
... ***...
Yho!. Pembaca tercinta. Apakah masih menikmati kisah ini dengan sangat baik?. Semoga saja ya, karena itulah simak dengan baik kisah ini ya!!!.
Tanpa banyak bacod!!!.
Rettsu baca!!!.
Ini masih berlanjut mengenai flashback. Mohon maaf jika merasa tidak nyaman karena author masih dalam perjalanan dan belum bisa melanjutkan kisah berikutnya karena kendala waktu. Mohon pengertiannya.
Renn on.
Karena kejadian itu, aku sangat trauma ketakutan yang sangat luar biasa. Dia mengatakan jika seseorang yang telah melakukan suntik Cobra raksasa, maka dia tidak akan bisa kembali menjadi manusia. Membunuhnya adalah salah satu cara untuk menghentikannya. Tidak ada yang bisa mengembalikan wujudnya, karena dia telah membunuh banyak manusia. Maka dia juga harus dibunuh. Begitulah yang dia katakan pada saat itu.
"Benar-benar gila ni laki-laki, apakah dia tidak merasa berdosa sedikitpun karena telah membunuh orang lain?. Orang macam apa dia?." Dalam hati Renn sangat kesal saat melihat laki-laki itu mendekatinya.
"Dengarkan aku baik-baik bocah!." Lelaki itu menepuk pundak Renn, membuat Renn sedikit terperanjat kaget.
"Orang yang!." Ingin rasanya Renn memukul orang itu hingga mati. Apalagi dengan apa yang dibisikkan oleh lelaki itu.
Deg!!!.
Dunianya hampir saja berhenti berputar saat ia mendengarkan apa yang dibisikkan oleh laki-laki itu padanya.
__ADS_1
"Begitulah." Ucap lelaki itu sambil tersenyum kecil. Lelaki itu kemudian menepuk pundak Renn beberapa kali, setelah itu pergi begitu saja meninggalkan Renn yang terlihat sangat shock.
Saking tidak percayanya dengan apa yang aku alami pada saat itu, aku pulang dalam keadaan sangat kacau. Pikiranku sangat buntu, tidak bisa menerima kejadian itu dengan pikiran yang lebih normal. Tentunya itu membuat Yui dan Mika sangat cemas dengan keadaanku pada saat itu.
"Aki chan?." Suara Mika terdengar panik ia segera menghampiri Renn. Namun ia hanya diam membisu karena tidak tahu mau berkata apa, atau merespon seperti apa ketika Mika menghapus air matanya. Wajah terlihat pucat pasi seperti orang sakit bertahun-tahun yang tak kunjung sembuh.
Suasana hati Renn sedang kacau balau, ketakutan selalu menghantuinya. Ada rasa ketakutan, dan kesedihan yang ia menyelimuti hatinya di saat yang bersamaan mengobrak-abrik relung hatinya yang paling dalam. Renn kembali ke kantornya dalam keadaan sangat kacau, tidak ada semangat seperti biasa. Apakah Renn mengalami sesuatu saat mengatasi kasus?. Apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki yang selalu ceria itu setelah menyelesaikan kasus?. Yui dan Mika yang melihat itu bertanya-tanya hal apa yang menimpa Renn hingga berakhir seperti ini?.
"Miris sekali rasanya meninggalkan kasus yang belum selesai. Lalu bagaimana dengan hinata katsumi yang meminta bantuan pada yui?.Ah tidak, rasanya dadaku terasa sesak." Dalam keadaan kacau seperti itu, pikirannya melayang entah kemana. Mulutnya seakan-akan terkunci, tidak bisa berkata apa-apa.
"Ada apa renn san?. Katakan sesuatu apa yang telah terjadi?." Yui juga terlihat panik karena penampilan Renn saat ini, dan lagi-lagi ia tidak merespon. Entah mengapa tubuhnya terasa lemas dan tak berdaya hingga ia menjatuhkan tubuhku ke lantai dengan lutut mendarat duluan.
"Aki chan / Renn san!!." Keduanya sangat panik melihat keadaan Renn yang sekarang.
Saat itu Renn membuka matanya, ia mencoba untuk duduk, membuat Mika dan Yui semakin mencemaskan keadaannya.
"Maafkan aku." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Renn, beberapa kali mengucapkan kata maaf. Apalagi teringat bagaimana raut ekspresi kebahagiaan dari wajah anak-anak imut, lucu di panti asuhan. "Mengapa kasus aneh ini terjadi" Renn menangis terisak sambil mengungkapkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Tenanglah aki chan." Mika memeluk kepala Renn, ia mencoba menenangkan Renn. Rasanya sangat sesak melihat Renn dalam kondisi yang seperti ini?. Apa yang membuat Renn menangis sesenggukan seperti itu?.
"Maafkan aku." Kata itu kembali ia ucapkan, ia mencoba menggenggam erat lengan Mika yang saat itu memeluknya dari samping. "Maafkan aku." Ucapnya lagi.
"Tenanglah. Tenanglah aki chan." Hati Mika semakin sakit mendengarkan apa yang diucapkan oleh Renn.
__ADS_1
"Istirahatlah dulu renn san. Nanti kita bahas lagi masalahnya." Begitu juga dengan Yui yang mencoba menenangkan Renn sambil mengusap kecil punggungnya.
Seketika ada bentuk rasa kesal di dalam hatinya melihat Renn menangis, dan hatinya membenci pada orang yang telah membuat Renn seperti itu?.
"Oh Tuhan!. Mengapa kasus aneh ini terjadi?. Mengapa manusia bisa menjadi ular?. Apakah tidak bisa diperbaiki kesalahan yang telah terjadi?. Kembalikan waktu sebelum aku bertemu dengan pak ryuzaki, akan aku katakan padanya bahwa dia tidak seharusnya melakukan hal yang merugi." Dalam hati Renn semakin sesak. Tangisnya semakin terdengar pilu, menahan perasaannya yang terguncang sangat berat.
Sungguh sangat berat bagiku. Penyesalan yang sangat fatal. Hatiku sangat hancur mengingat kejadian yang sangat tidak masuk akal itu. Bahkan sangat lama bagiku untuk melupakan kejadian itu. Namun saat itu masalah yang hampir serupa muncul lagi. kali ini menimpa seseorang yang lumayan terkenal dikalangan pelajar. Dua wanita cantik yang berhak memiliki perasaan cinta. Tapi pada satu orang laki-laki. Cinta yang tulus sekaligus cinta karena balas dendam. Terkadang cinta itu memang sangat mengerikan. Tidak jarang ada korban yang tersakiti karena perasaan cinta. Jika memang cinta membuat seseorang menderita, lalu kenapa ada perasaan untuk mencintai seseorang?. Bukankah itu terasa sangat aneh?.
"Kasus yang akan kita bahas adalah maslaah wanita pemikat." Yui langsung masuk pada masalah yang akan mereka hadapi pada saat itu.
"Hah?!. Wanita pemikat?." Renn sedikit bingung. "Wanita pengikat maksudnya apa?. Coba jelaskan padaku." Renn terlihat ciut ketika melihat raut wajah Yui yang melotot padanya.
"Jangan bilang ini kasus perselingkuhan lagi. Aku harap tidak, semoga saja tidak." Dalam hati Renn menatap ke arah Taka dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Baaka!." Taka sedikit kesal. "Mana mungkin kasus perselingkuhan, aku yakin bukan itu." Seakan mengerti arti tatapan Renn, Taka menyangkal bahwa kasus yang akan ditangani oleh Renn sangat berbeda dengan yang ia alami. "Meskipun aku sempat berpikir seperti itu sih." Lanjutnya dengan suara pelan.
Kasus kedua yang sangat aneh yang akan aku atasi. Simak terus ceritanya ya.
Renn off.
Next.
...***...
__ADS_1