya telah dibunuh oleh Akemi Chika dalam wujud Ular Cobra Raksasa menyaksikan sidang itu dengan perasaan yang sangat bergemuruh. Gejolak amarah yang ia rasakan pada saat itu membuat mereka ingin membunuh Akemi Chika. Suasana sidang pada saat itu sangat panas karena tekanan kemarahan yang mereka rasakan.


"Aku Pastikan kau tidak akan lolos dari hukuman itu. Kau akan dihukum mati." "Renn san. Aku mohon bantu aku. Tolong selamatkan aku meskipun aku tidak pantas untuk diselamatkan. Tapi aku mohon bantulah aku keluar dari sini." Dalam hati Akemi Chika


"Sidang kita mulai." Ucapan itu masih terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Rasanya ia sangat ketakutan saat mendengarkan apa yang telah ia dengar dari ucapan Shark, wanita galak itu.


Pada saat itu terjadi kerusuhan dari bangku hadirin yang ada di ruangan sidang. Mereka yang sama sekali tidak menyangka akan melihat siapa yang telah membunuh anak mereka.


"Bunuh saja penjahat busuk itu!. Tidak ada gunanya dia hidup!." Teriakan penuh kemarahan itu telah menyesakkan dada mereka.


"Dia telah membunuh anak kami!." Mereka tidak rela anak yang telah mereka besarkan dibunuh begitu saja oleh seorang wanita?.


"Nyawa harus dibayar dengan nyawa!. Kami tidak rela dengan apa yang telah dia lakukan pada anak kami!." Bagi mereka, tentunya anak mereka adalah nyawa mereka. Sehingga siapa yang telah membunuh, maka hukumannya dibunuh.


Suasana ruangan sidang benar-benar terasa sangat mengerikan dari yang biasanya. Akemi Chika semakin takut untuk merasakan perasaan itu. Ia tidak sanggup menerima tekanan itu, takut merasakan hawa kemarahan yang ia rasakan di ruangan itu.


"Harap tenang. Ini masih baru dimulai." Hakim berusaha untuk menenangkan mereka semua. "Keadilan yang kalian inginkan akan kami penuhi di sini." Akan tetapi rasanya itu sia-sia saja. Karena mereka sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan. "Jika kalian tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan, kalian bisa meninggalkan ruangan ini!." Karena mereka sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan, ia terpaksa mengancam mengeluarkan mereka semua dari ruangan itu.


Mereka mulai tenang setelah mendengarkan apa yang dikatakan hakim yang memimpin sidang itu. Mereka juga ingin mendengarkan keputusan dari hakim, apakah benar terdakwa akan dijatuhi hukuman mati?. Tentunya mereka ingin menyimak sidang itu, meskipun suasana hati mereka sedang panas. Mereka tidak bisa menerima begitu saja kematian anak mereka.

__ADS_1


Akemi Chika sidang tanpa adanya pengacara atau pembela, sehingga ia disidang dalam keadaan tekanan sangat luar biasa. Apakah ia tidak memiliki kesempatan untuk lari dari masalah ini?. Rasanya ia tidak sanggup lagi untuk melangkah lebih jauh lagi.


"Renn san. Kenapa kau belum juga datang?. Kenapa kau tidak datang?. Apakah kau hanya mengumbar janji saja padaku?." Dalam hati Akemi Chika sangat takut, ia belum juga melihat Renn yang katanya akan datang untuk membela dirinya dalam sidang ini.


"Silahkan dari pihak yang menuntut." Hakim kembali melanjutkan sidang tersebut.


"Terima kasih hakim yang terhormat." Takeda Murasaki pengacara yang telah ditunjuk sebagai perwakilan mereka semua berbicara dengan suara yang sangat tegas. "Saya perwakilan dari mahasiswa, serat orang tua dari korban yang telah dibunuh oleh terdakwa." Suaranya semkin meninggi, seakan-akan ia merasakan kemarahan dari mereka terhadap terdakwa yang telah berani berbuat kejahatan. "Kami telah menemukan barang bukti atas kejahatan yang telah dilakukan terdakwa." Entah dari mana data yang ia dapatkan, namun ia dapat membuktikan semua kejahatan yang telah dilakukan Akemi Chika. "Dari penyelidikan yang kami lakukan, tersangka telah membeli obat terlarang dalam bentuk kapsul yang aneh. Kapsul yang ternyata dapat mengubah seseorang dalam wujud ular cobra raksasa." Ia bahkan menunjukkan semua barang bukti yang telah ia kumpulkan dari beberapa sumber. "Tersangka membeli obat kapsul tersebut sekitar bulan juni tahun ini. Dan dari laporan catatan kejahatan, terdakwa telah membunuh sekitar lima belas orang mahasiswa. Itu belum termasuk jumlah mahasiswa yang tidak diketahui identitasnya." Ia benar-benar menunjukkan semua apa yang telah ia dapatkan.


Namun saat itu mereka malah mengamuk dengan apa yang mereka dengar pada saat itu. "Hukum mati saja dia!. Dia telah membunuh anak kami!." Teriak mereka dengan sangat pilu.


"Tidak perlu ada sidang seperti ini!. Langsung saja bunuh dia!." Teriak mereka lagi.


"Kegh!." Akemi Chika sangat geram mendengarkan apa yang mereka katakan. Mereka benar-benar berniat ingin membunuhnya, dengan mengumpulkan barang bukti yang mereka dapatkan tentang dirinya.


"Harap tenang!."


Tiba-tiba saja ada suara seseorang yang membentak mereka dengan suara yang sangat keras. Akan tetapi suara itu bukan berasal dari kursi hakim, melainkan dari suara pembela terdakwa. Mereka semua melihat ke arah pembela terdakwa. Mereka tidak mengenali siapa orang itu.


"Maaf?. Anada siapa?." Takeda Murasaki sangat terkejut melihat seseorang yang harusnya tidak datang ke sidang ini. Dia adalah orang yang akan membela terdakwa. Ya, seharusnya tidak ada orang yang membela terdakwa, akan tetapi kenapa malah hadir di ruangan itu?.


"Hei!. Siapa kau?. Kenapa kau tiba-tiba saja datang ke ruangan ini?." Shark langsung langsung mendekat sambil mengarahkan senjata api yang ia pegang.

__ADS_1


"Bukankah sudah jelas?. Saya duduk dimana saat ini?." Orang yang tidak dikenal itu berkata dengan santainya. Ia tidak merasa terancam sama sekali dengan senapan yang mengarah padanya.


"Siapa dia?. Kenapa dia duduk di sana?." Dalam hati Akemi Chika yang sedang gelisah serta pasrah akan keadaan bertanya-tanya siapa laki-laki itu.


"Kau siapa?. Kenapa kau bisa ada di ruangan ini?." Shark mengarahkan senjata yang ia milikinya ke arah kepala orang itu. Amarah yang ia rasakan hampir memuncak karena sikap santai orang itu.


"Oh?. Nona, kau sangat pemarah sekali. Apakah kau tidak mengetahui jika aku adalah pengacara yang akan membela klienku?." Ia memberi kode pada Akemi Chika dengan menunjukkan gelang yang ia pakai.


Deg!!.


Akemi Chika dapat menangkap tanda itu dengan sangat baik. Ia ingat dengan apa yang dikatakan Renn pada saat itu. "Jika terjadi sesuatu padamu nantinya, aku akan datang dengan menggunakan gelang ini. Tapi pada saat itu aku harap kau tenang saja, aku akan membantumu. Aku akan mengusahakan semuanya agar hukuman yang kau terima nantinya dapat diringankan, dari pada kau menerima hukuman mati." Renn berkata seperti itu pada saat itu. "Kau dihukum hanya untuk menebus kesalahan yang telah kau lakukan. Setelah itu kau harus berjanji padaku bahwa kau akan mengubah dirimu ke arah yang lebih baik. Walaupun tidak mudah, tapi kau harus berjuang. Hukuman mati bukanlah satu-satunya cara untuk menebus kesalahan yang kau lakukan. Akan tetapi jadilah ke arah yang lebih baik lagi, agar kau menyadari bahwa hidup ini memang berawal dari rasa sakit untuk mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan." Kira-kira seperti itulah yang dikatakan Renn pada saat itu.


"Oh, renn san. Akhirnya kau datang juga." Dalam hati Akemi Chika merasa lega. Tadinya ia sangat takut jika Renn tidak datang. Akan tetapi ia telah memastikannya sendiri melalui kode yang diberikan Renn padanya.


Renn on.


Tidak akan aku baikan kau menghadapi masalah ini sendirian chika san. Aku yakin kau sangat membutuhkan seseorang yang dapat membelamu, mengerti dirimu. Aku harap kau lebih bersabar sedikit. Ini akan terasa sangat rumit. Aku takut akan salah dalam bertindak nantinya. Aku juga sangat takut, jika mereka tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan nantinya. Tapi aku akan berusaha untuk menyelamatkan dirimu dari masalah hukuman mati. Aku mohon kau bersabarlah, jangan panik, jangan gelisah. Percayalah padaku, jika badai akan berlaku jika kau memiliki pegangan yang kokoh. Saat ini aku akan mencoba menjadi pegangan yang dapat kau percayai untuk kau bertahan di dalam badai ini chika san.


Renn off.


Apakah Renn benar-benar dapat menyelamatkan Akemi Chika dari ancaman hukuman mati atas apa yang telah ia lakukan?. Apakah ia tidak bisa kabur dari sana?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Simak kisah ini dengan baik ya. Salam penuh cinta untuk pembaca tercinta.

__ADS_1


Next halaman.


...***...


__ADS_2