
...***...
Renn akhirnya tersenyum lembut menatap Akemi Chika. Setelah menerima keputusan dari hakim, bahwa Akemi Chika mendapatkan hukuman penjara 15 tahun. Setidaknya hukuman mati dapat dihindari karena pembelaan yang dibacakan Renn.
"Terima kasih renn san. Terima kasih karena kau telah memberikan aku kesempatan untuk merasakan kembali bagaimana kehidupan ini." Air matanya mengalir begitu saja.
"Um." Renn mengangguk pelan. "Setelah ini lakukan dengan baik. Aku harap kau lebih tenang saat melakukan ini semua. Aku harap kau bisa melangkah dengan baik." Hanya itu yang bisa Renn katakan.
"Aku akan berusaha lebih baik lagi." Akemi Chika mencoba menerima ini semua. "Terima kasih sekali renn san. Maafkan aku jika aku telah membuat masalah untuk mu. Aku sangat takut pada wanita jahat itu." Akemi Chika ingat bagaimana perlakuan wanita itu padanya saat itu.
"Aku hanya melakukan apa yang aku anggap itu adalah kebenaran. Aku tidak bisa membiarkan dirimu tenggelam dalam kegelapan dalam keadaan seperti itu. Rasanya sangat pasti sangat menyakiti, saat kau tenggelam sendirian setelah hampir membalas semua perasaan sakit yang kau rasakan." Renn benar-benar dapat merasakan perasaan sakit yang sangat luar biasa.
Akemi Chika hanya diam saja. Perkataan Renn memang sangat benar. "Saat itu aku benar-benar hampir putus asa. Aku memang marah pada diriku sendiri karena tidak bisa menjaga diriku dengan baik. Maafkan aku, pada saat kau datang aku sangat marah padamu. Sungguh maafkan aku renn san." Ada perasaan bersalah kala itu ketika ia marah-marah pada Renn.
"Lupakan saja masalah itu. Aku telah memaafkan mu chika san." Renn bahkan tidak ingat dengan kejadian itu. "Aku tidak janji, tapi aku akan berusaha untuk mengunjungimu. Aku akan memastikan kau baik-baik saja. Aku pastikan wanita jahat itu tidak akan mengganggumu lagi." Renn sedikit memberikan janji itu pada Akemi Chika.
"Rasanya terima kasih tidak akan dapat membalas semua kebaikan yang kau berikan padaku renn san." Akemi Chika hampir tidak bisa berkata apa-apa. "Aku sangat berhutang nyawa, berhutang budi padamu renn san." Itulah yang dipikirkan oleh Akemi Chika pada saat itu.
"Kau tidak perlu merasa berhutang budi padaku. Tapi yang kau pikirkan adalah adalah langkah setelah ini kau harus melakukan apa. Kau harus lebih bersemangat lagi chika san." Renn tersenyum kecil. Ia tidak ingin Akemi Chika merasa berhutang budi padanya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
***
__ADS_1
Di sebuah tempat.
Shark sangat marah, perasaan marah yang ia rasakan telah membuncah di dalam hatinya. Ia tidak tahan lagi dengan apa yang telah terjadi, rasanya itu benar-benar merendahkan harga dirinya sebagai seorang kapten yang telah dipercayai oleh orang lain untuk menangani masalah manusia ular cobra raksasa.
Duakh!. Duakh!.
Beberapa kali ia memukul loker itu dengan sekuat tenaganya sebagai ungkapan rasa sakit hati yang mendesak dadanya. Kemarahan yang sangat luar biasa dari yang sebelumnya.
"Bedebhah!. Sial!. Kurang ajar!. Bangshat!." Kata-kata kasar itu terucap dari mulutnya, serta pikirannya yang sedang kacau. "Siapa dia sebenarnya?. Kenapa aku tidak bisa menemukan identitas yang dia katakan?. DX?. Detektif X?. Kenapa bisa ada nama itu di dalam dunia pengacara?. Akan aku bunuh orang itu." Hatinya yang saat ini sedang dipenuhi oleh perasaan yang sangat membara. "Lalu siapa tuan x itu?. Apakah dia yang telah mengirim dx?. Seberapa besar sebenarnya pengaruh tuan x itu?. Sehingga dia begitu peduli pada orang yang telah menggunakan suntik ular cobra raksasa itu?." Ia mencoba memikirkan apa tujuan yang ingin orang-orang itu capai dengan membantu pelaku itu?. "Selama hampir satu tahun ini, tapi kenapa baru sekarang ada orang yang mampu mengeluarkan racun itu?. Apakah dia telah mengamati kasus ini sehingga ia merasa simpati?." Ia sangat heran dengan apa yang tuan X lakukan. "Tapi bagaimana caranya dia melakukan itu?. Bagaimana caranya dia mengembalikan wujud ular cobra raksasa menjadi manusia?. Bagaimana caranya dia mengeluarkan racun itu?. Sehingga tidak terdeteksi sedikitpun racun itu di dalam tubuh akemi chika. Benar-benar bersih dari racun itu." Kepalanya sedikit berdenyut sakit karena tidak dapat menebak apa yang diinginkan Tuan X.
Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Simak terus ceritanya.
...***...
"Kau siap dengan segalanya kan?." Yui melirik ke arah Mika.
"Ya, tentu saja." Mika telah siap dari apapun.
"Kalau begitu mari kita susul renn san. Aku tidak bisa menunggu kabarnya saja." Yui tidak sabaran.
Setelah itu mereka membuka pintu itu dengan suasana hati yang sangat gelisah. Tapi pada saat itu mereka melihat Renn yang sedang berdiri di depan gerbang rumah kecil itu dengan senyuman yang sangat menawan. Membuat keduanya sangat terkejut, mereka tidak salah pada penglihatan kan?. Apakah benar Renn yang kini berdiri di hadapan mereka?.
"Mau kemana yui?. Mika?." Renn sangat heran dengan apa yang dibawa Yui dan Mika pada saat itu.
__ADS_1
Namun tanpa menjawab pertanyaan dari Renn, Mika dan Yui berlari ke pelukan Renn. Tentunya itu adalah ungkapan perasaan sedih dan gelisah yang mereka rasakan.
"Renn san/ aki chan." Keduanya menyebut nama Renn, memeluk Renn dengan eratnya.
"Mika?. Yui?." Renn sedikit gugup dengan apa yang telah dilakukan Mika dan Yui. Meskipun sebelumnya mereka pernah pelukan, tapi ia tidak pernah merasakan pelukan yang seperti ini. Ia dapat merasakan betapa gelisah nya Mika dan Yui.
"Selamat datang kembali renn san." Ucap Yui sambil menahan tangisnya yang mendesak dadanya.
"Selamat datang kembali aki chan." Begitu juga dengan Mika. Perasaan sesak yang ia rasakan saat membiarkan Renn pergi sendirian. "Aku pikir kau tidak akan bisa kembali dari sana." Mika benar-benar merasa sangat sesak dengan pikiran buruknya mengenai Renn.
"Aku kembali, dan aku bisa kembali dengan keadaan aman." Renn mengerti dengan kekhawatiran yang mereka rasakan. "Maafkan aku, karena aku telah membuat kalian khawatir dengan apa yang terjadi." Renn mengelus kepala Yui dan Mika dengan lembut.
"Um." Yui dan Mika hanya membalasnya dengan seadanya saja. Itu karena mereka sedang menahan tangis yang membuat mereka merasa sesak. Perasaan khawatir yang berlebihan. Tapi kali ini mereka sangat bersyukur karena Renn kembali dengan keadaan aman. Mereka hanya takut jika Renn kembali seperti sebelumnya. Jiwa pembunuh mereka hampir saja kembali memuncak melihat keadaan Renn yang seperti itu.
Renn on.
Di dunia ini terkadang kita merasakan banyak hal yang sakit dari pada yang bahagianya. Tapi tidak jarang seseorang melakukan hal yang sakit demi mendapatkan kebahagiaan yang mereka inginkan. Ingatlah. Hukum di dunia ini tetap ada. Karena itulah jangan sampai merumuskan dirimu ke dalam lubang kegelapan, apapun yang kau rasakan. Jangan kalahkan dirimu hanya karena perasaan kecewa yang kau rasakan pada orang lain. Buktikan pada mereka yang telah berani menginjak dirimu, mendorong dirimu ke arah kegelapan. Katakan pada dirimu sendiri, bahwa kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan. Jangan mudah menyerah, bahkan kau ternodai sekalipun. Jangan sampai kau terima uluran tangan jahat itu. Cobalah untuk bangkit, walaupun hukum dunia tidak mau mendengarkan apa yang mau inginkan. Buktikan pada mereka jika kau lebih kuat dari hukum dunia ini. Suatu saat nanti, orang-orang seperti itu akan mengerti apa yang mau rasakan, dan aku dapat melihatnya. Bahwa hukum dunia ini memang dapat diubah kapan saja. Yang perlu kau lakukan hanyalah melawan hukum yang dibuat oleh manusia itu. Katakan pada mereka agar tidak sesuka hati mereka menggunakan payung hukum karena dendam pribadi.
Renn off.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana kehidupan mereka setelah ini?. Hanya waktu yang akan menjawabnya, serta menjadi saksi atas apa yang telah dilalui oleh seseorang.
...***...
__ADS_1