
...***...
Renn on.
Seorang penjahat sekalipun berhak mendapatkan perhatian. Jangan menyiksa mereka hanya karena mereka melakukan kejahatan. Bukan berarti aku membela kejahatan mereka, akan tetapi tetaplah bersikap manusiawi bahkan kejahatan itu tidak bisa dimaafkan. Ingatlah!. Kejahatan yang mereka lakukan itu karena siapa?. Tentunya kejahatan itu lahir dari orang-orang yang harga dirinya dilukai, hatinya yang disakiti. Atau bisa jadi itu adalah bawaan dari mereka yang memiliki keinginan untuk melakukan kejahatan. Akan tetapi dalam kasus ini, Akemi Chika tidak salah sepenuhnya. Ia adalah korban yang dari rasa sakit yang diakibatkan oleh seseorang, sehingga ia melakukan kejahatan itu. Ia tenggelam dalam kejahatan itu karena hatinya sangat terluka lebih jauh. Karena itulah aku harus bisa menarik kembali tangannya agar dia memiliki harapan untuk mengubah dirinya ke arah yang lebih baik lagi.
Renn off.
Setelah menunggu Akemi Chika memakan beberapa potong roti yang diberikan Renn padanya, ia terlihat lebih sedikit hidup dari yang sebelumnya.
"Apakah kalian telah selesai?. Mau sampai kapan kalian membuat kami menunggu." Shark terlihat sangat tidak bersahabat sama sekali. Rasanya ia sangat muak dengan apa yang telah ia lihat. "Ini bukan tempat umum yang bisa kalian jadikan ajang pertunjukan kasih sayang kalian." Ucapnya dengan nada ogahan. Rasa benci yang ia rasakan saat ini telah mengalahkan semua perasaan yang ia miliki.
"Ini hanyalah masalah waktu." Renn sangat tidak suka dengan sikap Shark. Baginya wanita itu tidak ada perasaan ramah sedikitpun. "Kalian lah yang membuatnya seperti ini. Jadi jangan salahkan aku jika kami agak lama." Renn mencoba memberikan peringatan pada Shark agar tidak berbuat macam-macam padanya.
"Kegh!. Terserah kau saja!." Shark benar-benar tidak tahan lagi dengan ucapan Renn.
"Duduklah di sini dengan tenang Chika san. Jangan takut selama aku bersamamu." Renn tersenyum kecil, ia sangat lega melihat keadaan Akemi Chika yang mulai membaik, setidaknya menurut pandangannya saat ini.
"Um. Terima kasih dx san. Maafkan aku jika aku membuatmu dalam masalah." Akemi Chika sangat bersyukur akan itu. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa jika tidak ditolong Renn saat ini. Mungkin saja ia telah menyerah dengan apa yang akan mereka putuskan nantinya. "Maafkan aku telah menyeretmu dalam masalah ini." Lanjutnya lagi merasa bersalah.
"Kau tidak salah. Hanya saja kau terjebak dalam masalah." Renn memahami masalah yang terjadi pada saat ini. Sebisa mungkin ia berjanji akan membantu Akemi Chika.
"Um." Akemi Chika telah mempercayakan itu semua pada Renn.
"Kalau begitu sidang bisa kami mulai." Hakim memulai sidang itu. "Terdakwa bernama akemi chika. Mahasiswa univ Xy dengan jurusan kesenian. Telah melakukan kejahatan yang sangat mengerikan. Seperti yang telah dijelaskan oleh penuntut tadi, bahwa kejahatan yang telah ia lakukan sangat tidak bisa dimaafkan. Apakah pelaku menyangkal dengan apa yang telah ia lakukan?. Sudah sangat jelas semua bukti yang mengarah padanya." Hakim tersebut mengulangi apa yang sempat mereka bacakan tadi?.
"Katakan dengan jelas, jika kau telah melakukan kejahatan itu. Percuma saja kau ingin menghindar atas apa yang telah kau lakukan. Kami sangat menuntut apa yang telah ia lakukan pada semua korban." Takeda Murasaki sebagai pengacara dari pihak menuntut langsung berbicara?.
"Jika kau memang menyimak apa yang telah kami katakan, maka kau bisa menanggapinya dengan sangat baik." Hakim tersebut memberikan kesempatan pada Renn untuk berbicara.
__ADS_1
"Terima kasih atas kesempatannya. Tapi rasanya itu sangat luar biasa sekali." Renn tersenyum lebar, ia telah menantikan ini.
"Kau ini sangat tidak sopan sekali." Shark masih saja mencela ucapan Renn?. "Setidaknya kau kenalkan dirimu pada kami. Jangan langsung menanggapi masalah ini dengan seenaknya saja." Dengan perasaan jengkal ia berkata seperti itu pada Renn?.
"Oh, shark chan. Terima kasih karen kau telah mengingatkan aku." Ia tersenyum lembut sambil melirik ke arah Shark. "Namaku dx, atau sebutan detektif x." Renn sedikit membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada mereka semua yang ada di ruangan itu.
"Hah?."
Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar. Apakah itu sebuah nama?. Bagaimana mungkin seseorang memiliki nama yang sangat aneh?.
"Kau jangan bercanda. Mana ada nama orang seperti itu!." Bentak Shark dengan suara yang sangat keras, mereka semua dapat mendengarkan suara itu dengan kelas, serta dapat menangkap bagaimana perasaan kemarahan itu. "Kau jangan membuat kami membantah hanya karena namamu saja." Ia berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Kau berpikir bahwa kau seorang detektif yang merangkak sebagai seorang pengacara?. Kalau begitu tunjukkan identitasmu." Kini hakim yang berkata seperti itu.
Renn menghela nafasnya dengan lelah. Ia telah menduga ini akan terjadi saat ia menyebutkan namanya dihadapan mereka semua. "Jika kalian penasaran dengan identitas ku maka akan aku perlihatkan pada kalian." Dengan kesalnya ia memperlihatkan pada mereka id namanya. Mereka dapat melihat dengan jelas siapa nama itu.
"Kegh!. Ternyata dia memang memiliki nama yang sangat aneh seperti itu. Detektif X?. Pasti orang tuanya memiliki jiwa humor yang sangat buruk ketika memberikan nama itu." Dalam hati Shark tidak menduga jika itu memang sebuah nama. Tapi nama itu sangat aneh, tidak masuk akal.
"Renn san. Tidak aku duga kau masih sempat bercanda dalam keadaan seperti ini. Apakah kau tidak takut jika nantinya mereka mencari tahu tentang dirimu?. Kau ini ada-ada saja." Dalam hati Akemi Chika merasa terhibur dengan apa yang dilakukan Renn. Bahkan ia tidak menduga jika Renn akan mencari nama samaran seperti itu.
"Kalau begitu lanjutkan saja sidang ini. Dan kau sebagai pengacaranya, apa yang ingin kau sampaikan tentang pembelaan yang ingin kau lakukan terhadap terdakwa?." Hakim tersebut mulai jengah dengan apa yang terjadi di ruangan itu. .
"Terdakwa memang telah terbukti melakukan kejahatan itu. Dan dia sendiri yang mengakui perbuatan itu padaku." Renn tidak menyangkal itu, dan ia juga tidak membantahnya.
Seketika suasana menjadi sangat panas dengan apa yang mereka dengar dari mulut Renn. Jika memang wanita itu telah terbukti melakukan kesalahan, tapi kenapa masih saja mau membelanya?.
"Jika kau telah mengetahui terdakwa telah melakukan kejahatan yang telah ia lakukan, lantas kenapa kau masih saja ingin membelanya?!." Hakim tersebut bertanya dengan karena heran dengan sikap Renn. "Apakah itu artinya kau membela kejahatan itu?." Ia hanya ingin memastikan itu.
"Karena kejahatan yang telah ia lakukan itu berasal dari orang-orang yang telah ia bunuh. Itu adalah sebuah balas dendam yang sangat menyakitkan untuk ia lakukan pada saat itu." Renn memberikan penjelasan kenapa alasan kenapa Akemi Chika melakukan itu.
__ADS_1
"Apakah kau bercanda?. Apakah kau ingin mempermainkan hukum?. Kau pikir hukum itu seperti apa?. Hah?." Hakim tersebut sangat marah dengan apa yang dikatakan Renn. Baginya itu seperti main-main.
"Sebaiknya kau jangan mempermainkan kami!." Bahkan Shark yang dari tadi sudah gatal ingin menyingkirkan Renn juga marah.
"Ckckck!. Tidak perlu semarah itu, karena apa yang kalian lakukan sebenarnya yang telah mendorongnya melakukan itu." Renn Kemabli berdecak kesal, karena ia belum menjelaskan masalah itu dengan baik.
"Apa yang ingi kau katakan sebenarnya?!. Katakanlah dengan jelas, jangan coba-coba melakukan hal yang tidak patut, atau kau akan kami usir dari ruangan ini." Hakim memberi peringatan pada Renn.
"Kau jangan berkata yang tidak-tidak. Aku sudah muak sejak kau masuk tanpa izin dari ku ke ruangan ini." Shark juga memberikan peringatan keras pada Renn. Tapi ia masih belum mau bertindak, mengingat keadaan sekarang. Ia kembali mengarahkan senapan yang ada di tangannya.
"Renn san." Akemi Chika sangat takut melihat apa yang dilakukan Shark.
"Aku telah berkata yang sebenarnya. Bahwa kalian yang telah mendorongnya untuk melakukan itu. Apakah kalian ingin buktinya?." Renn sedikit terbawa amarah, ia juga sebenarnya sangat muak dengan tekanan yang mereka berikan padanya.
"Katakan saja. Apa yang kau inginkan dari masalah ini?. Tidak perlu basa-basi lagi." Shark malah menantang Renn, ia penasaran dengan apa yang akan ditunjukkan pada mereka semua.
"Baik, jika memang itu yang diinginkan." Ia hanya tersenyum kecil saja menanggapi apa yang mereka katakan. "Dua tahun yang lalu, terdakwa pernah mengalami kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh beberapa orang mahasiswa yang mungkin saja telah termasuk daftar dari korban yang telah dibunuh terdakwa. Akemi Chika seorang terdakwa hari ini yang akan dituntut dengan hukuman mati." Ia menatap mereka semua. "Tapi apakah kalian tidak menyadari jika terdakwa pernah mengalami kasus pelecehan seksual beberapa kali, tapi saat itu ia melapor namun tidak ada tanggapan sama sekali. Kalian hanya membacanya saja, tidak menanggapi sama sekali laporan itu. Kalian tidak peduli sama sekali bagaimana perasaan takut yang dirasakan Akemi Chika pada saat itu." Ia kembali menatap mereka semua dengan seperti itu. "Kalian malah membiarkan pelaku bebas begitu saja melakukan kejatahan yang telah mereka lakukan." Amarah Renn benar-benar membuncah saat membacakan itu semua. "Bagaimana mungkin seseorang yang melaporkan apa yang dialaminya tapi tidak ada tidak ada tanggapan sama sekali." Renn memanas saat mengetahui itu semua. Ia telah menyelidiki semua apa yang terjadi pada Akemi Chika.
"Itu tidak ada hubungannya dengan masalah hari ini!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras.
"Tentu saja ada!. Maka dengarkan apa yang aku jelaskan pada kalian!." Renn juga tidak mau kalah.
"Kalau begitu jelaskan pada kami kenapa kau menghubungkan masalah yang terjadi?!." Hakim tidak dapat menerima begitu saja apa yang telah dikatakan Renn.
"Kalau begitu berikan aku ruang dan waktu untuk menjelaskannya!. Jadi tidak ada bantahan lagi, maka dengarkan apa yang akan aku katakan dengan sangat baik!." Renn merasa sangat tertantang, tentunya ia akan mengatakan semuanya pada mereka. "Akan aku katakan pada kalian supaya kalian mengerti bahwa ada hal yang membuat seseorang menjadi jahat karena dorongan orang lain, bukan karena keinginan mereka sendiri." Renn seperti untuk meledak saat mengingat semua yang ia dapatkan setelah mencari tahu kebenaran tentang Akemi Chika.
Renn benar-benar marah dengan sikap mereka. Mereka yang tidak memiliki hati nurani untuk menyimak apa yang telah terjadi. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Renn mampu merawat dirinya dengan sangat baik?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Jangan sampai ketinggalan kisah berikutnya.
...***...
__ADS_1